
Cherry masih saja mengingat tentang mimpinya. Bahkan dia tidak bisa berhenti memikirkannya.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa benar aku akan sial jika tidak menepati janjiku?" gumam Cherry disertai helaan nafasnya.
Wajah Cherry terlihat lesu, tidak seceria biasanya. Dia selalu terngiang dengan mimpinya. Bahkan janji yang diucapkannya pun seperti terlihat nyata setiap kali dia mengingatnya.
"Bagaimana aku bisa menikah dengan badut? Dekat badut saja aku selalu bersin," gumam Cherry kembali dengan lesu.
Cherry berjalan lesu keluar dari kampusnya. Kali ini dia tidak membawa mobil karena dia merasa tidak bisa fokus mengemudi.
Langkah kaki Cherry yang berat itu membuat Cherry mirip seperti zombie yang berjalan menuju halte bus di dekat kampusnya.
Tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang menghalangi jalannya. Keluarlah dua orang laki-laki yang terlihat usianya lebih tua darinya. Mereka mendekati Cherry yang menatap dengan lesu dan tidak bersemangat.
"Kamu Cherry kan?" tanya salah satu laki-laki tersebut.
Cherry menganggukkan kepalanya dengan lesu tanpa bertanya balik pada mereka. Setelah itu dia melangkahkan kakinya untuk meneruskan jalannya dengan menundukkan kepalanya seolah tidak berminat pada apa pun.
Namun, kedua laki-laki tersebut menghalangi kembali, sehingga langkah kaki Cherry terhenti.
Cherry mendongakkan kepalanya dan menatap kedua laki-laki itu secara bergantian, seolah bertanya melalui tatapan matanya.
"Kami mohon ikutlah kami sekarang juga. Max dalam bahaya dan kami butuh gadis yang bernama Cherry untuk menolongnya," ujar salah satu dari kedua laki-laki yang menghadang Cherry saat ini.
Seketika mata Cherry terbelalak mendengar Max dalam keadaan bahaya. Dia terlihat panik dan tidak bisa berpikir dengan baik saat ini.
Sontak saja Cherry masuk ke dalam mobil yang ada di hadapannya. Kedua laki-laki itu pun menyeringai melihat Cherry yang dengan gampangnya panik dan masuk ke dalam mobil mereka.
Kedua laki-laki tersebut segera bergegas masuk ke dalam mobil untuk membawa Cherry menemui seseorang, sesuai dengan yang diperintahkan pada mereka.
Tanpa mereka ketahui, aksi mereka disaksikan oleh sepasang mata yang sangat mengenal Cherry.
Max, yang dengan sengaja datang ke kampus Cherry untuk melihatnya dari jauh, kini dia terkejut dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
Tadinya Max hanya memperhatikan Cherry ketika keluar dari kampusnya. Dia ingin mengikutinya dari jarak yang aman. Tak disangka jika dia mendapatkan pemandangan yang membuatnya sangat khawatir pada keadaan Cherry saat ini.
Dengan segera Max mengikuti mobil tersebut dan berusaha agar tidak kehilangan jejaknya.
"Sialan! Siapa mereka? Kenapa Cherry bisa masuk ke dalam mobil mereka?!" seru Max dalam mobilnya.
Amarah Max sangat terlihat jelas kali ini. Bukan hanya marah, dia sangat panik saat ini. Dia sangat khawatir pada keadaan Cherry yang terlihat panik saat masuk ke dalam mobil mereka.
Max fokus mengemudikan mobilnya mengikuti mobil mereka agar tidak kehilangan jejak mobil tersebut.
Dengan sangat hati-hati sekali akhirnya Max bisa mengikuti mobil tersebut hingga mobil itu masuk ke dalam bangunan megah dan terlihat sangat mewah.
"Hotel? Kenapa mereka membawa Cherry ke dalam hotel?" Max bertanya-tanya ketika melihat mobil tersebut masuk ke dalam parkiran hotel.
Max pun segera melajukan mobilnya masuk ke dalam parkiran hotel. Dia harus bergegas agar tidak kehilangan jejak Cherry bersama kedua laki-laki tadi.
Tanpa menunggu lama, Max pun turun dari mobilnya dan mengikuti Cherry yang sedang berjalan dan diapit oleh kedua laki-laki tersebut.
Max kembali mengikuti mereka yang kini memasuki lift. Dengan segera dia menerobos masuk lift tersebut.
