
Farel pergi menemui Rachel. Baik Rachel maupun Liam memunggungi dirinya. Jadi mereka tidak bisa melihat kedatangan Farel. Tapi Max melihat Farel dan Max mempunyai sebuah rencana.
Max berkata, "Mama, ayo kita kembali sekarang. Aku merasa tidak sehat. Ayo pergi dengan cepat. Jangan menunggu lebih lama lagi."
Max begitu terburu-buru mengajak Rachel pergi. Rachel tampak kebingungan. Dia mengerti bahwa Max ingin melakukan sesuatu. Rachel pun tetap mengikuti keinginan Max, jadi Rachel pun dengan cepat ingin membawa Max pergi.
Farel begitu terkejut mendengar Max memanggil Rachel dengan sebutan 'Mama'. Tapi Farel yakin bahwa itu semua tidak mungkin bagi Rachel untuk melahirkan Max karena dialah yang mengambil keperawanan Rachel. Jadi Farel menggelengkan kepalanya.
Farel melihat Rachel hendak pergi, jadi dia dengan cepat berkata, "permisi Rachel. Aku harus bicara denganmu. Jadi dengarkan aku, ini sangat penting."
Max tidak menyangka bahwa Farel akan melakukan hal itu. Dia menyeringai saat melihat ke arah Farel. Rachel menyadari seringai yang dilakukan Max dan yakin bahwa Max melakukan hal itu untuk mengganggu Farel.
Rachel pun menghela nafas dan berkata, "tapi apa yang Tuan Farel ingin bicarakan dengan seorang wanita yang tidak berguna sepertiku ini?"
Farel tidak tahu kenapa, tapi dia merasa terluka saat dia mendengar Rachel memanggil dirinya dengan sebutan begitu formal. Dia tidak menghiraukan perasaannya itu dan kembali bicara dengan Rachel.
"Rachel, aku perlu bicara denganmu jadi ikutlah denganku." Ucap Farel.
Liam berpikir untuk tidak membiarkan mereka hanya berdua saja, jadi dia bersiap untuk pergi dengan Rachel dan Farel. Tapi Max bicara lebih dulu.
"Hai Tuan, jaga bicaramu. Dia itu bukan istrimu lagi. Kau harus bicara kepadanya dengan baik dan bukan memerintahkannya. Jika kau sangat ingin bicara dengan Mamaku, maka kau harus menghargainya dan meminta kepadanya dengan baik tanpa memerintahkannya. Kau pikir kau itu siapa sebenarnya, hah?" Ucap Max.
Farel tidak menyangka akan hal itu terjadi, dia kehilangan kata-katanya.
"Max, jangan bicara dengan kasar kepadanya. Dia lebih tua darimu dan kita akan kembali ke rumah setelah bicara dengannya. Kau tunggulah di sini dengan sabar." Ucap Rachel.
Farel benar-benar ingin pergi bersama Rachel. Max pun merasa kesal dan berkata dengan suara yang pelan di mana itu hanya didengar oleh Farel.
"Lebih tua apanya! Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian dengan pria badjingan ini."
Farel terdengar terbatuk setelah mendengarkan hal itu. Rachel juga mendengarkan ucapan Max. Dia menghela nafas dan meminta Farel untuk mengikuti dirinya. Mereka semua lalu berjalan perlahan keluar dari arena pesta dan pergi ke luar Taman. Mereka berempat pun berdiri di taman.
Farel begitu ragu untuk mengatakan semua itu di depan Max, tapi Rachel memintanya untuk melanjutkan ucapannya itu.
__ADS_1
"Jadi kenapa kamu menyelamatkanku?" Ucap Farel
"Aku berutang kepadamu karena Nancy selama ini bersama denganku. Dan itulah kenapa aku menyelamatkanmu dari Charles." Balas Rachel.
Farel menganggukkan kepalanya dan kembali bertanya, "jadi siapa orang yang menemanimu waktu itu?"
Rachel langsung menjawab begitu saja.
"Liam, Daniel, Nancy. Sementara Ferry Tengah menjaga Alex."
Rachel langsung menutup mulutnya dengan tangannya.
Farel tidak pernah mendengarkan nama itu. Jadi dia pun bertanya, "siapa Alex itu?"
Jantung Rachel berdetak begitu kencang.
"Tidak, bukan siapapun." Ucap Rachel.
Farel tidak tertarik untuk mengetahui siapa Alex itu. Dia akhirnya bisa bertanya apa yang dia inginkan. Dia pun menelan ludah dan berkata.
Farel menanyakan hal itu dengan perasaan yang gugup. Jantungnya berdetak begitu kencang sebelum menanyakan hal itu, dia ingin mengetahui nama dari wanita yang mendonasikan mata untuknya itu dia tetap melihat ke arah Rachel.
