Mata Cinta

Mata Cinta
Disiksa Charles


__ADS_3

Farel melihat ke sekeliling untuk memeriksa apakah Charles ada di sana atau tidak. Dia pun menghela nafas lega saat dia melihat hanya ada dirinya sendiri di sana. Farel benar-benar kesulitan untuk membuka layar ponsel dengan tangan yang terikat di belakang. Butuh waktu beberapa saat baginya untuk membuka layar ponselnya. Dia begitu bahagia karena ponselnya terbuka sebelum Charles datang.


Farel membuka kontak nomor yang ada di ponselnya dan kemudian dia menelpon nomor siapapun yang pertama ada di daftar panggilannya itu. Dan ternyata itu adalah nomor yang tidak diketahui yang merupakan nomor milik Rachel.


Saat itu Charles masuk ke dalam ruangan itu Farel dengan cepat menyembunyikan ponselnya. Dia berpikir bahkan jika seseorang mendengarkan obrolannya, maka dia bisa selamat.


Charles masuk dan mendapati Farel benar-benar tampak gugup karena bahkan walau mulut Farel ditutup itu semua terlihat sangat jelas jika Farel tidak ingin bicara. Charles pun mendekat ke arah Farel dan berjongkok di depannya. Dia hendak mengatakan sesuatu saat dia melihat Farel menyembunyikan sesuatu dari tangannya. Dia langsung memegang tangan Farel yang diikat itu.


Farel menolak untuk memberikan ponsel itu, tapi Charles menggunakan kedua tangannya dan mengambil ponsel itu dari genggaman Farel. Charles melihat ke arah ponsel itu lalu menatap ke arah Farel.


Farel berpikir bahwa Charles akan mengatakan sesuatu dalam kemarahannya. Tapi dia malah membuat Farel terkejut karena mulut Charles tetap tertutup dan sebuah senyuman yang tampak di wajahnya. Farel pun merasa bingung.


Charles lalu membuang ponsel itu dan melihat ke arah Farel.


Dia menyeringai dan berkata, "itu tindakan yang cukup pintar dan hebat. Tapi sayangnya kau gagal. Tapi alasan kegagalan mu bukan karena aku mengambil ponsel itu darimu."


Farel tampak bingung. Dia pun lantas berpikir.


'Jika aku tidak gagal karena ketahuan memegang ponsel itu, maka apa sebenarnya yang membuatku gagal?' tanya Farel dalam hati.


Charles melihat ke arah Farel dan berkata, "bahkan jika kau melakukan panggilan kepada seseorang, itu tidak akan bisa kau lakukan. Kau tahu kenapa?"


Farel menggelengkan kepalanya.


"Itu karena tidak ada jaringan di sekitar tempat ini. Panggilan yang kau lakukan tidak akan bisa tersambung. Jadi ide brilian mu itu tidak bisa kau lakukan." Ucap Charles.


Farel benar-benar tidak tahu bagaimana caranya untuk kabur dari tempat itu sekarang. Jadi dia pun berhenti berharap dan duduk di sana dalam diam.


Charles melihat hal itu dan kembali bicara.


"Oh kelihatannya kau sudah menyerah dengan ide untuk kabur. Tapi ini tidak menyenangkan sama sekali. Aku tidak bisa melihatmu duduk di situ dengan damai."


Setelah mendengar ucapan Charles, Farel pun mulai ketakutan.


Charles mendekat ke arah Farel dan meninju perutnya. Farel pun terbatuk. Charles kembali memukuli Farel di wajahnya yang membuat Farel merasakan rasa sakit di hidungnya. Dia merasakan ada sesuatu yang mengalir turun ke bibirnya, tapi dia tidak tahu apa itu.

__ADS_1


"Hidungmu berdarah dengan hanya satu pukulan saja. Kau benar-benar tidak menyenangkan. Diam lah di sini sampai malam hari, maka aku akan membuatmu melalui apa yang akan dirasakan oleh saudariku."


Setelah itu Charles pergi meninggalkan Farel sendirian.


Kepala Farel terasa begitu sakit. Dia hendak kehilangan kesadarannya saat seseorang menyiramkan air dingin di kepalanya. Farel kembali membuka matanya untuk melihat sosok yang tidak jelas di hadapannya. Pertama kali, dia tidak bisa memikirkan siapa itu. Tapi akhirnya dia melihat bahwa itu adalah Charles.


Setelah menyiram air itu, Charles lantas pergi dari ruangan itu dan tidak kembali lagi.


Farel mencoba bertahan, tapi semuanya terasa begitu menyakitkan. Dia bahkan tidak bisa untuk menutup matanya untuk tidur dengan pakaiannya yang basah dan sangat sulit baginya tidur seperti itu. Dia merasa saat itu adalah waktu yang sangat lama yang dia habiskan sejak masa kecilnya.


