
Thifa POV
💗💗💗
.
Sejak siang tadi, saat pria bernama Taufan itu main ke dalam pesantren. Aku tak lagi melihatnya. Apa benar, dia akan belajar di sini dengan sungguh-sungguh.
Entah kenapa pernyataannya tadi masih terngiang jelas di kepalaku. Ia yang memaksa ingin meminangku menjadi istri. Rasanya memang tak mungkin. Tapi, dari ucapannya tak sedikitpun ada keraguan.
Tiba-tiba, sebuah sentuhan di tangan kanan mengejutkanku.
"Bunda," panggilnya lirih.
Sontak aku menoleh, sejak setengah jam yang lalu. Kami sedang melakukan murojaah. Zain berusaha menghapal surat yang kemarin aku berikan. Tapi, justru aku yang nggak fokus.
Aku menyentuh tangan Zain. "Iya, Nak."
"Bunda kok diam aja sih? Ini sudah jam berapa, Bun?"
Aku melihat ke dinding, "Jam empat sore, Nak."
"Aku mau makan bakso, Bun. Bakso Pakde Parjo."
Aku mengernyit, memang biasanya bakso Pakde Parjo jam segini ramai. Zain pasti bosan di rumah. Ia ingin juga jalan-jalan. Mendengar orang lain ngobrol, dan menghirup udara sore.
"Boleh, ya, Bun," bujuknya lagi menarik tanganku.
"Iya, Sayang. Bunda ganti baju dulu, ya."
Aku bangkit dari duduk. Menyimpan kembali dua buah quran yang kami gunakan untuk menghapal tadi. Kusimpan di dalam lemari.
Aku berganti pakaian. Gamis merah muda dengan jilbab warna senada kupakai. Rasanya sudah lama sekali aku tidak memakai gamis dengan warna cerah. Entah kenapa, sore ini aku ingin mengenakannya.
"Bunda, wangi," celetuk Zain.
"Masa sih?" Aku terkekeh. Aroma gamis dari dalam lemari, yang lama tak digunakan. Masih saja Wangi karena pewangi pakaian yang aku pakai untuk menyetrika.
"Yuk, kita beli bakso." Aku menuntun Zain turun dari ranjang.
Kami melangkah keluar kamar. Kulihat Ummi dan Abi sedang duduk santai di ruang tamu. Ummi membaca sebuah kitab, sementara Abi tengah menjahit sepatunya yang rusak.
"Abi, Ummi. Kita mau keluar dulu. Zain minta bakso Pakde Parjo." Aku pamit pada keduanya.
Ummi dan Abi menoleh, Abi kembali dengan pekerjaannya.
"Hati-hati. Magrib sudah sampai rumah ya. Sudah sore ini." Ummi memperingatkan anak dan cucunya.
"Iya, Ummi."
💗💗💗
Aku dan Zain tiba di depan kedai baksonya Pakde Parjo. Aku bernapas lega, suasana tidak begitu ramai. Meskipun sudah menjelang sore. Nanti malam pasti akan lebih ramai lagi, karena ini hari sabtu malam minggu.
__ADS_1
Meskipun terdapat pondok pesantren di sini, muda mudi masih banyak pula yang berkeliaran dan berpacaran. Pondok pesantren yang kutempati berada di tengah perumahan penduduk. Bukan di pinggir jalan besar atau pun pedalaman. Jadi cukup membaur dengan warga sekitar.
Hanya terlihat satu keluarga tengah menikmati bakso di kursi ujung bagian dalam. Sebelum mencari tempat duduk, aku memesan dua mangkuk bakso terlebih dahulu.
"Pakde, dua, ya. Makan di sini," ujarku.
"Eh, Ustadzah, Zain. Campur Bu Ustadzah?" tanya Pak Parjo yang hendak melayaniku.
"Saya mie putihnya aja, nggak usah pakai sayuran. Kamu Zain?" tanyaku pada Zain.
"Aku baksonya aja, Pakde. Kuahnya yang banyak. Tapi baksonya yang kecil-kecil aja."
"Pakai nasi?"
Biasanya Zain kalau lapar suka minta nasi.
"Enggak, aku masih kenyang."
"Okey. pakde buatkan."
Aku lalu melangkah sambil menuntun Zain masuk, dan kami duduk berhadapan. Sengaja aku duduk di depan televisi yang menyala, yang di atasnya terdapat kipas angin yang menyala pula. Karena udara sore sedikit panas. Apalagi aku yang belum mandi. Tambah gerah saja rasanya.
"Bunda, sepi, ya?" tanya Zain.
Sepertinya ia merasakan kalau di sekitarnya tidak begitu ramai.
"Iya, Nak. Tapi sebentar lagi juga ramai."
