Maukah Kau Menikah Denganku?

Maukah Kau Menikah Denganku?
19


__ADS_3

Taufan POV.


💕💕💕


Hanif.


[Fan, kamu di mana? Pokoknya kamu harus ikut aku melamar. Aku tunggu! Kalau sampai nggak ikut, aku nggak mau ngajarin kamu ngaji lagi.]


Gue langsung loncat dari sofa. Hanif ngirimin wa nya horor banget. Untung gue setting nada deringnya dengan volume tinggi. Sengaja sih emang, soalnya abinya Thifa suka nelpon, tapi jarang gue angkat karena gue bermasalah sama pendengaran. (Apaan lu Pan, ganteng-ganteng budek)


Gue mengucek mata sambil liatin jam di dinding ruangan. Gila nih orang, wa gue jam empat pagi. Siap banget dia mau ngelamar si Thifa. Trus gue harus pakai baju apa ini buat ke sana? Batik? Kaga bawa, ketinggalan di rumah bokap. Masa seragam pabrik?


Hanya baju koko yang gue punya buat hadir di acara resmi. Trus ntar gimana hati gue liat Thifa dilamar. Takut pingsan. Tapi malu masa udah gede pingsan.


💕💕💕


Acara lamarannya jam sembilan pagi. Untungnya gue off hari ini. Dan gue pergi dengan hati was-was. Berasa gue yang mau pergi ngelamar.


"Kakak mau ke mana?" tanya Karin saat melihat gue udah dandan rapi.


"Eum, temen gue mau lamaran."


"Kok pake baju koko sih? Emang nggak ada batik apa? Aku boleh ikut nggak?"


"Enggak ada batik gue. Adanya baju koko. Biarin deh, orang lamarannya di pesantren. Loe mau ikut, emang punya baju gamis?"


Karin terdiam, dia lantas duduk di kursi ruang makan. Mengambil roti tawar yang semalam gue beli, sama selai coklat kesukaan dia. "Ngeledek. Yaudah sana berangkat. Oh iya, Kak. Nanti pulangnya beliin rujak serut ya. Pengen."


Gue menepuk jidat. Mulai ngidam nih bocah, dan gue yang ketumpuan. "Iya, ntar gue bawaain makanan. Jangan coba-coba buat keluar kamar tanpa izin gue. Apalagi coba-coba buat bunuh diri. Inget, yang loe lakuin sama pacar loe itu udah dosa, jangan bikin dosa lagi."


"Iya," jawabnya malas.


💕💕💕


Gue berangkat pake motor ke rumah Hanif. Ternyata di halaman panti sudah ada mobil yang siap berangkat. Gue lihat hanya ada satu mobil di sana. Sepertinya acara ini hanya dihadiri oleh keluarga saja. Mereka juga nggak bawa hantaran macam parcel buah, kue, dan lain-lainnya.


"Assalamualaikum," sapa gue pada mereka yang sedang asyik ngobrol.


"Waalaikum salam. Yang ditunggu akhirnya datang juga. Mari, Nak Taufan." Pak Maulana menyapa dan menjabat tangan gue. Lalu merangkul gue ke dalam mobil. Ternyata di kursi penumpang bagian belakang sudah ada ibunya Hanif juga adiknya. Gue duduk di kursi penumpang bagian tengah bersama Pak Maulana. Sementara Hanif di samping sopir.


Kami pun berangkat ke pesantren.


Sesampainya. Ternyata keluarga Thifa sudah menunggu di halaman rumahnya. Ya Allah, Thifa cantik banget pakai gamis putih plus jilbab warna senada. Gue tersenyum kecil, hanya sekilas. Masih nggak rela hati ini kalau sampai dia beneran jadi sama Hanif.


"Ayo, Fan." Pak Maulana kembali menepuk bahu gue. Lalu ia melangkah keluar pekarangan rumah Thifa


Lah, kita mau ke mana ini? Kenapa lamarannya nggak di rumah aja? Atau mau ke masjid. Nggak mungkin. Masjid adanya di dalam pesantren. Ini kita di komplek perumahan para ustadz.


Nggak tau lah, gue mau dibawa ke mana. Ngikut aja. Sampai kami tiba di sebuah rumah sederhana. Di sana sudah ramai juga oleh para ibu-ibu juga bapak-bapak. Mereka menyambut kami dengan sangat ramah dan baik.


Gue menarik gamis bagian belakang Thifa saat hendak masuk. Sambil sedikit berbisik bertanya padanya. Sampai gue tahu jawaban kalau ternyata yang dilamar bukan dia. Legaaa banget rasanya. Loe tau kaga, kek orang kebelet boker, pas masuk wc tuh isi perut lancar banget keluarnya tanpa jeda. Plooong rasanya.


