
Di dalam kamarnya, Cherry masih saja teringat akan ciumannya bersama dengan Max. Dia beranjak dari tidurnya dan mengipas-ngipas wajahnya menggunakan kedua tangannya.
Begitu pula dengan Max. Dia yang ingin beristirahat setelah bekerja keras di cafenya, kini dia tidak bisa tidur karena teringat akan ciumannya bersama dengan Cherry.
Max pun merasa kepanasan mengingat ciumannya bersama dengan Cherry. Sama seperti dengan Cherry, Max mengipas-ngipaskan kedua tangannya di depan wajahnya untuk meredakan rasa panas yang sedang dirasakannya.
Cherry beranjak dari tidurnya dan berjalan menuju dapur. Dia mengambil sebotol air mineral dan segera diminumnya saat itu juga.
Namun, rasa panas itu masih saja terasa di tubuhnya, terutama pada wajahnya. Segeralah dia membuka lemari es dan duduk di depannya.
Matanya terpejam menikmati udara dingin yang terpancar dari lemari es tersebut. Sangat nyaman terasa, hingga dia berada di sana selama beberapa menit, seolah dia lupa akan tempatnya berada.
Sama halnya dengan Max. Dia pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Cherry. Entah mengapa apa yang sedang mereka lakukan bisa sama. Seperti orang yang sedang janjian, mereka kompak melakukannya.
Setelah beberapa saat mereka berada di depan lemari es, mereka kembali ke kamarnya dengan membawa botol air mineral yang masih tersisa separuh setelah mereka minum tadi.
Direbahkannya badan mereka di atas ranjangnya. Mereka mencoba untuk memejamkan matanya, berharap bisa tidur dan melupakan semuanya.
Namun, harapan mereka tidak bisa terjadi. Mata mereka enggak terpejam. Mereka tidak bisa tidur. Bahkan ketika matanya terpejam pun, bayangan ketika mereka berciuman kembali hadir.
Mereka berdua mengubah posisi tidur mereka dengan menghadap ke kanan, sayangnya tetap saja itu tidak bisa membuat mata mereka terpejam.
Kini, mereka mengubah posisi mereka dengan menghadap ke kiri. Hal yang sama pun terjadi. Mereka masih saja tidak bisa tidur, matanya enggan terpejam dan hanya ada bayangan mereka yang sedang berciuman.
Akhirnya mereka serentak melakukan gerakan-gerakan senam agar tubuh mereka lelah dan bisa tidur dengan nyenyak.
Selama beberapa saat mereka melakukannya. Seolah tidak ada capeknya, mereka masih saja bergerak hingga mereka merasakan lelah.
Nafas mereka ngos-ngosan dan keringat mereka membasahi dahi serta pelipis mereka. Bahkan keringat mereka keluar dari tubuh mereka.
"Huufffttt… rasanya aku capek sekali. Sepertinya sekarang aku sudah bisa tidur nyenyak," ucap Cherry dengan nafas yang masih terengah-engah.
Sedangkan di tempat yang berbeda, Max yang sudah selesai melakukan kegiatan yang sama dengan dilakukan oleh Cherry, dia juga merasa kelelahan.
"Sepertinya aku sudah bisa tidur sekarang," ucap Max di sela nafasnya yang ngos-ngosan setelah berolahraga ringan.
Setelah itu mereka merebahkan tubuh mereka di atas ranjang mereka. Dan mereka kembali mencoba untuk memejamkan mata mereka.
__ADS_1
Benar sekali, hanya dalam beberapa menit saja, mereka sudah nyenyak tertidur saat ini.
Secercah sinar matahari yang menyapa menerpa wajah Cherry melalui celah gorden kaca kamarnya.
Perlahan, mata Cherry terbuka. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya dan kembali menutup matanya ketika matanya terkena sinar matahari.
"Ah, aku masih ingin tidur…," rengek Cherry sambil berganti posisi membelakangi arah sinar matahari.
Eh kok tumben Mama gak bangunin aku? Biasanya pasti udah berdiri di sini. Jangan-jangan… Cherry berkata dalam hatinya sambil membuka matanya melihat ke arah biasanya mamanya berdiri ketika membangunkannya.
Seketika dia menghela nafasnya lega ketika melihat mamanya tidak ada di sana. Tiba-tiba saja dia teringat sesuatu. Segeralah dia mengambil ponselnya dan melihat layar ponsel tersebut.