"Apa kau ingat bahwa dia mengatakan bahwa dia tidak akan pernah mengatakannya sendiri jika dia lah yang memberikan mata itu kepadamu. Kau harus menemukannya sendiri jika dia menghilang." Ucap Rachel.
Farel menganggukkan kepalanya dan berkata, "iya, aku mengingatnya. Aku harus menemukan dirinya dan aku tidak mau merusak janji kami." Balas Farel.
Jantung Rachel berdetak kencang saat dia mendengar bahwa Farel akan menepati janjinya.
Rachel mengontrol air matanya dan berkata, "dan itulah kenapa aku tidak akan pernah mengatakan kepadamu siapa orangnya. Jadi aku rasa kita tidak punya apapun lagi untuk dikatakan. Selamat tinggal Tuan Farel. Liam dan Max, ayo kita pergi sekarang."
Liam dan Max kemudian berbalik untuk pergi. Rachel juga berbalik. Farel tidak menyangka bahwa Rachel tidak mau mengatakan siapa orang yang dia cintai itu.
Farel bisa melihat mereka pergi dan dia tahu bahwa Rachel tidak akan mengatakan nama dari wanita itu. Jadi Farel pun berteriak.
__ADS_1
"Kau benar-benar wanita murahan Rachel. Kau tidak mau mengatakan kepadaku namanya. Tapi ingatlah apapun yang kau lakukan. Aku akan tetap menemukan dia bahkan jika itu membutuhkan waktu bertahun-tahun, aku akan melakukannya."
Rachel merasa terluka mendengar Farel menyumpahi dirinya. Air matanya terjatuh ke pipinya. Dia pun berkata kepada dirinya sendiri dengan pelan.
"Aku berharap kau bisa menemukan siapa dia itu. Bagaimanapun menurut janji yang kita katakan, aku tidak akan pernah mengatakan bahwa orang itu adalah aku." Ucap Rachel perlahan.
Dia lalu dengan cepat pergi. Liam dan Max juga mengikuti dirinya.
Farel begitu marah kepada Rachel. Dia mau mengutuk Rachel terus-menerus. Jadi dia bisa menumpahkan amarahnya itu. Dia menghentakkan kakinya. Tapi itu tidak bisa membantunya. Kemudian dia pergi mendekat ke arah tembok dan meninju tembok itu. Darah keluar dari punggung tangannya. Tapi rasa sakit itu tidak bisa dibandingkan dengan rasa sakit yang dia rasakan di dalam hatinya.
Rachel tidak kembali ke pesta. Dia langsung pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya agar bisa menyegarkan dirinya sendiri. Dia kemudian kembali ke pesta dan bertemu dengan beberapa orang. Dia menginformasikan kepada mereka semua bahwa dia akan pergi. Kemudian setelah itu dia pun pergi.
Max pergi dengan Rachel, sementara Liam masih harus menghadiri pesta itu sebagai orang yang menggantikan Rachel.
Farel melihat darah di tangan kanannya dan kemudian pergi ke toilet. Dia membuka keran air dan membiarkan air itu membasuh darah dari tangannya. Luka di punggung tangannya itu terasa memanas saat tersentuh dengan air. Rasanya begitu panas dan menyakitkan. Dia menahan rasa sakit itu dan mengikat tangan kanannya dengan sapu tangan miliknya. Dia berpikir untuk merawat lukanya itu setelah dia kembali ke kamarnya nanti.
Farel kembali ke pesta tapi dia tidak melihat Rachel ataupun Max. Dia hanya melihat Liam. Dia pun merasa kesal. Farel berpikir bahwa Rachel takut kepada dirinya dan itu pun kenapa Rachel kembali ke kamarnya.
Rachel sebenarnya kembali karena dia merasakan rasa sakit di mata kanannya dan rasa sakit itu tidak tertahankan. Mata kanannya terasa seolah ingin keluar dan itu bukanlah pertama kali dia merasakan hal itu. Sejak beberapa bulan belakangan, rasa sakit itu terus saja muncul dan itu semua menjadi tidak tertahankan.
Rachel masih tidak sampai ke kamarnya. Max tengah pergi bersamanya. Rasa sakit sekarang tidak bisa ditahan oleh Rachel. Kepalanya mulai berputar, dia berusaha menahan dirinya sendiri di tembok dan duduk di lantai.
Max tampak ketakutan. Dia langsung memanggil nama Rachel berkali-kali, tapi Rachel tidak menjawab karena Rachel sudah tidak sadarkan diri.
Max dengan cepat mengambil ponselnya dan menelpon Liam. Liam pun menjawab panggilan itu.
"Apa yang terjadi?" Tanya Liam.
Max terdengar menangis.
"Mama.... Mama tidak sehat. Cepatlah datang Kak. Sesuatu terjadi kepada Mama." Ucap Max.
"APA???" Teriak Liam.
__ADS_1
Bersambung...