Maukah Kau Menikah Denganku?

Maukah Kau Menikah Denganku?
Episode 36 Tahu Jeletot


__ADS_3

Taufan POV


.


.


“Lalu lalang kendaraan apa paha mulus?” tanya istri gue


dengan sinis.


Astaghfirullah. Begini ternyata rasanya dicemburuin. Gue


emang dari tadi merhatiin embak-embak pelayannya yang buset dah bajunya ketat


banget. Pantat sama dada pada ngejiplak. Cuma ya sekadar liat doing. Nggak ada


maksud apa-apa apalagi smape berpikir yang iya-iya.


Akhirnya gue nggak mau membatalkan rencana makan mala mini.


Gue rangkul bini gue, gue usap-usap kelapanya. Biarin deh diliatin orang, biar


pada iri. Emang Rey-Dinda aja yang bisa mesra-mesraan, gue pan juga bisa.


Tangan Thifa memindahkan tangan gue, dia nggak mau dirangkul


gaes. Katanya,”Malu, Mas.”


“Udah sah, Dek. Mbak, nasi bebeknya dua. Dipisah ya


nasinya.” Gue pun memesan dua porsi.


“Minumnya apa, Mas?” tanya sang pelayan.


“Bir ada?” tanya gue becanda.


Eh bini gue langsung nyubit pinggang. “Mas.”


Gue Cuma nyengir kuda, “becanda, Sayang … es teh manis aja


dua.”


“Okey, Masnya bisa aja.” Si embak pelayan tersenyum simpul.


Gue kembali menggandeng tangan Thifa menuju kursi yang


berada di pinggir jalan. Berhadapan langsung dengan jalan raya. Kami duduk di


bawah sinar lampu jalan. Sambil nunggu pesanan datang, gue menatap wajah manis


di sebelah yang sejak tadi selalu gelisah.


“Dek, kamu kenapa, sih?” tanya gue basa-basi busuk.


Sebenarnya gue tahu dia kenapa.


“Aku risih, Mas. Eneg lihatnya.”


“Jangan dilihatin. Mending liatin muka suamimu yang tamvan


ini.”


Thifa mengulas snyum, lalu kembali membuang muka ke arah


jalanan. Gue Cuma bisa menghela napas dalam. Seandainya gue punya duit lebih,


gue nggak mungkin ajak dia ke sini. Makan dipinggir jalan, yang mungkin aja


kurang hiegenis masakannya atau pengolahannya. Tapi, au gimana lagi. Prinsip


gue dari dulu Cuma satu. Nggak mau ngarepin warisan orang tua. Karena


sekaya-kayanya mereka, itu bukan harta kita. Gue mau usaha sendiri, menikmati


hasil jerih payah dari kerjaan dan keringat gue.


“Mas. Kok bengong?” tegur Thifa yang sudah menyodorkan


piring berisi nasi dan juga piring berisi bebek sambal rending.


“Maaf, aku lagi mikirin masa depan,” jawab gue sekenanya.


“Masa depan kamu kan udah di sini, ngapain dipikirin lagi.”


Thifa mengusap lembut tangan gue.


Gue langsung mendelik, sejak kapan nih bini gue jadi bucin


begini. Perasaan tadi masih ngambek gara-gara sembak-embak pelayan seksi.


“Oh iya, ya. Ternyata kamu bucin juga. Hehehe.” Gue menarik


gemas hidungnya.


Kami pun mulai menyantap hidangan di meja. Gue lihat bini


makan dengan lahap. Masya Allah, doi lapar sepertinya. Sampai belepotan ke pipi


itu bumbu bebek. Perlahan gue usap jari gue buat ngelap pipinya pakai tisu.


Ngebersihan kotoran yang nempel juga nasi.


“Sayang … makannya dikit-dikit.” Gue mengusap lmbut pipinya.


“Enak, Mas. Aku nggak pernah makan makanan enak kaya gini.


