
Pria yang ingin ditemui oleh Luna tadi itu tengah berada di dalam sebuah kamar saat pria yang memakai pakaian serba hitam masuk ke dalam kamar pribadi itu dan menginformasikan kepadanya tentang Luna. Pria itu tengah mabuk seorang diri dan menikmati pemandangan malam dari lantai paling tertinggi di atas gedung itu. Saat dia mendengarkan kabar yang dikatakan oleh pria berpakaian serba hitam itu, pria itu langsung membuang gelas yang ada di tangannya.
Gelas itu langsung pecah menumpahkan wine berwarna merah di lantai. Pria itu benar-benar kecewa kepada Luna.
Dia berkata kepada dirinya sendiri, 'wanita tidak berguna itu....! Berani-beraninya dia mencoba untuk menemukan aku lagi. Dia membutuhkan lebih dari 3 tahun hanya untuk memisahkan Farel dari seorang gadis kecil dan sekarang dia berpikir bahwa aku masih membutuhkannya.'
Pria itu tertawa dengan keras. Dia sudah membuat pilihan yang salah sejak awal saat dia memasukkan Luna dalam rencananya. Tapi sekarang dia tidak bisa untuk membunuh Luna, karena saat ini bukanlah waktu yang tepat bagi Luna untuk menghilang dari muka bumi. Luna masih berguna untuknya.
Pria itu lalu memanggil salah seorang anak buahnya dan memerintahkan anak buahnya itu untuk mengikuti Luna dan melihat siapa saja orang yang di temui Luna dan apa yang Luna lakukan.
"Aku membutuhkan semua informasi tentang dirinya. Apa yang dia makan,l dengan siapa dia bicara, dan juga apa yang dia bicarakan dengan orang yang dia temui. Sekarang pergilah." Ucap pria itu.
Anak buahnya langsung menganggukkan kepalanya dan kemudian pergi dengan cepat.
Pria itu mengambil gelas lainnya dan menuangkan wine lagi. Dia mengangkat gelas wine itu dan bersulang pada dirinya sendiri aku.
"Bersulang untuk diriku sendiri karena akan menghancurkan Luna." Ucapnya dengan senyum menyeringai.
Setelah itu, dia mulai menghabiskan malamnya dengan malas lagi.
Di tempat lain...
Bahkan walau sudah mencoba sepanjang waktu, Luna tetap tidak bisa untuk tidur. Kapanpun dia menutup matanya, masa lalunya terus saja kembali datang kepada dirinya. Dia benar-benar berkeringat. Dia menghapus keringatnya yang ada di keningnya lalu mengambil obat tidur. Hanya setelah itu dia akhirnya bisa tidur. Tapi dia tidak tahu bahwa seseorang sudah memulai menghitung mundur untuk menghancurkan hidupnya yang selama ini dia rasa damai.
...----------------...
Daniel tiba di rumah dan melihat semua orang sudah tertidur. Dia berpikir bahwa dia akan bicara dengan Rachel tentang semuanya besok pagi. Dia lalu berjalan mendekat dan mulai membuka pintu ruangan kamar Alex dan melihat baby Alex sudah tidur dengan sangat nyenyak. Dia pun mulai tersenyum tanpa alasan melihat wajah baby Alex yang begitu menggemaskan.
Daniel merasa begitu terhubung dengan baby Alex. Dia benar-benar ingin membuat Alex bahagia, dan tak ingin baby Alex merasakan apa yang pernah dia alami di masa kecilnya dulu.
Sepanjang masa kecilnya, Daniel tidak pernah mendapatkan cinta dan kehangatan dari kedua orang tuanya. Jadi dia berharap bahwa Alex bisa mendapatkan semuanya. Dia mau Alex mendapatkan keluarga yang sempurna. Keluarga yang penuh dengan cinta. Namun apa yang dialami baby Ape saat ini, semuanya seolah Daniel melihat dirinya yang kasih kecil berada di dalam diri Alex.