Untung saja persiapanku sebelum ke kampus Cherry tadi sangat lengkap. Jika tidak, pasti mereka akan mengenaliku sekarang, Max berkata dalam hatinya ketika sudah berada di dalam lift dan berdiri di pojok belakang mereka agar Cherry dan kedua laki-laki tersebut tidak curiga padanya.
Saat ini Max sedang menyamar dengan gaya pakaian yang berbeda. Dia memakai jaket hoodie yang dipakai di kepalanya dan memakai celana jeans ribbed. Serta kacamata hitam yang melengkapi penyamarannya.
"Kenapa Max ada di hotel?" tanya Cherry dengan heran pada kedua laki-laki yang ada di sampingnya.
Sontak saja Max terkejut mendengar pertanyaan yang diberikan oleh Cherry pada kedua laki-laki tersebut. Max memasang telinganya baik-baik agar bisa mendengar percakapan mereka.
Untung saja mereka hanya berempat berada dalam lift tersebut. Dan Max segera memasang headphone agar mereka tidak mengira jika Max mendengar percakapan mereka.
Headphone itu tidak mengeluarkan suara musik. Max hanya memakainya sebagai aksesoris pelengkap untuk penyamarannya. Bahkan dia berusaha memasang baik-baik indera pendengarnya agar bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka.
Kedua laki-laki itu melihat ke belakang di mana Max telah bersandar pada dinding lift dengan gaya sok cool nya seolah sedang mendengarkan musik.
__ADS_1
"Lebih baik kamu lihat saja nanti. Lebih cepat lebih baik. Agar Max bisa cepat tertolong," jawab salah satu dari kedua laki-laki tersebut.
Cherry mendongak melihat laki-laki yang menjawabnya tadi karena tinggi badan mereka yang tidak sama. Kemudian dia berkata,
"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa Max baik-baik saja?"
"Sudahlah jangan banyak tanya," sahut laki-laki yang satunya dengan tegas seolah keberatan dan terganggu dengan pertanyaan yang diajukan Cherry pada mereka.
Hal itu membuat keberanian Cherry seketika memudar. Kini dia merasa jika kedua laki-laki tersebut bukan orang baik-baik.
Max mengepalkan kedua tangannya. Dia kini tahu jika Cherry ikut bersama kedua laki-laki itu dengan alasan dirinya yang sedang berada di hotel itu.
Kurang ajar mereka! Berani-beraninya mereka menggunakan aku sebagai alasan untuk membawa Cherry datang ke tempat ini! Tidak akan aku biarkan mereka menyentuh sedikit pun kulit Cherry, Max mengutuk kedua laki-laki itu dalam hatinya.
Pintu lift terbuka dan Cherry ditarik paksa oleh kedua laki-laki tersebut. Max pun keluar dari lift itu dan berpura-pura memainkan ponselnya sambil berjalan agar mereka tidak curiga padanya.
Mereka berdiri di depan pintu kamar dan mengetuk pintu tersebut dengan terburu-buru, seolah tidak sabar untuk menunggu.
Terbukalah pintu kamar tersebut dan keluarlah seorang laki-laki muda yang menatap Cherry dengan tatapan penuh minat.
Mata laki-laki tersebut menatap tubuh Cherry mulai dari atas hingga bawah, seolah dia menjelajahi tubuh Cherry dengan menggunakan matanya.
Max berusaha kuat menahan amarahnya. Rasanya dia ingin sekali menghajar laki-laki itu dan mengenyahkannya dari muka bumi ini.
Laki-laki tersebut menarik tangan Cherry dengan kuat sehingga Cherry terbawa masuk ke dalam kamar tersebut tanpa bisa melawannya meskipun dia sudah berusaha memberontak.
Tiba-tiba saja dua orang laki-laki yang mengantar Cherry ke hotel tersebut jatuh di lantai dengan kondisi tidak sadarkan diri saat ini.
Sontak saja Cherry dan laki-laki yang menariknya tadi menoleh ke arah pintu. Mata mereka berdua terbelalak melihat sosok orang yang berdiri di depan pintu dengan menyeringai pada laki-laki tersebut.
Laki-laki itu terlihat sangat marah. Dia berjalan mendekat ke arah pintu dan berkata,
"Kurang ajar! Siapa kamu?!"
__ADS_1