Maukah Kau Menikah Denganku?

Maukah Kau Menikah Denganku?
5


__ADS_3

Taufan POV.


🌻🌻🌻


Seharian di kantor polisi bikin gue mager. Males mau ngapa-ngapain. Akhirnya gue putuskan buat pulang ke rumah. Besok hari sabtu, ada waktu libur dua hari. Kayanya ini waktu yang tepat buat gue main lagi ke pesantren. Belajar agama.


Motor yang gue kendarai membelah jalan dengan kecepatan sedang. Jalanan siang nggak begitu macet. Masih teringat jelas wajah cewek berjilbab tadi. Ternyata benar dugaan gue, dia salah paham.


Gue sih nggak masalah dia mau anggap gue seperti apa, penjahat mungkin yang ada di kepalanya. Saat lihat mobil yang gue beli ternyata pernah dipakai buat nabrak anaknya. Cuma yang gue nggak habis pikir, tuh cewek kesannya sok banget. Dikasih sapu tangan aja nggak mau. Padahal gue yakin dia butuh.


Namanya Thifa, anaknya pak ustadz. Tadi dia datang sama cowok, apa itu suaminya ya? Tapi kok ninggalin dia gitu aja.


Makin bikin gue penasaran, Thifa. Gue nggak terima loe nolak sapu tangan gue tadi. Dan loe harus tanggung jawab kalau gue bakalan ngasih loe sesuatu lagi dan lagi, sampai loe mau terima.


Ah gila, nggak pernah seorang Taufan ditolak mentah-mentah kaya tadi.


Akhirnya, gue pun tiba di depan gerbang rumah yang terbuka. Mobil bokap masih mentereng di depan garasi, pertanda dia abis keluar entah ke mana.


Gue pun memarkir motor di sebelah mobil bokap lalu melangkah ke dalam rumah. Pintu nggak dikunci, gue langsung masuk.


"Fan, duduk!" Suara bokap terdengar dari belakang punggung gue.


Gue menoleh, sejak kapan si bapak tua itu duduk di sofa. Perasaan tadi gue lewat nggak ada. Atau mungkin pandangan gue mulai kabur.


Gue pun duduk berhadapan.


"Dari mana kamu?" tanyanya lugas.


"Kantor polisi," jawab gue jujur. Soalnya kata pak ustadz, bohong itu dosa.


"Papa bilang juga apa. Makanya kalo beli barang itu yang baru, ngapain beli barang seken. Masih mending bukan barang curian."


Ah males banget gue dengerin ceramahnya.


"Papa mau kamu berhenti kerja. Trus urusin bisnis Papa."


Ujung-ujungnya, itu lagi, itu lagi.


"Tapi, Pa."


"Ya kalau kamu nggak mau, Papa akan utus Mirna buat jadi penerus Papa."


What? Mirna? Pacar bokap gue?


Mata gue nyaris keluar mendengar ucapan bokap barusan.


"Maksud Papa, Tante Mirna pacar Papa itu?"


"Iya, siapa lagi. Papa mau nikahin dia dalam waktu dekat ini."


Gue cuma bisa menelan ludah. Entah apa yang ada dipikiran pria yang umurnya hampir enam puluh tahun ini.


"Papa nggak takut kalau Tante Mirna cuma mau harta Papa doang?" tanya gue kesel.


"Ya Papa tau itu. Tapi Papa udah lama kesepian, Fan. Kamu nggak kasihan sama Papa?"


Glek. Gue menelan ludah lagi. Mual.


Pa kabar gue yang masih muda.


"Emang masih bisa, Pa?"


"Nyetrum-nyetrum doang masih bisa, Fan."


Lagi, ini bagian yang paling gue nggak suka. Bokap gue itu penulis, dan tulisan dia kebanyakan nyetrum semua. Pernah nggak sengaja gue baca. Eh malah diomelin. Katanya ini cerita dewasa. Padahal waktu itu usia gue udah dua puluh tahun. Kurang dewasa gimana? Semua bulu di badan gue udah tumbuh, dan bagian itu gue juga udah bisa tegang. Trus kalau gue belum dianggap dewasa, dia nulis cerita itu apa yakin pembacanya udah dewasa semua.


