
Taufan POV
.
.
“Lalu lalang kendaraan apa paha mulus?” tanya istri gue
dengan sinis.
Astaghfirullah. Begini ternyata rasanya dicemburuin. Gue
emang dari tadi merhatiin embak-embak pelayannya yang buset dah bajunya ketat
banget. Pantat sama dada pada ngejiplak. Cuma ya sekadar liat doing. Nggak ada
maksud apa-apa apalagi smape berpikir yang iya-iya.
Akhirnya gue nggak mau membatalkan rencana makan mala mini.
Gue rangkul bini gue, gue usap-usap kelapanya. Biarin deh diliatin orang, biar
pada iri. Emang Rey-Dinda aja yang bisa mesra-mesraan, gue pan juga bisa.
Tangan Thifa memindahkan tangan gue, dia nggak mau dirangkul
gaes. Katanya,”Malu, Mas.”
“Udah sah, Dek. Mbak, nasi bebeknya dua. Dipisah ya
nasinya.” Gue pun memesan dua porsi.
“Minumnya apa, Mas?” tanya sang pelayan.
“Bir ada?” tanya gue becanda.
Eh bini gue langsung nyubit pinggang. “Mas.”
Gue Cuma nyengir kuda, “becanda, Sayang … es teh manis aja
dua.”
“Okey, Masnya bisa aja.” Si embak pelayan tersenyum simpul.
Gue kembali menggandeng tangan Thifa menuju kursi yang
berada di pinggir jalan. Berhadapan langsung dengan jalan raya. Kami duduk di
bawah sinar lampu jalan. Sambil nunggu pesanan datang, gue menatap wajah manis
di sebelah yang sejak tadi selalu gelisah.
“Dek, kamu kenapa, sih?” tanya gue basa-basi busuk.
Sebenarnya gue tahu dia kenapa.
“Aku risih, Mas. Eneg lihatnya.”
“Jangan dilihatin. Mending liatin muka suamimu yang tamvan
ini.”
Thifa mengulas snyum, lalu kembali membuang muka ke arah
jalanan. Gue Cuma bisa menghela napas dalam. Seandainya gue punya duit lebih,
gue nggak mungkin ajak dia ke sini. Makan dipinggir jalan, yang mungkin aja
kurang hiegenis masakannya atau pengolahannya. Tapi, au gimana lagi. Prinsip
gue dari dulu Cuma satu. Nggak mau ngarepin warisan orang tua. Karena
sekaya-kayanya mereka, itu bukan harta kita. Gue mau usaha sendiri, menikmati
hasil jerih payah dari kerjaan dan keringat gue.
“Mas. Kok bengong?” tegur Thifa yang sudah menyodorkan
piring berisi nasi dan juga piring berisi bebek sambal rending.
“Maaf, aku lagi mikirin masa depan,” jawab gue sekenanya.
“Masa depan kamu kan udah di sini, ngapain dipikirin lagi.”
Thifa mengusap lembut tangan gue.
Gue langsung mendelik, sejak kapan nih bini gue jadi bucin
begini. Perasaan tadi masih ngambek gara-gara sembak-embak pelayan seksi.
“Oh iya, ya. Ternyata kamu bucin juga. Hehehe.” Gue menarik
gemas hidungnya.
Kami pun mulai menyantap hidangan di meja. Gue lihat bini
makan dengan lahap. Masya Allah, doi lapar sepertinya. Sampai belepotan ke pipi
itu bumbu bebek. Perlahan gue usap jari gue buat ngelap pipinya pakai tisu.
Ngebersihan kotoran yang nempel juga nasi.
“Sayang … makannya dikit-dikit.” Gue mengusap lmbut pipinya.
“Enak, Mas. Aku nggak pernah makan makanan enak kaya gini.
Meskipun cuma di pinggir jalan.” Thifa tersenyum manis banget.
