Maukah Kau Menikah Denganku?

Maukah Kau Menikah Denganku?
Episode 34 gagal


__ADS_3

TAUFAN POV


.


.


Gue mengacak rambut, ah sial. Gara-gara


Tiara nongol, bini gue ngambek. Kenapa juga tadi gue nggak ngehindar waktu dia


nyosor. Sumpah gue nggak ngira kalo si Tiara bakalan nyosor kaya tadi. Mana dandanan


dia cantik banget, seksi. Duh, kenapa jug ague mikirin tuh cewek lagi.


Trus sekarang gue harus gimana? Masa


pengantin baru tidur di luar. Kan nggak lucu, harusnya gue mau ngomongin bulan


madu yang indah sama dia. Eeeh malah dianggurin kaya tadi.


“Mas, katanya mau sholat?” tanya


seorang wanita yang kepalanya menyembul dari balik pintu.


Gue kaget, sambil senyum gue


berjalan ke arahnya. “Iya, Sayang ….”


Wah, jangan-jangan Thifa udah


nggak ngambek lagi nih? Buktinya barusan negur gue. Berarti abis ini gue bisa


lanjutin pertempuran yang tertunda.


Gue melangkah ke kamar mandi. Di dapur


Ummi sedang asyik menyiangi sayuran, sementara bini cantik gue lagi duduk di


kursi depan meja makan. Nungguin gue wudhu nih kayanya, mau ngajak sholat


bareng.


Masuk kamar mandi, gue pipis


dulu. Sambil ngelus-ngelus senjata gue, dan gue berpesan sama benda pusaka gue


ini, “Tong, pokoknya kali ini tembakan lu kudu jitu. Bikin bini gue


klepek-klepek, trus bulan depan tekdung.” Gue sentil ujungnya sambil cebok. Trus


lanjut wudhu.


Keluar kamar mandi, gue udah


nggak lihat lagi Thifa di dapur. “Thifa mana, Ummi?” tanya gue.


“Oh, di kamar.”


“Oh, permisi, Ummi.”


“Iya.”


Wah, dia pasti udah nggak sabaran


nih, nungguin gue di kamar. Pas sampai kamar, gue lihat Thifa lagi berdiri di


depan lemari. Di pundaknya handuk pink menggantung.


“Ayo sholat, Dek. Mas udah siap


nih.” Gue menggelar sajadah.


“Kamu duluan aja, Mas. Aku mau


mandi dulu. Gerah.”


“Nggak jamaah nih?”


“Nggak usah, Mas kalau mau


jamaah, ke masjid pondok aja.”


Duh, males banget jalannya kalau


sendiri. Biasanya sih Abi ngajakin, kok tumben ini diem-diem aja dia. Tau-tau


udah nggak ada di teras. Apa dia tahu ya, ngasih kesempatan buat gue sama Thifa


berduaan. Aaah betapa senangnya punya mertua yang perhatian.


“Mas sholat di rumah aja. Udah telat


juga.”


Thifa tak menjawab, ia keluar


begitu saja dari kamar. Nggak apa-apalah, nggak sholat jamaah bareng. Yang penting


masih bisa tidur bareng. Thifa sengaja banget mandi, biar wangi pasti karena


nggak enak kalau bau pas gue ajak gulat nanti. Sekarang gue focus sholat dulu


aja.

__ADS_1


Selesai sholat gue tunggu bini


gue di kamar, kok lama banget dia mandinya. Nggak biasanya, apa luluran dulu


ya. Lima belas menit kemudian dia muncul, dengan daster lengan panjang warna


orange, rambut panjang yang tergerai membuat gue menelan ludah. Membayangkan tubuh


mulusnya di balik pakaian tipis itu, yang gue yakini nggak pakai daleman.


 “Sayang, sini!” pintaku untuk duduk di


sebelah.


Thifa melangkah mendekat, membuat


jantung gue berdebar-debar. Gerakan tubuhnya yang lemah lembut itu seolah gue


pengen langsung menerkamnya. Ia duduk di sebelah gue yang udah bertegangan


tinggi ini.


Tanpa ba-bi-bu, gue raih tubuhnya,


memeluknya dari belakang, menciumi lehernya dan menggigitnya pelan. Ia tak


menolak juga bereaksi apa-apa. “Sayang, buka dong,” kata gue sambil menarik rok


bawahnya.


“Maaf, Mas. Nggak bisa sekarang.”


“Kenapa? Kamu masih ngambek?”


tanya gue.


“Bukan, aku ….”


“Marah?”


“Bukan, Mas.”


“Ya udah, kalau nggak mau. Dosa kamu.”


Gue udah nggak bernafsu mendengar penolakannya.


“Aku datang bulan, Mas,” ucap


Thifa lirih.


