Maukah Kau Menikah Denganku?

Maukah Kau Menikah Denganku?
9


__ADS_3

Yang belum follow, bolehlah follow dulu.


.


Tengkyu 😘😘😘


.


Taufan POV


💎💎💎


"Hahaha. Om udah gede belum sunat." Tawa Zain pecah.


Cepat gue tutup mulut tuh bocah sebelum orang-orang ikut ngetawain gue. Sial! Si Thifa melototin gue. Akhirnya gue tarik tangan gue menjauh dari mulut Zain.


Thifa pasti ilfil nih sama gue, udah segede gini belum sunat. Gimana mau jadi pemimpin yang baik buat dia coba. Ah biarin deh, yang penting gue udah sedikit bisa ngebayangin gimana sakitnya ujung itu gue dipotong. Ngilu euy.


"Mama," gumam Thifa lirih seraya melihat ke jalanan.


Spontan mata gue pun melihat ke arah luar. Seorang wanita paruh paya dengan gamis biru muda dan jilbab hitam baru saja turun dari mobil. Thifa bangkit dari duduknya.


"Sebentar, ya, Zain. Bunda ke sana dulu." Thifa mengusap tangan anaknya.


Gue cuma memperhatikan dari jauh. Menebak-nebak siapa wanita yang datang itu. Mengapa Thifa menyebutnya dengan panggilan mama, bukannya ibunya dia itu Ummi?


Hati gue pun bertanya-tanya, sampai akhirnya gue lihat Thifa kembali berjalan ke arah kami.


"Zain, maemnya udah kan? Ikut Bunda, yuk! Tebak siapa yang datang." Thifa meraih tangan sang putra.


Gue ikutan berdiri dan mengikuti langkah mereka, sampai di depan mobil wanita itu.


"Assalamualaikum, ganteng," sapa wanita itu pada Zain seraya berjongkok.


"Waalaikum salam," jawab gue barengan sama Zain.


Ya gimana gue kan juga ngerasa kepanggil kalau disebut ganteng.


Gue lihat wanita itu begitu menyayangi anaknya Thifa, terlihat dari raut wajahnya yang bahagia terlebih ia pun tak segan menciumi wajah bocah di sebelah gue ini.


"Apa kabar, Sayang?"


"Baik, Oma."


"Alhamdulillah."


Wanita itu lalu berdiri dan menatap gue dengan pandangan aneh.


"Dia siapa, Thifa?" tanya wanita paruh baya yang berdiri di depan kami.


Bener kan dia nanya.


Gue ngerasa nggak asing sama nih wajah ibu-ibu. Tapi siapa ya? Pernah ketemu di mana.


"Oh, ini--santri baru, Mah," jawab Thifa menunjuk ke arah gue.


Gue cuma bisa tersenyum. Nggak apa-apalah dibilang santri baru. Ibu berjilbab hitam itu mengernyit, memperhatikan gue dari atas sampe bawah. Mungkin dia nggak yakin ada santri seganteng gue.

__ADS_1


"Oma, ini ayah Opan namanya. Yang mau jadi ayahnya Zain," celetuk bocah kecil di sebelah gue sambil.


"Apa? Thifa beneran?" tanya wanita paruh baya itu, yang gue masih nggak tahu siapa dia.


"Eum--iya, Bu. Saya calon suaminya ustadzah Thifa," ujar gue dengan pedenya.


"Aduh!" gue mengangkat kaki kanan yang baru saja diinjak oleh cewek di samping gue ini. Gila sakit banget, gede juga nih cewek tenaganya.


"Bercanda," sambung gue lagi sambil nyengir menahan sakit.


"Ayo, Mah kita masuk saja." Thifa mengajak wanita yang disebut mama itu ke dalam pesantren.


Zain dituntun oleh wanita tersebut, sampai di pintu masuk Thifa berbalik badan menghadap ke arah gue.


"Kamu nggak usah ikut, ini pondok putri," ucapnya.


"Tapi aku penasaran, ibu-ibu tadi siapa?"


"Omanya Zain, sudah kamu masuk lagi sana ke pondok putra. Sudah mau magrib."


"Oh, mantan mertua kamu. Kamu nyuruh aku sholat?" tanya gue bangga merasa diperhatikan.


"Enggak, jagain sendal para santri," ujarnya sambil berlalu meninggalkan gue di depan pintu gerbang.


Gue melengos, lucu kamu Thifa. Jadi makin gemes deh.


Ternyata itu mantan mertuanya, orang kaya, baik dan perhatian pula. Pasti dulu almarhum suaminya juga orang baik, makanya sampai sekarang Thifa belum bisa move on. Kayanya gue harus cari tahu deh siapa mantan suaminya Thifa itu.


💗💗💗


Gue masuk lewat bagian belakang jalan khusus untuk ke pondok putra. Sebenarnya hari ini gue pengen pulang, kangen sama kamar gue. Pengen tidur pules gitu seharian. Kalo di pesantren ini kaga bisa tidur nyenyak.


Gue berjalan menyusuri koridor, beberapa santri sudah terlihat sibuk untuk pergi ke mesjid menunaikan sholat magrib berjamaah. Mereka ada yanh berlari, ada juga yang berjalan santai. Di pesantren ini para santrinya begitu disiplin, mereka harus tiba di mesjid sebelum adzan berkumandang, kalau sudah adzan belum tiba apalagi sampai sholat sudah dimulai mereka terlambat. Akan ada sanksi yang harus diterima mereka.


"Taufan!" Seseorang memanggil gue.


Gue menoleh ke arah suara. Fikri berjalan sedikit berlari menghampiri.


"Aku cari kamu dari tadi, kamu dari mana?" tanyanya.