Meskipun cuma di pinggir jalan.” Thifa tersenyum manis banget.


Ya Allah, baru dibawa makan di pinggir jalan aja, Thifa udah


bahagia banget. Gimana kalau gue ajak ke restorant mewah. “Maaf, ya, Dek. Mas


cuma bisa ajak kamu makan di sini. Nggak di restoran mewah,” ucap gue.


“Mas ngomong apa sih? Aku nerima kamu apa adanya, bukan ada


apanya. Mau kamu ajak aku ke mana pun. Aku pasti bahagia. Yang penting kamu


nggak khianatin aku.” Thifa meminum es the manis di depannya.


“Iya, Sayang … aku janji akan selalu setia sama kamu. Oh


iya, aku boleh tanya sesuatu?”


“Apa?”


“Maaf sebelumnya kalau nanti pertanyaanku mungkin nyakitin


hati kamu.” Gue berbicara agak pelan, biar nggak kedengeran sama pengunjung


lain.


“Emangnya mau tanya apa?”


“Dulu, waktu kamu jadi istri kedua. Keinginan apa yang belum


terwujud? Maksudku, apa kamu bahagia?”


Thifa seketika terdiam. Makanan di depannya pun sudah habis,


ia tak menjawab pertanyaanku. Justru bangkit dari duduk untuk mencuci tangan.


Lalu menarik tanganku, “Kita pulang. Aku nggak mau bicara itu di sini.”


“Okey.” Setelah menyelesaikan transaksi, gue dan Thifa terus


pulang.


Kami melewati jalan pintas, masuk ke sebuah perkampungan


masih satu RW tapi beda RT. Thifa masih diam, gue yang menggenggam erat


tangannya itu melihat perubahan di wajahnya. Gue ngerasa dia seperti mau


nangis. Jangan-jangan, pertanyaan gue ngebuka luka di hatinya dulu.


Kami tiba di rumah, bini gue langsung ke kamar mandi. Trus


lama banget gue tungguin nggak keluar-keluar. Pasti nangis nih, pasti. Duh, gue


jadi ngerasa bersalah.


Klek.


Pintu kamar mandi akhirnya terbuka, wajah Thifa berkeringat


dan memerah. “Kamu nggak apa-apa, Dek?” tanya gue cemas.


Thifa hanya menggeleng lemah. Lalu melangkah ke kamar,


membuka lemari, mengambil pakaian tidurnya. Ia pun sudah tak segan berganti


pakaian di depan gue. Tubuhnya yang putih mulus terekspos sempurna. Apalagi dia


yang sekarang setiap tidur selalu gue minta untuk melepas bra. Dan ia turuti


perintah itu.


Melihat bagian tubuhnya selalu bisa membuat jakun gue naik

__ADS_1


turun. Tapi, untuk kali ini gue biarkan dia beristirahat. Gue juga nggak mau


bahas pertanyaan itu lagi.


Gue sekarang yang ke kamar mandi, mencuci muka , sikat gigi


dan berwudhu untuk tidur.


Sampai kamar, gue lihat Thifa belum tidur. Dia malah duduk


di depan meja rias. Rambut panjangnya tergerai indah. Sebelum gue deketin dia,


gue berganti baju terlebih dahulu. Tapi, pas gue lagi pilih-pilih baju, gue


mendengar suara isak tangis dari samping kanan gue berdiri.


Thifa sudah berurai air mata. Nggak bisa gue lihat dia


nangis dan sedih kaya gini. Langsung aja gue peluk dia. Dekap wajahnya ke dalam


dada. “Maaf, kalau aku udah buat kamu sedih,” ucap gue tahu diri.


“Apa aku nggak pantas bahagia?” tanyanya di sela isak


tangis.


“Siapa yang bilang begitu? Semua orang berhak bahagia.” Gue


menangkupkan kedua tangan di wajahnya. Mengusap lembut buliran air yang


menggenang di pelupk mata dan pipinya yang basah.


