Maukah Kau Menikah Denganku?

Maukah Kau Menikah Denganku?
16


__ADS_3

Thifa POV


💕💕💕


Aku berjalan memasuki ruang tamu. Sesaat kedua mata ini terkesiap melihat siapa yang datang. Seorang gadis berjilbab langsung menghampiri dan memelukku erat.


"Mbak Thifa, apa kabar?" tanyanya.


Aku menyalami dan memeluknya, "Alhamdulillah, baik. Kamu lagi liburan, Na?"


"Iya, makanya Bapak ngajak ke sini. Oh ya, Zain mana?"


"Lagi nginep di rumah omanya."


Aku pun menyalami kedua orang tua Husna, juga kakaknya. Lalu aku duduk. Sepertinya Umi sudah tahu kalau keluarga Mas Hanif akan datang. Kursi dan meja ruang tamu dipinggirkan, kemudian menggelar karpet untuk kami duduk.


Hatiku merasa ada yang kurang. Kalau tidak salah tadi ada Taufan yang ikut ke sini. Ke mana dia?


"Taufan mana, Fa?" tanya Abi sedikit berbisik.


Aku menggeleng pelan. "Bukannya tadi dia jalan di belakang Abi?" tanyaku memastikan.


"Iya, tapi kok nggak ada ya."


"Maaf, kedatangan kami ngagetin ya?" tanya Pakde Maulana, ayah Mas Hanif yang tak lain adalah kakaknya Abi.


Kami hanya tersenyum, aku pun nggak tahu maksud kedatangan keluarga Mas Hanif ke sini apa. Karena Abi dan Umi tak memberitahukan jika mereka akan berkunjung ke sini.


"Jadi gini, Hanif ini udah minta dilamarin," sambung Pakde lagi.


"Alhamdulillah, sama siapa, Mas, calonnya?" tanyaku menggoda.


Mas Hanif sudah seperti kakakku sendiri, sejak kecil kami sudah bermain bersama. Termasuk dengan Deeva juga Husna. Namun, waktu aku menikah mereka tidak bisa hadir, karena sedang melaksanakan umroh ke baitullah.


"Siapa, Nif?" tanya Umi penasaran juga.


"Nganu, Bulek. Eum temannya Deeva itu loh. Rahmania," jawab Mas Hanif malu-malu.


"Oalah, si Rahma yang cantik itu, ya? Pintar kamu cari jodoh." Abi menimpali.


Aku dan sekeluarga bahagia mendengarnya. Mas Hanif adalah pria sholeh. Sejak kecil dididik oleh keluarganya dengan berbagai pendidikan agama. Sama seperti keluargaku. Namun, mereka lebih beruntung. Mereka bisa membangun panti asuhan, bahkan pesantren. Sementara keluargaku hanya bekerja di pesantren.


Kami bangga dengan amanah yang diberikan. Menjadi tenaga pendidik, untuk mencetak generasi para mujahid, mujahidah. Menanamkan jiwa-jiwa kepemimpinan Rosulullah. Mengenalkan sunnah, dan menjalankan semua perintah Allah, serta berusaha untuk menjauhi segala laranganNya.


"Kapan mau ngelamar?" tanya Abi.


"Rencananya minggu depan. Makanya kami mau ngajak kamu sekeluarga, Suf." Pakde Maulana tersenyum ke arah kami.


Aku bahagia mendengarnya. Meskipun kadang aku pernah bermimpi bisa mendapatkan pria sholeh seperti Mas Hanif. Bisa melaksanakan ibadah bersama, menuntun dan membimbingku mengaji. Melaksanakan ibadah umroh atau haji bersama suami. Mimpi yang aku pun nggak akan pernah tau bisa terwujud atau tidak.


Pernikahan yang pernah terjadi padaku dulu, hanya menyisakan pedih. Bahkan aku terkadang menyesali semuanya. Betapa bodohnya aku waktu itu. Main terima saja pinangan orang yang bahkan sama sekali belum aku kenal baik. Kepribadiannya, bahkan keluarganya. Namun, kalau teringat kembali dengan Zain, aku merasa Allah sudah memberikanku malaikat kecil, yang akan menuntun dan membawaku ke syurgaNya.


💕💕💕


Perasaan kehilangan acap kali datang menghantui. Mungkin bukan untuk yang pertama kali bagiku. Hanya saja membuat hati dan batin ini sedikit tersiksa. Aku merindukan sosoknya, entah kenapa seminggu sejak pertemuan kami di kantor waktu itu. Dia tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak.


Apa aku pernah berkata salah, atau yang menyinggung perasaannya? Bukankah waktu itu dia datang atas permintaan Abi?

__ADS_1


"Fa, melamun. Itu Zain sudah bangun." Umi menegurku yang duduk di ruang makan.