Daniel lalu menghela nafas, setelah itu melangkah mendekat ke arah pintu dan perlahan dia menutup pintu kamar Alex dengan air mata yang ada di sudut matanya. Dia benar-benar ingin baby Alex mendapatkan cinta seutuhnya dari kedua orang tuanya. Tapi apa yang bisa dia lakukan?
Daniel kembali menghela nafas dan berjalan menuju kamarnya. Tiba di kamarnya, dia langsung mengunci pintu kamarnya dan setelah itu dia langsung tertidur nyenyak di menit berikutnya. Dan malam itu, setelah bertahun-tahun dia memimpikan tentang masa lalunya. Tapi kali ini dia tidak merasa bahwa masa lalunya itu sudah tidak menyakitkan.
Dia merasa bahwa apapun yang terjadi di masa lalu, semuanya terjadi untuk kebaikan dirinya sendiri. Karena dengan adanya masa lalunya itu, membuat dia bisa bertemu dengan orang-orang yang ada bersamanya saat ini. Orang-orang yang selalu baik padanya dan memberikan cinta seperti keluarga untuknya, yaitu dari Rachel dan Liam juga Alex kecil.
Di dalam kamar yang lain...
Rachel sebenarnya belum tidur. Dia masih terjaga saat Daniel masuk ke dalam rumah. Dia benar-benar mengkhawatirkan tentang Daniel.
Saat dia mendengar suara pintu kamar Daniel dikunci dari dalam, dia pun langsung bisa bernafas lega. Dia lalu meminum segelas air putih kemudian mematikan lampu kamarnya, kemudian dia pun bisa tidur.
Malam ini, semua orang merasa begitu damai kecuali orang yang berdiri di lantai paling atas dari Night Light itu. Waktu terus berdetik dan apapun yang dia lakukan tidak berdampak sedikitpun. Pria itu merubah rencananya di dalam kegelapan malam dan jika rencana barunya ini sukses, maka akan ada banyak nyawa dari hidup orang-orang yang akan dirusak olehnya dan diantara mereka semua adalah Luna, Farel, Rachel, Liam, Alex dan juga Daniel.
Keesokan harinya, Farel lebih dulu bangun dibandingkan Luna. Dia merasa jauh lebih baik setelah tidur. Rasa sakit kepalanya sudah pergi. Dia memutuskan untuk tidak pergi ke kantor hari ini.
Sementara itu, Luna bangun terlambat karena meminum obat tidur. Hari sudah beranjak siang saat Luna akhirnya terbangun dari tidur lelapnya. Dia melihat Farel yang tengah duduk di sofa dan tampak mengerjakan sesuatu di laptopnya.
Farel pun menyadari kehadiran Luna dan menyapanya.
"Luna, apakah kau baik-baik saja? Kenapa kau bangun begitu terlambat?" Tanya Farel.
__ADS_1
Luna tidak memikirkan apapun dan langsung bicara.
"Kemarin aku benar-benar kelelahan setelah pulang ke rumah dan aku juga meminum obat tidur. Jadi aku bangun terlambat...."
Luna dengan cepat menutup mulutnya dengan tangannya. Dia merasa sudah keceplosan bicara. Farel tampak memicingkan matanya menatap ke arah Luna.
"Kau kelelahan kemarin? Bagaimana bisa? Memangnya apa yang sudah kau lakukan? Bukankah kau bilang padaku bahwa kau pergi untuk membantu temanmu yang tengah sakit? Apakah kau begitu kelelahan menjaganya?" Ucap Farel.
Sebenarnya Farel ingin sekali menyeringai karena melihat wajah Luna yang tampak panik. Tapi dia tetap berusaha untuk terlihat santai dan seolah tidak mengetahui apapun tentang apa yang dilakukan Luna semalam.