Ya Allah, baru dibawa makan di pinggir jalan aja, Thifa udah
bahagia banget. Gimana kalau gue ajak ke restorant mewah. “Maaf, ya, Dek. Mas
cuma bisa ajak kamu makan di sini. Nggak di restoran mewah,” ucap gue.
“Mas ngomong apa sih? Aku nerima kamu apa adanya, bukan ada
apanya. Mau kamu ajak aku ke mana pun. Aku pasti bahagia. Yang penting kamu
nggak khianatin aku.” Thifa meminum es the manis di depannya.
“Iya, Sayang … aku janji akan selalu setia sama kamu. Oh
iya, aku boleh tanya sesuatu?”
“Apa?”
“Maaf sebelumnya kalau nanti pertanyaanku mungkin nyakitin
hati kamu.” Gue berbicara agak pelan, biar nggak kedengeran sama pengunjung
lain.
“Emangnya mau tanya apa?”
“Dulu, waktu kamu jadi istri kedua. Keinginan apa yang belum
terwujud? Maksudku, apa kamu bahagia?”
Thifa seketika terdiam. Makanan di depannya pun sudah habis,
ia tak menjawab pertanyaanku. Justru bangkit dari duduk untuk mencuci tangan.
Lalu menarik tanganku, “Kita pulang. Aku nggak mau bicara itu di sini.”
“Okey.” Setelah menyelesaikan transaksi, gue dan Thifa terus
pulang.
Kami melewati jalan pintas, masuk ke sebuah perkampungan
masih satu RW tapi beda RT. Thifa masih diam, gue yang menggenggam erat
tangannya itu melihat perubahan di wajahnya. Gue ngerasa dia seperti mau
nangis. Jangan-jangan, pertanyaan gue ngebuka luka di hatinya dulu.
Kami tiba di rumah, bini gue langsung ke kamar mandi. Trus
lama banget gue tungguin nggak keluar-keluar. Pasti nangis nih, pasti. Duh, gue
jadi ngerasa bersalah.
Klek.
Pintu kamar mandi akhirnya terbuka, wajah Thifa berkeringat
dan memerah. “Kamu nggak apa-apa, Dek?” tanya gue cemas.
Thifa hanya menggeleng lemah. Lalu melangkah ke kamar,
membuka lemari, mengambil pakaian tidurnya. Ia pun sudah tak segan berganti
pakaian di depan gue. Tubuhnya yang putih mulus terekspos sempurna. Apalagi dia
yang sekarang setiap tidur selalu gue minta untuk melepas bra. Dan ia turuti
perintah itu.
Melihat bagian tubuhnya selalu bisa membuat jakun gue naik
__ADS_1
turun. Tapi, untuk kali ini gue biarkan dia beristirahat. Gue juga nggak mau
bahas pertanyaan itu lagi.
Gue sekarang yang ke kamar mandi, mencuci muka , sikat gigi
dan berwudhu untuk tidur.
Sampai kamar, gue lihat Thifa belum tidur. Dia malah duduk
di depan meja rias. Rambut panjangnya tergerai indah. Sebelum gue deketin dia,
gue berganti baju terlebih dahulu. Tapi, pas gue lagi pilih-pilih baju, gue
mendengar suara isak tangis dari samping kanan gue berdiri.
Thifa sudah berurai air mata. Nggak bisa gue lihat dia
nangis dan sedih kaya gini. Langsung aja gue peluk dia. Dekap wajahnya ke dalam
dada. “Maaf, kalau aku udah buat kamu sedih,” ucap gue tahu diri.
“Apa aku nggak pantas bahagia?” tanyanya di sela isak
tangis.
“Siapa yang bilang begitu? Semua orang berhak bahagia.” Gue
menangkupkan kedua tangan di wajahnya. Mengusap lembut buliran air yang
menggenang di pelupk mata dan pipinya yang basah.
“Mas, satu-satunya hal yang diinginkan seorang wanita
adalah. Menjadi yang pertama dan terakhir.”
