
Tuan Edward menarik pelatuk senjata itu. Rachel mendengar suara itu dengan sangat jelas. Jantungnya mulai berdetak begitu kencang.
'Dor!'
Setelah beberapa detik dia mendengar suara senjata itu, dia menunggu rasa sakit yang akan segera datang. Tapi dia hanya merasakan sebuah dorongan di tangannya dan diapun terjatuh.
Di saat yang bersamaan dia mendengar suara seorang pria yang terdengar kesakitan. Rachel merasa familiar dengan suara itu dan dia langsung membuka matanya dan melihat Farel berada di lantai. Farel mendapat luka tembak di dadanya dan darah mengucur deras dari luka itu.
"Kenapa kau ikut campur diantara kami? Kenapa kau tidak membiarkanku membalaskan dendam ku?" Teriak Tuan Edward.
Farel melihat ke arah dokumen yang ada di sampingnya dan berusaha meraihnya tapi tidak bisa. Dokumen itu terjatuh dari tangannya saat dia tertembak.
Dia merasa begitu kesakitan karena luka tembak di dadanya. Rachel mendekat ke arahnya dan menaruh kepala Farel di pangkuannya. Rachel begitu menangis dan Farel menunjuk ke arah dokumen itu dan dengan sulit berbicara.
__ADS_1
"Tu.... Tuan Edward.... Do... dokumen yang ada di lantai itu.... Itu... adalah kebenarannya." Ucap Farel terbata lalu kehilangan kesadarannya.
Tuan Edward terus mengumpat karena tidak bisa menembak Rachel. Tapi saat dia mendengar Farel mengatakan sesuatu tentang dokumen itu, dia langsung membungkuk dan mengambil dokumen itu lalu membukanya.
Setelah membaca paragraf pertama, dia pun mengerti tentang apa dokumen itu. Dia juga melihat kode rahasia dari setiap halaman di dalam dokumen itu dan itu semua adalah fakta yang sebenarnya karena kertas seperti itu tidak akan bisa dipalsukan.
Setelah membaca semua isi dokumen itu, Tuan Edward dengan cepat menelepon ambulan. Dia ingin menyelamatkan Farel bagaimanapun caranya.
Semuanya berjalan dengan cepat. Rachel segera menelpon semua orang. Daniel yang mengetahui tentang Tuan Edward yang akan menyakiti Rachel tidak menyangka bahwa Farel yang akan terluka.
Disisi lain, dia lega karena Rachel selamat. Namun disisi lainnya, dia juga sedih karena kondisi Farel cukup fatal. Dia pun diminta Rachel untuk menjaga Alex di rumah bersama dengan Max. Sementara Liam yang menemani Rachel di rumah sakit untuk menjaga Farel. Peluru itu bersarang di dada kiri Farel. Jadi semua orang begitu takut karena mereka tidak tahu apa yang akan terjadi kepada Farel sekarang.
Tiba di rumah sakit...
__ADS_1
Farel dibawa ke ruang operasi oleh 2 orang perawat yang membawanya masuk. Dokter yang akan mengoperasi Farel, melihat kondisi Farel dan langsung mengirimnya untuk melakukan x-ray. Jadi mereka bisa melihat posisi peluru itu untuk mengeluarkannya nanti.
Dokter lalu mendekat dan mengatakan kepada Rachel dan Liam.
"Hasil x-ray belum keluar tapi melihat tempat di mana peluru itu berada, aku rasa operasi akan sangat sulit dilakukan untuk bisa menyelamatkannya karena tempat peluru bersarang terlihat sangat dekat dengan jantungnya. Jadi aku hanya bisa mengatakan kepada kalian untuk mempersiapkan diri kalian akan hal yang paling terburuk."
Mendengarkan hal itu, Rachel merasa begitu terluka. Dia mulai menangis.
"Kenapa... kenapa kau melakukan itu? Aku lah... Aku lah yang seharusnya mati. Kenapa.... kenapa kau melakukannya?" Ucap Rachel melihat kearah Tuan Edward yang juga ada disana dengan menangis.
Liam terus mencoba untuk menenangkan dirinya.
Bersambung....
__ADS_1