Mata Cinta

Mata Cinta
Farel Benci Luna


__ADS_3

Setelah Luna melihat bahwa Daniel tidak lagi ingin mengobrol dengannya, dia pun pergi ke arah seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam dan bertanya kepadanya.


"Apakah dia ada di sini? Jika dia ada di sini katakan kepadanya bahwa tidak akan lama lagi sebelum misi kita berhasil." Ucap Luna.


Pria yang menggunakan pakaian serba hitam itu memandang ke arah Luna.


"Bos tidak ada di sini. Aku akan menginformasikan kepadanya jika dia sudah datang." Balasnya.


Luna pun menganggukkan kepalanya dan kemudian dia pergi dari tempat itu. Dia duduk di dalam mobilnya dan menatap ke arah arlojinya yang sudah menunjukkan jam 11.03 malam.


Dia tahu bahwa sekarang sudah larut. Dia lantas menggunakan mantel untuk menutup pakaian seksinya dan menutup tubuhnya itu karena dia tahu bahwa pada jam seperti ini Farel pasti sudah pulang ke rumah dan dia harus membuat sebuah alasan kepada Farel karena sudah terlambat pulang.


.


.


.


.


.


.


Farel duduk di rumahnya dan tidak bergerak sama sekali. Saat dia mendengarkan kenyataan tentang Luna, dia hampir saja gila.


'Apa yang sudah aku lakukan? Orang yang mengetahui tentang orang yang aku cintai, aku malah menusuknya dan orang yang mempermainkan aku, menyakiti dirinya!'

__ADS_1


Farel menyadari bahwa situasinya saat ini benar-benar mempermainkannya. Dia merasa begitu bersalah kepada Rachel. Tapi dia tahu perasaan bersalah itu tidak akan baik untuk dirinya. Tapi bahkan setelah semua ini dia masih membenci Rachel.


'Rachel tahu orang yang menyelamatkan aku, tapi dia tetap mencoba untuk memisahkan kami. Jadi dia bukanlah seseorang yang bahkan berhak menjadi mantan istriku. Jika aku bisa memiliki waktu untuk bertemu dengannya lagi, aku akan langsung menanyakan kepadanya tentang orang yang sudah menyelamatkan aku di masa lalu.' pikir Farel.


Setelah memikirkan semua itu, sekarang pikiran Farel dipenuhi dengan Luna lagi. Dia hanya bisa menunggu kedatangan Luna untuk kembali pulang malam ini. Dia mau untuk melihat alasan apa yang akan dibuat Luna karena pulang terlambat.


Farel langsung mematikan semua lampu dan duduk di sofa sendirian. Dia hanya menunggu untuk berhadapan dengan Luna dan pertanyaan yang paling ingin dia tanyakan adalah, 'kenapa dia melakukan semua itu?'


Luna akhirnya tiba di rumah tepat di waktu yang sudah tengah malam. Saat dia memarkirkan mobilnya, dia melihat bahwa lampu sudah dimatikan. Jadi dia membuka pintu dengan perlahan dan masuk ke dalam rumah karena dia tidak mau membangunkan Farel. Jadi dia tidak menghidupkan lampu lagi.


Farel menyadari kehadirannya.


"Luna, apakah itu kau?" Ucap Farel.


Luna tampak terkejut. Jantungnya mulai berdetak dengan kencang. Dia pun menyalakan lampu hanya melihat Farel yang duduk di sofa dengan malas. Luna langsung merubah sikapnya dan berjalan mendekat ke arah Farel. Dia kemudian memberikan di bibir Farel dengan cepat.


Karena merasa gugup Luna mengatakan banyak hal saat itu. Farel bisa merasakan rasa gugup dari Luna dan menyeringai dalam hatinya. Tapi Farel juga merasa jijik karena sentuhan dari bibir Luna. Dia mencoba untuk menghilangkan rasa itu dari dalam hatinya dan melihat ke arah Luna dengan tatapan mata yang kosong.


"Tidak apa-apa. Tentu saja itu tidak mungkin kau mencoba untuk berbohong kepadaku. Jadi kenapa aku harus marah. Pergilah dan segarkan dirimu di atas, kemudian kau bisa tidur. Aku masih punya banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. Aku hanya menunggu dirimu." Ucap Farel.