💕💕💕


Sekarang, bayangan acara tadi bikin gue pulang dengan membawa kebahagiaan. Setelah lamaran tak resmi gue diterima sama Neng Thifa.


Pelan gue buka kamar apartemen. Badan rasanya butuh yang segar-segar. Mandi enak nih kayanya. Sekalian sholat ashar trus rebahan sebentar.


Tiba-tiba di depan pintu kamar, gue disambit dengan tatapan menyeramkan dari adek gue, Karin.

__ADS_1


"Kakak lama banget sih? Aku udah kelaparan tau! Dari tadi di wa ga bales, di telpon nggak diangkat. Kakak sengaja mau bikin aku mati kelaparan?" tanyanya dengan nada suara tinggi dan kecepatan 150km/jam.


"Kan loe bisa pake jasa online. Gitu aja repot," jawab gue santai sambil melepas baju koko.


"Duitnya manaaa? Kakak ninggalin duit nggak?" bentaknya lagi.


Buset dah, orang hamil gini amat ya kalo laper.


"Lah emang elu nggak punya duit sama sekali?" tanya gue sekarang sambil melepas celana panjang. Menyisakan kaos singlet sama boxer gambar spiderman. Lalu mengambil handuk dan nyelonong masuk kamar mandi.


Bodo amat, gerah gue. Tambah-tambah diomelin. Gitu tuh anak muda zaman sekarang. Giliran enaknya aje boro-boro inget dosa, inget orang tua. Giliran susahnyee aje, ngajak-ngajak. Pas bikin anak, enak dirasa ya dia-dia orang. Pas susah kaya gini, yang kena gue. Kalo bukan adek sendiri dah gue lepas itu jalanan.


Byur!


Siraman air dingin yang membasahi badan membuat rasa panas sedikit hilang. Gue pake shampo biar rambut yang baru gue potong pendek ini cepet tumbuh lagi. Sengaja beli shampo buat rambut panjang. Hehehe. Biar Zain tetap bisa panggil gue om gondrong. Panggilan kesayangan.


Tes.


Sial. Shampo pake netes ke bagian bawah perut lagi. Gue usap, malah busanya tambah banyak. Lah kalo yang bawah ikutan lebat bisa kek hutan belantara, trus bersarang kecoa dan sekutunya. Gatel dah.


Cepat-cepat gue nyalain shower, buat ngebasuh kepala sama badan gue. Duh mana mata gue perih banget lagi. Sial-sial.


💕💕💕


Selesai mandi dan berganti baju. Gue pun keluar lagi buat nyari makanan ibu hamil. Berikut susu hamil buat adek kesayangan gue itu. Seandainya nyokap gue masih ada nih. Pasti dia yang merhatiin Karin.


Gue turun ke hypermart lantai bawah apartemen. Membeli kebutuhan bulanan. Kira-kira makanan yang cocok buat ibu hamil apaan ya?


Nah, kebetulan tuh ada ibu-ibu lagi hamil juga. Dia lagi ngambil sekotak susu hamil. Gue deketin dia. "Ehem, maaf, Bu. Mau tanya boleh?" tanya gue.


Ibu itu ngeliatin gue dari atas sampe bawah. "Iya, Mas? Mai tanya apa?"


Ibu itu malah ngetawain gue. Sial.


"Ya nasi, apaan ajalah, Mas. Nggak ada bedanya sama yang nggak hamil," jawabnya.


"Oh gitu. Nggak ada pantangannya?"


"Tergantung kondisi si ibu sendiri. Kalau saya nggak bisa makan pedas. Ada juga yang kuat makan pedas. Tiap orang beda-beda. Emang istrinya udah hamil berapa bulan?" tanyanya bikin gue cengo.


"Eum----masih kecil kok, Bu."


"Oh, masih baru. Kalau masih hamil muda sih biasanya bawaannya mual, muntah-muntah. Senengnya yang asem-asem, rujakan, gitu. Trus banyakin makanan yang bergizi aja. Sama vitamin dari dokter."


Gue mengangguk paham. Pantesan tadi si Karin minta dibeliin rujak. "Oh gitu, makasih ya, Bu."


"Iya, sama-sama. Jangan lupa selalu diperiksakan kondisi kehamilannya."


"Iya, iya."


Huft, gue bernapas lega. Abia ini gue mau beli sayuran, daging, dan buah-buahan. Lumayan buat persediaan seminggu. Trus ngajak Karin ke dokter kandungan.