“Mas, satu-satunya hal yang diinginkan seorang wanita


adalah. Menjadi yang pertama dan terakhir.”


“Maafin aku. Bukan maksud untuk ….” Gue nggak bisa


ngelanjutin kata-kata itu. gue tahu gue salah udah kasih pertanyaan kaya tadi.


Sebenarnya, gue Cuma pengen buat dia bahagia, nggak kaya mantan suaminya dulu.


“Aku sayang banget sama kamu, aku juga mencintai kamu.


Bahkan sejak pertama kali kita ketemu. Kamu percaya kan sama aku?” Gue kembali


memeluknya erat.


Thifa tak menjawab, bahunya masih terguncang. Suara


hidungnya yang mungkin penuh dengan lender akibat menangis, masih terdengar.


Gue janji sama diri gue sendiri buat membahagiakan istri tercinta.


***


Paginya, istri gue masih tertidur lelap. Gue tahu dia pasti


kelelahan. Tepat jam empat pagi gue udah bangun. Mau coba bantu kerjaan Thifa.


Cucian yang numpuk di belakang, gue coba buat cuci. Gue belum bisa beliin dia


mesin cuci, jadi nyucinya masih manual. Pake papan penggilesan, sabun colek,


sama sikat. Di sini badan gue diharuskan buat gerak di bagian tangan. Posisi


duduk membungkuk, lumayan pegel juga. Demi istri gue lakuin semuanya.


Selesai nyuci, nggak langsung gue jemur, karena biasanya


setelah dibilas kudu diceplungin dulu ke air yang udah dicampur pewangi.


Direndem bebrapa saat sebelum dijemur ke luar. Sambl nunggu azan Subuh, gue


masak nasi sama nyiapin sarapan. Habis itu lanjut nyapu juga ngepel.


Lagi asyik goyang, tiba-tiba di depan pintu kamar Thifa udah


berdiri. “Mas ngapain?” tanyanya.


“Eum … ngepel,” jawab gue jujur.


Thifa bergerak cepat ke dapur, melihat gue ngerebus sayur


langsung dimatiin itu kompor. Gue pun bertanya-tanya. “Kenapa, Dek?”


“Mas mau masak apa?” tanyanya.


“Sayur bayem.”


“Sini!” Thifa meminta gue mendekati kompor.


bener kok. Udah gue potong-potong, gue cuci juga tadi sampai bersih.


“Mas, mau nyayur apa mau nanem bayem?”


“Nyayur-lah. Nanem mah di pot.” Gue cengengesan.


“Lihat! Kalau nyayur, akarnya nggak usah ikutan


dicemplungin.” Thifa mengangkat setangkai bayam ke atas dengan garpu.


Ya iya emang gue lihat akarnya masih ada, bukan masih ada.


Emang nggak gue buang. Gue pikir kan bisa dimakan. Sayang aja kalau dibuang


kan? Ternyata salah, gaes.


“Maaf, emang nggak bisa dimakan, Dek?”


“Mas aja yang makan, aku nggak mau.” Thifa lalu melangkah ke


kamar mandi.


Naah pasti kali ini dia takjub dengan kerjaan gue di sana.


Gue udah nyuci dan lagi ngerendem baju pake pewangi. Abis ini pasti gue


dipuji-puji. ‘Makasih ya, Sayang. Kamu eamng suami yang paling baik, sholeh dan


pengertian. Mau bantuin kerjaan aku.’ Pasti dia nanti ngomong kaya gitu.


Gue lanjutin ngepel dapur, habis itu mandi trus sholat


Subuh. Soalnya azan Subuh udah kedengeran.


Tiba-tiba bini gue ngeliatin gue dari depan pintu kamar


mandi. Mukanya udah kaya mau nerkam orang. Ah mungkin cuma perasaan gue aja


kali ya. Palingan habis ini dia peluk gue bilang makasih.