Luna tidak merasakan hal yang aneh dalam sikap Farel, jadi dia dengan cepat bangun dan langsung naik ke lantai atas dengan menggenggam erat mantelnya. Dia tidak mau Farel melihat tanda merah di seluruh tubuhnya karena apa yang dia lakukan sebelumnya. Tapi Farel menyadari sebuah tanda merah di lehernya.


"Luna ada sesuatu di dekat lehermu, tanda apa itu?" Tanya Farel.


Luna langsung gugup. Dia mencoba untuk menenangkan dirinya dan tersenyum.


"Tidak ada Farel. Aku mungkin tidak sengaja menggaruknya ini sangat gatal sebelumnya." Ucap Luna.

__ADS_1


Farel tidak membalas ucapan Luna, jadi Luna dengan cepat pergi ke kamarnya. Saat Luna menutup pintu kamarnya, Farel begitu marah dan meninju tembok dengan keras. Tangannya mulai berdarah. Rasa sakit yang disebabkan oleh Luna malam ini di tangannya tidak berbanding sama sekali dengan rasa sakit yang dia rasakan dihatinya.


Farel lalu pergi ke dapur dan membuka keran dan mulai mencuci tangannya lalu mengambil kotak obat dari dalam lemari. Dia dengan hati-hati memakai obat dan kemudian memakaikan perban di lukanya dengan cara yang buruk.


Dia belum mau membongkar keburukan dari Luna sekarang karena belum saatnya. Dia merasa bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat. Dia mau tahu identitas sebenarnya dari orang yang bersama dengan Luna dalam menjalankan sebuah rencana itu dan untuk melakukan hal itu, Farel tidak bisa keluar dari bayangannya sekarang.


Jika Luna mau untuk bermain-main dengan tetap berada dalam kegelapan, maka Farel juga akan melakukan hal yang sama.


Tiba-tiba Farel pun berpikir.


'Bagaimana jika aku mengintainya selama 24 jam dalam satu minggu?'


Farel lalu dengan cepat menelepon sekretarisnya di tengah malam dan memberikan beberapa perintah kepada sekretarisnya itu.


Sekretaris Farel terdengar jelas sangat kesal dan Farel bisa merasakan hal itu dari suaranya. Tapi Farel tidak menghiraukan hal itu dan langsung menutup sambungan telepon setelah dia memberikan perintah kepada sekretarisnya itu.


Kemudian setelah itu dia mulai memikirkan tentang apa yang Luna dan Daniel bicarakan. Dia tidak tahu siapa nama Daniel dan bahkan dia tidak mengenal siapa Daniel itu. Tapi di dalam kepalanya hanya memikirkan tentang apa yang dikatakan Luna tentang menutup mulut Rachel. Farel memikirkan tentang apa yang Luna sudah lakukan kepada Rachel.


Farel tiba-tiba mengingat tentang video yang diterima Luna di ponselnya dan penasaran tentang isi dari video itu. Dia merasa bahwa itu mungkin saja berguna bagi dirinya di masa depan. Jadi tanpa berpikir lebih lama, dia langsung menghubungi salah seorang temannya yang bisa menyadap ponsel. Dia memutuskan untuk menelpon temannya itu hari berikutnya.


Farel lalu mengusap keningnya karena dia merasakan sakit kepala yang tiba-tiba datang setelah memikirkan terlalu banyak masalah. Dia tidak mau untuk berbagi tempat tidur yang sama dengan Luna malam ini, jadi dia pun pergi ke tempat tidur yang ada di dalam ruang belajarnya.


Luna tidak akan pernah mencurigai dirinya, jika dia tertidur di ruangan kerjanya karena dia sudah sering melakukannya. Tanpa memikirkan hal itu lagi, Farel pun langsung pergi tidur. Dia tidur dengan cepat, tapi seseorang tidak bisa tidur dan orang itu adalah Luna.


Luna tidak menemukan apapun yang berbeda dari sikap Daniel. Tapi dia merasa bahwa semuanya akan mulai berubah. Dia pikir bahwa ini semua mungkin untuk kebaikan dirinya sendiri. Tapi semuanya tidak akan terjadi seperti yang dia bayangkan karena pencarian dari orang yang berada di belakang dirinya sudah dimulai dan semua itu akan merubah banyak hal.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2