"Iya, Umi." Aku bangkit dan melangkah ke kamar.


"Zain, anak bunda sudah bangun." Aku menarik selimut dan melipatnya. Zain duduk di tepi ranjang masih sambil mengucek kedua matanya.


"Bunda, Oma bilang katanya dia mau cari donor mata buat aku. Biar aku bisa melihat lagi," ucapnya membuatku terkejut.


"Kamu serius? Tapi Oma nggak bilang apa-apa sama Bunda."


"Sebenarnya sih, aku nggak boleh bilang dulu sama Bunda. Sampai Oma dapet orang yang mau donorin matanya ke aku."


Aku mengusap rambut Zain lembut, lalu merangkulnya. "Iya, Sayang. Bunda senang kalau kamu nanti bisa melihat lagi."


"Maafin Zain ya, Bunda. Sudah buat Bunda susah."


"Nggak, Zain. Kamu nggak pernah buat Bunda susah. Kamu anak yang pintar, baik, dan ceria. Bunda sayang sama kamu. Siapa pun pasti juga suka sama kamu."


"Nggak juga, Bun. Waktu kemarin aku ke minimarket sama Oma. Ada yang ngatain Oma. Bilang, kasihan cucunya buta. Udah tau buta, malah ikut neneknya, kan kasihan neneknya bawa belanjaan banyak, cucunya mana bisa bantuin. Bisanya nyusahin aja. Maafin Zain ya, Bun." Zain seketika memelukku dan menangis.


Ya Allah, siapa yang tega berbicara seperti itu pada anak seusia Zain. Rasanya aku ingin memarahi orang itu. Seandainya dia yang berada di posisi Zain, bagaimana perasaannya. Anak sekecil Zain, siapa yang mau tidak bisa melihat.


Di mana, anak seusianya sedang asyik bermain dengan temannya yang lain, bercanda, belajar. Sementara Zain? Ia hanya bisa mendengar gelak tawa mereka, itu pun dari kejauhan. Ia tak berani mendekat, ia takut menyusahkan yang lain. Lalu, ada orang dewasa yang mempunyai mulut tak bisa dijaga. Seenaknya berbicara seperti itu pada Zain. Rasanya aku ingin memukul orang itu. Astaghfirullah.


"Maafin Bunda ya, Nak."


"Bunda, Zain kangen Om gondrong," ucapnya tiba-tiba


Duh, bagaimana ini? Aku bahkan sama sekali tak pernah tahu kabarnya lagi.


"Bunda, kok diem aja? Cuma om gondrong yang mau main sama aku."


"Tapi Zain pengen om gondrong jadi ayah Zain, Bunda. Emang om gondrong jelek ya, Bunda?"


"Oh, eum. Gimana, ya?"


Aduh, kenapa pula Zain bertanya dia jelek atau enggak. Kalau aku bilang jelek, itu sama saja aku mengejek ciptaan Allah. Tapi, kalau bilang dia ganteng atau tampan, nanti dikira Zain aku suka. Memang aku pun sebenarnya juga kangen sih.


"Bunda, aku mau ketemu om gondrong," rengeknya lagi.


"Tapi, Bunda nggak tahu dia di mana."


"Pokoknya Zain mau ketemu om gondrong."


"Okey, nanti bilang Abu Fikri ya, biar dia yang cari. Bunda nggak tahu soalnya."


"Tapi, nanti kalau ketemuan sama Bunda ya."


Deg. Anak ini bisa saja membuat hatiku berdebar. Entahlah, semoga perasaanku ini bukan apa-apa. Hanya sekadar rasa ingin mempertemukan Zain dengan cowok itu.


💕💕💕


Malam ini keluargaku sedang mempersiapkan untuk ikut acara lamaran Mas Hanif besok pagi. Umi sibuk membuat kue bolu pisang. Sementara aku membuat parcel buah. Zain dan Abi sedang murojaah di ruang tamu.


Alhamdulillah, aku bersyukur. Meskipun putraku tak mampu melihat lagi. Namun, daya ingatannya cukup tinggi. Ia mampu menghafal ayat-ayat alquran lebih cepat dari pada teman-temannya. Karena itu kelak akan menjadi bekal hidupnya nanti di akhirat. Aku pun selalu mengingatkannya untuk selalu mengirimkan doa bagi ayahnya, Mas Athar. Kamu pasti bangga, Mas. Memiliki putra yang sholeh seperti Zain.


"Fa, Deeva katanya mau program hamil tuh. Kamu ada referensi?" tanya Umi seraya menaruh bolu yang baru saja diangkat itu ke atas meja.

