Maukah Kau Menikah Denganku?

Maukah Kau Menikah Denganku?
26


__ADS_3

THIFA POV


.


Aku memeluk ponsel seraya tersenyum kecil. Perasaan ini lama tak pernah hadir. Semenjak aku kehilangan Mas Athar dulu, sudah tak ada lagi pria yang memberikan perhatiannya dengan tulus.


"Bunda!" panggil Zain.


Aku tersentak, lalu melangkah ke brangkar. Zain sudah menghabiskan buahnya. Dan ia minta diambilkan minum. Setelah itu aku mengantarnya ke toilet, untuk sikat gigi dan buang air kecil. Lalu lanjut tidur.


"Bunda, aku kangen Om Opan. Hari ini dia nggak datang jenguk aku."


"Om Taufan sibuk, Nak. Besok kalau dia nggak sibuk, pasti datang. Tante Karin, adiknya Om Taufan meninggal, Nak."


"Innalilahi wainnailaihi roji'un."


"Ya sudah, kamu tidur ya. Besok pagi kan kita buka perban. Jadi, kamu harus cepat tidur. Eum, siapa orang yang pertama kali mau kamu lihat wajahnya, Nak?" tanyaku antusias.


"Om Opan!" teriaknya sambil tertawa.


"Kenapa gitu?"


"Aku penasaran aja, Bunda. Dia ganteng kan, Bunda?"


"Kalau jelek gimana?"


"Kalau jelek aku nggak mau."


"Kok gitu? Nggak boleh gitu dong, Sayang. Semua kan ciptaan Allah, nggak ada yang jelek. Semua bagus. Kalau cowok, ganteng. Kalau cewek, cantik."


"Maaf, Bunda." Zain menunduk merasa bersalah.


Aku mengusap kepalanya, lalu membaringkan tubuhnya dan menyelimutinya. Kukecup pelan keningnya dan mengusapkan satu jari di kening agar ia cepat terpejam.


💕💕💕


Pagi ini aku terbangun lebih awal. Pukul setengah empat pagi. Karena suara ponselku berdering. Sebuah panggilan dari Abi membuatku takut. Ada apa sampai Abi menelponku pagi buta begini?


"Ya, Assalamualaikum, Abi," sapaku.


"Waalaikum salam. Nanti Zain buka perban jam berapa, Nduk?"


"Eum, kata dokter sekitar jam delapan, Abi. Kenapa?"


"Habis itu boleh langsung pulang?"


"Belum tahu, karena harus menunggu gimana kata dokter nanti."


"Abi nggak mau Zain sampai lihat Taufan."

__ADS_1


Aku terkejut dengan ucapan Abi barusan. Kulihat wajah putraku, bagaimana mungkin aku bisa menolak siapa yang dia lihat nanti? Seketika pipiku basah.


"Thifa, ingat apa yang Abi ucap barusan. Abi nggak mau cucu Abi rusak karena kenal sama cowok itu," sambungnya lagi.


"Astaghfirullah, Abi. Bukankah selama ini Abi mengajarkan Thifa untuk selalu berbuat baik pada siapa pun. Urusan dosa itu urusan masing-masing, urusan dia sama Tuhannya. Bukan urusan kita. Allah yang berhak menghakimi, bukan kita. Asal Abi tahu, orang yang sedang Abi bicarakan, dan Abi anggap buruk perilakunya. Sekarang sudah meninggal dunia. Abi masih belum bisa memaafkan kesalahan adiknya Mas Taufan? Tapi Abi masih menerima Mamanya Mas Athar, yang jelas-jelas keluarga mereka sudah menipu kita dan menyakiti hati aku?" Isakanku semakin kuat. Aku mencoba menahan semuanya. Sesak sekali dada ini.


Suara Abi tak lagi terdengar. "Ya sudah, Assalamualaikum, Abi mau ke masjid dulu."


"Waalaikum salam."


Aku mengusap wajahku, dan berlari ke toilet. Membasuh muka dengan air. Ya Allah, bukannya aku ingin mengeluh. Hanya saja aku ingin meminta. Izinkan aku mencintai seseorang yang kuanggap mampu menjadi imamku kelak.


Tak lama kemudian aku kembali ke ruangan. Duduk bersandar di sofa. Membuka mushof kecil dan mulai membacanya perlahan sambil menunggu adzan Subuh.


💕💕💕


Sudah pukul delapan pagi, aku dan Zain menunggu kedatangan dokter. Sepertinya Abi dan Ummi tak bisa datang. Aku pun takut kalau nanti Mas Taufan juga ke sini dan bertemu dengan Abi.


Perasaanku tal keruan, kulihat Zain memegangi perban di bagian mata depannya. Sambil tersenyum riang.


"Bunda, Zain udah nggak sabar, nih," celetuknya.


"Sabar, ya, Nak."


"Aku kan mau main bola sama Om Opan."


Aku kembali tersenyum, saat seseorang yang baru saja masuk ruangan memberikan salam. "Assalamualaikum, anak ganteng."


