
Perempuan tersebut terlihat membelalakkan matanya. Dia menatap Cherry penuh dengan kebencian.
Cherry tersenyum penuh dengan kemenangan melihat amarah yang tersirat dalam mata perempuan tersebut.
"Cherry!" seru Max sambil melambaikan tangannya pada Max.
Cherry tersenyum manis dan segera meninggalkan meja tersebut menuju bar, tempat Max kini berada.
Dia berjalan mendekati Max dan mendekatkan wajahnya pada wajah Max. Hal itu membuat Max menjadi terkejut dan jantungnya berdegup dengan kencang.
Namun, Cherry mengarahkan bibirnya pada telinga Max dan berbisik,
"Max, sepertinya perempuan yang ada di meja tadi adalah si Belek yg ke sini waktu itu."
Max berpura-pura untuk tidak melihat ke arah meja perempuan tadi. Dia berusaha bersikap sewajarnya. Tapi dia mencoba melihat perempuan tersebut dengan meliriknya.
Tangan Max mengusap lembut rambut Cherry seraya tersenyum dan berkata,
"Lakukan peranmu sebagai pacarku Cherry Sayang."
"Hah?! Enak saja. Aku kan sudah menolaknya," sahut Cherry dengan sewotnya.
Max tersenyum lebar pada Cherry dan mencubit gemas hidungnya seraya berkata,
"Sebaiknya kamu lihat ini."
Max mengambil ponsel dari saku celananya dan memperlihatkan foto kertas yang bertuliskan perjanjian yang menyatakan bahwa Cherry bersedia menjadi pacar Max dan perjanjian tersebut telah ditandatangani oleh Cherry.
Mata Cherry terbelalak melihat perjanjian tersebut. Kemudian dia berkata,
"Max, kamu menjebakku?"
Max mendekatkan bibirnya di telinga Cherry dan berbisik,
"Aku hanya mencoba menghindarkan kamu dari dosa karena mengingkari janjimu padaku."
Cherry mencebik kesal. Dia baru sadar jika dia sangat ceroboh, persis dengan apa yang dikatakan oleh Max padanya.
Tangan Max melingkar di pinggang Cherry yang berada di hadapannya. Dia tersenyum manis padanya dan berkata,
"Show time Baby!"
Cherry menghela nafasnya. Dengan berat hati dia melakukan apa yang diinginkan oleh Max padanya.
Perempuan yang duduk di meja nomor dua belas itu masih saja memperhatikan Max dan juga Cherry.
Sedangkan Max dan Cherry larut dalam akting mereka. Kini mereka lupa jika cafe dalam keadaan sangat ramai dan orderan di bar bertambah banyak.
__ADS_1
"Minggir sana, jika kalian tidak mau membantu di sini. Mendingan kalian ke atas saja, jika di sini hanya membuat orang lain iri karena kemesraan kalian," sindir Lucas yang sudah ada di bar untuk membantu membuat minuman.
Max melepaskan tangannya dari pinggang Cherry dan tersenyum lebar seraya berkata,
"Maaf Luc, kelepasan."
Wajah Cherry merona karena malu. Dalam hatinya dia berkata,
Padahal hanya pura-pura saja, tapi hatiku sudah berbunga-bunga. Bagaimana jika kita benar-benar pacaran? Bisa-bisa jantungku tidak aman setiap dekat dengan Max.
Bartender yang ada di sana menahan senyumnya melihat Max dan Cherry yang ditegur oleh Lucas.
"Lucas, sebaiknya kamu dan Cherry membantu waitter yang sedang kewalahan. Biar aku saja yang membantu membuat minuman," tutur Max seraya mengambil alih gelas yang ada di tangan Lucas.
Lucas mencebik kesal dan menoyor kepala Max. Setelah itu dia beralih membantu waitter untuk melakukan taking order.
Sedangkan Cherry, dia membantu Max membawa minuman-minuman yang ada di bar sesuai dengan meja pesanannya.
Perempuan tersebut masih saja memperhatikan Cherry yang sedang sibuk mengantarkan minuman dari satu meja ke meja yang lainnya. Dia mengepalkan tangannya melihat senyum Cherry yang terlihat sangat bahagia.
"Kenapa harus dia? Kenapa bukan aku? Max… kamu keterlaluan!" gerutu perempuan tersebut dengan suara lirih yang teredam oleh masker menutupi mulutnya.
Ketika Cherry berjalan di dekat mejanya, perempuan tersebut berdiri dari duduknya dengan membawa avocado juice yang hanya diminumnya sedikit saja.
Perempuan tersebut berpura-pura tersandung meja dan menggerakkan gelas yang ada pada tangannya ke arah Cherry yang ada di hadapannya, sehingga avocado juice yang ada dalam gelas tersebut menyiram wajah Cherry.
