
Di sisi lain Tuan Edward hanya bisa melihat ke arah Rachel. Dia pun berpikir tentang masa lalunya saat dia kehilangan istrinya. Dia berada dalam kondisi yang sama dengan yang Rachel rasakan sekarang.
Air mata mulai terjatuh ke pipi Tuan Edward. Dia merasa begitu terluka. Dia tahu bagaimana rasanya patah hati saat orang yang dicintai terluka. Tuan Edward pun memikirkan tentang baby Alex. Dia hanyalah anak kecil.
'Bagaimana jika Papa Rachel benar-benar tidak bersalah seperti yang di jelaskan dalam dokumen itu? Dan bagaimana jika dokter tidak bisa menyelamatkan Farel? Apakah aku akan bisa memaafkan diriku sendiri?' tanya Tuan Edward dalam hati.
Jawabannya adalah tidak. Tuan Edward sebenarnya adalah orang yang begitu penuh perasaan. Tidak ada yang tahu tentang hal itu, tapi jauh dari dalam dirinya Rachel bisa melihat hal itu.
Seorang perawat membawa hasil x-ray ke dalam ruangan operasi dan momen berikutnya semua orang melihat lampu operasi mulai menyala. Operasi pun dimulai. Rachel mulai ketakutan karena dia tidak mau kehilangan Farel. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Dia mau memiliki keluarga yang bahagia bersamaku dan Alex. Jadi dia tidak akan meninggalkan kami bukan? Dia mencoba dengan sangat keras untuk meyakinkanku. Dia tidak gagal bukan? Aku tahu dia kuat, dia akan kembali. Dia masih harus untuk menaruh cincin di jemariku dan menikahi ku lagi. Dia ingin memberikan kebahagiaan sebuah keluarga kepada Alex. Dia harus bisa melewati semua ini." Ucap Rachel kepada Liam dengan menangis tersedu-sedu.
Liam tidak tahu bagaimana caranya untuk menenangkan Rachel. Dia hanya memeluk Rachel dan mengusap punggungnya.
Rachel terus memeluk Liam dan menangis Tuan Edward mendengar semua itu. Apa yang dikatakan Rachel, sama dengan apa yang dia katakan dulu saat istrinya meninggal.
__ADS_1
Tuan Edward terus menangis dan begitu juga dengan Rachel.
Rachel melihat ke arah Liam dan berkata, "Liam, aku akan memaafkannya. Aku akan menerimanya sekarang. Jadi dia harus sehat bukan?"
Rachel ingin mengatakan hal lainnya lagi tepat saat dia melihat seorang perawat keluar dari ruangan operasi. Perawat itu tampak sangat bergegas.
"Apakah ada seseorang diantara kalian yang memiliki golongan darah AB negatif? Pasien berada dalam kondisi kritis dan membutuhkan transfusi darah secepatnya." Ucap perawat itu.
Rachel menggelengkan kepalanya.
Perawat itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada. Darah itu cukup langka dan kami tidak memilikinya saat ini." Balas perawat itu.
"Aku memiliki golongan darah AB negatif. Aku akan mendonasikannya." Ucap Tuan Edward setelah mendengarkan ucapan perawat itu.
__ADS_1
"Apakah anda memiliki hubungan darah dengan pasien itu? Jika begitu, kami tidak bisa mengambil darah anda karena itu akan terlalu beresiko jika darahnya berasal dari keluarga pasien sendiri." Ucap perawat itu.
Tuan Edward menggelengkan kepalanya.
"Tidak, kami tidak memiliki hubungan keluarga. Jadi kau bisa menggunakan darahku." Balas Tuan Edward.
Perawat itu pun mengangguk.
"Baiklah, tapi kami harus melakukan beberapa tes lebih dulu. Tolong ikut dengan saya." Ucap perawat itu.
Tuan Edward mengangguk dan mengikuti perawat itu.
Sementara Rachel duduk dalam diam dan tampak begitu gugup. Dia tidak bisa memikirkan apapun lagi karena Farel berada dalam kondisi kritis. Dia tidak tahu bagaimana apa yang harus dilakukan.
"Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Tuan Edward memberikan darah untuknya, jadi tetaplah kuat saudariku." Ucap Liam.
__ADS_1
Bersambung...