Aneh.


Gue akhirnya bangkit dari duduk.


"Mau ke mana lagi?" tanyanya.


"Taufan mau pergi, Pa. Pulang minggu."


"Mau ke mana?"


"Ke pesantren."


"Apa?"


Gue lihat bokap langsung berdiri menatap gue kaya mangsa yang siap diterkam.


"Kamu mau ngapain ke sana? Di sana itu tempatnya *******. Bisa-bisa otak kamu dicuci sama orang sana!" teriaknya lantang dengan mata yang menyalak.


"Otak aku emang perlu dicuci, Pa. Biar nggak ngeres kaya otak Papa."


"Kamu!"


Gue lihat kedua tangan bokap mengepal erat, mungkin kalau gue ada di dekatnya pasti kena tonjok.


"Pa, dari dulu aku nanya. Kita ini agamanya apa? Papa selalu bilang waktu sekolah kalau ditanya, kita ini orang kristen. Tapi, setiap minggu kita nggak pernah ikut sembahyang di gereja. Natal pun enggak. Kalau Islam, kenapa Papa begitu anti? Apa Papa pernah disakiti sama orang Islam?"


Akhirnya pertanyaan itu gue lontarkan lagi. Gue udah kaya nggak punya keyakinan. Bokap cuma bilang, agama itu nggak perlu. Yang penting kita hidup baik sama orang, jangan ngelanggar aturan pemerintah biar nggak di penjara.


Bokap kembali duduk di sofa. Gue lihat dadanya naik turun. Berat sekali napasnya. Apa gue salah ngomong.


"Asal kamu tahu, Fan. Dulu Papa pernah menikahi seorang wanita muslim. Papa diminta mengikuti keyakinannya. Tapi, Papa nolak. Papa laki-laki. Harus punya pendirian. Kalau dia cinta, harusnya dia yang rela berkorban untuk memperjuangkan cinta kita. Akhirnya kami menikah beda keyakinan. Keluarga nggak ada yang setuju. Mau gimana, Papa terlanjur mencintai dia. Sayangnya, masalah selalu datang karena perbedaan prinsip. Islam itu ribet, Fan. Tiap harinya kita disuruh itu namanya sholat. Belum lagi puasa, ada zakat apalagi itu pokoknya. Dan mana?"


"Dia selalu bilang, rezeki minta sama Tuhan. Mana? Dia tiap hari meminta apa Tuhan kasih? Kita tetap susah waktu itu. Setelah bercerai, lihat sekarang. Apa yang nggak bisa Papa beli? Nggak perlu itu namanya berdoa, sholat dan segala macamnya."


Ceramah Papa panjang lebar. Dan gue baru tahu kalau dulu Mama menikah dengan Papa yang seorang duda. Padahal kalau dilihat, Mama itu mudanya cantik. Kenapa pula harus menikah sama duda? Emang perjaka kaya raya udah habis?


"Pokoknya aku tetap mau ke sana!" ucap gue lagi.


"Fan, sekali kamu keluar dari rumah ini. Selamanya jangan harap kamu bisa kembali. Apalagi buat ke pesantren."


Gue menghentikan langkah, dan menoleh ke arah bokap yang sudah berdiri tegap menatap tajam.


"Alasan Papa apa ngelarang aku?"


"Karena Papa nggak suka! Kamu bakal jadi pembangkang kalau gabung sama mereka."


Gue hanya tersenyum kecil. Pembangkang?


"Okey, tapi Papa juga jangan menikah sama Tante Mirna," ancam gue.


Dia terdiam. Kena kan?


Ah bodo amat. Yang penting rasa penasaran gue harus diobatin.


Thifa, Abang datang.


Duh nggak pernah deh gue segininya ketemu cewek. Padahal tuh cewek, judes, jutek, punya anak pulak. Heleh heleh.


🌻🌻🌻


Hari ini gue mau bolos dulu dari kerjaan. Capek cuy, gaya loe, Fan. Capek. Kerja juga cuma duduk, bolak balik ngawasin mesin.


Gue.