“Maafin aku. Bukan maksud untuk ….” Gue nggak bisa
ngelanjutin kata-kata itu. gue tahu gue salah udah kasih pertanyaan kaya tadi.
Sebenarnya, gue Cuma pengen buat dia bahagia, nggak kaya mantan suaminya dulu.
“Aku sayang banget sama kamu, aku juga mencintai kamu.
Bahkan sejak pertama kali kita ketemu. Kamu percaya kan sama aku?” Gue kembali
memeluknya erat.
Thifa tak menjawab, bahunya masih terguncang. Suara
hidungnya yang mungkin penuh dengan lender akibat menangis, masih terdengar.
Gue janji sama diri gue sendiri buat membahagiakan istri tercinta.
***
Paginya, istri gue masih tertidur lelap. Gue tahu dia pasti
kelelahan. Tepat jam empat pagi gue udah bangun. Mau coba bantu kerjaan Thifa.
Cucian yang numpuk di belakang, gue coba buat cuci. Gue belum bisa beliin dia
mesin cuci, jadi nyucinya masih manual. Pake papan penggilesan, sabun colek,
sama sikat. Di sini badan gue diharuskan buat gerak di bagian tangan. Posisi
duduk membungkuk, lumayan pegel juga. Demi istri gue lakuin semuanya.
Selesai nyuci, nggak langsung gue jemur, karena biasanya
setelah dibilas kudu diceplungin dulu ke air yang udah dicampur pewangi.
Direndem bebrapa saat sebelum dijemur ke luar. Sambl nunggu azan Subuh, gue
masak nasi sama nyiapin sarapan. Habis itu lanjut nyapu juga ngepel.
Lagi asyik goyang, tiba-tiba di depan pintu kamar Thifa udah
berdiri. “Mas ngapain?” tanyanya.
“Eum … ngepel,” jawab gue jujur.
Thifa bergerak cepat ke dapur, melihat gue ngerebus sayur
langsung dimatiin itu kompor. Gue pun bertanya-tanya. “Kenapa, Dek?”
“Mas mau masak apa?” tanyanya.
“Sayur bayem.”
“Sini!” Thifa meminta gue mendekati kompor.
bener kok. Udah gue potong-potong, gue cuci juga tadi sampai bersih.
“Mas, mau nyayur apa mau nanem bayem?”
“Nyayur-lah. Nanem mah di pot.” Gue cengengesan.
“Lihat! Kalau nyayur, akarnya nggak usah ikutan
dicemplungin.” Thifa mengangkat setangkai bayam ke atas dengan garpu.
Ya iya emang gue lihat akarnya masih ada, bukan masih ada.
Emang nggak gue buang. Gue pikir kan bisa dimakan. Sayang aja kalau dibuang
kan? Ternyata salah, gaes.
“Maaf, emang nggak bisa dimakan, Dek?”
“Mas aja yang makan, aku nggak mau.” Thifa lalu melangkah ke
kamar mandi.
Naah pasti kali ini dia takjub dengan kerjaan gue di sana.
Gue udah nyuci dan lagi ngerendem baju pake pewangi. Abis ini pasti gue
dipuji-puji. ‘Makasih ya, Sayang. Kamu eamng suami yang paling baik, sholeh dan
pengertian. Mau bantuin kerjaan aku.’ Pasti dia nanti ngomong kaya gitu.
Gue lanjutin ngepel dapur, habis itu mandi trus sholat
Subuh. Soalnya azan Subuh udah kedengeran.
Tiba-tiba bini gue ngeliatin gue dari depan pintu kamar
mandi. Mukanya udah kaya mau nerkam orang. Ah mungkin cuma perasaan gue aja
kali ya. Palingan habis ini dia peluk gue bilang makasih.
“Kenapa, Dek? Mandi bareng yuk, trus sholat berjamaah.” Gue
coba ajak dia sambil kedip-kedip manja.
