
Farel tampak begitu terkejut. Dia tidak mengetahui air matanya mulai terjatuh. Dia tidak tahu kenapa, tapi dia merasakan rasa sakit yang tidak tertahan di dalam hatinya. Dia masih harus menginvestigasi masalah ini. Tapi ini semua sudah tampak bahwa Farel sudah menerima jawaban namun pikirannya menolak untuk menerima semua itu. Dia masih ingin memeriksa semuanya lagi.
Farel masih terus menolak dan memaksa dirinya sendiri untuk tidak mempercayai apa yang baru saja dia dengar. Dia pergi ke toilet rumah sakit dan mengunci dirinya sendiri di dalam kamar mandi. Dia butuh waktu beberapa saat untuk menenangkan dirinya sendiri. Dia tidak bisa berpikir tenang saat dia menangis.
Butuh waktu setengah jam baginya untuk akhirnya bisa menghentikan tangisannya itu. Setelah itu dia pun langsung menelpon sekretarisnya.
"Temukan informasi untukku apapun yang berhubungan dengan kecelakaan yang berhubungan denganku yang disebabkan oleh Charles di masa lalu. Aku membutuhkan semua informasinya dan cari tahu wanita yang menyelamatkan aku. Dia hanya berusia 1 tahun lebih muda dariku. Aku memerlukan semua hal itu secepatnya." Ucap Farel dengan suara yang gemetar.
Setelah selesai mengatakan itu semua pada sekretarisnya, Farel pun menutup sambungan telepon itu. Kemudian setelah itu dia kembali menelpon nomor lainnya. Orang yang diteleponnya itu adalah orang yang paling dia percaya dan dia adalah seorang spesialis mata yang merupakan sahabat dekatnya. Orang itu pun menjawab panggilan darinya.
"Erlan, aku butuh bantuan mu secepatnya." Ucap Farel.
Erlan tidak pernah mendengar Farel begitu gugup. Jadi dia pun langsung menjawab ucapan Farel.
"Katakan kepadaku di mana kau saat ini? Aku tengah libur untuk beberapa hari jadi aku bisa datang sekarang juga."
Farel merasa sedikit lega.
"Datang lah ke Rumah Sakit Harapan Keluarga." Ucap Farel.
"Oh itu bagus, aku memang berada di jalan menuju ke sana. Salah seorang temanku dirawat di sana. Kau tunggu saja disana, aku akan tiba di sana kurang dari 15 sampai 20 menit."
Setelah itu Farel pun menutup sambungan telepon itu.
__ADS_1
Teman yang dikatakan Erlan itu pada kenyataannya adalah Rachel. Orang tua Erlan dan orang tua Rachel adalah teman di masa kecil. Erlan jarang bertemu dengan Rachel dan Liam. Tapi mereka sering bicara melalui telepon. Erlan tahu apa yang terjadi kepada Rachel. Dia bahkan tahu tentang donasi mata yang dilakukan Rachel. Tapi dia tidak tahu siapa yang mendapatkan donasi mata dari Rachel itu atau siapa orang yang sudah menikah dengan Rachel.
Erlan selalu penasaran dan menanyakan sebuah foto tentang pernikahan Rachel. Tapi Rachel dan Liam hanya mengatakan jika Erlan bertemu dengan mereka nantinya, maka mereka akan menunjukkan foto itu kepada Erlan dan itulah kenapa Erlan tidak punya petunjuk apapun tentang Farel yang merupakan sahabat dekatnya yang menyakiti Rachel.
Erlan berada dalam perjalanan menuju rumah sakit dan di saat yang bersamaan Farel mendapat sebuah panggilan dari sekretarisnya. Sekretarisnya mengatakan bahwa tidak ada apapun yang bisa dia temukan yang berhubungan dengan kecelakaan yang berhubungan dengan Farel saat itu.
Rachel sebenarnya memang sudah menghapus semua informasi yang berhubungan dengan kecelakaan itu. Jadi sangat tidak mungkin untuk menemukan apapun.
Farel lalu menutup sambungan telepon dengan sekretarisnya dan mulai berpikir. Dia mengingat bahwa Dokter Will mengetahui tentang hal itu. Tapi dia berpikir bagaimana jika Dokter Will juga berbohong dan mengatakan bahwa orang yang mendonasikan mata kepadanya itu adalah Rachel.
