
Thifa POV.
*Bismillaah.
Assalamualaikum.
Semoga kalian yang masih Setia membaca tulisan saya, selalu diberikan kesehatan. Aamiin*.
🌸🌸🌸
Aku menunggu dengan cemas di depan ruangan dokter. Di dalam, Zain sedang diperiksa kondisi kesehatan dan kerusakan kornea matanya.
"Maaf, Bu Thifa. Ini air minum dan roti saya bawakan. Saya lihat wajah Bu Thifa pucat. Mungkin ini bisa membantu." Pak Rendi, orang tua Fandi, yang mana anaknya telah rela mendonorkan kedua matanya untuk Zain di saat terakhir sisa hidupnya.
Aku menerima plastik minimarket berisi air mineral dan roti tersebut. Beliau lalu duduk di sebelahku. Sementara Mama sedang ke toilet.
"Pak, kenapa anak Bapak mau merelakan kedua matanya pada putra saya?" tanyaku pada akhirnya.
Penasaran, sejak tadi perasaan yang masih saja menggelayut di kepala. Seorang anak muda, berusia sembilan belas tahun. Rela memberikan korneanya pada orang yang sama sekali tak ia kenal.
Pak Rendi tersenyum kecil. "Saya juga nggak tahu, Bu. Tadi pagi, saat anak saya dibawa ke rumah sakit ini karena kecelakaan. Yang ada di kepala saya adalah, anak saya harus selamat. Dia adalah harta saya satu-satunya. Satu jam di ICU, Fandi kritis, dan dia memanggil saya. Dia hanya berpesan. Pah, Fandi mau mata Fandi untuk orang lain, agar mata Fandi bermanfaat untuk orang yang membutuhkan. Setelah itu dia mengembuskan napas terakhirnya." Pak Rendi tertunduk.
Kulihat, pria di hadapanku begitu tegar. Meski ia baru saja kehilangan putra kesayangannya. Namun, ia tak ingin terlihat lemah di depanku.
"Terima kasih, Pak. Semoga amal ibadah putra Bapak, diterima di sisi Allah SWT," ucapku lirih.
"Aamiin. Eum, kalau boleh tahu. Anak ibu tidak bisa melihat sejak lahir, atau?"
"Oh, enggak, Pak. Anak saya waktu itu tertabrak mobil. Dan dia harus kehilangan penglihatannya."
"Owh, maaf--- ayahnya? Dari tadi saya tidak melihatnya."
"Ayahnya juga sudah meninggal, karena kecelakaan. Saat itu anak saya masih dalam kandungan."
"Innalillahi, yang sabar, ya, Bu. Maaf kalau pertanyaan saya membuat ibu sedih."
"Tidak apa-apa, Pak. Mamanya Fandi?" tanyaku.
"Mamanya Fandi meninggal dunia saat melahirkan Fandi."
"Innalillahi wa innailaihi rajiun."
Klek.
Pintu ruangan dokter terbuka. Aku dan Pak Rendi bangkit dari duduk langsung menghampiri sang dokter.
"Bagaimana, Dok?" tanyaku cemas.
"Alhamdulillah, setelah dilakukan pemeriksaan. Semuanya cocok, kornea mata almarhum Fandi dengan Zain. Nah, untuk orang tua Zain. Sebelum kami melakukan bedah mata. Ada beberapa berkas yang harus Ibu tanda tangani. Mari ikut saya." Dokter mengajakku ke ruangannya.
Di ruangan tersebut aku dipersilakan duduk. Di hadapanku beberapa lembar kertas berisi hal-hal yang harus kutanda tangani, perihal kelancaran operasi Zain.
Setelah selesai dokter menerangkan tentang operasi yang akan dilaksanakan, berikut Kisaran waktunya. Aku pun langsung keluar menuju ke ruangan Zain.
Di sana putraku sedang duduk di atas brankar di temani oleh Pak Rendi. Aku pun menghampirinya.
"Sayang, satu jam lagi kamu akan mulai di operasi." Aku mengusap punggung tangannya.
"Bunda, Om Opan mana? Zain mau ditemani Om Opan." Zain meraba tanganku dengan wajah memohon.
Bagaimana aku bilang, kalau sampai saat ini pesan whatsappku hanya dibaca dan tidak dibalas. Apa dia masih marah dengan ucapan Mama tadi?
"Om Opannya sibuk, Nak. Kan Om Opan kerja," jawabku berusaha memberi alasan.
