
Semuanya berjalan dengan dengan begitu cepat. Rachel dan Liam terus saja mencari tahu tentang orang yang berada di balik kematian Papa mereka namun dengan cara yang hati-hati. Tapi mereka tetap belum mendapatkan apapun. Sementara itu di sisi lain Edward sudah mengetahui tentang siapa yang mencari tahu informasi tentang dirinya, yaitu Rachel dan Liam. Dia juga mengetahui bahwa ada orang lain yang sudah mendapatkan informasi tentang dirinya. Namun dia belum tahu siapa identitas orang itu.
Edward suka melakukan sesuatunya secara langsung. Dia mau bertemu dengan mereka secara tatap muka dan menyelesaikan semuanya dengan cepat.
Dia tidak pernah suka untuk melakukan sesuatu dari belakang layar. Dia dulu bahkan membunuh Papa Rachel saat dia pergi ke rumah sakit di dalam sebuah ruangan dimana Papa Rachel di rawat dan memaksanya untuk meminum obat itu secara langsung dari tangannya sendiri.
Jadi kali ini tidak ada yang berbeda. Edward mau menyelesaikan semuanya melawan Liam dan Rachel secepat mungkin. Setelah itu dia ingin mengetahui identitas dari orang yang mendapatkan informasi tentang dirinya. Edward pun mulai mengikuti Rachel.
...----------------...
Di sisi lain Farel akhirnya mendapatkan informasi tentang Edward. Dia pun memikirkan untuk mengatakan semuanya kepada Rachel tentang apa yang dia temukan tentang Edward. Tapi dia juga begitu berhati-hati untuk tidak membawa file itu bersamanya. Dia ingin mengatakan semuanya kepada Rachel dan setelah itu, dia akan memberikan Rachel buktinya.
Hari itu kebetulan adalah hari minggu. Farel memutuskan untuk pergi ke rumah Rachel. Farel begitu bingung apakah dia akan memencet bel pintu atau tidak.
Dia tiba-tiba melihat pintu terbuka yang membuatnya menjadi begitu terkejut.
"Liam, bagaimana kau bisa tahu bahwa aku ada di pintu?" Tanya Farel.
"Aku punya kamera yang ada di depan pintu. Aku hanya memeriksa dan melihatmu berdiri disini, jadi aku datang untuk membukanya. Tapi kenapa kau tidak memencet bel nya?" Tanya Liam.
Farel merasa malu.
"A... aku aku berpikir, apakah aku harus memencetnya atau tidak." Ucap Farel.
Mereka berdua lalu masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu. Farel hendak menanyakan tentang Rachel saat dia melihat Rachel turun dari lantai atas. Tapi dia tidak menyangka bahwa dia akan melihat Rachel memegang seorang anak kecil di dalam gendongannya.
Farel masih berpikir bahwa itu mungkin saja anak dari Nancy. Dia tidak mau mempercayai apa yang dikatakan oleh hatinya. Rachel melihat Farel dan kemudian melihat ke arah Alex. Dia tahu bahwa Farel pasti akan menanyakan tentang identitas Alex. Tapi dia tidak tahu bagaimana untuk menjawabnya nanti.
Dia lalu mendekat dan duduk di samping Liam.
"Aa.. Anak siapa ini?" Tanya Farel gugup.
Rachel berpikir untuk berbohong, tapi Liam memegang tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Rachel pun mengerti bahwa Liam memintanya untuk mengatakan kebenarannya.
"Dia adalah anakku, darah daging ku. Namanya Alexander Miller, kami memanggilnya Alex." Ucap Rachel.
Rachel begitu gugup mengatakan hal itu. Tapi Farel sudah salah sangka dengan situasi itu. Farel tidak pernah mengetahui nama panjang Rachel sebelum pernikahan mereka. Jadi dia berpikir bahwa Rachel dan Liam adalah sebuah pasangan.
__ADS_1
Dia pun berkata, "oh, jadi seperti itu. Kau seharusnya mengatakan kepadaku bahwa kau sudah punya pasangan. Aku hanya berharap bahwa kalian berdua bahagia."
Rachel tampak bingung. Dia tidak mengerti dengan omong kosong apa yang dikatakan oleh Farel.
"Tunggu! Dengan siapa kau berharap aku bahagia? Aku? Kenapa?" Ucap Rachel bingung.
Farel pun berkata, "kau bilang nama anak itu Alexander Miller. Jadi itu sudah jelas bahwa Liam adalah..."
Liam tidak membiarkan Farel melanjutkan ucapannya. Dia pun langsung memotong ucapan Farel.
"Tentu saja tidak! Kami bukan seperti yang kau pikirkan itu. Apakah kau bahkan tidak mengetahui nama belakang Rachel?"
"Dia keluarga Miller bukan? Namanya Rachel Miller. Aku tahu karena jika dia bukanlah Miller, lalu bagaimana Alex mendapatkan nama itu?" Ucap Farel.
Liam menghela nafas.
"Iya, dia adalah keluarga Miller. Dan tentu saja Alex akan mendapatkan nama panjang itu karena Rachel berasal dari keluarga Miller."
Farel tampak kebingungan.