💕💕💕


Karin menyantap nasi dan soto ayam yang baru saja gue beli. Lalu minum air putih, dan lanjut makan pisang. Gue perhatiin dia dari tadi. Nggak ada itu muntah mualnya. Atau jangan-jangan dia bohong, sebenarnya dia nggak hamil. Cuma kabur aja dari rumah.


"Loe nggak mabok?" tanya gue.


Karin menggeleng. "Enggak, biasa aja. Cuma napsu makan aku bertambah nih."

__ADS_1


"Oh, abisin deh makannya. Abis itu gue anterin loe ke rumah sakit. Periksain kandungan loe."


Karin melotot menatap gue, "Enggak! Ngapain diperiksa."


"Ya biar tahu, usai kandungan loe. Sehat enggaknya janin dalam perut loe itu. Dia juga butuh vitamin biar kuat."


"Harus ya?" tanyanya datar. Sepertinya ia sudah tak lagi berselera makan. Pisang di tangannya masih separuh tak dihabiskan.


"Sekarang, gue yang jadi orang tua loe. Jadi, loe kudu nurut sama gue."


"Iya," jawabnya lemah.


Selesai makan, gue dan Karin pergi ke rumah sakit. Antrian mengular di tempat pendaftaran. Gue bingung waktu ditanya siapa dokter kandungannya. Secara gue belom pernah ke sini. Lalu seorang suster merekomendasikan seorang dokter kandungan pria yang masih muda. Namun, berprestasi. Gue mah iyain aja dah. Yang penting adek gue ada yang meriksa.


Hampir satu jam nunggu, akhirnya gue dan Karin dipanggil masuk ke ruangan dokter.


Seorang pria muda, ganteng, dan berkacamata menyambut kami dengan tersenyum. Lalu mempersilakan kami duduk.


"Selamat sore, Bapak, Ibu. Wah, pasangan baru ya? Ada yang bisa saya bantu," sapanya ramah.


Gue membalasnya dengan senyuman. "Saya hanya ingin memeriksakan kondisi kandungan adik saya," ucap gue pada akhirnya.


"Adik? Oh maaf, saya pikir istrinya. Suaminya ke mana, Pak?" tanyanya lagi.


"Sibuk, kerja di luar negeri. Jadi, saya yang mengantarnya." Gue berusaha menutupi semua kebusukan bapaknya tuh bayi. Awas aja kalo ketemu. Gue bejek-bejek lu kaya tape.


"Oh, nggak apa-apa. Ya udah, Yuk. Diperiksa dulu."


Dokter Fahri namanya, gue bisa lihat dari nama di dadanya. Ia mengajak Karin berbaring. Lalu memintanya untuk membuka bagian perut. Dioleskannya sesuatu ke perut, di tempelnya alat yang menyambung ke sebuah layar di depan kita.


USG pasti nih. Ada gambar lingkaran gitu, di dalamnya ada yang bergerak-gerak. Tuh dokter nanyain kapan terakhir kali Karin haidh. Entah apa lagi, gue nggak mudeng. Gue lagi takjub sama alatnya nih dokter. Tuh alat tembus pandang gitu ya.


"Itu bisa lihat kelaminnya juga ya, Dok?" tanya gue.


"Bisa, tapi nanti kalau usia kandungannya sudah cukup besar."


"Kalau sekarang, berapa usianya, Dok?"


"Kalai dilihat daei ukuran janin semuanya, juga kapan terakhir Bu Karin haidh. Usia kandungannya saat ini memasuki minggu ke tiga belas."


"Nggak ngerti saya."


"Iya, udah mau masuk empat bulan."


Apa? Empat bulan? Gila nih bocah. Hamil nggak dirasa kayanya.


Setelah pemeriksaan selesai. Dokter ngasih resep vitamin. Dan kita menebusnya lagi di apotik.


Saat gue dan Karin baru saja ke luar ruangan dokter. Tiba-tiba seorang wanita paruh baya menatap gue lekat-lekat. Wajah itu gue kenal banget. Persis, dan mirip sekali dengan omanya Zain. Sendiri berdiri menghadap ke gue. Ngapain dia di sini? Bisa salah paham nanti, kalau sampai dia lapor ke Thifa.


"Buruan!" Dengan cepat gue gandeng Karin menuju apotik, buat nebus vitaminnya.


"Sabat kenapa sih, Kak," ujar Karin kesal.


Gue berusaha mengatur napas. Sambil duduk menunggu panggilan. Mata gue pun nggak fokus jadinya. Lihat kanan kiri, kalau sampai ibu-ibu tadi mergokin gue lagi. Mendadak rumah sakit ini menjadi horor.


💕💕💕


**Bersambung.

__ADS_1


Vote dan komennya ya gaesss**.


__ADS_2