
Bismillahirohmanirohim.
Oh iya, yang sudah masukin cerita ini ke daftar baca kalian, terima kasih yaaaa. Tapi, kalau belum follow, follow dulu lah yaaa.
Happy reading.
💕💕💕
Kabar mengenai aku dan cowok itu telah menyebar ke seluruh penjuru pesantren. Itu membuatku benar-benar malu, bahkan sampai seorang ustadz yang pernah datang untuk mengkhitbah waktu itu pun, ikut berkomentar.
Aku seperti dianggap sebagai wanita yang matrelialistis, di mana hanya pria kaya raya yang aku pilih untuk menjadi pendamping hidup. Padahal aku sama sekali tak pernah memilih siapa pun. Bahkan pria yang sempat kucintai, nyatanya tak pernah menyukaiku. Dia lebih memilih adikku sendiri.
Kini, aku tak tahu harus berbuat apa. Karena Abi telah mengajukan persyaratan padanya. Doaku hanya, semoga ia tak bisa memenuhi persyaratan itu, dan kami tak menikah.
Menikah dengan pria yang tak pernah kusuka, atau kucinta, seperti mengulang masa lalu. Saat perjodohan dengan Mas Athar, hati ini menerima, meskipun ada luka yang tak bisa diungkap. Sakit saat mengetahui kalau ternyata diri ini hanyalah istri kedua.
"Assalamualaikum, ustadzah." Seorang pria kini sudah duduk di sebelahku.
"Waalaikum salam."
Tanpa menoleh, aku tahu siapa beliau. Abi mungkin melihatku sejak tadi hanya berdiam diri di teras rumah. Sendirian, karena Zain diajak omanya untuk menginap di rumah mama Hilda selama seminggu.
"Kamu kenapa, Nduk?" tanya Abi.
Aku hanya menggeleng lemah, ingin rasanya aku protes, dan bilang kalau aku tidak suka Abi memberikan syarat pada cowok itu, aku takut dikira memberi harapan.
"Maafkan, Abi. Abi hanya ingin mencarikan jodoh yang baik buat kamu. Abi melakukan ini semua, karena Abi lihat, Taufan itu bersungguh-sungguh. Tak ada wajah main-main. Hanya dia yang berani bicara langsung pada Abi, kalau dia tertarik pada kamu sejak pandangan pertama. Abi nggak tahu kalian pernah bertemu di mana. Dia bilang, kamu adalah motivasi untuk merubah kehidupannya."
"Dia hanya seorang yang tersesat, selama hidupnya dia nggak pernah kenal dengan ajaran agama manapun. Sejak lama ia ingin menjadi seorang mualaf, namun selalu terhalang oleh ayahnya. Sekarang, dia sudah yakin, dua hari di sini banyak hikmah yang dia dapat. Kalau pun dia bisa memenuhi persyaratan yang Abi berikan, tetap keputusan ada di tangan kamu, Nduk. Abi hanya menguji kesungguhannya saja."
Seolah tahu apa yang ada di dalam hatiku ini. Abi menjelaskan semuanya. Menunduk dan terdiam, hanya itu yang bisa kulakukan.
"Kamu malu, Nduk?"
"Iya, Bi," jawabku lirih.
"Maafkan, Abi. Harusnya Abi diskusikan terlebih dahulu sama kamu."
Ada nada penyesalan dalam ucapan Abi barusan, aku tak ingin membuat orang yang aku sayang ini terus menerus merasa bersalah. Biar aku saja yang malu, karena niat Abi hanya untuk masa depanku kelak.
__ADS_1
"Nggak apa, Bi. Semua sudah terjadi, aku juga nggak tahu nanti kalau sampai dia berhasil. Karena aku nggak pernah menyukainya."
"Apa saat pertama kali kamu bertemu Athar, kamu menyukainya, Nduk?"
Aku tersentak, jelas beda. Dulu kami dijodohkan, mau tidak mau aku harus menerima. Sementara saat ini, aku bisa menolak, dan aku pun sudah memiliki anak. Apa dia akan memperlakukan anakku dengan baik nantinya? Bisa saja kan perlakuan baiknya yang kemarin hanya untuk mencari perhatianku?
"Abi dan Umi juga tidak pernah saling kenal, saling suka, apalagi cinta. Kami menikah tanpa melihat siapa pasangan kita. Setelah sah, baru bisa lihat. Alhamdulillah, Ummi kamu cantik, sholehah dan mau menerima Abi apa adanya."
"Ummi tak pernah menyesal menikah dengan Abi, meskipun kami hidup berkecukupan. Menikahlah hanya untuk mencari Ridho Allah, menjalani sunnah Rosul. Insya Allah pernikahan kita akan diberkahi Cinta dengan sendirinya."
Aku menunduk, malu dengan Abi. Memang siapa aku? Berani sekali mengkhayal memiliki suami yang sempurna seperti dulu, aku hanya seorang janda, Thifa. Anak pun tuna Netra, tak sepantasnya juga aku kecewa dengan apa yang Abi lakukan untukku.
