Maukah Kau Menikah Denganku?

Maukah Kau Menikah Denganku?
13


__ADS_3

💕💕💕


"Bang, kok udah gede baru sunat, sih?"


"Iye, pasti dulu pas waktu kecil dia takut."


Celotehan anak-anak panti yang pada duduk ngerubungi gue bikin kuping panas. Malu sebenarnya, tapi semua demi cinta, cintaku pada wanita pujaan hati.


"Bang, liat dong, bentuknya sama kaga sama punya kita?" ucap salah satu anak bertubuh gemuk sambil menarik ujung sarungku.


Kamvret nih bocah.


"Eh, nggak boleh, pamali. Sama lah pasti, cuma beda ukuran doang. Punya kalian masih kecil, punya abanh gede," jawabku sambil menutup rapat celah sarung.


Enak aja mau lihat-lihat, kan malu gue kalo ntar dikatain bentuknya aneh. Kalo cewek yang ngeliat sih nggak apa-apa. Hahaha.


Apaan sih gue.


"Bang Taufan pelit." Akhirnya para bocah itu membubarkan diri, dan keluar dari kamar gue.


Gue bernapas lega, akhirnya bisa isyirahat sambil mainan hape. Hari ini gue belum minta izin buat nggak masuk kerja, kira-kira gue izin berapa hari, ya.


Fikri.


[ Assalamualaikum, Fan, Thifa udah lihat foto kamu, dia juga udah dengar suara kamu. Katanya, kamu tambah ganteng dan suara kamu Bagus.] 


Sebuah pesan WA dari Fikri membuat gue cengar-cengir. Ini kalau kaga sakit aja, gue udah jingkrak kegirangan kali. Cuma gue takut kalau gue loncat, itu yang dibawah bakalan goyang ke kanan or ke kiri, ke atas ke bawah. Lah kalo tetiba nempel di paha gue kan berabe, perih euy. Mana perbannya kering, mau ngelepasnya harus tarik napas. Huuufftt. Nggak ada yang mau ngelepasin apa?


Tangan gue pun spontan membalas pesan dari Fikri.


Gue.


[Kenapa dikasih tau ke Thifa? Kan gue malu jadinya.]


Sok banget gue, padahal emang itu yang gue harapkan. Biar Thifa tau, kalau calon suaminya ini sudah resmi jadi seorang muslim.


Jeda dua menit.


Fikri.


[ Maaf, Fan. Istriku yang ngasih tahu.]


Huft, ye sama aje, buambang.


Gue.


[ Ya udah, nggak apa-apa, Fik.]


Lalu hanya centang dua biru, tanpa ada balasan lagi. Gue pun beralih untuk menelepon Andi, teman kerja gue.


"Iya, Bro?" tanyanya saat mengangkat telepon gue.


"Salam dulu, dong. Assalamualaikum."


Tak ada sahutan dari seberang telepon. Nih si Andi kurang ngajar, gue telepon ditinggal ngobrol pasti.


"Andi, woy!"


"Wa-waalaikum salam. Lu kaga salah, Fan. Pake salam. Ada apa Pak Haji?" tanyanya dengan nada mengejek.


"Gue mau izin hari ini, nggak kerja. Izinin ya."


"Kenapa?"


"Eum gue-gue."

__ADS_1


Duh alasan apa gue, ya. Masa iya gue bilang kalo gue abis sunat. Bisa heboh seisi pabrik, supervisor terganteng yang kece badai kaya gini baru sunat. Huft.


"Fan, Taufan. Woy!"


"Eh, i-iya. Ini badan gue nggak enak. Bilang aja gue sakit, demam."


Duh dosa, baru aja tobat udah bohong gue.


"Owh, yaudah loe istirahat. Kemarin kan juga loe lembur sampe malem, kecapean kali loe."


"Iya kayanya."


"Ya udah, gue masuk dulu."


"Okey, makasih, Ndi."


"Sip."


Telepon pun akhirnya terputus. Memang sih, dua hari kemarin gue pulang larut malam karena lembur. Sengaja ambil lembur soalnya hari ini ada jadwal khitan. Khitanan gue kemarin bareng sama dua orang anak panti, bocah-bocah itu enak sunat dianterin and ditemenin sama ibu pantinya. Lah gue? Sendirian menghadapi si bapak mantri, mana mukanya gahar banget, brewok sama kumis nyambung, tebel banget. Waktu dia ngomong gue sempat bingung di mana letak mulutnya.


