Mata Cinta

Mata Cinta
Kondisi Rachel


__ADS_3

Semua orang yang berada di dekat Liam melihat ke arahnya. Liam dengan cepat menutup sambungan telepon itu dan meminta maaf kepada semua orang dan keluar dari pesta itu.


Dia berjalan cepat ke arah elevator di mana Rachel dan Max seharusnya berada. Liam pergi ke sana dan melihat Rachel terduduk di lantai dengan punggungnya yang bersandar di tembok. Liam dengan cepat memegang wajah Rachel dengan kedua tangannya dan hendak memanggil nama Rachel saat dia merasakan sesuatu.


Tubuh Rachel terasa begitu panas. Dia mengetahui bahwa Rachel tengah demam. Sekarang dia hanya punya satu pilihan yaitu dengan membawa Rachel ke kamarnya dengan cepat, jadi Rachel bisa beristirahat. Dia meminta Max untuk memegang tas dan ponsel Rachel kemudian dia mulai menggendong Rachel dan dengan cepat masuk ke dalam elevator.


Max menekan tombol elevator. Beberapa menit kemudian Liam dan Max secepatnya masuk dan menekan tombol menuju lantai mereka.


Mereka dengan cepat tiba di kamar Rachel dan Liam membaringkan Rachel di atas tempat tidur.


Liam memberikan obat untuk menurunkan demam untuk Rachel dan juga memberikan beberapa obat tidur. Mereka berada jauh dari rumah sakit jadi Liam perlu untuk menjaga Rachel sebelum mereka pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.


Sebelumnya di pesta tadi saat Liam pergi dengan cepat, Farel mengikuti dirinya. Dia melihat Liam pergi ke arah elevator dengan cepat. Farel kemudian melihat seseorang duduk di lantai dan setelah berpindah sedikit, dia pun bisa melihat wajah dari orang itu yang ternyata adalah Rachel.


Rachel terlihat pucat dan juga sakit. Farel berpikir bahwa Rachel tersadar, tapi dia takut setelah melihat kondisi Rachel terlihat seperti sudah kehilangan nyawanya.


Jantung Farel berdetak kencang melihat Rachel seperti itu. Dia dengan segera berbalik dan pergi. Tapi dia tetap tidak bisa melupakan apa yang dia lihat barusan yang terjadi kepada Rachel.


Di dalam kamar Rachel, Liam dan Max tengah menjaga Rachel. Saat itu sudah tengah malam. Liam pun meminta Max pergi ke kamarnya dan dia yang menjaga Rachel sendirian. Liam tertidur di sofa di dalam kamar Rachel.


Hari berikutnya saat Liam bangun, dia melihat tempat tidur sudah kosong. Dia hendak membuka pintu dan keluar. Tapi dia berhenti setelah mendengar suara air dari dalam kamar mandi. Dia pun menghela nafas lega dan duduk.


Beberapa saat kemudian, Rachel keluar setelah tampak segar. Itu membuktikan bahwa Rachel sudah mandi. Liam tidak mengatakan apapun dan kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Dia pun mandi dan beberapa saat kemudian dia keluar.


Kemudian mereka mendengar suara ketukan di pintu. Liam membuka pintu dan itu adalah Max.


Max juga sudah bersiap dan masuk ke kamar mereka. Mata Rachel masih terasa pening.


Max pun berkata, "ayo pergi ke rumah sakit lebih dulu."

__ADS_1


Rachel tidak mau pergi. Tapi rasa sakit itu terlalu menyakitinya, jadi dia pun mengangguk untuk setuju.


Pesta yang diadakan di hotel itu pun sudah selesai. Jadi Rachel dan Liam mengucapkan selamat tinggal kepada semua orang dan pergi bersama dengan ada di lobi hotel saat Farel juga turun ke lobi itu. Rachel dan Max tengah menunggu Liam untuk membawa mobil ke arah mereka.


Mereka tidak melihat Farel ada di dekat mereka. Beberapa saat kemudian, Liam pun datang.


"Kita akan pergi ke rumah sakit mana?" Tanya Rachel.


"Rumah Sakit Harapan Keluarga." Balas Liam. "Itu adalah rumah sakit yang paling baik dengan spesialis mata yang ada di sini dan rasa sakit di mata kananmu mungkin akan menghilang secepatnya jika kita mengunjungi rumah sakit itu lebih dulu." Lanjut Liam.


Rachel hanya menganggukkan kepalanya dan duduk di dalam mobil. Max juga duduk di dalam mobil. Setelah itu Liam pun mengendarai mobilnya pergi. Sementara Farel berdiri dan memikirkan tentang kenapa Rachel harus pergi mengunjungi rumah sakit dan kenapa mata Rachel merasa sakit.