"Siapa bilang? Om Opan nggak sibuk, kok." Tiba-tiba suara dari arah pintu mengejutkanku.
Taufan dan Mama baru saja masuk ke ruangan. Mereka terlihat jalan bersama. Aku pun mengernyit. Kenapa tiba-tiba Mama bisa berubah pikiran secepat ini? Bukannya tadi dia marah-marah dan menuduh Taufan macam-macam.
"Om Opan?" Zain merentangkan kedua tangannya.
Taufan langsung memeluk Zain, mengusap kepalanya juga meraba wajah putra kesayanganku itu. Aku mencoba membuang muka. Tak kuat melihat kebersamaan mereka, membuatku terharu dan mengingatkanku pada sosok Mas Athar.
__ADS_1
"Om kok lama banget datangnya?" tanya Zain.
"Maaf, ya. Tadi Om harus antar Tante Karin dulu."
"Om, Om. Aku boleh pegang muka Om nggak?"
"Boleh, sini!" Taufan meraih tangan Zain meletakannya ke wajah dia.
Zain tersenyum sambil meraba wajah pria di hadapanku. "Om hidungnya mana? Hihihi."
"Nih, nih. Hidung Om." Taufan mengarahkannya ke bibir dia. Aku hanya tersenyum.
'"Ini sih mulut, Om. Ih Om ada jenggotnya ya? Geli tau Om," celetuk Zain lagi.
"Bukan jenggot nih, jambang. Tipis doang. Biasanya kan cewek suka cowok bewokan." Taufan menoleh ke arahku. Seketika aku menunduk, karena debaran jantungku mulai berkedut tak beraturan.
Memang sih, jambang tipisnya membuat wajah Taufan terlihat lebih----. Ah nggak mau muji dia.
"Thifa, Mama mau bicara sebentar." Mama mendekat dan menarik tanganku keluar ruangan.
Pak Rendi pun ikut keluar bersama kami. "Bu Thifa, saya permisi ke kantin dulu, ya."
"Oh, iya, Pak. Nanti kalau sudah mulai operasinya saya kabari," ucapku.
Setelah Pak Rendi pergi. Mama dan aku duduk di kursi tunggu. Wanita di sebelahku ini terlihat serius.
"Thifa, kamu yakin mau menikah dengan Taufan?" tanya Mama tiba-tiba.
Aku hanya mengangguk. "Kenapa, Ma?"
"Kamu sudah kenal keluarganya?"
Aku menggeleng lemah. "Tapi Mas Taufan orang baik, kok, Ma."
"Ya, Mama tahu dia baik. Tapi---- Mama takut kamu kenapa-kenapa nantinya. Kalau sampai keluarga dia ternyata jahat."
"Nggak boleh suudzon, Ma. Insya Allah Mas Taufan bisa jadi pengganti Mas Athar, ayah yang baik untuk Zain. Mama lihat sendiri kan tadi? Zain dan Mas Taufan saling menyayangi."
"Belum tahu, Ma. Insya Allah secepatnya."
"Aamiin. Mama hanya bisa mendoakan yang terbaik saja buat kamu."
"Makasih, Ma. Oh iya, Mama kok bisa bareng dia tadi?" tanyaku penasaran.
"Iya, tadi Mama cari makan keluar rumah sakit. Pas mau nyebrang, dompet Mama dijambret. Eh dikejar sama cowok naik motor, dikembaliin dompet Mama. Nggak taunya yang ngejar si Taufan. Yaudah, sekalian Mama minta maaf sama dia karena ucapan Mama tadi pagi. Ngobrol sedikit deh sama dia."
Aku manggut-manggut. Taufan orangnya memang mudah bergaul dengan siapa pun. Terlihat dari cara dia bicara. Semoga saja keluarganya nanti dapat menerimaku dan Zain dengan baik. Aamiin.
🌸🌸🌸
Sudah satu jam Zain berada di ruang operasi. Kami menunggunya di luar dengan perasaan campur aduk. Untuk pertama kalinya aku merasa seperti nyawaku sedang dipertaruhkan. Meskipun dulu, Zain pernah dirawat karena kecelakaan. Namun, kali ini berbeda. Kedua kornea matanya akan diganti dengan milik orang lain. Ya Allah, kuatkan anak hamba, lancarkan operasinya. Aamiin.