“Kenapa, Dek? Mandi bareng yuk, trus sholat berjamaah.” Gue


coba ajak dia sambil kedip-kedip manja.


“Mas nyuci?”


“Iya.”


“Udah selesai?”


“Udah, tinggal nunggu rendaman pewangi. Trus dijemur deh,”


ucap gue pede.


Gue lihat senyuman istri kok miring ya, sinis gitu sambil


geleng-geleng.


“Coba, Mas lihat ke dalam.” Thifa nunjuk ke dalam kamar


mandi.


Bak gede yang tadi berisi pakaian yang sdang berendam


pewangi, tiba-tiba penuh busa. Kok bisa?


“Mas nyuci pakai sabun apa?”


“Sabun colek, Dek. Sumpah tadi nggak sampai nyembul gitu


busanya.” Gue gemeter kaya udah ngelakuin kesalahan besar. Padahal gue sendiri


nggak tahu salah apa. Heran aja, kok busanya banyak banget.


“Trus pake pewanginya yang mana?”


Gue berjalan ke samping kamar mandi, lalu nunjukin dia


bungkus pewangi yang tadi gue pakai.


“Mas bisa baca ini?”


Gue ngangguk, liquid. Maksudnya apa jug ague nggak ngerti.


“Ini detergen cair, Mas,” jelas Thifa.


What the pak. Berarti gue salah dong? Pantesan malah penuh

__ADS_1


busa. Gue pake sebungkus pula. Tadi pas nuang sih gue curiga, gue pikir busa


dari baju yang abis dicuci. Ntar bakalan ilang sendiri, nggak tahunya gue emang


salah.


“Yah, maaf, Dek. Niat mau bantuin malah bikin repot kamu,”


ucap gue meminta maaf.


“Ya udah, nggak apa-apa. Dimaafin, aku terima kok niat baik


kamu. Udah besok-besok nggak usah ngerjain urusan dapur sama kamar mandi, ya.


Tugas, Mas cari nafkah aja. Biar semua aku yang kerjain.”


“Masya Allah, makasih ya, Dek. Kamu memang istri sholehah.


Ya udah, aku mau mandi dulu. Kamu siapin baju kerja sama sarapan ya.”


***


Jam delapan pagi gue udah sampe kantor. Masih ada waktu


setengah jam sebelum masuk. Gue pun main ke tempat sohib gue, Andi.


“Helow, Bro. sibuk amat.” Gue menepuk bahunya, Andi lagi


sibuk mainan hape di depan toilet.


“Wuiiih. Segeran muka lo, Fan. Enak ye kawin sama janda?”


godanya.


“Ah, kampret lo. Ya, janda sama perawan jug ague gabisa bedainnya,


Ndi. Tapi yang pasti, meskipun dia janda. Dia selalu menjaga harga diri dan


kehormatannya. Sholehah.”


“Iya-iya, Pak Ustadz. Trus gimana kabar bokap lo? Beneran


kawin lagi?”


“Kayanya begitu. Lost kontak gue. Tapi, gue udah kasih nomor


gue sih ke RT rumahnya. Kalau sewaktu-waktu bokap balik, bisa hubungin gue.


Tapi, buktinya sampe sekarang dia nggak ada kabar lagi. Adek gue meninggal juga


dia nggak tahu.


“Fan, Fan … bokap lo kaya, rumah gede. Malah ngontrak.


Sayang tuh ruma dibiain kosong. Tempatin kek, kan lumayan. Duit buat bayar


kontrakan bisa ditabung buat beli rumah nanti.”


Andi sedang nyeramahin gue. Ada benernya juga sih. Tapi, gue


masih rada takut kalau tiba-tiba bokap gue pulanh, pas gue nggak ada di rumah.


Dia lihat Thifa di sana, ya kalau dia nerima, kalau bini gue malah diusir


gimana?


“Enggak lah, Ndi. Biarin aja. Bokap juga udah tahu sikap gue


gimana. Kita lebih baik hidup masing-masing.”