Farel begitu penasaran, tapi dia juga tidak terlalu penasaran di saat yang bersamaan. Dia berdebat dengan dirinya sendiri, apakah dia akan pergi mengikuti mereka atau tidak.


Farel akhirnya membuat keputusan dan mengikuti mereka. Butuh waktu satu setengah jam untuk tiba di rumah sakit. Farel tiba di sana setelah 5 menit dibandingkan Liam, Rachel dan Max. Tapi untungnya dia melihat mereka berdiri di luar gedung rumah sakit.


Dia mendengar Liam bertanya tentang dokter mata terbaik di rumah sakit itu. Resepsionis mengatakan kepada Liam nomor ruangan dari dokter itu. Mendengarkan bahwa mereka tengah mencari dokter mata, jantung Farel mulai berdetak sangat kencang.


Rachel kembali mulai terlihat pucat seperti kemarin. Mereka pun bergegas berjalan saat Rachel tiba-tiba pingsan. Liam dengan cepat memegang Rachel dan meminta resepsionis untuk menunjukkan ruangan kosong bagi mereka.


Resepsionis itu lalu membawa mereka ke sebuah ruangan. Farel pun mengikuti mereka.


Rachel bangun setelah beberapa menit. Farel berdiri di luar ruangan Rachel. Dia bisa mendengar apa yang mereka bicarakan karena ruangan Rachel tidak kedap suara. Rachel dan Liam tengah mengobrol saat Farel melihat Dokter Will datang ke arah ruangan Rachel. Farel dengan cepat bersembunyi dari sana.


Farel melihat Dokter Will masuk ke dalam ruangan Rachel dan kemudian dia kembali berdiri di luar pintu. Dari dalam mereka tidak bisa melihat Farel. Tapi Farel bisa melihat dan mendengar mereka. Dia pun mulai mendengarkan semua obrolan mereka.


"Apa yang terjadi? Kenapa kau menjadi begitu lemah?" Tanya Dokter Will.


"Rachel tidak bisa tidur dengan nyenyak beberapa hari ini karena rasa sakit di mata kanannya." Balas Liam.

__ADS_1


"Bagaimana hasil dari pemeriksaan mataku dan bagaimana kau bisa berada di rumah sakit ini?" Ucap Rachel.


"Aku dipindah tugaskan ke rumah sakit ini sebelum beberapa minggu yang lalu dan iya hasil pemeriksaan mu sudah keluar. Aku mungkin tahu apa penyebab dari rasa sakit mu itu." Ucap Dokter Will.


Max tampak terdiam melihat ke arah mereka dan hanya mendengar semuanya. Dia tidak mengatakan apapun, dia hanya melihat Farel yang berdiri di luar ruangan saat dia pergi ke toilet yang ada di dalam ruangan Rachel. Dia mau Farel mendengarkan semuanya dan mengetahui kebenarannya.


"Jadi apa yang kau pikirkan? Kenapa matanya terasa sakit?" Tanya Liam.


"Setelah donasi mata itu, semuanya baik-baik saja. Tapi karena dia mendonasikan itu dengan tubuhnya yang masih lemah karena dia sudah koma selama dua bulan. Jadi aku rasa itulah mungkin penyebab kenapa dia memiliki kesehatan yang lemah." Ucap Dokter Will.


"Apa maksud mu?" Tanya Rachel.


"Setelah beberapa tahun, otakmu mungkin berada di bawah tekanan secara terus-menerus. Jadi hal itulah yang membuat mata kananmu mulai merasakan efeknya, dan jika kau masih tidak melakukan operasi mata secepatnya, maka kau akan secara permanen kehilangan harapan untuk bisa melihat dengan mata kananmu itu." Ucap Dokter Will.


Rachel menggelengkan kepalanya tidak setuju.


"Tidak, aku tidak mau melakukan operasi mata lainnya." Balas Rachel.


"Baiklah, tapi maka kau akan kehilangan harapan untuk bisa melihat melalui mata kananmu secara permanen dan apakah kau yakin kau tidak mau mengatakan kebenarannya kepada dirinya?" Ucap Dokter Will dengan menghela nafas.


Rachel tampak terdiam.


"Kenapa kau tidak membiarkan kami yang mengatakan bahwa kau yang menyelamatkan Farel? Kenapa kami harus menutup mulut kami di hadapan dirinya? Kaulah yang membuat janji bodoh itu dengannya. Jadi kenapa kami harus ikut juga." Ucap Liam.


Rachel masih saja terdiam dan Farel dapat mendengar suara Rachel dengan jelas dari luar ruangannya itu.


Bersambung....


(NB: Hal yang mengenai mata Rachel yang terasa sakit itu hanya dibuat-buat oleh author. Author tidak tahu apakah itu adalah informasi yang valid terjadi dalam kenyataan atau tidak. Jadi maafkan author untuk hal itu jika salah.)

__ADS_1


__ADS_2