💕💕💕


Dua hari pun akhirnya berlalu, bekas sunat gue udah sembuh. Ah gila gue nggak nyangka kalo bentuknya bakalan beda kaya gini. Makin kece dan makin bikin gue pede nanti saat malam pertama. Eeeaak.


Du du du du du.


Sambil menyiram air ke seluruh tubuh, gue elus-elus senjata baru gue. Gue merasa udah jadi cowok yang sesungguhnya. Untungnya dulu gue bukan cowok nakal yang doyan freesex, main sama cewek sebatas kissing aja. Itu juga nggak bawa perasaan. Palingan mereka yang nyosor duluan.


Bayangin kalo dulu gue doyan ngesex, trus cewek yang gue tidurin cerita tentang senjata gue yang belum khitan, beuh bisa masuk berita viral. Dengan judul, ngesex berkali-kali ternyata cowok gue belum dikhitan. Plak!


Ritual mandi sore selesai, ntar malam jadwal ngaji gue di masjid. Setor lima ayat hafalan gue buat syarat ngelamar Thifa. Mudah-mudahan aja nggak keduluan sama cowok lain. Bisa nangis guling-guling di atas pasir gue, kalau sampai nggak bisa dapetin hati dia.


Sekarang gue udah rapi, udah Wangi juga, tapi sayang masih sendiri. Hahaha.


Pengenalan huruf hijaiyah, gue udah hafal itu. Semaleman gue ngapalin itu sama surat al-fatihah di lantai atas, mana tempat buat ngejemur baju, sepi, gelap, beratap langit. Demi kamu, Neng Thifa. Abang rela meskipun harus terjun dari lantai atas ke bawah, yang penting kamu yang tangkep abang di bawah pakai kasur. Hehehe.


"Bismillahirrahmanirrahim …."


💕💕💕


"Fan, makan malam, yuk!" Hanif sudah berdiri di sebelah gue.


Gue pun menghentikan aktifitas sejenak. "Sebentar, Nif. Gue pake sarung dulu."


"Okey, aku duluan, ya. Ada adikku datang dari Solo soalnya."


"Sip-sip."


Hanif berlalu dari hadapan gue, gue pun bangkit dari ranjang, merapikan seprai dan bantal yang barusan gue pake buat selonjoran. Lalu menyambar sarung kotak-kotak warna merah yang tergantung di depan lemari, memakainya dan memakai peci. Inilah penampilan gue sekarang selama di dalam panti. Benar-benar kaya anak panti, padahal bokap gue masih hidup.


Gue berjalan keluar kamar menuju ruang makan. Ternyata sudah ramai oleh anak-anak panti dan kedua orang tua Hanif. Seorang wanita berkerudung biru muda tersenyum ke arah gue. Cantik banget sumpah. Bening, putih, ada lesung pipinya, pakai kacamata bulat, imut mirip Nisa Sabyan. Ah gue jadi pengen nyanyi hem hem hem hem hem.


"Maaf, saya telat," kata gue sambil menarik kursi ke belakang untuk gue duduk.


Gadis itu duduk tepat di depan gue, dia menunduk. Tapi, gue curi-curi pandang buat lihat wajah cantiknya.


"Ehem, ehem."


Glek, gue menelan ludah mendengar deheman keras dari bokapnya Hanif. Ketauan nih gue ngeliatin tuh cewek.


"Nak, Taufan. Ini anak Bapak yang paling kecil, adiknya Hanif. Namanya Husna. Dia sedang berlibur di sini. Dia masih mondok di Solo, baru kelas dua Madrasah Aliyah."


Gue cuma manggut-manggut. Masih bocah ternyata. Pantes imut banget. Coba adek gue si Karin dijilbabin kaya dia, pasti makin cantik.


"Nah, Husna. Ini temannya kakak kamu, Bang Taufan namanya. Dia ke sini ingin belajar mengenal Islam."

__ADS_1


"Masya Allah, salut sama abang," ucap Husna seraya tersenyum ke arah gue.


Duh, Neng meleleh hati abang.


Astaghfirullah, Taufan. Inget Thifa, Fan.


"Iya, Neng. Mohon bimbingannya, ya."


Ya salam, Taufan. Main nyeletuk aje, nih mulut gue kaga bisa direm apa?


Gadis itu hanya tersenyum kecil. "Kan ada Mas Hanif sama Bapak."