Gue melongo. Asyeeem. Baru sekali


tempur, langsung dapet. Apa semalam gue kekencengan ya genjotnya. Trus gue


gue? Oh emjiiih helooo. Pasrah. Sabar, fan. Sabar …. Gue mengusap dada, hidup


harus dinikmati, bukan diputar dijilat trus dicelupin. Gue pun menyemangati


diri sendiri.


“Bisa pakai cara lain, kok, Dek.”


Gue mencoba cari jalan alternative.


Seingat gue nih ya, katanya gue


kan bisa muasin diri gue dengan cara lain. Nggak berhubungan badan tapi tetap


bisa keluar. Tapi, kira-kira Thifa mau nggak ya?


“Gimana caranya, Mas?” tanyanya.


“Sebentar.” Gue mengambil ponsel,


mencari berbagai gaya yang bisa dilakukan saat istri datang bulan.


Ketemu, salah satunya ya pakai


tangan atau mulut.


“Apa? Mulut?” Thifa berteriak


kaget.


Ya Allah, dosa kaga ya gue ngajak


ustadzah ngemut-ngemut. “Lupain aja, Dek. Lupain. Aku akan sabar nunggu kamu


sampai selesai datang bulannya.”


Gue meraih ponsel dari


genggamannya. Kayanya buat kali ini gue harus lakuin sendiri deh, dengan cara


tulis tangan di kamar mandi. Abis udah kaga tahan banget rasanya pengen


ngeluarin hasrat.


Thifa menggeleng lemah lalu


beranjak dari kasur ninggalin gue yang pusing. Mending gue cari tempat dulu deh


yang indah buat bulan madu. Sambil nungguin gajian.

__ADS_1


***


Malam ini setelah makan malam,


Abi ngajakin gue buat keliling pondok putra. Dia bilang sih buat ngenalin gue


ke temen-temennya yang ustadz itu. Sumpah, gue gerogi, takut aja ditest sama


hapalan quran yang belum gue hafalin lagi.


“Nak Taufan, kerjaan masih lancer?”


tanya Abi sambil berjalan di koridor.


“Alhamdulillah, Abi. Besok saya


sudah mulai kerja. Shift malam.”


“Wah, Alhamdulillah. Kalau shift


malam, berarti pulangnya pagi?”


“Iya, Abi.”


“Ada ceweknya?”


“Khusus cewek Cuma sampe sore


aja.”


“Oh.” Abi terlihat


manggut-manggut. Kayanya dia curiga kalau sampai gue kerja malam dan di sana


ada ceweknya.


“Oh iya, saya mau bicara Abi.” Gue


mau coba minta izin buat pindah rumah. Semoga aja diizinin.


“Apa?”


“Saya boleh ajak Thifa sama Zain


pindah nggak, Abi?” tanya gue was-was.


Abi menghentikan langkahnya, lalu


menatap gue erat. Jantung gue kaya mau copot, tatapan mata Abi kaya hantu. Tajam


dan menyeramkan. Jangan-jangan dia nggak terima lagi anaknya gue ajak pergi.


“Sebenarnya Abi keberatan. Tapi,


Abi tahu keinginan Nak taufan untuk mandiri. Semua tergantung kamu sebagai


kepala rumah tangga. Abi nggak bisa larang, karena sekarang tanggung jawab


Thifa dan Zain ada di kamu.”


“Makasih, Abi.”


“Pesan Abi hanya, tolong jaga putri


Abi, sayangi dan lindungi dia. Jangan pernah menyakiti hatinya, kamu tahu kan,


betapa selama ini hidupnya menderita, dalam kesedihan. Thifa butuh seseorang


yang bisa membuatnya bahagia, bertanggung jawab. Sayangi Zain seperti anak


kandungmu sendiri. Dia anak yang pintar, kamu adalah Ayah pertama untuk Zain. Berikan


contoh yang baik.”


Gue terharu mendengar pemaparan


Abi, ayah mertua gue. Seandainya saja bokap gue bisa sebijak ini membimbing


anak-anaknya. Pah … Taufan kangen Papah ….


Abi memeluk erat gue, gue balas


pelukannya. “Makasih, karena Abi sudah memercayakan saya untuk menjadi


pendamping Thifa, juga menantu Abi.”


Abi hanya mengangguk. Lalu kami


melanjutkan perjalanan. Gue tahu betul perasaannya, perasaan seorang ayah yang


akan ditinggal oleh anak perempuannya. Melepas seorang yang kita sayangi itu


emang berat. Terlebih orang itu adalah anak kandung sendiri, menyerahkannya


sama gue yang notabene sikapnya masih begajulan. Mudah-mudahan gue bisa jadi


suami dan ayah yang baik buat istri dan anak-anak gue kelak.


Kepercayaan yang sudah Abi kasih ke gue nggak akan gue sia-siakan. karena dia, gue bisa mengenal Islam, mengenal lebih jauh lagi agama yang gue anut. Bahkan menyatukan gue sama wanita pujaan gue.


***


Bersambung.

__ADS_1


Vote dan komennya yaaa.


__ADS_2