Jadi Farel berada dalam dilema. Tapi dia tidak tahu bahwa secepatnya dilemanya itu akan musnah saat orang yang memiliki bukti dari semua kecelakaan itu adalah Erlan dan Erlan sebentar lagi akan bertemu dengan dirinya.
...----------------...
Erlan akhirnya tiba di rumah sakit dan menelpon Farel. Farel pun mengangkat panggilan telepon itu.
"Aku sudah ada di lobi rumah sakit. Kau kemari lah dan temui aku. Aku lalu akan pergi dan bertemu dengan temanku setelah itu." Balas Erlan.
Farel pun mengatakan 'iya', dan kemudian menutup sambungan telepon.
Farel membasuh wajahnya dan keluar dari dalam toilet dengan matanya yang tampak memerah dan itu tampak jelas. Dia mengusap wajahnya dan mengambil nafas dalam. Dia kemudian menuju lobi rumah sakit.
Dia melihat sahabatnya, Erlan yang duduk di sofa. Farel lalu melambaikan tangannya dan Erlan pun membalas dengan melambaikan tangannya balik. Farel lalu berjalan dan duduk di samping Erlan. Mereka terdiam beberapa saat, kemudian Farel pun memulai ucapannya.
__ADS_1
"Aku sebenarnya perlu kau memeriksa seseorang dan menemukan sebuah kebenarannya dan kebenaran itu sangat penting untukku." Ucap Farel.
"Baiklah, itu tidak akan masalah bagiku." Balas Erlan.
"Jadi siapa yang akan kau kunjungi di rumah sakit ini? Apakah aku mengenalnya?" Tanya Farel.
"Dia itu bukanlah seorang pria melainkan seorang wanita. Dia dan aku adalah teman di masa kecil dan dia ada dalam kondisi saat ini karena mantan suaminya dan suaminya bahkan tidak punya petunjuk apapun akan hal ini." Ucap Erlan dengan mengepalkan tangannya.
"Siapa dia dan siapa suaminya itu?" Tanya Farel.
"Aku tidak tahu siapa suaminya. Aku hanya bicara dengan mereka melalui video call atau telepon seperti biasanya. Dia mengatakan jika aku bertemu dengannya, maka dia akan menunjukkan kepadaku gambar dari mantan suaminya itu. Tapi aku berharap bahwa suaminya itu menderita setelah apa yang dia lakukan kepada dirinya." Ucap Erlan.
Farel tidak pernah melihat Erlan begitu marah. Dia pun kembali bertanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka dan siapa dia?"
"Baiklah aku harus bisa mengontrol emosiku sebelum aku pergi untuk menemuinya. Jadi aku rasa mengatakan semuanya kepadamu akan menjadi hal yang baik. Tapi jangan mengatakan kepada orang lain karena Rachel mengingatkan kami semua untuk tidak mengatakan hal ini kepada siapapun. Biarkan aku menunjukkan kepadamu gambarnya." Ucap Erlan.
Farel berpikir bahwa dia salah dengar saat Erlan menyebut nama Rachel. Tapi saat dia melihat foto Rachel, dia begitu terkejut. Dia tidak mengatakan apapun dan dia ingin mendengar apa yang Erlan akan katakan.
Erlan pun mulai bercerita.
"Dia adalah Rachel. Dia bertemu dengan suaminya saat dia berusia 5 tahun saat dia berada dalam sebuah liburan. Tapi mereka mendapatkan kecelakaan saat mereka kembali dari liburan itu dan itulah kenapa Rachel bisa kehilangan Mamanya. Bahkan saudaranya mulai mengacuhkan dirinya karena saudaranya itu berpikir bahwa itu semua kesalahan Rachel sehingga membuat Mama mereka meninggal.
__ADS_1
Setelah beberapa tahun, dia kembali bertemu dengan suaminya itu di masa sekolah. Dia selalu pergi ke sekolah dengan tidak menarik perhatian orang lain. Jadi tidak akan ada orang yang mengenali dirinya. Papanya juga tidak ada lagi saat dia berusia 17 atau 18 tahun. Dia menyukai suaminya itu, bahkan dia mencintainya tapi...."
Bersambung....