Farel tidak pernah menderita seperti itu kecuali di hari dia mendapatkan kecelakaan mobil sebelum beberapa tahun yang lalu. Tidak pernah terjadi apapun terhadap dirinya.


Farel berpikir bahwa dia begitu beruntung memiliki kehidupan yang mulus sampai saat ini.


Dia tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu. Tapi semua itu terasa seperti sepanjang hidup bagi dirinya. Dia memikirkan tentang banyak hal saat duduk dalam kesendirian di dalam kegelapan ruangan itu. Cahaya lilin juga mulai habis setelah satu atau dua jam. Charles tidak kembali sampai keesokan siang harinya.


...----------------...


Di sisi lain keempat orang, yaitu Rachel, Liam, Nancy dan Daniel berkendara seperti seorang orang gila dengan kecepatan begitu tinggi. Semua itu seolah terlihat seperti dunia tidak menginginkan mereka untuk menyelamatkan Farel.


Saat mereka mengendarai mobil, mereka harus menghadapi semua lampu merah yang ada. Saat mereka merasa bahwa mereka akhirnya bisa berjalan dengan mulus, tiba-tiba mereka harus menghadapi kemacetan. Semua orang tidak sabar dengan setiap detik yang berlalu.


Ferry menelpon Nancy dan bertanya padanya.


"Apa yang terjadi? Kau belum mendapatkan kabar tentang Farel?" Tanya Ferry.


"Tidak, tapi kami sudah dekat untuk menemukan dirinya." Balas Nancy.


Ferry sebenarnya tidak mau Nancy berada dalam masalah. Tapi dia tidak bisa menghentikan Nancy.


Jadi dia pun berkata, "baiklah. Tetaplah berada dalam posisi yang aman dan jaga dirimu. Keselamatanmu adalah hal yang utama bagiku. Aku mencintaimu." Ucap Ferry.


Nancy tersenyum dan berkata, "aku juga mencintaimu."


Stelah mengatakan hal itu, dia pun menutup sambungan telepon.

__ADS_1


Kemacetan itu akhirnya terurai setelah satu setengah jam. Sekarang mereka berempat bergegas menuju ke basemen yang tidak terpakai itu untuk memeriksa apakah Charles membawa Farel ke sana atau tidak.


Mereka berempat akhirnya tiba di tempat itu tepat siang hari.


.


.


.


.


Sebelumnya...


Siang itu, Charles kembali ke basemen dan melihat bahwa Farel tengah tertidur. Dia mendekat ke arah Farel dan kembali menyiram air dingin ke wajah Farel. Farel langsung bangun dan merasakan tubuhnya begitu gemetar kedinginan.


"Merasa kedinginan dan tidak berdaya bukan? Itulah apa yang dirasakan oleh Nancy saat itu. Jadi kau harus merasakan hal yang sama juga." Ucap Charles.


Farel gemetar dan mulai bicara.


"Setidaknya dengarkan aku lebih dulu. Itu semua bukanlah aku yang melakukannya. Setidaknya dengarkan apa yang akan aku katakan. Kumohon." Ucap Farel.


Charles tampak kesal.


"Baiklah, aku bisa mendengarkan semua kebohongan mu. Walau bagaimanapun, kita punya waktu yang cukup bahkan untuk mengobrol sebentar dan kau jangan berpikir bahwa aku akan mempercayai semua omong kosong mu itu, oke." Balas Charles.


Farel mengangguk dan mulai bicara.


"Aku tidak melakukan hal itu. Aku bahkan tidak mengenali siapa pria itu. Aku berada di luar negeri saat insiden itu terjadi. Kau bisa menanyakan hal itu kepada polisi untuk lebih detailnya. Untuk apa aku melakukan hal itu kepada Nancy? Orang itulah yang melakukan semua itu. Dia mungkin memiliki alasan tersendiri dibalik kebohongannya tentang diriku. Aku tidak melakukannya. Aku benar-benar tidak melakukannya. Jadi kumohon lepaskan aku, jangan lukai aku. Kumohon. Aku benar-benar memohon kepadamu." Ucap Farel.


Charles menyeringai.


"Sangat menyenangkan mendengarkan dirimu memohon pengampunan dan pembebasan. Ah.... itu semua terdengar seperti melodi yang sangat indah di telingaku dan aku tidak akan pernah mempercayai kebohongan mu itu. Oh sekarang adalah waktunya untuk langkah kedua."


Setelah mengatakan hal itu Charles mendekat ke arah Farel dan memberikan makanan dan juga sebotol air di depan Farel.

__ADS_1


"Makan dan minum air itu." Titah Charles.


Bersambung....


__ADS_2