
TAUFAN POV
.
.
Gue mengacak rambut, ah sial. Gara-gara
Tiara nongol, bini gue ngambek. Kenapa juga tadi gue nggak ngehindar waktu dia
nyosor. Sumpah gue nggak ngira kalo si Tiara bakalan nyosor kaya tadi. Mana dandanan
dia cantik banget, seksi. Duh, kenapa jug ague mikirin tuh cewek lagi.
Trus sekarang gue harus gimana? Masa
pengantin baru tidur di luar. Kan nggak lucu, harusnya gue mau ngomongin bulan
madu yang indah sama dia. Eeeh malah dianggurin kaya tadi.
“Mas, katanya mau sholat?” tanya
seorang wanita yang kepalanya menyembul dari balik pintu.
Gue kaget, sambil senyum gue
berjalan ke arahnya. “Iya, Sayang ….”
Wah, jangan-jangan Thifa udah
nggak ngambek lagi nih? Buktinya barusan negur gue. Berarti abis ini gue bisa
lanjutin pertempuran yang tertunda.
Gue melangkah ke kamar mandi. Di dapur
Ummi sedang asyik menyiangi sayuran, sementara bini cantik gue lagi duduk di
kursi depan meja makan. Nungguin gue wudhu nih kayanya, mau ngajak sholat
bareng.
Masuk kamar mandi, gue pipis
dulu. Sambil ngelus-ngelus senjata gue, dan gue berpesan sama benda pusaka gue
ini, “Tong, pokoknya kali ini tembakan lu kudu jitu. Bikin bini gue
klepek-klepek, trus bulan depan tekdung.” Gue sentil ujungnya sambil cebok. Trus
lanjut wudhu.
Keluar kamar mandi, gue udah
nggak lihat lagi Thifa di dapur. “Thifa mana, Ummi?” tanya gue.
“Oh, di kamar.”
“Oh, permisi, Ummi.”
“Iya.”
Wah, dia pasti udah nggak sabaran
nih, nungguin gue di kamar. Pas sampai kamar, gue lihat Thifa lagi berdiri di
depan lemari. Di pundaknya handuk pink menggantung.
“Ayo sholat, Dek. Mas udah siap
nih.” Gue menggelar sajadah.
“Kamu duluan aja, Mas. Aku mau
mandi dulu. Gerah.”
“Nggak jamaah nih?”
“Nggak usah, Mas kalau mau
jamaah, ke masjid pondok aja.”
Duh, males banget jalannya kalau
sendiri. Biasanya sih Abi ngajakin, kok tumben ini diem-diem aja dia. Tau-tau
udah nggak ada di teras. Apa dia tahu ya, ngasih kesempatan buat gue sama Thifa
berduaan. Aaah betapa senangnya punya mertua yang perhatian.
“Mas sholat di rumah aja. Udah telat
juga.”
Thifa tak menjawab, ia keluar
begitu saja dari kamar. Nggak apa-apalah, nggak sholat jamaah bareng. Yang penting
masih bisa tidur bareng. Thifa sengaja banget mandi, biar wangi pasti karena
nggak enak kalau bau pas gue ajak gulat nanti. Sekarang gue focus sholat dulu
aja.
__ADS_1
Selesai sholat gue tunggu bini
gue di kamar, kok lama banget dia mandinya. Nggak biasanya, apa luluran dulu
ya. Lima belas menit kemudian dia muncul, dengan daster lengan panjang warna
orange, rambut panjang yang tergerai membuat gue menelan ludah. Membayangkan tubuh
mulusnya di balik pakaian tipis itu, yang gue yakini nggak pakai daleman.
“Sayang, sini!” pintaku untuk duduk di
sebelah.
Thifa melangkah mendekat, membuat
jantung gue berdebar-debar. Gerakan tubuhnya yang lemah lembut itu seolah gue
pengen langsung menerkamnya. Ia duduk di sebelah gue yang udah bertegangan
tinggi ini.
Tanpa ba-bi-bu, gue raih tubuhnya,
memeluknya dari belakang, menciumi lehernya dan menggigitnya pelan. Ia tak
menolak juga bereaksi apa-apa. “Sayang, buka dong,” kata gue sambil menarik rok
bawahnya.
“Maaf, Mas. Nggak bisa sekarang.”
“Kenapa? Kamu masih ngambek?”
tanya gue.
“Bukan, aku ….”
“Marah?”
“Bukan, Mas.”
“Ya udah, kalau nggak mau. Dosa kamu.”
Gue udah nggak bernafsu mendengar penolakannya.
“Aku datang bulan, Mas,” ucap
Thifa lirih.
Gue melongo. Asyeeem. Baru sekali
tempur, langsung dapet. Apa semalam gue kekencengan ya genjotnya. Trus gue
gue? Oh emjiiih helooo. Pasrah. Sabar, fan. Sabar …. Gue mengusap dada, hidup
harus dinikmati, bukan diputar dijilat trus dicelupin. Gue pun menyemangati
diri sendiri.
