
Rachel dan Max akhirnya tiba di rumah. Max tampak begitu bahagia untuk segera bertemu dengan Alex.
Di sisi lain Farel ingin mencari tahu siapa orang yang menyelamatkannya. Tapi itu semua tidak semudah seperti yang dia pikirkan. Max sekarang ada di sini untuk membuatnya menderita dan Farel tidak mengetahui hal itu sama sekali.
Max disambut dengan hangat oleh semua orang di dalam rumah. Dia merasakan kehangatan sebuah keluarga untuk pertama kalinya. Air matanya jatuh ke pipinya. Dia dengan cepat mengusapnya tapi Rachel sudah melihatnya lebih dulu.
"Kenapa kau menangis?" Tanya Rachel.
Max tersenyum dan berkata dengan bahagia, "rasanya seperti memiliki sebuah keluarga yang melakukan sebuah reuni." Balas Max.
Hati semua orang tersentuh. Rachel langsung memeluk Max dengan erat dan mengusap kepalanya lembut. Max merasa begitu bahagia karena akhirnya bisa bertemu dengan Rachel lagi.
Hari berlalu dengan cepat dan sekarang sudah sore hari. Rachel pergi menemui Max dan mereka sekarang hanya berdua saja.
"Jangan merasa bersedih seperti itu. Tinggal lah dengan orang tuamu selama dua hari dan setelah itu kau bisa kembali lagi kesini." Ucap Rachel.
"Tapi Ma, aku tidak mau pergi kesana. Mereka bahkan tidak pernah peduli kepadaku sebelumnya. Sekarang tiba-tiba saudariku meninggal karena penyakit jantung dan mereka baru membutuhkan aku dan itu juga karena aku adalah satu-satunya penerus mereka yang tersisa. Aku tidak mau meninggalkan kalian bahkan 1 menit pun." Ucap Max.
Rachel mencoba untuk membujuk Max.
"Jika kau tinggal bersama mereka, maka kita akan pergi piknik hari minggu berikutnya. Sebuah piknik keluarga. Tidakkah kau menginginkan hal itu?" Ucap Rachel.
Mata Max tampak bersinar setelah mendengar Rachel mengatakan tentang sebuah liburan keluarga. Dia langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Baiklah antar aku ke rumah orang tuaku. Setelah 2 hari aku akan kembali." Ucap Max.
Rachel tersenyum kepada Max dan mereka berdua pun pergi.
__ADS_1
Max sampai di rumah orang tuanya sebelum pintu mobil terbuka dan melangkah keluar. Dia mengambil nafas dalam dan menyiapkan dirinya secara mental.
Setelah meninggalkan Max di rumah orang tua kandungnya, Rachel pun pulang ke rumah. Semua orang pun makan malam dan tertidur.
Sebelum datang ke rumah orang tuanya, Max sudah menghubungi beberapa orang terpercaya Rachel dari dunia bawah. Dia ingin membuat Farel menderita.
Semua orang saat ini sudah tertidur kecuali Max. Dia mau menunggu panggilan dari seseorang, dan beberapa saat kemudian, dia pun mendapat panggilan yang sejak tadi di tunggunya itu.
"Apakah dia mencoba mencari sesuatu tentang Mama?" Tanya Max.
"Dia akan pergi ke rumah sakit besok untuk mengecek CCTV dan melihat siapa yang membawanya ke rumah sakit dan tidak ada yang lain untuk sekarang." Ucap seseorang dari sambungan telepon itu.
Max pun memiliki sebuah ide.
"Biarkan dia mengambil CCTV itu dan hanya itu saja. Tapi jangan biarkan dia tahu hal lainnya yang lebih dari itu." Ucap Max lalu menutup sambungan telepon.
Max berbaring di atas tempat tidur dan bicara pada dirinya sendiri.
...----------------...
