Maukah Kau Menikah Denganku?

Maukah Kau Menikah Denganku?
Episode 39 Nemu Bayi


__ADS_3

THIFA POV


Assalamualaikum …


Maaf yang lama menunggu …


***


“Ayo kita pulang,” ajak Mas


Taufan seraya meraih tanganku mengajak ke arah motornya.


Aku hanya menurut saja, sejak


tadi perasaanku nggak enak. Karena tatapan papa Mas Taufan seolah tak suka


dengan kehadiranku di sana. Ditambah wanita yang bersama beliau tadi, ia


memandang sinis melihat penampilanku.


Selama di atas motor, aku hanya


berpikir, apakah Mas Taufan dan papanya baik-baik saja?


“Mas,” panggilku lirih.


“Ya.”


“Aku nggak pamit sama papa kamu


tadi, nggak apa-apa?”


“Nggak perlu.” Suara Mas Taufan


sedikit sinis.


Aku tak lagi bertanya apa pun,


takut menyinggung perasaannya.


“Mas, gimana kalau kita ke rumah


Mama.”


“Mama, mama siapa?”


“Mama Hilda, aku kangen aja mau


nengokin dia. Udah lama banget kan kita nggak ke sana. Waktu kita nikah juga


beliau nggak bisa hadir.”


“Oh iya ya, tapi kamu yakin,


nggak apa-apa kalau kita ke sana? Aku takut dia marah nanti sama kita.”


“Kamu tenang saja, Mama Hilda


baik kok.”


Mas Taufan akhirnya memutar balik


arah kendaraannya menuju rumah Mama Hilda. Beberapa waktu lalu kami sempat


melewati rumah itu, tapi kata tetangga Mama sedang ke luar kota. Jadi, aku


putuskan hari ini kita berkunjung ke sana. Semoga saja Mama ada di rumah.


Banyak yang aku rindukan di sana,


rumah di mana aku pertama kali singgah di kota ini. Bersama suami yang terpaksa


menikahiku karena permintaan mamanya. Siapa sangka aku terjebak dengan cinta


seorang suami yang ternyata sudah memiliki istri. Aku rindu perhatian Mama


Hilda, tapi bukan merindukan kembali Mas Athar.


Perjalanan selama tiga puluh lima


menit sudah kami tempuh. Akhirnya kami pun tiba di depan sebuah rumah berpagar


putih. Kondisi rumah masih sama semenjak aku meninggalkannya dulu. Rumah yang


dipenuhi oleh pepohonan rindang, tanaman bunga di dalam pot kecil-kecil, tampak


membuat suasana sejuk.


Mas Taufan memarkir motor di


depan pagar, aku lebih dulu berjalan kea rah pagar yang terbuka sedikit. Kaki


ini melangkah perlahan menuju pintu, pintu kayu berwarna coklat itu pun juga


terbuka. Aku mengetuknya perlahan sambil mengucapkan salam.


“Assalamualaikum …,” sapaku.


Terdengar suara langkah kaki yang


mendekat dari dalam. Lalu seorang wanita berjilbab hitam tampak terkejut


melihat kedatanganku. “Waalaikum salam. Thifa? Masya Allah, Mama kangen banget


sama kamu, masuk-masuk!” Mama memelukku erat, dan aku pun tak lupa mencium


punggung tangannya.


“Kamu ke sini sama siapa?” tanya


Mama sambil menatap erat.


Aku celingukan mencari ke mana


Mas taufan yang tadi kupikir dia berjalan di belakangku. “Sama Mas Taufan, Ma.


Sebentar.”


Aku bangkit dari duduk dan ke


luar rumah mencari Mas Taufan. Ternyata dia sedang asyik ngobrol dengan Pak


Sapto, satpam rumah Mama. Aku pun mendekati dan memanggilnya. “Mas, ayo, dicari


Mama.”


“Sebentar ya, Pak. Saya masuk


dulu,” katanya pada Pak Sapto.


“Oh iya, iya, Mas.”


Aku menarik tangannya untuk


masuk, Mama yang melihat di depan pintu hanya menggeleng menatap kami berdua.

__ADS_1


“Nak Taufan … apa kabar?” tanyanya.


“Alhamdulillah baik, Ma.”


Kami pun masuk, di meja sudah


tersedia tiga cangkir teh manis hangat. Aku dan Mas Taufan kembali duduk.