Bibirnya melengkung ke atas ketika melihat layar ponselnya seraya berkata,
"Tuh kan bener, sekarang kan weekend. Pantas aja Mama gak ribut. Mumpung lagi weekend, lebih baik aku tidur lagi aja deh."
Cherry pun kembali tertidur. Dia memeluk gulingnya dengan erat dan tersenyum merasakan kenyamanan yang selalu menjadi keinginannya.
Berbeda dengan Max. Tidak ada hari libur atau weekend baginya. Semua hari sama dan tidak ada hari libur dalam kalendernya.
Usaha yang dirintisnya kini mulai membuahkan hasil. Kerja kerasnya bersama dengan Miyuki dan Lucas seakan tidak sia-sia. Bahkan usaha Max saat menjadi badut untuk membagikan voucher diskon pun terasa sangat efektif.
Dengan desain kontemporer itu banyak sekali pengunjung dari berbagai kalangan yang selalu ingin datang kembali ke tempat itu.
Max membuka matanya. Setelah beberapa detik, dia duduk dari tidurnya seraya berkata,
"Pagi Max, saatnya bekerja kembali. Kamu harus sukses agar bisa menunjukkan pada mereka bahwa hidupmu tidak bergantung pada mereka."
Setelah itu dia beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi.
Setelah beberapa saat, kini Max sudah berada di cafenya. Dia tidak menjemput Cherry karena dia tahu jika Cherry sedang libur saat ini.
Jam makan siang pun tiba. Cafe Max kembali penuh dengan pengunjung yang sebagian besar adalah pelajar.
"Max, kenapa tidak ada seorang pun yang menjadi kasir?" tanya Lucas pada Max yang sedang sibuk membantu di bar.
"Kenapa Yuki tidak datang?" Max bertanya balik pada Lucas.
__ADS_1
Lucas meletakkan gelas yang berisi minuman di atas tray seraya berkata,
"Ck, mana aku tau. Coba kamu hubungi Yuki sama Cherry. Kenapa mereka berdua bisa kompak seperti ini?"
Setelah mengatakan itu, Lucas segera membawa minuman-minuman tersebut sesuai dengan meja pesanannya.
Max segera mengambil ponselnya. Dia akan menghubungi Cherry karena dia takut jika dia menghubungi Miyuki, maka Tristan akan kembali mengomelinya.
Namun, ketika dia akan menghubungi Cherry, dia kembali teringat akan adegan ciuman mereka.
Max menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan dia mengurungkan niatnya untuk menghubungi Cherry.
"Bodo amat dah sama Tristan," ucap Max seraya tangannya memencet nomor Miyuki pada layar ponselnya.
Beberapa kali suara dering telepon itu tidak dijawab oleh Miyuki. Hingga dering ke sekian, Miyuki menjawab panggilan tersebut.
"Halo, Yuki, cepat ke sini. Cafe sedang ramai dan tidak ada yang menjadi kasir," tutur Max setelah panggilan teleponnya dijawab oleh Miyuki.
Aku sedang mager Max. Ini weekend dan Kak Tristan sedang libur. Jadi, jangan ganggu aku Max. Lagian sudah ada Cherry yang bisa diandalkan, sahut Miyuki dari seberang sana.
Setelah mengatakan itu, Miyuki menyudahi telepon tersebut tanpa memberi kesempatan Max berbicara kembali padanya.
Max menghela nafasnya dan merutuki Miyuki dalam hatinya.
Miyuki sialan. Dari dulu dia selalu seenaknya saja. Jika tidak dibutuhkan saja dia pasti datang. Pada saat dibutuhkan, dia malah menolak untuk disuruh datang. Dasar adik dan partner yang lucknut.
Max mengomel dalam hatinya. Tapi, sedari dulu dia tidak bisa marah pada Miyuki. Semarah dan sekesal apa pun dia pada Miyuki, pasti dia akan kembali bersikap normal ketika bertemu dengannya.
Entahlah, apa karena Max yang terlalu sayang pada Miyuki atau mungkin pesona Miyuki yang tidak bisa membuat orang lain marah padanya, sehingga membuat Max luluh dan tidak bisa marah padanya.
Dengan ragu-ragu, jari Max menekan nomor ponsel Cherry.
Terdengar suara dering telepon di telinganya. Beberapa dering kemudian terdengar panggilan telepon tersebut dijawab.
"Halo, Cher."
"Halo, Max."
__ADS_1
Mereka menyapa secara bersamaan. Setelah itu hening sejenak. Mungkin mereka saling memberi kesempatan untuk berbicara terlebih dahulu.
"Mmm… Cher… aku…."