Hari berikutnya berlalu seperti biasanya bagi Rachel dan keluarganya. Sementara bagi Max, orang tuanya mencoba untuk memintanya tetap tinggal bersama mereka dan mengambil alih bisnis setelah Max berusia 18 tahun. Max tidak mau terjadi sebuah drama lebih jauh. Jadi dia pun memilih untuk setuju sekali lagi.
Semuanya terasa begitu normal bagi semua orang, tapi itu tidak sama bagi Farel.
Pagi ini Farel terbangun dari tidurnya cukup awal dan dia dengan cepat menyiapkan dirinya mulai dari mandi dan berganti pakaian kemudian pergi ke rumah sakit.
Dia tiba di rumah sakit dengan ditemani oleh sekretarisnya. Mereka berjalan menuju meja resepsionis. Resepsionis di Rumah Sakit itu pun bertanya kepadanya.
__ADS_1
"Apa yang bisa saya bantu Tuan?" Tanya resepsionis itu.
Farel pun bicara padanya.
"Aku harus memeriksa kamera CCTV dari rumah sakit ini. Aku sudah punya izin, jadi aku bisa melakukannya." Ucap Farel.
Dia lalu menunjukkan sebuah kertas di mana itu adalah tanda tangan dari kepala rumah sakit di mana dalam kertas itu berisi keterangan yang mengizinkan Farel untuk bisa memeriksa CCTV rumah sakit.
Resepsionis itu pun menganggukkan kepalanya dan memanggil staf yang berwewenang dan menginstruksikan kepada staf itu untuk melakukan apa yang Farel inginkan.
Beberapa saat kemudian, Farel duduk di depan sebuah ruangan kontrol untuk menonton CCTV yang terjadi hari dimana dia dibawa ke dalam rumah sakit waktu itu. Dia tidak bisa melihat wajah dari pria yang membawanya kemari dari kamera utama. Lalu dia membuka rekaman CCTV dari kamera lainnya dari sudut lainnya. Kali ini Farel pun bisa mendapat wajah dari pria itu.
Farel tampak begitu terkejut karena dia tidak menyangka bahwa apa yang dikatakan orang tuanya kepada dirinya memang benar adanya. Dia tidak mempercayai apa yang dilihatnya bahwa Liam juga lah orang yang membawanya ke rumah sakit ini. Dia sama sekali tidak tahu ada hubungan apa antara Rachel dan Liam. Tapi dia meyakini bahwa Liam membantu dirinya karena Nancy.
Jadi Farel pun berpikir bahwa Liam, Rachel dan Daniel adalah orang yang menyelamatkannya, tapi dia tidak tahu identitas dari orang keempat. Dia hanya mendengar nama Daniel disebut sebelum dia tidak sadarkan diri. Jadi dia hanya tahu nama Daniel saja tanpa mengenalinya.
Meski sebenarnya dia tidak ingin melakukannya, tapi dia merasa bahwa dia harus berterima kasih kepada Rachel dan bicara kepadanya tentang masalah ini.
Setelah itu, dia lalu meninggalkan rumah sakit dan memerintahkan sesuatu pada sekretarisnya.
"Hubungi Rachel atau Liam dan katakan kepada mereka bahwa aku ingin bertemu dengan mereka." Ucap Farel.
Sekretarisnya pun menganggukkan kepalanya dan kemudian pergi.
Siang harinya, Max mendapatkan informasi tentang apa yang dilakukan Farel itu, dan saat ini dia masih dalam panggilan telepon.
"Jangan biarkan dia menghubungi seorang pun dari mereka. Aku akan bicara dengan Mama dan adikku. Kau jangan biarkan mereka menemukan petunjuk apapun, itu saja." Ucap Max lalu menutup sambungan telepon.
__ADS_1
Max tersenyum dengan kejam dan berkata, "sekarang rasakan dan kau juga harus menderita dengan rasa sakit itu. Hanya setelah itu, semuanya akan adil bagi Mama ku." Ucap Max.
Bersambung....