Kulihat pria berjaket coklat itu mendekat dan memeluk Zain erat. "Apa kabar?" tanyanya menatapku.


Aku gugup seketika menunduk malu. "Alhamdulillah baik."


"Kenapa nunduk? Emang ada koin di bawah?" tanyanya lagi membuatku kikuk.


"Hahaha. Bunda nunduk ya, Om? Malu kali. Dari tadi kan Bunda pengen ketemu sama Om," cerocos Zain.


Aku melotot, sementara pria yang berdiri di seberangku hanya melirik, dan mengeringkan satu matanya. Dasar genit!


"Om, Om. Nanti kalau aku udah bisa melihat, Om temenin aku main bola, ya. Om juga temenin aku tidur." Zain menarik lengan Mas Taufan.


Aku hanya diam memandangi keduanya. Aku merasa kami seperti keluarga bahagia. Meskipun sampai sekarang aku nggak tahu hubunganku dengan Taufan sebagai apa. Yang jelas kami saling menyayangi. Begitu juga dengan Zain.


"Dek, kamu udah sarapan?" tanyanya.


Aku menggeleng lemah. Memang aku belum sarapan. Hanya menyuapi Zain saja tadi, dan minum susu yang kubawa.


"Zain udah sarapan?"


"Sudah, Om."

__ADS_1


"Kita sarapan dulu, yuk, Dek!"


"Tapi, nanti kalau dokter datang gimana? Lagi pula Zain sendiri." Aku mencoba menolak dengan halus. Jujur aku ingi sekali makan dengannya, tapi, lagi-lagi aku tak bisa.


Mas Taufan berjalan mendekatiku. "Kamu nggak pakai baju dari aku?" tanyanya menelisik.


Aku menoleh, "Baju? Kapan kamu kasih aku baju?"


"Paper bag yang waktu itu aku titip ke adik kamu?"


Paper bag? Jangan-jangan yang kemarin aku letakkan di bawah nakas. Aku menoleh ke bawah, benar masih ada di sana. Dengan sedikit menunduk, aki mengambil paper bag yang mungkin dimaksud olehnya. "Ini?"


"Iya? Kenapa kamu simpan?"


"Mana aku tahu kalau ini buat aku, dari kamu. Kupikir hadiah buat Zain," kataku benar-benar tak tahu.


"Nanti kamu pakai, ya! Kamu belum mandi kan?"


Aku mengendus tubuhku, jadi malu kalau ketahuan belum mandi. Ya habis gimana dari tadi aku mencoba untuk tetap ada, takut kalau dokter datang. Bahkan untuk kutinggal mandi saja tak sempat.


"Ya udah, kamu mandi, gih. Nih pakai bajunya." Mas Taufan menyodorkan paper bag itu ke hadapanku.


Aku menerima dengan tersenyum, "Terima kasih, Mas."


"Sama-sama."


"Ciye ciye, Om Opan sama Bunda ngapain tuh?" goda Zain seraya terkekeh.


Tak ingin terlihat wajahku yang memerah, aku segera beranjak dan pergi ke kamar mandi dengan membawa pakaian ganti darinya.


Di dalam kamar mandi, hati ini rasanya berdebar hebat. Serasa ada kupu-kupu yang mengelilingi dada ini. Aku terpejam sesaat sambil memeluk paper bag darinya.


Kubuka kertas kado yang membungkus, mataku melotot takjub. Dua stel gamia dengan jilbabnya. Keduanya adalah warna yang kusuka, ditambah ini adalah pakaian yang kuinginkan waktu itu. Aku pernah melihatnya di online shop, kupikir aku tak akan bisa memilikinya. Mana mungkin, seorang wanita sepertiku bisa memakai pakaian Bagus dan mahal seperti ini. Ternyata, Mas Taufan amat sangat tahu fashion dan warna yang cocok untukku. Semakin aku tersanjung dibuatnya.


Aku menghela napas pelan, lalu kubuka lagi satu bungkusan yang tersisa. Kali ini aku merasa malu melihatnya. Pakaian dalam bermotif polkadot warna hitam pink, dan hitam ungu mendominasi. Sementara ukuran bra-nya pun dia tahu. Astagfirullah. Aku memegang kedua dadaku, apa dia bisa melihat isi tubuhku?


Secarik kertas terselip di antara bra dan celana dalam. "Aku yakin, kamu pasti seksi memakai motif ini!"


Langsung kuremas dan kusobek-sobek tulisan itu. Lalu kubuang ke tempat sampah. Dasar mesum! Untung aku udah terlanjur sayang. Kalau tidak, sudah kulempar pakaian ini ke depan hidungnya. Tak bisa kubayangkan saat dia memilih semua pakaian ini untukku. Lalu pastinya dengan sambil tertawa dia menulis itu untukku.


💕💕💕


***Bersambung.


Vote dan komennya ya gaesss.


Makasih.


Selamat berbuka puasa.

__ADS_1


Selamat berpuasa untuk yang menjalankan. Semoga selalu diberi kesehatan dan dilancarkan sampai hari lebaran tiba. Aamiin***.


__ADS_2