__ADS_1


[Ndi, gue izin ya off dulu nih hari.] (Centang dua biru)


Andi.


[Okey, mau ke mana lu?]


Gue.


[Ngejar gebetan. (Centang dua biru)]


Andi.


[Anjaaay, kalo jadian jangan lupa traktir.]


Gue.


[Langsung kawinin, cuy. Nggak musim jadian lagi.] (Centang satu)


Anjirrr hape lu modar bro!


Bodo amatlah. Gue pun merapikan baju ke dalam tas ransel. Buat nginap di pesantren. Dengan pedenya gue bawa baju. Padahal belum tahu mau tidur di mana. Kemarin waktu ngobrol sama bapaknya Thifa sih, dia nyuruh gue bawa baju ganti yang sopan. Baju panjang sama celana panjang gitu. Tapi dia belum bilang gue mau ditidurin di mana. Mesjid juga kaga ngapa dah. Penting mata bisa merem badan bisa rebahan.


Kruuuk.


Perut gue keroncongan. Tadi pagi cuma keisi roti dua ribuan sama aqua sebotol. Siangnya di kantor polisi nggak dikasih makan. Sekarang udah jam tiga sore. Pantes nih cacing di perut minta jatah.


Ting.


Hape gue bunyi.


Gue buka ada pesan wa.


Tiara.


[Fan, aku ada di depan rumah kamu nih.]


What? Ngapain nih kuntilanak siang-siang ke mari.


Gue.


[Gue nggak ada di rumah.] (Centang dua biru)


Tiara.


[Jangan boong, aku liat motor kamu ada tuh!]


Gue ngegaruk rambut yang nggak gatal. Nih cewek nekat bener dah. Gue tuh paling nggak suka sama cewek yang keganjenan, kecentilan, pokoknya ngejar-ngejar kaya Tiara ini.


Sengaja tiga hari wa dia nggak gue bales. Males. Eh dia malah nyamperin ke rumah.


Gue.


[Serius gue nggak di rumah.]


Kirim poto selpi waktu di kantor polisi tadi.


(Centang dua biru)


Untung gue tadi sempet poto-poto. Ternyata berguna juga buat ngusir setan. Hahaha.


Tiara.


[Yaaah padahal aku bawa makanan kesukaan kamu nih. Spaghetti saus padang sama burger king.]


Glek. Gue pun menelan ludah. Itu kebutuhan cacing di perut gue.


Gue.


(Centang dua biru)


Gue lempar tuh hape ke atas tempat tidur. Trus langsung lari keluar kamar menuju depan gerbang. Ah kalo makanan mah gue nggak nolak.


Gue lihat Tiara berdiri tepat di depan gerbang rumah gue, pake baju kaos warna pink, yang bagian lengannya dilinting. Bawahan celana jeans pendek di atas lutut. Kelihatan banget tuh paha putihnya. Dia tersenyum melihat kedatangan gue.


"Taufan, apa kabar?" tanyanya.


"Baik, kamu? Tambah cantik aja."


Wajah itu tersipu malu. Kalau nggak liat bungkusan di tangan dia. Ogah banget tuh gue muji-muji. Vangke banget gue. Hahaha.


"Ah kamu bisa aja."


Tuh kan bener, mukanya langsung merah. Aduh, nggak kuat ini gue kalau lama-lama di sini. Pegel, mana perut perih banget.


"Tumben main, ada apa?" tanya gue basa basi.


"Ini mau nganterin ini, kita makan bareng yuk! Aku beli dua buat makan berdua."


Tiara menyodorkan bungkusan itu, gue terima dengan senang hati.


"Yah, tapi gue udah makan. Kamu mau makan sendiri, aku temenin."


"Yah, ya udah deh. Buat kamu aja. Masa makan sendiri. Kan nggak enak. Oh iya, aku nggak disuruh masuk. Masa kita ngobrol di depan gerbang gini." Tiara memilin ujung rambutnya yang panjang dan bergelombang itu.


Waduh, gue bilang apa ya buat ngusir dia.


"Yah, Tiara. Tapi akunya mau kerja. Kapan-kapan aja, ya."


"Oh gitu, ya. Ya udah deh. Aku pulang dulu."