“Mas nyuci?”
“Iya.”
“Udah selesai?”
“Udah, tinggal nunggu rendaman pewangi. Trus dijemur deh,”
ucap gue pede.
Gue lihat senyuman istri kok miring ya, sinis gitu sambil
geleng-geleng.
“Coba, Mas lihat ke dalam.” Thifa nunjuk ke dalam kamar
mandi.
Bak gede yang tadi berisi pakaian yang sdang berendam
pewangi, tiba-tiba penuh busa. Kok bisa?
“Mas nyuci pakai sabun apa?”
“Sabun colek, Dek. Sumpah tadi nggak sampai nyembul gitu
busanya.” Gue gemeter kaya udah ngelakuin kesalahan besar. Padahal gue sendiri
nggak tahu salah apa. Heran aja, kok busanya banyak banget.
“Trus pake pewanginya yang mana?”
Gue berjalan ke samping kamar mandi, lalu nunjukin dia
bungkus pewangi yang tadi gue pakai.
“Mas bisa baca ini?”
Gue ngangguk, liquid. Maksudnya apa jug ague nggak ngerti.
“Ini detergen cair, Mas,” jelas Thifa.
What the pak. Berarti gue salah dong? Pantesan malah penuh
__ADS_1
busa. Gue pake sebungkus pula. Tadi pas nuang sih gue curiga, gue pikir busa
dari baju yang abis dicuci. Ntar bakalan ilang sendiri, nggak tahunya gue emang
salah.
“Yah, maaf, Dek. Niat mau bantuin malah bikin repot kamu,”
ucap gue meminta maaf.
“Ya udah, nggak apa-apa. Dimaafin, aku terima kok niat baik
kamu. Udah besok-besok nggak usah ngerjain urusan dapur sama kamar mandi, ya.
Tugas, Mas cari nafkah aja. Biar semua aku yang kerjain.”
“Masya Allah, makasih ya, Dek. Kamu memang istri sholehah.
Ya udah, aku mau mandi dulu. Kamu siapin baju kerja sama sarapan ya.”
***
Jam delapan pagi gue udah sampe kantor. Masih ada waktu
setengah jam sebelum masuk. Gue pun main ke tempat sohib gue, Andi.
“Helow, Bro. sibuk amat.” Gue menepuk bahunya, Andi lagi
sibuk mainan hape di depan toilet.
“Wuiiih. Segeran muka lo, Fan. Enak ye kawin sama janda?”
godanya.
“Ah, kampret lo. Ya, janda sama perawan jug ague gabisa bedainnya,
Ndi. Tapi yang pasti, meskipun dia janda. Dia selalu menjaga harga diri dan
kehormatannya. Sholehah.”
“Iya-iya, Pak Ustadz. Trus gimana kabar bokap lo? Beneran
kawin lagi?”
“Kayanya begitu. Lost kontak gue. Tapi, gue udah kasih nomor
gue sih ke RT rumahnya. Kalau sewaktu-waktu bokap balik, bisa hubungin gue.
Tapi, buktinya sampe sekarang dia nggak ada kabar lagi. Adek gue meninggal juga
dia nggak tahu.
“Fan, Fan … bokap lo kaya, rumah gede. Malah ngontrak.
Sayang tuh ruma dibiain kosong. Tempatin kek, kan lumayan. Duit buat bayar
kontrakan bisa ditabung buat beli rumah nanti.”
Andi sedang nyeramahin gue. Ada benernya juga sih. Tapi, gue
masih rada takut kalau tiba-tiba bokap gue pulanh, pas gue nggak ada di rumah.
Dia lihat Thifa di sana, ya kalau dia nerima, kalau bini gue malah diusir
gimana?
“Enggak lah, Ndi. Biarin aja. Bokap juga udah tahu sikap gue
gimana. Kita lebih baik hidup masing-masing.”