"Kenapa nggak mondok di sini, Neng? Bapaknya punya pesantren kok mondok di tempat orang?" tanya gue penasaran.


"Aku ingin merantau, Bang. Kata Bapak, menuntut ilmu itu bisa di mana saja. Ilmu yang kudapat di sana, aku berikan untuk yang di sini juga. Kalau ada kurikulum baru di sana, aku bilang Bapak untuk diterapkan juga di pesantren kita."


Aku hanya mengangguk, pintar juga cara berpikirnya gadis ini. Salut buat keluarga Hanif, memang ilmu tidak akan pernah mati meskipun manusianya telah pergi. Kaya yang gue pernah dengar, bekal akhirat itu cuma tiga. Amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang sholeh. Semoga gue bisa bawa ketiganya. Aamiin.


"Udah, ngobrolnya nanti lagi. Kita makan dulu, kasihan adik-adik tuh, pada bengong nungguin kalian ngobrol." Ibu Hesti, istri Pak Maulana alias orang tua Hanif dan Husna pun mengambilkan nasi ke piring suaminya, dan ke anak-anak panti yang lain.


"Eh, iya, Bu. Maaf." Gue pun ikut menuang air ke dalam gelas, sambil menunggu giliran buat ngambil nasi.


💕💕💕


Seperti biasa, tepat jam sebelas malam, gue pergi ke lantai atas. Tepatnya tempat jemuran, buat baca ulang hafalan gue. Soalnya kalau di kamar, gue nggak enak sama Hanif yang lagi istirahat.


Gue duduk di bangku panjang, membawa alquran dan menghapalnya sambil menatap Bintang di angkasa. Hari ini cuaca cerah banget, Bintang di langit tampak kerlap kerlip. Baru sadar kalau selama ini yang menciptakan dunia dan seisinya adalah Allah, Tuhan semesta alam. Dan gue nggak pernah bilang terima kasih sama Allah. Karena gue nggak tahu caranya, sekarang gue udah tahu, satu-satunya cara kita berterima kasih adalah dengan bersyukur atas segala nikmat dan karunianya yang selama ini Dia berikan secara cuma-cuma sama gue.


Allah Maha Baik, meskipun kita nggak pernah sholat, atau jadi penjahat sekalipun, Dia nggak langsung matiin kita, malah masih suka dikasih rezeki lebih. Kadang yang bikin gue heran, ya kaya bokap gue gitu. Boro-boro kan sholat, inget punya Tuhan juga nggak. Tapi, kenapa duitnya ada terus. Sementara orang-orang yang berada di lingkungan panti ini, mereka rajin ibadah, malah selalu ke masjid, ngaji, zakat, tapi hidup mereka pas-pasan. Apa Allah nggak adil? Tapi gue yakin Allah adil kok, cuma gue nggak tahu kenapa bisa begitu.


Makanya banyak orang yang menjadikan agama hanya untuk identisas saja. Agama Islam, tapi nggak pernah menunaikan sholat, karena mungkin pikir mereka, sholat nggak sholat toh kehidupan mereka nggak berubah. Padahal satu ayat kita baca dapat satu kebaikan, alias pahala. Mungkin mereka yang berpikiran seperti itu hanya melihat dari sisi materi saja, hidup untuk dunia bukan mencari bekal akhirat.


Gedebuk!


Perasaan kaya ada gempa.


"Aduh!"


Suara rintihan tuh, merinding gue.


Gue bangkit dari duduk dan mencari arah suara, dari kejauhan terlihat bayangan putih di lantai depan kamar mandi. Allahu Akbar. Mbak Kunti ngapain di sini, mau nemenin gue apa godain gue.


"Tolong, tolong," rintihnya lagi.


Ah gila nih kunti. Minta tolong segala. Dia kan bisa langsung terbang, cuuusss gitu. Ngapain juga pake minta tolong. Mau kabur, tapi tangganya ada di depan tuh kamar mandi. Aduuh masa gue tidur di jemuran sampai besok pagi sih.


"Hik, hik, saakiit," pekiknya lagi.


Kali ini rintihannya disertai isak tangis, bayangan putih itu terlihat berdiri sambil pegangan tembok lalu menoleh ke arah gue.


"Bang, tolong Bang. Bang Taufan."


Manvus, kuntinya kenal gue.


Gemeter kaki gue, tanpa sadar celana gue basah. Ah sial, pake ngompol lagi.


💕💕💕


Tbc.


Vote dan komennya ya gaees


Tengkyu


😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2