"Nih, minum!" Taufan menyodorkan sebotol air mineral ke hadapanku.
Aku menerimanya. Roti dan air minum yang diberikan Pak Rendi saja belum sempat kubuka. "Terima kasih."
"Aku mau bicara sama kamu," ucap Taufan seraya mengajakku duduk menjauh dari Mama dan Pak Rendi.
Kami duduk bersisian, dengan wajah memandang ke depan. Aku meletakkan tangan di atas paha. Entah, rasanya gugup sekali duduk bersebelahan dengan pria yang kemarin sempat melamarku.
"Dek," panggilnya lirih.
"Ya."
"Aku, eum---sebelumnya, aku mau minta maaf."
"Untuk?"
"Kayanya. Kita harus menunda acara lamaran dulu."
Aku langsung menoleh ke arahnya. Menunda lamaran? Bukannya kemarin dia bersemangat sekali mau datang melamar aku. Kenapa sekarang tiba-tiba dia ingin menundanya.
__ADS_1
"Mas nggak serius ya, sama aku?" tanyaku sambil membuang muka.
"Bukan, makanya, aku mau minta maaf. Jujur, aku serius sama kamu. Aku---sayang sama kamu. Tapi---"
Aku mengangkat sedikit wajahku, menahan ujung mata yang berair agar airnya tak menetes. Aku sadar, mungkin selama ini aku yang terlalu banyak berharap. Tak tahu diri dengan keadaanku, statusku yang hanya seorang janda, dengan satu anak. Tapi, kenapa dia kemarin memberikanku banyak harapan, kalau pada akhirnya akan seperti ini.
"Hanya ditunda, Dek. Bukan dibatalkan," ucapnya lagi.
"Ya, aku tahu. Kamu memang masih mempertimbangkan statusku dan Zain, kan?"
"Bukan begitu. Adik aku---Karin----dia hamil empat bulan. Kalau kita lamaran, lalu menikah. Bagaimana dengan dia? Aku hanya ingin menundanya sampai dia melahirkan."
"Emang ke mana bapaknya?"
"Itu dia, Dek. Pacarnya kabur."
"Astaghfirullah."
Aku menunduk malu. Ternyata dugaanku salah. Taufan benar-benar seorang Kakak yang baik. Dia bahkan lebih mementingkan sang adik dari pada dirinya sendiri. Dia kalahkan egonya untuk cepat-cepat meminangku demi kebahagiaan adiknya.
"Maafkan aku," ucapnya lagi.
"Ya, Mas. Aku mengerti."
"Aku sayang sama kamu."
"Iya."
"Dek, aku sayang sama kamu," ucapnya lagi dengan berbisik.
"Iya."
"Kamu nggak mau jawab gitu?"
"Jawab apa? Kata-kata kamu bukan sebuah pertanyaan yang harus aku jawab. Tapi sebuah pernyataan kan?"
"Jawab apa kek, ya aku juga sayang sama kamu. Gitu."
Kulihat dia mengacak rambutnya. Saat dia merasa diperhatikan, aku kembali mengalihkan pandangannya.
"Malah diem aja. Kamu nggak sayang sama aku?" tanyanya lagi.
"Apa sih? Kamu tuh, malu tahu."
"Ya jawab dulu, Dek."
"Iya."
"Iya apa?"
"Ya itu tadi."
"Tadi yang mana? Dek, aku pengen denger kamu ngomong."
"Dari tadi aku udah ngomong, Mas."
Klek.
Pinti ruang operasi terbuka. Aku abaikan Taufan yang masih memaksaku untuk bilang sayang padanya. Mana mungkin aku blak-blakan seperti dia menyatakan perasaan. Biar rasa ini tak perlu diucap. Namun, dengan sikapku padanya aku akan menunjukkan kalau aku begitu peduli, dan akan selalu menunggunya.
"Ibu Thifa." Suara dokter memanggil namaku.
"Iya, Dok. Bagaimana operasinya?"
"Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar. Anak Ibu masih di ruang pemulihan. Mohon ditunggu, nanti akan ada suster yang membantu untuk memindahkannya ke ruang rawat," ucap sang dokter membuat kami semua mengucap syukur.
Alhamdulillah, akhirnya anakku bisa melihat lagi. Terima kasih ya, Allah. Terima kasih Fandi dan Pak Rendi.
🌸🌸🌸
**Bersambung
__ADS_1
Vote dan komennya ya gaesss**.