Maukah Kau Menikah Denganku?

Maukah Kau Menikah Denganku?
Episode 40 Mainan Baru


__ADS_3

Taufan POV


Perut gue rasanya aneh, mual


banget. Padahal nggak telat makan, masuk angin juga nggak. Buang-buang air pun


nggak.


Gue megangin perut sambil berkali


minum air hangat, biar perut sama tenggorokan enakan dikit. Nungguin Thifa ke


warung lama banget, gue curiga dia ke warung di Bogor kali ya? Ya Allah, eneg.


“Assalamualaikum,” sapa suara


istri gue dari luar.


Batin gue bersorak, Alhamdulillah.


Gue yang duduk di kamar langsung


keluar nyamperin bini gue. Tapi, kaki gue mendadak berhenti melihat bini gue


datang sambil menggendong bayi.


“Waalaikum salam, obatnya mana,


Dek?” tanya gue mendekatinya.


“Ini, Mas.” Thifa ngasih gue dua


butir obat berwarna hijau.


Gue melirik bayi di gendongannya


yang kelihatan anteng, begitu pun kantung plastic putih yang tadi dibawa Thifa,


trus di geletakin di lantai. Thifa duduk, gue ikut duduk di sebelahnya.


“Anak siapa, Dek?” tanya gue


penasaran.


“Anak kita,” jawabnya tanpa beban.


Gue menelan ludah, anak dari mana


coba. Lah dia aja belom bunting, ya kali anak hadiah chiki gitu. “Serius, Dek.”


Gue mendelik.


“Iya, Mas. Aku mau adopsi anak


ini. Kasihan, dia dibuang sama orang tuanya.”


“Apa?” sumpah, gue kaget dia


bilang mau adopsi anak. Ini sih semacam penghinaan, dikira gue nggak tokcer apa


ya, masa anak aja harus adopsi.


“Maaf, ya, Mas. Kalau aku nggak


bilang dulu sama kamu. Sejak melihat bayi ini, aku udah jatuh hati. Aku juga


udah bilang sama Bu RT, sama warga juga kalau ada yang cari anak ini, bilang


aku yang bawa. Mereka juga mendukung kalau anak ini kita yang rawat, kata


mereka bisa buat pancingan.” Thifa berusaha menjelaskan.


“Pancingan? Mau nangkep ikan hiu,


apa paus? Pake umpan bayi,” sahutku.


Thifa terkekeh geli, ya elah


malah ketawa. Nggak tahu apa suami lagi eneg, kesel, malah dikasih bayi. Udah tahu


kondisi ekonomi suaminya lagi carut marut. Gimana nanti ngebesarin tuh anak,


ngasih susu, makan, pakaian, diapers. Gue menggaruk kepala yang tak gatal. Gue tinggalkan


Thifa menuju ke dapur, mengambil minum dan mengunyah obat yang tadi dibeli bini


gu. Habis itu gue lanjut ke kamar, capek mau istirahat.


Saat mat ague hampir terpejam,


Thifa datang dan meletakkan bayi mungil itu di sebelah gue yang lagi tiduran. “Mas,

__ADS_1


aku titip dulu ya. Mau ke kamar mandi, sama masak buatt makan malam.”


Gue Cuma melirik sekilas, “Hem.”


Thifa keluar kamar meninggalkan


bayi di sebelah gue. Ah bodo amatlah, ngantuk banget. Toh bayi ini juga tidur.


“Oeee  … ooeee ….”


Gue terbangun, berisik banget nih


bayi. Gue lihat bayi merah di sebelah gue nangis kejer. Mukanya merah, mulutnya


terbuka lebar, belum lagi air matanya yang mengalir deras kaya abis dicubit


aja. Tiba-tiba Thifa datang.


“Ya Allah, Nak. Kamu kenapa? Mas,


kamu apain?” tanyanya nuduh gue.


Gue menggeleng. “Nggak, dia yang


bangunin aku,” jawab gue.


Gue dengar Thifa menarik napas


pelan. Lalu duduk di sebelh sambil memangku bayi itu. “Cup … cup … Sayang …


haus ya? Sebentar ya, Bunda nanti belikan susu dulu.”


“Mas, kira-kira anak ini kita


kasih nama siapa, ya?” tanya Thifa menatap gue.


“Terserah kamu, kamu yakin mau


rawat anak ini? Kalau dia dari keturunan nggak baik gimana? Anak haram kan ini


pasti?”