“Bisa pakai cara lain, kok, Dek.”
Gue mencoba cari jalan alternative.
Seingat gue nih ya, katanya gue
kan bisa muasin diri gue dengan cara lain. Nggak berhubungan badan tapi tetap
bisa keluar. Tapi, kira-kira Thifa mau nggak ya?
“Gimana caranya, Mas?” tanyanya.
“Sebentar.” Gue mengambil ponsel,
mencari berbagai gaya yang bisa dilakukan saat istri datang bulan.
Ketemu, salah satunya ya pakai
tangan atau mulut.
“Apa? Mulut?” Thifa berteriak
kaget.
Ya Allah, dosa kaga ya gue ngajak
ustadzah ngemut-ngemut. “Lupain aja, Dek. Lupain. Aku akan sabar nunggu kamu
sampai selesai datang bulannya.”
Gue meraih ponsel dari
genggamannya. Kayanya buat kali ini gue harus lakuin sendiri deh, dengan cara
tulis tangan di kamar mandi. Abis udah kaga tahan banget rasanya pengen
ngeluarin hasrat.
Thifa menggeleng lemah lalu
beranjak dari kasur ninggalin gue yang pusing. Mending gue cari tempat dulu deh
yang indah buat bulan madu. Sambil nungguin gajian.
__ADS_1
***
Malam ini setelah makan malam,
Abi ngajakin gue buat keliling pondok putra. Dia bilang sih buat ngenalin gue
ke temen-temennya yang ustadz itu. Sumpah, gue gerogi, takut aja ditest sama
hapalan quran yang belum gue hafalin lagi.
“Nak Taufan, kerjaan masih lancer?”
tanya Abi sambil berjalan di koridor.
“Alhamdulillah, Abi. Besok saya
sudah mulai kerja. Shift malam.”
“Wah, Alhamdulillah. Kalau shift
malam, berarti pulangnya pagi?”
“Iya, Abi.”
“Ada ceweknya?”
“Khusus cewek Cuma sampe sore
aja.”
“Oh.” Abi terlihat
manggut-manggut. Kayanya dia curiga kalau sampai gue kerja malam dan di sana
ada ceweknya.
“Oh iya, saya mau bicara Abi.” Gue
mau coba minta izin buat pindah rumah. Semoga aja diizinin.
“Apa?”
“Saya boleh ajak Thifa sama Zain
pindah nggak, Abi?” tanya gue was-was.
Abi menghentikan langkahnya, lalu
menatap gue erat. Jantung gue kaya mau copot, tatapan mata Abi kaya hantu. Tajam
dan menyeramkan. Jangan-jangan dia nggak terima lagi anaknya gue ajak pergi.
“Sebenarnya Abi keberatan. Tapi,
Abi tahu keinginan Nak taufan untuk mandiri. Semua tergantung kamu sebagai
kepala rumah tangga. Abi nggak bisa larang, karena sekarang tanggung jawab
Thifa dan Zain ada di kamu.”
“Makasih, Abi.”
“Pesan Abi hanya, tolong jaga putri
Abi, sayangi dan lindungi dia. Jangan pernah menyakiti hatinya, kamu tahu kan,
betapa selama ini hidupnya menderita, dalam kesedihan. Thifa butuh seseorang
yang bisa membuatnya bahagia, bertanggung jawab. Sayangi Zain seperti anak
kandungmu sendiri. Dia anak yang pintar, kamu adalah Ayah pertama untuk Zain. Berikan
contoh yang baik.”
Gue terharu mendengar pemaparan
Abi, ayah mertua gue. Seandainya saja bokap gue bisa sebijak ini membimbing
anak-anaknya. Pah … Taufan kangen Papah ….
Abi memeluk erat gue, gue balas
pelukannya. “Makasih, karena Abi sudah memercayakan saya untuk menjadi
pendamping Thifa, juga menantu Abi.”
Abi hanya mengangguk. Lalu kami
melanjutkan perjalanan. Gue tahu betul perasaannya, perasaan seorang ayah yang
akan ditinggal oleh anak perempuannya. Melepas seorang yang kita sayangi itu
emang berat. Terlebih orang itu adalah anak kandung sendiri, menyerahkannya
sama gue yang notabene sikapnya masih begajulan. Mudah-mudahan gue bisa jadi
suami dan ayah yang baik buat istri dan anak-anak gue kelak.
Kepercayaan yang sudah Abi kasih ke gue nggak akan gue sia-siakan. karena dia, gue bisa mengenal Islam, mengenal lebih jauh lagi agama yang gue anut. Bahkan menyatukan gue sama wanita pujaan gue.
***
Bersambung.
__ADS_1
Vote dan komennya yaaa.