“Salut gue sama lo. Semenjak lo jadi mualaf, kebiasaan buruk
lo perlahan hilang. Udah nggak pernah nongkrong lagi, ngutang, ngerokok, balap
liar. Berubah lah. Keren.”
“Bisa aja, lo. Hidup emang kudu berubah, Bro. jadi lebih
baik. Masa kita mau hidup gitu-gitu aja kan? Yang buruk ya ditinggalin, karena
hidup yang sesungguhnya ya nanti. Setelah kita mati. Makanya gue lagi nyiapin
bekal buat dibawa mati.”
“Ashiyap, Pak Ustadz. Masuk yuk!” Andi mengajak gue buat
balik ke gudang.
Tanpa terasa kita udah ngobrol asyik di depan toilet. Duduk
lama sambil ngobrol emang enak, nggak peduli tempat yang penting ada temannya.
Dari awal tahun, kondisi pabrik mengalami penurunan
permintaan barang. Dikarenakan lonjakan harga kebutuhan yang semakin meningkat.
Membuat daya beli masyarakat pun berkurang. Gue harus cari cara untuk
mendapatkan tambahan uang lebih. Biar bisa buat nabung. Jujur aja, gaji gue
saat ini hanya cukup untuk makan, bayar kontrakan, listrik dan air. Sementara
gue harus ngirimin uang ek pondok untuk Zain. Meskipun di sana dia bersama
kakek dan neneknya. Gue sebagai ayah yang bertanggung jawab harus mengirimkan
uang juga untuk jajan juga tambahan kebutuhan keluarga Thifa.
Thifa nggak pernah tahu, kalau gue sering ngojekin
teman-teman kantor gue yang kalau pulang jalanya searah. Mereka tahu betul
kondisi keuangan gue. Nggak Cuma gue aja yang kaya gini. Hampir seluruh
karyawan, baik yang memiliki jabatan tinggi sekalipun. Mereka juga mengeluh
kurang.
Beruntung, di pabrik gue nggak mikirin makan siang. Karean dapat
dari kantor. Jadi, uang bisa diirit buat beli bensin. Nggak bisa bayangin kalau
gue harus kerja berangkat dari pondok. Capek, bensin pun boros.
***
Sepulang kerja, gue nggak langsung pulang. Duduk sebentar di
depan gerbang kantor. Ngobrol sama satpam yang lagi jaga.
“Mas Taufan, mau kerja sambilan nggak?” tanya si satpam
sambil berbisik.
Dia menghampiri gue, namanya Joko. Badannya tinggi tegap,
kulit sawo matang. Seolah tahu kalau gue emang lagi butuh kerja tambahan.
“Apa, Pak?”
“Nih, teman saya lagi cari agen buat usahanya. Dia buka
bisnis makanan gitu. Frencis.”
“Oh, modal semua dari dia”
“Iya, tahu jeletot. Enak, Mas. Kalau Mas punya kios, lumayan
loh. Sayangnya anak saya banyak, jadi istri saya suruh nggak bisa jagainnya.”
Joko ngasih gue kartu nama.
Gue baca sekilas, ini sih persis kaya yang jualan di pinggir
jalan. Thifa mana mau jualan begini, kalau ue emang nggak ada waktunya.
“Saya simpan ya, Pak.”
“Iya, Mas. Bawa aja.”
“Makasih, Pak. Saya pulang dulu.”
“Sama-sama, Mas.”
Gue pun akhirnya pulang. Dalam perjalanan gue bayangin diri
gue lagi ngedorong gerobak sambil teiak, “Tahu-tahuuu.” Trus gerobaknya gue
tambahin tulisan ‘Tahu Jeletot Mamang Tamvan’ biar laku, trus dikerubutin
cewek-cewek yang pada beli. Biasanya kan yang seneng jajan itu cewek, apalagi
kalau pedagangnya ganteng. Bisa tiap hari disatroni, betul kaga?
.
.
Bersambung
__ADS_1