__ADS_1


Harumnya pisang yang dibakar bersama telur, terigu, dan gula, membuat perutku sedikit berbunyi. Kemudian kembali fokus dengan pertanyaan Umi barusan. Referensi program kehamilan? Bahkan aku dulu lupa bagaimana aku bisa hamil. Padahal waktu itu kami hanya melakukannya dua kali.


"Nggak ada, Umi. Aku kan dulu nggak pakai program begitu."


"Ya suamimu tokcer, si Fikri mungkin kurang tokcer."


"Nggak boleh gitu, Umi. Anak kan rezeki, mungkin belum rezeki mereka."


"Tapi Umi kasihan sama Thifa, dia yang jadi bahan gunjingan di kantornya. Umi kan dengar."


"Astaghfirullah, ada gitu ustadzah yang iseng ghibahin Deeva?"


"Ya bukan ustadzah sih, santrinya."


"Yah, Umi. Sabar aja. Nanti kalau sudah waktunya juga pasti dikasih. Atau, kalau penasaran bisa periksa ke dokter."


Aku bukannya tidak ingin membantu adikku sendiri. Aku tahu bagaimana pola makan Deeva. Dia itu masih suka jajan sembarangan, sering beli minuman yang kurang sehat, dia juga suka begadang. Karena selain kerja di pesantren, dia juga suka membuat desain kaligrafi. Mungkin saja selama ini karena kelelahan.


"Fa, kamu nggak kepengen nikah lagi?" tanya Umi membuatku langsung mendelik.


"Kenapa memang, Umi?"


"Ya nggak, Umi sama Abi kan semakin tua. Masa kamu mau sendirian aja sampai tua, nggak punya pendamping. Zain butuh sosok ayah loh."


Aku tersenyum kecil, siapa yang tidak ingin menikah lagi. Itu kan salah satu ibadah yang disunnahkan Rosulullah. Namun, aku belum memikirkan jauh ke sana. Karena memang calonnya saja belum ada.


"Fa, Taufan ke mana, ya? Kamu tahu kabarnya? Waktu dia tinggal dua minggu lagi nih. Seminggu ini dia nggak setor hafalan sama sekali. Abi khawatir dia kenapa-napa. Kamu tahu rumahnya?" Abi yang baru saja masuk ruang makan itu bertanya padaku.


"Thifa nggak tahu, Bi. Apa aku bilang, dia bukan cowok yang benar-benar serius sama aku. Abi sih terlalu percaya aja sama dia."


"Tapi Abi berharap kamu menikah sama dia."


"Abi, emang apa yang bisa dia banggakan? Kita belum tahu keluarganya seperti apa? Thifa malah takut nanti, kalau keluarganya nggak setuju dia jadi mualaf, trus kita yang disalahin. Apa nggak dosa menghancurkan keluarga dia? bisa aja nanti dia diusir orang tuanya karena nikah sama aku, jadi mualaf."


"Thifa, Thifa. Kamu itu kaya baru pertama belajar agama saja. Yang dosa itu yang melarang seseorang untuk berubah menjadi lebih baik. Namanya hijrah ya butuh perjuangan. Abi sudah bahas itu semua dengan Taufan. Makanya Abi percaya sama dia. Emang kamu nggak mau sama dia? Abi lihat kalian cocok kok."


Aku menunduk, kenapa Abi bicara seperti itu di depanku. Wajahku pasti memerah ini. Panas, serius. Entah apa yang sudah cowok itu lakukan dengan Abi. Sampai Abi begitu mempercayainya dari pada anaknya sendiri.


"Merah tuh muka. Kelonin Zain dulu, sana. Sudah malam. Jangan mikirin dia." Abi menepuk bahuku lirih lalu melangkah masuk ke kamarnya.


Kulirik Umi yang sejak tadi senyum-senyum. "Eh, Fa. Jangan terlalu dekat sama cowok itu sebelum resmi. Bahaya, kamu tuh tipe disenggol hamil soalnya. Umi sih belum seratus persen percaya sama dia. Inget, jangan mau diajak jalan-jalan, keluar pesantren apalagi sampai menginap."


"Astagfirullah, Umi. Memang Thifa perempuan apaan?" kataku kesal.


"Namanya laki-laki, Fa. Apalagi kamu janda. Udah deh. Nggak inget mantan suami kamu dulu kaya gimana? Udah punya istri cantik aja masih pengen nikah lagi."


Aku terdiam, malas membahas. Setelah selesai membungkus parcel buah, aku menuju ke kamar. Di sana Zain sudah berbaring. Pelan aku mendekat ke arah ranjang.


"Bunda," panggilnya lirih.


"Ya?"


"Om gondrong …."


Aku mengernyit. Zain mengigau?


Aku mendekati tubuhnya, Zain sudah tertidur. Bibirnya bergerak-gerak. Sambil sesekali menyebut pria itu.

__ADS_1


💕💕💕


Bersambung.


__ADS_2