Duh gue bilang apa ya? Masa gue jujur abis makan bakso sama Thifa dan anaknya.


"Eum---" Gue nunjuk ke pintu gerbang.


"Oh jalan-jalan keluar?"


"Iya, suntuk di dalam."


"Ya sudah, mau ikut ke masjid? Biasanya habis magrib ada tausyiah ustadz Abdullah, kamu bisa simak nanti."


"Ta-tapi---"


"Kalau mau belajar, jangan setengah-setengah. Ayo!"


Fikri sudah merangkul gue dan melangkah ke arah masjid. Tak lama kemudian terdengar suara adzan magrib berkumandang. Entah kenapa setiap kali gue dengar suara itu, hati gue bergetar. Ada perasaan nyaman dan damai, terlebih saat kaki gue ini menginjak masjid, dan ikut berwudhu.


"Fik, emangnya gue nggak apa-apa ikutan sholat, sama masuk ke masjid?" tanya gue ragu.

__ADS_1


Fikri tersenyum seraya mengusap wajahnya yang basah terkena air wudhu.


"Ini rumah Allah, siapa pun boleh masuk. Apalagi untuk beribadah. Musafir yang kelelahan saja diperbolehkan beristirahat di dalam masjid. Selama tidak membuat onar atau ingin merusak tempat ibadah kami ini."


Gue pun hanya mengangguk, lalu mengikuti Fikri mencari tempat untuk sholat. Untuk sementara ini, gue cuma bisa ngikutin gerakan sholat tanpa tahu apa yanh dibaca. Mendengarkan bacaan Imam yang berdiri di depan para jamaahnya.


Selesai sholat, perut gue tiba-tiba saja melilit. Padahal tadi nggak ikutan makan bakso, cuma menghirup aromanya doang. Kok sekarang mulesnya beneran.


"Fik, gue kebelet nih," bisik gue pada Fikri.


"Ya sudah, kamu ke toilet saja dulu. Nanti kembali lagi ke sini."


"Iya."


Gue bangkit dari duduk, lalu keluar dari masjid melewati para santri yang masih duduk-duduk. Berjalan sambil membungkuk akhirnya gue sampai juga di teras masjid buat pakai sendal dan lari ke toilet.


Huft.


Gue bernapas lega, setelah hajat yang terpendam lama di dalam perut berhasil gue keluarin.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh."


Sayup-sayup gue mendengar suara dari speaker masjid yang terpasang di setiap sudut tempat di dalam pesantren ini. Sepertinya ustadz yang tadi dibilang Fikri sudah datang.


Cepat-cepat gue keluar dari kamar mandi yang berada di samping masjid. Lalu gue duduk di pinggiran masjid. Nggak balik ke samping Fikri, soalnya doi duduk di tengah.


Ceramah sudah dimulai. Ustadz di depan mimbar lagi jelasin tentang tanda-tanda akhir zaman. Yang saat ini sudah banyak bermunculan di negeri kita. Salah satunya adalah bencana gempa dan kabut asap.


Gue nyimak setiap kata-kata ustadz itu, yang gue pahami hanyalah. Kiamat terjadi karena memang bumi sudah semakin tua. Manusia di muka bumi ini juga menjadi salah satu faktor kiamat itu semakin dekat. Karena mereka yang telah berbuat kerusakan.


Seperti kebakaran hutan yang terjadi beberapa waktu lalu. Mengakibatkan beberapa wilayah bahkan negara tetangga ikut merasakan sesak napas karena kabut tersebut, sampai jatuh korban meninggal.


Gue cuma bisa menghela napas pelan. Terlebih saat ustadz tersebut bertanya, bekal apa yang sudah kita siapkan kelak untuk di akhirat?


Pikiran gue ke mana-mana. Dosa gue yang selama bertahun-tahun apa bisa terampuni. Gue juga pernah dengar kalau orang kafir kaya gue ini sudah pasti ditempatkan di neraka jahanam. Karena jelas-jelas menolak kebenaran akan adanya Tuhan.


Gue aja nggak tau agama gue apa. Sembahyang di gereja pun enggak. Natalan juga nggak, agama hindu, budha juga kita nggak pernah menjalani ritualnya seperti para penganutnya yang lain. Lalu gue harus gimana? Gue nggak mau tinggal di neraka yang kata ustadz panasnya bisa seribu kali lipat dari panasnya api di dunia.


Kita akan dikumpulkan di padang mahsyar, semua berkumpul untuk menunggu catatan amal yang akan diberikan. Amal baik dan buruk akan ditimbang. Amalan gue selama ini apa?


Gue menggaruk kepala yang tak gatal, tiba-tiba aja kepala gue jadi sakit. Gue sih nggak pernah bertindak kriminal sampai masuk penjara. Tapi, perbuatan baik yang gue lakuin apa bisa disebut pahala. Sementara yang gue tahu pahala dan dosa itu hanya disebut untuk mereka umat muslim.


Umat muslim jelas, salah berdosa, baik dapat pahala. Lah kalau gue?


Apa ini sebuah petunjuk?


Apa ini hidayah buat gue?


Ustadz di depan menyadarkan gue, kalau hidup di dunia ini tidak semata hanya sekedar untuk makan enak dan tidur nyenyak saja. Tapi, lebih dari itu. Setiap perbuatan yang kita lakukan kelak akan dipertanggung jawabkan di hadapan Tuhan.


Gue mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. Lalu menyandarkan kepala ke tiang masjid sambil mendengarkan ceramah ustadz yang begitu bersemangat, sampai-sampai gue nggak sadar kalau mata gue mulai redup.


💗💗💗


Vote dan komennya jan lupa.

__ADS_1


Biar semangat akunyaaa


__ADS_2