"Maafin aku, Bi. Aku nggak bermaksud untuk menolak atau tak menerima apa yang Abi lakukan dengan cowok itu. Aku hanya takut, takut kalau nantinya cowok itu kecewa. Aku hanya seorang janda, Bi. Belum lagi anakku yang tuna Netra, pasti keluarganya menentang hubungan kami nantinya. Aku nggak mau Zain sedih. "
Mataku mulai berair, dada ini rasanya sesak sekali. Ya Allah, maafkan hambaMu ini.
Abi merengkuh bahuku, lalu mendekap erat. Ia mengusap kepalaku pelan. "Abi menyayangimu, Nduk. Abi pun hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Abi tidak ingin lagi menjerumuskanmu seperti dulu."
Aku terisak di bahu Abi. Perasaan ini sama seperti saat Mas Athar menalakku dulu. Namun, Abi tak pernah tahu itu. Kali ini aku ikhlas, apapun yang akan terjadi nanti. Demi orang tuaku. Demi Ridho mereka.
💕💕💕
"Assalamualaikum, Mbak."
Sebuah suara mengejutkanku yang baru saja selesai sholat isya. Deeva adikku berjalan mendekat dengan wajah semringah. Lalu duduk di tepi ranjang.
"Waalaikum salam, ada apa, Va?"
"Sini, Mbak. Tak kasih lihat." Deeva yang sedang memegang ponsel itu sibuk entah apa yang ingin dia perlihatkan padaku.
"Nih, Mbak. Calonnya Mbak Thifa sudah jadi muallaf, dia baru habis dikhitan," ucap Deeva terkekeh seraya menutup mulutnya.
Deeva memperlihatkan foto cowok itu yang sedang memakai sarung dengan bagian tengahnya diangkat, mengenakan baju koko putih dan peci putih. Duduk di depan sebuah rumah yang kelihatan besar. Entah di mana dia saat ini, mungkin saja itu rumahnya kan?
Ternyata dia sudah potong rambut dan khitan. Benar apa yang dikatakan Abi, kalau dia memang bersungguh-sungguh. Aku tersenyum kecil melihat penampilannya sekarang. Tampan, dengan rambut pendek.
"Ciye, ciye, terpesona, ya, Mbak. Ini belum seberapa. Masih ada lagi. Sebentar." Deeva menyenggol lenganku menggoda.
Tak lama kemudian, sebuah rekaman suara terdengar seseorang yang sedang membaca surah al-fatihah. Aku tertegun sejenak, mencoba mengenali suara siapa, meskipun masih terbata cara membacanya, tapi tajwid bacaannya benar, panjang pendeknya terdengar jelas. Masya Allah, mengapa aku jadi mengaguminya.
__ADS_1
"Nah, gimana, Mbak?" tanya Deeva.
Aku tersentak.
"Eum, biasa aja. Biasa kan kita dengar orang baca alfatihah," ucapku gugup.
Terdengar Deeva menarik napas berat. "Ya ampun, Mbak. Ya bedalah. Kalau aku atau Mbak yang baca ya biasa aja. Tapi ini kan yang baca dia yang baru saja masuk islam, Mbak. Hargain dong. Suaranya Bagus, kan?" Lagi-lagi Deeva menggodaku.
"Apaan, sih. Kamu dapat itu semua dari siapa? Kok dia tahu nomor handphone kamu?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Ini, kan handphonenya Mas Fikri, Mbak. Wah nggak konsen nih, hehehe. Mikirin Mas Taufan, ya? Ngaku. Eh ganteng loh dia, mau liat lagi nggak fotonya?" Deeva membuat wajahku panas, pasti kalau bercermin merah semua pipiku.
Deeva kembali memperlihatkan foto-foto cowok itu, aku hanya meliriknya sekilas, namun berulang. Ah kenapa juga jantungku berdebar melihat senyumannya di layar ponsel. Astaghfirullah.
"Gimana, Mbak? Kapan peresmiannya?"
Deeva mematikan ponsel. Padahal aku masih ingin melihat lagi foto itu.
"Mbak?"
"Oh, i-iya, besok," jawabku.
"Apa? Besok? Waduh, Mbak udah nggak sabar, ya mau nikah sama abang ganteng?" Deeva terkekeh kembali.
"Apa sih kamu? Siapa yang mau nikah?"
"Loh tadi kan aku tanya kapan peresmiannya? Mbak jawan besok."
"Aku nggak dengar kamu nanya apa?"
"Mbak pasti mikirin dia kan? Tenang aja, Mbak. Mas Taufan pasti ngasih kabar ke Mas Fikri lagi. Besok kukasih tahu lagi, ya, kalau ada perkembangan. Hehehe. Aku pamit dulu. Assalamualaikum."
Deeva akhirnya pamit pulang. Masya Allah kenapa perasaanku jadi tidak karuan seperti ini? Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah. Bayangan wajah cowok itu menari di benakku. Aku menarik napas pelan, bahkan suara ngajinya pun masih terngiang.
Sepertinya aku harus mengambil wudhu kembali. Agar bayangannya terhapus jika terkena air wudhu nanti.
💕💕💕
Tbc
__ADS_1
Vote dan komennya ya gaesss.