Luna tampak langsung menggaruk kepalanya dengan canggung. Dia mencoba memikirkan apa yang akan dia katakan pada Farel.
"Ii... iya, ya aku memang tengah menjaga temanku yang sakit semalam. Aku benar-benar sibuk mengurus semua keperluannya. Jadi aku begitu kelelahan. Tidak ada hal lain yang terjadi." Ucap Luna tertawa kecil dengan canggung.
Farel tidak mempedulikan ucapan Luna. Dia memutar bola matanya dengan panas. Tapi lagi-lagi dia mencoba untuk bersikap seperti biasanya.
"Baiklah pergi dan mandilah dengan cepat. Aku akan menyiapkan sesuatu untuk kau makan nanti." Ucap Farel.
"Baik." Balas Luna.
Setelah itu, Luna berbalik dengan cepat dan langsung pergi untuk mandi.
Saat Farel mendengar suara pintu kamar mandi Luna dikunci, dia dengan cepat bangun dari sofa dan masuk ke dalam kamar Luna. Farel mengeluarkan kamera kecil dari dalam sakunya dan dengan cepat menaruhnya di dalam tas Luna. Dia juga menaruh beberapa kamera di dalam kamar Luna untuk bisa memonitor pergerakan yang Luna lakukan. Farel bahkan juga menaruh beberapa kamera di mobil Luna. Mulai dari dalam mobil, sampai bagian depan dan belakang mobil juga.
Saat Farel mendengar suara shower berhenti, dia dengan cepat keluar dari dalam kamar Luna.
Luna yang baru saja keluar dark dalam kamar mandi, merasa jika ada seseorang yang pernah masuk di dalam kamarnya baru saja. Namun dia berpikir bahwa itu semua hanyalah imajinasinya saja dan langsung mengabaikan perasaannya itu.
Farel tampak sibuk menata makanan di atas meja dan menunggu kedatangan Luna.
"Waahh, kelihatannya enak sayang." Ucap Luna.
"Hmmm..." Balas Farel.
Luna lalu duduk di kursinya dan mulai menikmati menu sarapan yang dibuatkan Farel untuknya.
Setelah itu mereka berdua makan dalam diam. Luna hendak bangun dari tempat duduknya saat Farel langsung menghentikan dirinya.
"Luna..." Ucap Farel.
"Hmmm.... Ada apa sayang?" Tanya Luna dengan menampilkan senyuman paling indahnya.
"Aku minta maaf, karena aku tidak akan bisa berada bersamamu untuk beberapa waktu karena aku akan berada di rumah orang tuaku. Sebenarnya ada sesuatu yang sudah terjadi. Tapi aku tidak bisa mengatakan semuanya kepadamu. Jadi aku mohon, tolong mengertilah." Ucap Farel.
Farel sebenarnya tengah berbohong kepada Luna, karena dia mau menjauh dari Luna. Dia merasa jijik hanya dengan melihat Luna setelah mengingat perbuatan Luna kemarin dengan seorang pria yang lebih pantas dipanggil Papa olehnya itu.
'Siapa yang tahu dengan kelakuannya selama ini. Bisa saja dia bahkan melakukannya dengan pria lainnya, dan yang kemarin bukanlah pertama kalinya doa melakukan hal seperti itu dengan orang lain.' ucap Farel dalam hati.
Farel benar-benar ingin muntah membayangkan bahwa dia selama ini mencintai Luna dan bahkan melakukan hubungan seperti itu dengan Luna, mengingat apa yang dilakukan Luna dengan pria tua di dalam kamar itu.
Luna mendengar ucapan Farel dan setelah beberapa saat terdiam, dia langsung menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan Farel.
"Tidak apa-apa sayang. Aku akan menunggu dirimu. Jagalah Om dan Tante saat kau pergi ke sana. Aku mohon jangan marah kepada mereka karena kejadian masa lalu mu." Ucap Luna.