“Salut gue sama lo. Semenjak lo jadi mualaf, kebiasaan buruk


lo perlahan hilang. Udah nggak pernah nongkrong lagi, ngutang, ngerokok, balap


liar. Berubah lah. Keren.”


“Bisa aja, lo. Hidup emang kudu berubah, Bro. jadi lebih


baik. Masa kita mau hidup gitu-gitu aja kan? Yang buruk ya ditinggalin, karena


hidup yang sesungguhnya ya nanti. Setelah kita mati. Makanya gue lagi nyiapin


bekal buat dibawa mati.”


“Ashiyap, Pak Ustadz. Masuk yuk!” Andi mengajak gue buat


balik ke gudang.


Tanpa terasa kita udah ngobrol asyik di depan toilet. Duduk


lama sambil ngobrol emang enak, nggak peduli tempat yang penting ada temannya.


Dari awal tahun, kondisi pabrik mengalami penurunan


permintaan barang. Dikarenakan lonjakan harga kebutuhan yang semakin meningkat.


Membuat daya beli masyarakat pun berkurang. Gue harus cari cara untuk


mendapatkan tambahan uang lebih. Biar bisa buat nabung. Jujur aja, gaji gue


saat ini hanya cukup untuk makan, bayar kontrakan, listrik dan air. Sementara


gue harus ngirimin uang ek pondok untuk Zain. Meskipun di sana dia bersama


kakek dan neneknya. Gue sebagai ayah yang bertanggung jawab harus mengirimkan


uang juga untuk jajan juga tambahan kebutuhan keluarga Thifa.


Thifa nggak pernah tahu, kalau gue sering ngojekin


teman-teman kantor gue yang kalau pulang jalanya searah. Mereka tahu betul


kondisi keuangan gue. Nggak Cuma gue aja yang kaya gini. Hampir seluruh


karyawan, baik yang memiliki jabatan tinggi sekalipun. Mereka juga mengeluh


kurang.


Beruntung, di pabrik gue nggak mikirin makan siang. Karean dapat


dari kantor. Jadi, uang bisa diirit buat beli bensin. Nggak bisa bayangin kalau


gue harus kerja berangkat dari pondok. Capek, bensin pun boros.


***


Sepulang kerja, gue nggak langsung pulang. Duduk sebentar di


depan gerbang kantor. Ngobrol sama satpam yang lagi jaga.


“Mas Taufan, mau kerja sambilan nggak?” tanya si satpam


sambil berbisik.


Dia menghampiri gue, namanya Joko. Badannya tinggi tegap,


kulit sawo matang. Seolah tahu kalau gue emang lagi butuh kerja tambahan.


“Apa, Pak?”


“Nih, teman saya lagi cari agen buat usahanya. Dia buka


bisnis makanan gitu. Frencis.”


“Oh, modal semua dari dia”


“Iya, tahu jeletot. Enak, Mas. Kalau Mas punya kios, lumayan


loh. Sayangnya anak saya banyak, jadi istri saya suruh nggak bisa jagainnya.”


Joko ngasih gue kartu nama.


Gue baca sekilas, ini sih persis kaya yang jualan di pinggir


jalan. Thifa mana mau jualan begini, kalau ue emang nggak ada waktunya.


“Saya simpan ya, Pak.”


“Iya, Mas. Bawa aja.”


“Makasih, Pak. Saya pulang dulu.”


“Sama-sama, Mas.”


Gue pun akhirnya pulang. Dalam perjalanan gue bayangin diri


gue lagi ngedorong gerobak sambil teiak, “Tahu-tahuuu.” Trus gerobaknya gue


tambahin tulisan ‘Tahu Jeletot Mamang Tamvan’ biar laku, trus dikerubutin


cewek-cewek yang pada beli. Biasanya kan yang seneng jajan itu cewek, apalagi


kalau pedagangnya ganteng. Bisa tiap hari disatroni, betul kaga?


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2