
Taufan POV
Perut gue rasanya aneh, mual
banget. Padahal nggak telat makan, masuk angin juga nggak. Buang-buang air pun
nggak.
Gue megangin perut sambil berkali
minum air hangat, biar perut sama tenggorokan enakan dikit. Nungguin Thifa ke
warung lama banget, gue curiga dia ke warung di Bogor kali ya? Ya Allah, eneg.
“Assalamualaikum,” sapa suara
istri gue dari luar.
Batin gue bersorak, Alhamdulillah.
Gue yang duduk di kamar langsung
keluar nyamperin bini gue. Tapi, kaki gue mendadak berhenti melihat bini gue
datang sambil menggendong bayi.
“Waalaikum salam, obatnya mana,
Dek?” tanya gue mendekatinya.
“Ini, Mas.” Thifa ngasih gue dua
butir obat berwarna hijau.
Gue melirik bayi di gendongannya
yang kelihatan anteng, begitu pun kantung plastic putih yang tadi dibawa Thifa,
trus di geletakin di lantai. Thifa duduk, gue ikut duduk di sebelahnya.
“Anak siapa, Dek?” tanya gue
penasaran.
“Anak kita,” jawabnya tanpa beban.
Gue menelan ludah, anak dari mana
coba. Lah dia aja belom bunting, ya kali anak hadiah chiki gitu. “Serius, Dek.”
Gue mendelik.
“Iya, Mas. Aku mau adopsi anak
ini. Kasihan, dia dibuang sama orang tuanya.”
“Apa?” sumpah, gue kaget dia
bilang mau adopsi anak. Ini sih semacam penghinaan, dikira gue nggak tokcer apa
ya, masa anak aja harus adopsi.
“Maaf, ya, Mas. Kalau aku nggak
bilang dulu sama kamu. Sejak melihat bayi ini, aku udah jatuh hati. Aku juga
udah bilang sama Bu RT, sama warga juga kalau ada yang cari anak ini, bilang
aku yang bawa. Mereka juga mendukung kalau anak ini kita yang rawat, kata
mereka bisa buat pancingan.” Thifa berusaha menjelaskan.
“Pancingan? Mau nangkep ikan hiu,
apa paus? Pake umpan bayi,” sahutku.
Thifa terkekeh geli, ya elah
malah ketawa. Nggak tahu apa suami lagi eneg, kesel, malah dikasih bayi. Udah tahu
kondisi ekonomi suaminya lagi carut marut. Gimana nanti ngebesarin tuh anak,
ngasih susu, makan, pakaian, diapers. Gue menggaruk kepala yang tak gatal. Gue tinggalkan
Thifa menuju ke dapur, mengambil minum dan mengunyah obat yang tadi dibeli bini
gu. Habis itu gue lanjut ke kamar, capek mau istirahat.
Saat mat ague hampir terpejam,
Thifa datang dan meletakkan bayi mungil itu di sebelah gue yang lagi tiduran. “Mas,
__ADS_1
aku titip dulu ya. Mau ke kamar mandi, sama masak buatt makan malam.”
Gue Cuma melirik sekilas, “Hem.”
Thifa keluar kamar meninggalkan
bayi di sebelah gue. Ah bodo amatlah, ngantuk banget. Toh bayi ini juga tidur.
“Oeee … ooeee ….”
Gue terbangun, berisik banget nih
bayi. Gue lihat bayi merah di sebelah gue nangis kejer. Mukanya merah, mulutnya
terbuka lebar, belum lagi air matanya yang mengalir deras kaya abis dicubit
aja. Tiba-tiba Thifa datang.
“Ya Allah, Nak. Kamu kenapa? Mas,
kamu apain?” tanyanya nuduh gue.
Gue menggeleng. “Nggak, dia yang
bangunin aku,” jawab gue.
Gue dengar Thifa menarik napas
pelan. Lalu duduk di sebelh sambil memangku bayi itu. “Cup … cup … Sayang …
haus ya? Sebentar ya, Bunda nanti belikan susu dulu.”
“Mas, kira-kira anak ini kita
kasih nama siapa, ya?” tanya Thifa menatap gue.
“Terserah kamu, kamu yakin mau
rawat anak ini? Kalau dia dari keturunan nggak baik gimana? Anak haram kan ini
pasti?”
“Astaghfirullah, Mas. Kok kamu
ngomong kaya gitu? Nggak ada yang namanya anak haram. Semua anak terlahir tanpa
dosa. Yang haram itu perbuatan orang tuanya. Sekalipun bayi ini dilahirkan dari
nanti. Karena karakter terbentuk dari lingkungan dia tinggal, bukan dari siapa
dia dilahirkan.”