__ADS_1
Setelah itu, Luna langsung mencium bibir Farel dengan cepat, namun Farel tidak bereaksi apapun. Biasanya Farel begitu suka dengan sikap manja yang dilakukan Luna padanya selama ini. Tapi kali ini tidak lagi. Dia benar-benar merasa begitu jijik.
Tepat saat Luna pergi ke kamarnya, Farel langsung pergi ke wastafel dan mencuci bibirnya dengan menggosoknya dengan sadar. Dia lalu menelpon temannya Mark. Mark pun menjawab panggilan dari Farel.
"Hai bro ada apa?" Tanya Mark.
Farel langsung bertanya kepada sahabatnya itu.
"Bro, bisakah kau menyadap ponsel seseorang jika aku memintamu melakukannya?" Ucap Farel.
Mark tidak menjawab dengan cepat tapi dia tampak berpikir sesaat.
"Ponsel siapa yang harus aku sadap itu dan kenapa?" Tanya Mark.
Farel sebenarnya tidak mau mengatakan bahwa ponsel itu adalah ponsel milik Luna kekasihnya. Tapi Farel tetap menjawab dengan tenang.
"Sebenarnya itu adalah ponsel kekasihku dan aku berpikir bahwa dia terlibat dalam sesuatu hal yang berbahaya. Tidak, aku sebenarnya tidak berpikir bahwa aku mempercayai hal itu." Ucap Farel.
"Baiklah, aku akan melakukannya. Temui aku di tempat yang sama di mana kita biasa bertemu, besok jam 05.00 sore oke." Ucap Mark.
"Baiklah, tidak masalah." Balas Farel.
Setelah itu Farel lalu menutup sambungan telepon itu.
Farel mulai berkemas-kemas, dia menyiapkan semua dokumen pekerjaannya dan juga laptopnya. Dia kemudian pergi ke kamar Luna dan mengatakan kepada Luna bahwa dia akan pergi ke rumah orang tuanya.
"Luna, aku harus pergi sekarang." Ucap Farel.
Luna tidak berpikir banyak akan hal itu dan langsung mengucapkan selamat tinggal.
"Selamat tinggal sayang. Sampai berjumpa lagi nanti setelah semuanya selesai. Tetap hubungi aku ya." Ucap Luna seraya memeluk Farel erat.
Farel tidak membalas pelukan Luna.
"Kenapa kau sepertinya bersikap dingin seperti ini padaku?" Tanya Luna.
"Apa maksudmu, apa kau tidak melihat tanganku penuh dengan barang bawaan ku, jadi aku tidak bisa membalas mu. Sekarang aku pergi dulu ya, jaga dirimu." Ucap Farel seraya mencium pipi Luna.
Farel ingin cepat pergi agar bisa menghindar dengan Luna lebih cepat.
Setelah meninggalkan rumah itu, Farel pun langsung pergi ke rumah orang tuanya. Butuh waktu 1 jam bagi Farel untuk tiba di rumah orang tuanya.
Tepat saat dia tiba, dia langsung memencet bel pintu rumah orang tuanya itu.
Pelayan tampak berdiri membuka pintu dan begitu terkejut melihat kedatangan Farel. Pelayan itu langsung memanggil kedua orang tua Farel. Pelayan itu lalu meninggalkan Farel dan kedua orang tuanya.
Kedua orang tua Farel tampak bahagia melihat kedatangan Farel karena sudah bertahun-tahun saat Farel terakhir kali menginjakkan kakinya di rumah itu.
Mereka berdua memeluk Farel secara bersama-sama. Farel pun merasakan kehangatan yang membuatnya merasa begitu bahagia dalam pelukan kedua orang tuanya. Dia tidak tahu kenapa, tapi air mata keluar dari sudut matanya begitu saja.
Farel begitu bahagia dan dia akhirnya bisa merasakan kebahagiaan seperti itu setelah begitu lama. Setelah waktu yang sangat lama.
Bersambung....
__ADS_1