Cherry masih terperangah mendapatkan guyuran pada wajahnya. Dia hanya mematung dan menggerak-gerakkan bulu matanya yang lentik hingga bergerak naik turun.
Sedangkan perempuan tadi, dia segera berjalan cepat keluar dari cafe tersebut tanpa merasa bersalah.
Semua pasang mata yang ada dalam cafe tersebut mengarah padanya. Lucas yang mengetahui hal itu segera berjalan cepat menuju bar untuk memberitahukan pada Max yang sedang sibuk membuat minuman.
"Max, gawat! Cherry…," seru Lucas sambil menunjuk ke arah Cherry saat ini yang sedang berdiri mematung.
Max mengernyitkan dahinya. Dia menunggu kelanjutan ucapan dari Lucas, tapi Lucas hanya menunjuk ke arah Cherry berada
Max pun mengikuti arah telunjuk Lucas. Seketika matanya terbelalak ketika melihat Cherry yang wajahnya penuh dengan cairan avocado juice.
Sontak saja Max berlari menuju tempat Cherry berada. Tanpa menunggu lama, Max menggendong Cherry ala bridal style menuju ke lantai atas di mana kantor Max berada.
Hal itu membuat semua pasang mata yang memperhatikan Cherry sedari tadi bertambah kaget. Mereka berkasak-kusuk membicarakan Max yang seolah menjadi pahlawan bagi Cherry.
"Max, turunkan. Aku malu," ucap Cherry lirih dalam gendongan Max.
"Diam. Atau aku cium," ancam Max seraya berjalan menuju tangga.
Seketika Cherry mengatupkan kedua bibirnya. Dia tidak lagi protes pada Max. Dia tidak juga memberontak agar Max menurunkannya. Dia hanya diam saja dalam gendongan Max merasakan jantungnya yang berdegup dengan sangat kencang.
__ADS_1
Max mendudukkan Cherry di sofa yang ada di dalam kantornya. Dia mengambil tisu basah yang ada dalam tas perlengkapan badutnya dan membersihkan wajah Cherry dengan sangat telaten.
"Pasti si Belek itu ya yang melakukan semua ini?" tanya Max seraya mengusap lembut wajah Cherry.
Cherry menganggukkan kepalanya. Dia terbuai oleh sikap lembut dan manis yang diberikan oleh Max padanya.
"Lain kali kamu harus membalasnya. Jangan mematung seperti tadi. Atau kamu sengaja seperti itu agar aku menyelamatkanmu seperti tadi?" tanya Max sambil terkekeh.
"Ck, enak saja. Tadi itu serangannya terlalu mendadak sehingga aku tidak bisa mengelak. Seandainya tadi serangannya tidak pas pada wajahku, pasti aku membalasnya saat itu juga. Lihat saja nanti jika aku bertemu lagi dengannya," sahut Cherry dengan penuh percaya diri.
Max tertawa mendengar perkataan Cherry yang sangat yakin dan percaya diri. Kemudian dia berkata,
"Lebih baik kamu berganti pakaian saja. Lihatlah, pakaianmu sangat lengket."
Cherry melihat ke arah dadanya dan seketika dia menghela nafasnya ketika melihat bajunya yang sangat lengket dan menjijikkan.
"Aku tidak membawa baju Max," ucap Cherry disertai helaan nafasnya.
Max tersenyum dan mengusap lembut rambut Cherry seraya berkata,
"Pakai kaos ku saja ya."
"Memangnya ada Max?" tanya Cherry seraya mengerutkan dahinya.
Max menarik tangan Cherry dan berjalan menuju lemari yang ada di sudut ruangan tersebut. Dibukanya lemari tersebut seraya berkata,
"Pilihlah. Ini semua masih belum aku pakai."
Hatsy! Hatsy! Hatsy!
Cherry bersin ketika dia mendekati lemari tersebut yang sudah dibuka oleh Max.
Sontak saja Max menutup lemari tersebut dan berkata,
"Maaf Cher. Aku lupa ada kostum badut di dalam lemari ini."
"Kenapa kostum badut itu berada di sini Max?" tanya Cherry dengan suara sengau karena hidungnya yang tertutup oleh tangannya.
Max tersenyum geli melihat Cherry saat ini. Kemudian dia berkata,
"Badut itu menjadi maskot dari cafe ini Cher."
"Lalu, siapa yang menjadi badutnya?" tanya Cherry dengan rasa penasarannya.
Max gugup dan terlihat sedang berpikir. Tanpa ragu dia menjawab,
"Lucas."
__ADS_1
"Lucas?!"