Duh, Thifa malah ceramahin gue. “Iya,
iya terserah kamu aja.”
“Ya udah, sekarang Mas tolong
belikan bayi ini susu ya.”
Nah kan, ujung-ujungnya gue juga
yang disirih. Gue memegang perut sambil meringkuk lagi di atas kasur. “Aduuh,
perut aku sakit, Dek. Eneg lagi nih, nanti kamu kerokin ya, kayanya aku masuk
angin deh.”
“Nggak usah pura-pura deh, Mas. Kamu
tadi udah tidur, barusan juga nggak merintih. Kenapa jadi tiba-tiba kesakitan. Mas
tahu nggak kalau anak itu bawa rezeki tersendiri, insya Allah. Kalau kita
ikhlas merawat bayi ini, Allah pasti akan lipat gandakan rezeki kita. Aamiin.”
Gue nggak bisa ngeles pada
akhirnya. Thifa memberikan uang berwarna merah, gue sempat terkejut waktu dia
kasih gue uang. Dia pikir gue nggak punya apa uang buat beli susu.
“Nggak usah, Dek. Mas ada kok
uang.”
“Pakai saja, Mas. Ini uang juga
sumbangan warga, termasuk baju-baju bayi tadi. Kamu bisa beli botol susunya
dua, sama susu formulanya satu. Buat merknya, kamu bisa tanya kasir nanti di
__ADS_1
minimarket.”
“Oh, okey.” Gue mengambil uang
tersebut dari tangannya, lalu menyambar jaket dan kunci motor.
“Mas pergi dulu ya,” kata gue.
“Pake sarung?” tanya Thifa.
Gue melihat ke arah bawah,
astaghfirullah. Yang bener aja, masa ke minimarket pakai sarung, mending kalau
bagus sarungnya. Ini udah kucel. Ya malkum, sarung buat nyarungin burung yang
lagi nelor. Hahaha.
***
Sesampainya gue di minimarket,
gue langsung tanya ke kasirnya. Susu formula buat bayi yang baru lahir sama
sekalian botol susunya. Setelah gue bayar, masih ada kembalian, gue nggak beli
kemasan yang besar, karena nggak cukup uangnya kalau sama botol.
Masih ada sisa uang mabelas ribu,
gue putuskan buat beli eskrim. Satu buat gue, satu buat bini gue yang paling
caem. Setelah selesai bayar, gue pulang.
Dalam perjalanan, sebenarnya
nggak begitu jauh sih dari kontrakan ke minimarket ini, Cuma kalau jalan kaki
ya iseng juga. Gue bukannya nggak suka sama tuh bayi, tapi beda aja rasanya,
bayi anak sendiri sama anak orang yang nggak tahu asal usulnya kaya gitu. Kalau
orang tuanya sama keluarganya nyari gimana, apa nggak memuus hubungan
silaturahmi.
Kayanya gue harus bilang sama
Thifa nih perihal masalah ini.
Sesampainya di rumah, gue lihat
Thifa lagi gendong mainan barunya itu di teras rumah. Ibu-ibu mana pada lihatin
juga. Gue yang baru datang jadi pusat perhatian.
“Eh, Mas Taufan. Seneng banget
kelihatannya punya mainan baru. Sampe mau beliin susunya,”celeruk salah satu
ibu-ibu.
“Buat belajar ya, Mas.”
“Iya, kalau saya belum punya anak
mah, saya juga mau ngerawat nih bayi. Sayangnya anak saya udah empat.”
“Iya, ya. Bu. Anak saya dua aja
nakalnyaaa bikin pusing. Apalagi biaya sekolah sekarang mahal.”
“Beruntung kalian, dapat anak
gratis, biaya lahiran kan mahal. Belum lagi kalau hamil, ada model
ngidam-ngidam, periksa rumah sakit. Iya kan?”
Ya Allah, tuh ibu-ibu pada sadar
nggak sih apa yang diomongin. Ya gue tahu sih, anak emang rezeki. Tapi, ucapan
mereka seolah ngeremehin gue banget. Muka melas dibilang seneng dapet bayi. Tauk
lah. Nggak bakalan menang juga lawan omongan mereka. Perempuan selalu benar
katanya, emak pun begitu. Apalagi perempuan yang sudah jadi emak-emak.
***
Bersambung
__ADS_1