Rachel kehilangan akalnya dan berkata, " apa-apaan omong kosong yang kau ucapkan itu Farel?"
Lia lalu melihat ke arah Farel dan berkata dengan tenang.
"Kami bukanlah pasangan. Kami ini adik kakak. Dia adalah kakak tertuaku, Nona Rachel Miller, CEO dan pewaris dari properti Keluarga Miller."
Farel tampak begitu terkejut. Dia pun kembali bicara.
"Liam, apa kau serius?"
"Aku benar-benar serius. Lakukan saja tes DNA mu maka kau akan membuktikan hal itu sendiri." Ucap Liam.
Farel tidak tahu harus mengatakan apa yang dia rasakan. Tidak tahu kenapa dia mulai menangis. Rachel dan Liam tidak tahu apa yang terjadi. Farel lalu kembai bertanya.
"Bolehkah aku bertanya siapa Daniel?"
"Oh Daniel, dia bersama kami sudah seperti saudara sendiri. Kami tidak memiliki hubungan darah." Ucap Rachel.
__ADS_1
Saat Rachel mengatakan hal itu, Daniel mendengarnya.
Dia pun berkata, "tidak peduli dengan hubungan darah. Kau menyelamatkan hidupku saat kita bahkan tidak mengenal satu sama lain. Kau mengambil resiko dalam hidupmu untuk menyelamatkan aku. Jadi aku menganggap mu sebagai saudariku sendiri dan Liam, saudaramu juga merupakan saudaraku."
Farel tidak tahu berita mana yang semakin membuatnya terkejut. Mulai dari Rachel yang menjadi CEO dari Miller Group dan dia juga merupakan saudari dari mereka semua.
Farel menyesali semuanya dan sekarang dia semakin menyesali semuanya. Tiba-tiba sesuatu datang ke pikirannya.
Dia pun berkata, "aku bisakah kau mengatakan apa yang terjadi hari itu di pesta itu?"
Liam tahu bahwa hari ini akan datang. Jadi tanpa mengatakan apapun Liam membuka video dari hari itu dan memberikannya kepada Farel. Tangan Farel gemetar, tapi dia tetap memegang ponsel itu di tangannya. Farel tidak tahu bagaimana untuk bereaksi setelah menonton video itu.
Video itu seolah menunjukkan bahwa dia menusuk dirinya sendiri di tempat yang sama di mana dia menusuk Rachel. Tapi dia tidak punya keberanian untuk melakukannya. Dia pun mulai menjadi pucat. Kepalanya mulai terasa berat. Dunianya terasa berputar dan dia tidak tahu apa yang terjadi. Tapi dia merasakan matanya terasa aneh dan pikirannya pun kesadarannya pun menghilang.
Rachel dan Liam tetap melihat ke arahnya. Mereka merasa sesuatu yang salah tengah terjadi. Saat mereka melihat Farel menjadi pucat, dan detik berikutnya Farel terjatuh di sofa tepat di depan mata mereka. Secepatnya baby Alex mulai menangis. Itu semua seolah dia merasakan rasa sakit yang dirasakan Papanya.
Liam lalu membaringkan Farel di sofa dengan baik dan menelpon seorang Dokter secepatnya.
Beberapa saat kemudian, Dokter pun datang dan melakukan pemeriksaan kepada Farel.
"Dia terlalu stress selama beberapa hari ini, kelihatannya seperti itu. Dan mungkin karena tekanan yang terjadi secara tiba-tiba membuatnya kehilangan kesadarannya seperti ini. Aku sudah memberikan beberapa obat untuk menjaga dirinya. Dia harus beristirahat dengan baik." Ucap Dokter itu.
Daniel menunjukkan jalan keluar kepada dokter kemudian dia membawa Alex ke dalam kamar dan Rachel tetap berada di sana dengan menatap Farel. Sementara Liam menghubungi sekretaris Farel untuk mengatakan agar menghapus jadwal Farel selama 2 minggu ke depan karena Farel tidak sehat.
Semuanya pun selesai dilakukan. Setelah beberapa saat kemudian, Farel pun akhirnya bangun. Dia benar-benar mengalami sakit kepala yang amat sangat. Dia lalu duduk dan menatap Rachel masuk. Dia begitu bahagia melihat Rachel yang perhatian terhadap dirinya.
Tapi tiba-tiba dia memikirkan tentang Alex. Dia begitu penasaran tentang identitas Alex. Entah kenapa hatinya seolah mengetahui kebenarannya. Tapi dia mau mengkonfirmasi semua itu dan dia pun bertanya kepada Rachel.
"Rachel, Alex adalah putra kita bukan?" Ucap Farel.
Rachel sebenarnya berencana untuk tidak menghiraukan pertanyaan itu sebelum masuk ke dalam kamar. Tapi saat dia mendengar Farel berkata 'putra kita', dibandingkan dengan putraku atau putramu, hatinya pun merasa bahagia. Dia bahkan sedikit tersenyum.
Dia pun mengatakan, "iya, dia adalah putra kita."
Dunia seolah menjadi begitu berbunga-bunga. Baik Farel dan Rachel, keduanya tersenyum dan mereka tidak tahu kenapa.
Bersambung....
__ADS_1