Yes, gampang banget ngusirnya.


"Eum, tapi bener, ya. Kapan-kapan aku boleh main ke rumah kamu," imbuhnya lagi.


"Oh iya, boleh boleh banget." Gue pun tersenyum pura-pura. Asal loe bawa makanan yang banyak boleh banget.


"Btw, makasih loh ini. Kamu pulang naik apa?"


"Naik ojek online aja. Emang kamu mau nganterin aku?"


"Eum, nggak bisa, Tiara. Maaf, ya."


"Iya nggak apa-apa. Taufan pasti sibuk, ya."


Nih cewek polos banget dah. Kalau gue mau, bisa nih gue apa-apain buat seneng-seneng doang. Tapi ogah ah. Manja akut, ambegan pula. Huft. Belum lagi bajunya seksi-seksi. Diumbar ke mana-mana tuh badan, siapa aja bisa nikmatin.


Gue tungguin dia sampai ojolnya datang. Trus dia pulang dadah-dadah. Hadeuh.


🌻🌻🌻


Gue bawa bungkusan pemberian Tiara ke dalam kamar. Gue makan sampe kekenyangan. Masih ada satu porsi, sengaja gue sisain. Mau gue bawain buat eneng geulis, Thifa. Kali aja dia nggak pernah makan makanan kaya gini. Hehehe.


Gue keluar kamar diam-diam tepat jam empat sore. Bokap kayanya lagi sibuk nulis di kamarnya. Kalau si Karin adek gue mah, dari pagi bilangnya kuliah. Tar jam sepuluh malam baru pulang. Nggak tau deh dia kuliahnya di mana. Di Bandung apa di Swiss.


Akhirnya gue udah ada di jalanan dengan motor kesayangan. Nih motor juga gue boleh beli pakai duit hasil kerja sendiri. Seken emang, tapi mesinnya bandel. Sekarang mah udah jarang motor tiger berkeliaran di jalanan. Yang lagi naik daun kan NMek, yang katanya cewek-cewek kalo diboncengin pas turun kakinya nggak bisa rapet. Hahaha. Kata gue tuh cewek naik motor apa abis dinaekin.


Setengah jam perjalanan. Gue sampai di depan gerbang pesantren. Nah kan, gue bingung ini parkirnya di mana. Gue parkir motor di barisan motornya para tukang ojek.


"Bang, titip bentar, ye." Gue menepuk bahu salah satu tukang ojek yang lagi mangkal.

__ADS_1


"Siap, bro!" ujarnya.


Gaya bener nih tukang ojek. Bra bro bra bro.


Tanpa ba bi bu, gue masuk ke ruang tamu. Di pintu ada tulisannya begitu. Bicara sama si mas-mas berpeci, dia adalah si mas resepsionis. Jadi kalau ada santri yang dijenguk keluarganya. Keluarganya tinggal bilang sama si mas itu. Nanti dipanggilin lewat microphon. Dan kedengaran ke seluruh penjuru pondok.


"Ada yang bisa dibantu, Mas?" tanyanya.


"Eum, kalau mau ke rumahnya ustadz Yusuf?"


"Owh, Ustadz Yusuf. Itu beliau sedang ada di situ. Sebentar, ya. Mas. Saya panggilkan."


Si mas tadi berjalan ke dalam. Gue nggak bisa lihat. Karena ditutup tirai.


Nggak lama kemudian, ustadz yang dimaksud keluar lewat pintu samping bersama seorang anak kecil. Anak laki-laki yang waktu itu gue temuin di depan minimarket. Anaknya, Thifa.


"Assalamualaikum," sapa sang ustadz.


"Wa-waalaikim salam."


Gue menjabat tangannya. Lalu si anak laki-laki di depan gue mengulurkan tangan, dia mencium punggung tangan gue.


Hati gue seketika terenyuh, kasihan anak ini harus kehilangan penglihatan di usia muda. Dengan sebuah kecelakaan yang tragis.


"Nama kamu siapa?" tanya gue sambil berjongkok di depannya.


"Zain, Om."


"Udah sekolah?"


"Belum, Om."