Tak lama kemudian dua mangkuk bakso pesanan kami, tiba di meja.
"Bunda, aku kecap aja, ya."
"Iya, nih Bunda tuang."
Aku tersenyum saat menuangkan kecap ke dalam mangkuk Zain. Setelah itu mengaduk kuahnya. Tangan Zain siap menerima tusukan bakso, ia memegang dan menyuap sendiri.
Zain bukan anak yang manja, ia bahkan tak ingin dibantu kalau merasa dirinya mampu. Seperti makan, minum, mandi dan bermain. Tapi aku tetap tidak tega membiarkannya melakukan itu semua sendiri.
Kini aku mengambil saus untuk bakso yang akan kumakan.
"Hay Zain, mau Om suapin nggak?"
Suara itu mengejutkanku. Pria gondrong yang kini rambutnya sudah dicukur rapi itu sudah duduk di sebelah putraku. Ia melihat ke arahku sekilas. Lalu kembali fokus pada Zain.
Aku menelan saliva. Kenapa ia bisa tiba-tiba ada di sini? Jangan-jangan menguntit.
"Mbak Thifa, eh Ustadzah, itu sausnya kebanyakan!" tegurnya
Aku terkesiap, astaghfirullah. Gara-gara merhatiin pria itu. Saus di mangkukku kebanyakan. Bikin nggak napsu makan aja deh.
"Om gondrong, suapin dong, Om. Bunda nggak mau suapin aku," seloroh Zain.
Aku melotot, Zain tertawa riang. Ingin marah, tapi aku tidak ingin merusak kecerian Zain saat ini.
__ADS_1
"Ah, Bunda kamu gimana sih. Masa nggak mau nyuapin. Sini Om Opan suapin."
Pria itu mengambil sendok, mengisi sendok dengan bakso dan kuah. Benar-benar sabar dan telaten hingga bakso itu masuk ke dalam mulut Zain.
"Jangan bengong, Ustadzah. Di makan itu baksonya. Dingin nggak enak loh," ujarnya lagi
Aku mencelos, malu. Dua kali aku ketahuan merhatiin dia. Nunduk Thifa, nunduk.
"Kita pulang, yuk, Zain. Bunda udah kenyang." Aku hendak bangkit dari duduk. Namun, tangan pria itu tiba-tiba menarikku. Kutepis ia dengan kesal.
"Berani kamu sentuh saya? Nggak sopan," kataku kesal.
"Sebentar, lihat anak kamu lagi makan. Jangan egois."
Aku terdiam, lalu kembali duduk.
"Om Opan mau nggak jadi ayah aku? Bunda sering nangis kalau malam, kasihan nggak ada yang nemenin."
"Zain." Aku menatap ke arah putraku.
Zain meraih tangan pria itu penuh harap. Ya Allah, Zain. Maafkan, Bundamu ini. Bukan Bunda tidak ingin menikah lagi, tapi orang yang sedang kamu harapkan itu tidak seiman dengan kita.
Aku menunduk.
"Zain, eum. Anggap aja, Om Opan ayahnya Zain. Kamu boleh kok panggil Om dengan sebutan ayah."
"Beneran, Om?"
"Bener dong, tapi habisin dulu baksonya."
"Okey, Om. Eh, Ayah." Zain tertawa riang.
Aku melirik sekilas ke arah pria itu. Ia tersenyum dan mengangguk. Mungkin ia hanya ingin membahagiakan Zain. Dan melarangku untuk tidak berkata apa pun yang dapat menyakiti hati Zain.
"Zain, kamu udah sunat belum?" tanya pria itu sedikit berbisik.
Aku masih bisa mendengarnya.
Zain menggeleng, "Belum, Om. Kata Eyang, nanti kalau sudah masuk sekolah."
"Di sunat sakit nggak sih?"
"Kata Eyang kaya digigit semut, Om. Emang Om belum pernah di sunat?"
"Belum." Suara pria itu lirih sekali.
Aku menahan tawa. Memalingkan wajahku, aku tahu dia melihatku senyum-senyum mendengar percakapan mereka. Jelas aku tersenyum. Pria dewasa seperti dia belum disunat. Nggak kebayang deh dokternya pas nyunatin dia bingung milih gunting, pisau atau golok.
"Hahaha. Om udah gede belum sunat." Tawa Zain pecah.
Pria itu membungkam mulut putraku, aku spontan melotot ke arahnya. Ia melepas bungkaman. Dan seisi ruangan menatapnya dengan senyum-senyum. Beruntung, pengunjung di warung bakso belum penuh. Hanya ada beberapa tukang ojek online yang sedang menunggu pesanan.
💗💗💗
__ADS_1
Tbc.
Vote dan komennya yaaaa.