“Ya Allah, maaf ya Mama kemarin


nggak bisa hadir di pernikahan kalian. Sebelumnya selamat, semoga rumah tangga


kalian sakinah, mawadah, warohmah. Cepat diberi keturunan. Oh iya, cucu Mama


yang paling ganteng mana, Fa?”


“Aamiin … Zain di pesantren, Ma,”


jawabku menjelaskan.


“Waaah, kalian jadi kaya pasangan


pengantin baru yang belum punya anak jadinya.”


Aku dan Mas Taufan hanya


tersenyum kecil. Kulihat Mas Taufan tampak tak nyaman duduknya, entah apa yang


ia rasakan. Tiba-tiba tangannya menyentuh bagian belakangku, ia berbisik. “Kita


pulang yuk, Dek.”


“Kalian dari mana?” tanya Mama.


“Oh, ka—kami dari kuburan tadi. Ke


makam adiknya Mas Taufan,” jawabku.


Mas Taufan sudah mencolek-colek


tubuhku, aku merasa risih entah apa yang ia rasakan. Aku merasa tidak enak


dengan Mama. Karena kami belum berbincang lama, masa harus pamit pulang.


“Kenapa, Fa?” tanya Mama.


Aku hanya menggeleng, lalu


bangkit dan berpamitan. “Kami harus pulang, Ma. Soalnya sudah sore juga.”


“Oh, gitu. Padahal Mama masih


kepengen ngobrol. Kalian tinggal di mana?”


“Di kontrakan Jl. Haji Mastur. Kalau


Mama mungkin mau mampir, bisa hubungin aku.” Aku melangkah keluar setelah


bersalaman dengan Mama.


“Insya Allah, nanti kalau ada


waktu. Ini juga tadi buru-buru mau balik ke butik. Si Laras, tahu kan, nelponin


terus. Susah kalau nggak ada yang jagain.”


“Iya, Ma. Kami pamit dulu.


Assalamualaikum.”


***


Sesampainya di rumah, kulihat Mas


Taufan langsung berlari ke kamar mandi. Kudengar dia muntah-muntah. Aku pun


bingung kenapa dengannya.


Aku menghampirinya, pintu kamar


mandi yang tak tertutup membuatku bisa melihat kondisi Mas Taufan. “Kamu nggak


apa-apa, Mas?” tanyaku panic sambil mengusap tengkuknya yang basah.


Mas Taufan membasuh wajah dengan


air, dan menyiram bekas muntahannya. Wajahnya yang memerah menatapku. “Dek,


kamu tolong belikan aku obat magh, ya. Kayanya asam lambungku naik lagi.”


Aku mengangguk dan segera menuju


ke warung. Dalam perjalan ke warung Mbak Denok, yang berada di seberang jalan. Aku


melihat segerombolan anak remaja sedang ngumpul bareng, ada tiga orang cewek


berpakaian ketat, dan tiga orang cowok asyik merokok.


Aku hanya melirik sambil melewati


mereka. Cewek-cewek itu terlalu berani, saling bergelayut manja di bahu laki-laki


yang bukan mahromnya. Bukannya aku sirik atau iri, hal-hal seperti itu tidak


patut mereka lakukan di depan umum. Bagaimana nanti kalau ada anak kecil yang


melihat, dan membenarkan perbuatan mereka. Aku mencoba memberanikan diri untuk


menhampiri.


“Asslamualaikum …,” sapaku.


Sontak keenam remaja tanggung itu


menatap ke arahku. “Waalaikum salam,” jawab salah seorang perempuan.


“Kalian lagi ngapain?” tanyaku


basa-basi.


“Nongkrong aja, Bu.”


“Pacaran?” tanyaku lagi.


“Dia doing yang pacaran, kita mah


enggak, Bu,” kata seorang cowok yang duduk di atas motor sambil menunjuk


temannya yang asyik bercengkama.


“Oh, emang nggak ada tempat lain


buat nongkrong selain di jalanan kaya gini? Kalian nggak malu dilihat orang?”


“Nggak lah, Bu. Kita kan juga

__ADS_1


nggak kenal mereka.”


Aku mengernyit, nggak kenal? “Emang


rumah kalian di mana?”