Tiba-tiba tangannya meraba wajah dan rambut gue. Dia tersenyum. Ganteng nih anak kaya gue.


"Omnya gondrong," celetuknya sambil tertawa.


"Eh, nggak boleh gitu. Ayo, Nak Taufan kita ke dalam asrama putra." Ustadz Yusuf mengajak gue keluar ruangan itu.


Kami bertiga berjalan di antara kamar para santri. Beberapa santri di sana menatap ke arah kami. Sampai akhirnya gue tiba di depan sebuah rumah sederhana. Letaknya tepat di belakang bangunan tinggi berlantai tiga.


Rumah di depan gue ini nggak ada pagar, apalagi halaman yang luas. Terasnya juga kecil.


"Assalamualaikum," sapa sang ustadz.


"Waalaikumsalam." Sebuah suara yang gue kenal menjawab salam.


Deg, cewek berkerudung putih itu menyambut kami. Gue tau dia kaget waktu liat gue udah ada di depan pintu rumahnya yang terbuka. Gue juga kaget. Nih dada gue kejut-kejut.


"Thifa, tolong buatkan minuman, ya!"


"Iya, Abi." Thifa melangkah ke arah belakang.


Gue diajak masuk ke dalam rumah. Duduk di kursi kayu. Bersebelahan sama Zain.


"Om," panggil Zain ngagetin gue yang lagi bengong.


"I-iya."


"Om, mau jadi ayahnya Zain?" tanyanya.


Gue cuma melongo. Nih bocah kok tau isi hati gue ya. Hahaha.


"Maaf, Nak Taufan. Zain selalu begitu setiap kali ada laki-laki yang datang ke rumah untuk mengkhitbah bundanya," terang Ustadz Yusuf.


"Mengkhitbah apa, ya?" tanya gue.


"Melamar."


Kening gue mengkeret. Melamar?


"Memang ayahnya Zain?"


"Sudah meninggal sejak Zain masih dalam kandungan."


Nyes. Tambah kasihan gue sama nih anak. Udah nggak punya bapak. Buta pula. Pantas aja ibunya judes gitu. Ternyata dia janda. Berarti gue ada kesempatan dong buat deketin dia.


"Saya boleh ikutan, Pak?" tanya gue tanpa basa basi. Hahaha.


Prang!


Gue menoleh, gue lihat Thifa lagi jongkok mungutin pecahan gelas yang baru aja jatuh. Jangan-jangan karena omongan gue barusan.


"Maaf, ya, Nak Taufan. Gerogi." Ustadz Yusuf tertawa.


"Om, Om ganteng nggak?" tanya Zain meraba tangan kanan gue.


"Ganteng dong," kata gue sombong. Si ustadz sampai ketawa.


"Mau nggak jadi ayah aku?"


"Ha?"


"Omnya lucu, Eyang. Masa orang gondrong katanya ganteng." Bocah di sebelah gue tertawa riang.


Gue ikutan ketawa, emang dia pikir kalau gondrong itu jelek?


"Nggak boleh gitu, Zain. Ayo, ikut Bunda!"


Tiba-tiba Thifa sudah berdiri di depan kami.


Dia membawa nampan berisi teh manis hangat dan diletakkan di atas meja. Lalu meraih tangan putranya agar ikut dengannya. Gue cuma bisa memperhatikan dia. Cantik banget nih cewek. Nggak kelihatan kalau janda.


"Ehem."


"Eh, ma-maaf, Pak."


Gue kena tegor bapaknya. Gegara ngeliatin anaknya.


"Kamu katanya mau belajar agama. Sudah bisa baca quran kan?" tanyanya.


Gue menggeleng.


"Iqro?"


Gue menggeleng lagi.


"Maaf, kamu nggak pernah ngaji?"


Gue menggeleng lagi.


"Maaf, tadz. Saya non muslim."


Prang!


Astaga bunyi pecahan apalagi itu dari belakang. Gue cuma bisa meringis. Sama seperti pak ustadz yang menggeleng.


🌻🌻🌻


*Tbc.

__ADS_1


Habis dah piring sama gelas lu pecahin, thifa.


Wkwkwkkw*


__ADS_2