“Astaghfirullah, Mas. Kok kamu


ngomong kaya gitu? Nggak ada yang namanya anak haram. Semua anak terlahir tanpa


dosa. Yang haram itu perbuatan orang tuanya. Sekalipun bayi ini dilahirkan dari


nanti. Karena karakter terbentuk dari lingkungan dia tinggal, bukan dari siapa


dia dilahirkan.”


Duh, Thifa malah ceramahin gue. “Iya,


iya terserah kamu aja.”


“Ya udah, sekarang Mas tolong


belikan bayi ini susu ya.”


Nah kan, ujung-ujungnya gue juga


yang disirih. Gue memegang perut sambil meringkuk lagi di atas kasur. “Aduuh,


perut aku sakit, Dek. Eneg lagi nih, nanti kamu kerokin ya, kayanya aku masuk


angin deh.”


“Nggak usah pura-pura deh, Mas. Kamu


tadi udah tidur, barusan juga nggak merintih. Kenapa jadi tiba-tiba kesakitan. Mas


tahu nggak kalau anak itu bawa rezeki tersendiri, insya Allah. Kalau kita


ikhlas merawat bayi ini, Allah pasti akan lipat gandakan rezeki kita. Aamiin.”


Gue nggak bisa ngeles pada


akhirnya. Thifa memberikan uang berwarna merah, gue sempat terkejut waktu dia


kasih gue uang. Dia pikir gue nggak punya apa uang buat beli susu.


“Nggak usah, Dek. Mas ada kok


uang.”


“Pakai saja, Mas. Ini uang juga


sumbangan warga, termasuk baju-baju bayi tadi. Kamu bisa beli botol susunya


dua, sama susu formulanya satu. Buat merknya, kamu bisa tanya kasir nanti di

__ADS_1


minimarket.”


“Oh, okey.” Gue mengambil uang


tersebut dari tangannya, lalu menyambar jaket dan kunci motor.


“Mas pergi dulu ya,” kata gue.


“Pake sarung?” tanya Thifa.


Gue melihat ke arah bawah,


astaghfirullah. Yang bener aja, masa ke minimarket pakai sarung, mending kalau


bagus sarungnya. Ini udah kucel. Ya malkum, sarung buat nyarungin burung yang


lagi nelor. Hahaha.


***


Sesampainya gue di minimarket,


gue langsung tanya ke kasirnya. Susu formula buat bayi yang baru lahir sama


sekalian botol susunya. Setelah gue bayar, masih ada kembalian, gue nggak beli


kemasan yang besar, karena nggak cukup uangnya kalau sama botol.


Masih ada sisa uang mabelas ribu,


gue putuskan buat beli eskrim. Satu buat gue, satu buat bini gue yang paling


caem. Setelah selesai bayar, gue pulang.


Dalam perjalanan, sebenarnya


nggak begitu jauh sih dari kontrakan ke minimarket ini, Cuma kalau jalan kaki


ya iseng juga. Gue bukannya nggak suka sama tuh bayi, tapi beda aja rasanya,


bayi anak sendiri sama anak orang yang nggak tahu asal usulnya kaya gitu. Kalau


orang tuanya sama keluarganya nyari gimana, apa nggak memuus hubungan


silaturahmi.


Kayanya gue harus bilang sama


Thifa nih perihal masalah ini.


Sesampainya di rumah, gue lihat


Thifa lagi gendong mainan barunya itu di teras rumah. Ibu-ibu mana pada lihatin


juga. Gue yang baru datang jadi pusat perhatian.


“Eh, Mas Taufan. Seneng banget


kelihatannya punya mainan baru. Sampe mau beliin susunya,”celeruk salah satu


ibu-ibu.


“Buat belajar ya, Mas.”


“Iya, kalau saya belum punya anak


mah, saya juga mau ngerawat nih bayi. Sayangnya anak saya udah empat.”


“Iya, ya. Bu. Anak saya dua aja


nakalnyaaa bikin pusing. Apalagi biaya sekolah sekarang mahal.”


“Beruntung kalian, dapat anak


gratis, biaya lahiran kan mahal. Belum lagi kalau hamil, ada model


ngidam-ngidam, periksa rumah sakit. Iya kan?”


Ya Allah, tuh ibu-ibu pada sadar


nggak sih apa yang diomongin. Ya gue tahu sih, anak emang rezeki. Tapi, ucapan


mereka seolah ngeremehin gue banget. Muka melas dibilang seneng dapet bayi. Tauk


lah. Nggak bakalan menang juga lawan omongan mereka. Perempuan selalu benar


katanya, emak pun begitu. Apalagi perempuan yang sudah jadi emak-emak.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2