Seketika semuanya hanya diam,


lalu ketiga cowok itu naik ke motornya mashing-masing. Diikuti oleh teman


ceweknya yang langsung duduk di boncengan.


“Cabuts, yuk! Ada orang sirik


gangguin idup orang aja,” celetuk salah satu dari mereka.


Dan akhirnya, mereka tancap gas


meninggalkanku yang mencoba untuk menahan emosi. Menarik napas perlahan dan


mengembuskannya.


“Astaghfirullah, anak zaman


sekarang kalau dikasih tau malah kaya gitu.” Aku kembali melanjutkan langkah.


Sesampainya di warung, kulihat


ibu-ibu berkerumun. Aku yang penasaran pun mendekat dan mencari tahu. “Ada apa,


Bu?” tanyaku pada seorang pemilik warung.


“Eh Ustadzah. Itu ada bayi


dibuang, kasihan deh. Mana cakep banget lagi tuh anaknya, cewek, putih.”


Aku mencoba melihatnya, Masya


Allah, benar bayi masih dalam bedongan itu menggeliat lucu. Bibir tipisnya yang


berwarna kemerahan mengecap-ngecap mencari susu. Aku pun mendekatinya, karena


kerumunan ibu-ibu membuat bayi itu menangis histeris.


“Boleh saya gendong?” tanyaku.


“Eh, Ustadzah. Boleh, ini, Bu.”


Bu RT memberikan bayi itu, kini


bayi mungil tersebut berpindah tangan berada di gendonganku. Kuusap pelan


pipinya yang kemerahan. “Sudah lapor, Bu?” tanyaku.


“Sudah sih, ke polisi. Tapi nggak


tahu nanti diproses atau nggak. Habisnya susah juga sih kalau nemuin bayi


begini. Kecuali ada yang mau adopsi.” Bu RT menjelaskan.


“Duh, Bu. Anak saya udah banyak. Kalo


nggak mah saya mau.”


“Iya, mana sekarang apa-apa


mahal.”


“Susu anak kan mahal banget


sekarang, belum lagi nanti biaya sekolah, jajan. Penghasilan suami pas-pasan.”


“Ya udah trus gimana nih, bu-ibu?”


Semua saling berkomentar pada


bayi yang berada di gendonganku. Rasanya aku ingin sekali mengadopsinya, tapi


bagaimana bilang pada Mas Taufan.


“Tapi bayi ini sehat, kan?”


tanyaku penasaran.


“Sehat ustadzah. Tadi ada bidan


juga yang ke sini. Lagi ke kantor polisi. Tapi biasanya sih nanti kalau nggak


ketemu orang tuanya, ya palingan kaya yang udah-udah. Dimasukin ke panti.” Bu


Rahmi si pemilik warung menjelaskan.


“Kasihan anak ini,” ucapku lirih


sambil menggoyang tubuh mungilnya, dia merasa nyaman di gendonganku. Tangisnya pun


perlahan berhenti.


“Wah, sama ustadzah langsung diem


bayinya. Gimana kalau Bu Ustadzah bawa aja bayi itu. kan Ibu juga belum punya


momongan. Barangkali bisa jadi pancingan,” celetuk salah seorang ibu.


“Bener tuh, Bu. Bawa aja. Nanti saya


nyumbang baju-baju bayi deh, baju anak saya yang udah nggak kepakai lagi.”


Dan lagi, banyak ibu-ibu yang


mendukungku membawa pulang bayi ini. Ada rasa bahagia, juga rasa takut kalau


sampai nanti suatu saat orang tua bayi ini datang untuk mengambilnya kembali. Juga


rasa takut kalau Mas Taufan tak menerima kehadirannya.


Akhirnya setelah aku membeli obat


untuk Mas Taufan, kuputuskan untuk membawa pulang bayi perempuan ini. Ibu-ibu


yang berkumpul pun memberikanku uang sumbangan, bahkan ada yang berlari pulang


dan kembali lagi dengan membawa kantung plastic berisi pakaian bayi bekas


anak-anak mereka. Masya Allah…


Aku pun berpesan pada Bu RT, agar


jika polisi menanyakan bayi ini. Biarkan saja aku yang merawatnya. Dan ibu-ibu


yang berada di sini menjadi saksi atas bayi yang kubawa.


***


bersambung

__ADS_1


__ADS_2