
THIFA POV
Assalamualaikum …
Maaf yang lama menunggu …
***
“Ayo kita pulang,” ajak Mas
Taufan seraya meraih tanganku mengajak ke arah motornya.
Aku hanya menurut saja, sejak
tadi perasaanku nggak enak. Karena tatapan papa Mas Taufan seolah tak suka
dengan kehadiranku di sana. Ditambah wanita yang bersama beliau tadi, ia
memandang sinis melihat penampilanku.
Selama di atas motor, aku hanya
berpikir, apakah Mas Taufan dan papanya baik-baik saja?
“Mas,” panggilku lirih.
“Ya.”
“Aku nggak pamit sama papa kamu
tadi, nggak apa-apa?”
“Nggak perlu.” Suara Mas Taufan
sedikit sinis.
Aku tak lagi bertanya apa pun,
takut menyinggung perasaannya.
“Mas, gimana kalau kita ke rumah
Mama.”
“Mama, mama siapa?”
“Mama Hilda, aku kangen aja mau
nengokin dia. Udah lama banget kan kita nggak ke sana. Waktu kita nikah juga
beliau nggak bisa hadir.”
“Oh iya ya, tapi kamu yakin,
nggak apa-apa kalau kita ke sana? Aku takut dia marah nanti sama kita.”
“Kamu tenang saja, Mama Hilda
baik kok.”
Mas Taufan akhirnya memutar balik
arah kendaraannya menuju rumah Mama Hilda. Beberapa waktu lalu kami sempat
melewati rumah itu, tapi kata tetangga Mama sedang ke luar kota. Jadi, aku
putuskan hari ini kita berkunjung ke sana. Semoga saja Mama ada di rumah.
Banyak yang aku rindukan di sana,
rumah di mana aku pertama kali singgah di kota ini. Bersama suami yang terpaksa
menikahiku karena permintaan mamanya. Siapa sangka aku terjebak dengan cinta
seorang suami yang ternyata sudah memiliki istri. Aku rindu perhatian Mama
Hilda, tapi bukan merindukan kembali Mas Athar.
Perjalanan selama tiga puluh lima
menit sudah kami tempuh. Akhirnya kami pun tiba di depan sebuah rumah berpagar
putih. Kondisi rumah masih sama semenjak aku meninggalkannya dulu. Rumah yang
dipenuhi oleh pepohonan rindang, tanaman bunga di dalam pot kecil-kecil, tampak
membuat suasana sejuk.
Mas Taufan memarkir motor di
depan pagar, aku lebih dulu berjalan kea rah pagar yang terbuka sedikit. Kaki
ini melangkah perlahan menuju pintu, pintu kayu berwarna coklat itu pun juga
terbuka. Aku mengetuknya perlahan sambil mengucapkan salam.
“Assalamualaikum …,” sapaku.
Terdengar suara langkah kaki yang
mendekat dari dalam. Lalu seorang wanita berjilbab hitam tampak terkejut
melihat kedatanganku. “Waalaikum salam. Thifa? Masya Allah, Mama kangen banget
sama kamu, masuk-masuk!” Mama memelukku erat, dan aku pun tak lupa mencium
punggung tangannya.
“Kamu ke sini sama siapa?” tanya
Mama sambil menatap erat.
Aku celingukan mencari ke mana
Mas taufan yang tadi kupikir dia berjalan di belakangku. “Sama Mas Taufan, Ma.
Sebentar.”
Aku bangkit dari duduk dan ke
luar rumah mencari Mas Taufan. Ternyata dia sedang asyik ngobrol dengan Pak
Sapto, satpam rumah Mama. Aku pun mendekati dan memanggilnya. “Mas, ayo, dicari
Mama.”
“Sebentar ya, Pak. Saya masuk
dulu,” katanya pada Pak Sapto.
“Oh iya, iya, Mas.”
Aku menarik tangannya untuk
masuk, Mama yang melihat di depan pintu hanya menggeleng menatap kami berdua.
__ADS_1
“Nak Taufan … apa kabar?” tanyanya.
“Alhamdulillah baik, Ma.”
Kami pun masuk, di meja sudah
tersedia tiga cangkir teh manis hangat. Aku dan Mas Taufan kembali duduk.
“Ya Allah, maaf ya Mama kemarin
nggak bisa hadir di pernikahan kalian. Sebelumnya selamat, semoga rumah tangga
kalian sakinah, mawadah, warohmah. Cepat diberi keturunan. Oh iya, cucu Mama
yang paling ganteng mana, Fa?”
“Aamiin … Zain di pesantren, Ma,”
jawabku menjelaskan.
“Waaah, kalian jadi kaya pasangan
pengantin baru yang belum punya anak jadinya.”
Aku dan Mas Taufan hanya
tersenyum kecil. Kulihat Mas Taufan tampak tak nyaman duduknya, entah apa yang
ia rasakan. Tiba-tiba tangannya menyentuh bagian belakangku, ia berbisik. “Kita
pulang yuk, Dek.”
“Kalian dari mana?” tanya Mama.
“Oh, ka—kami dari kuburan tadi. Ke
makam adiknya Mas Taufan,” jawabku.
Mas Taufan sudah mencolek-colek
tubuhku, aku merasa risih entah apa yang ia rasakan. Aku merasa tidak enak
dengan Mama. Karena kami belum berbincang lama, masa harus pamit pulang.
“Kenapa, Fa?” tanya Mama.
Aku hanya menggeleng, lalu
bangkit dan berpamitan. “Kami harus pulang, Ma. Soalnya sudah sore juga.”
“Oh, gitu. Padahal Mama masih
kepengen ngobrol. Kalian tinggal di mana?”
“Di kontrakan Jl. Haji Mastur. Kalau
Mama mungkin mau mampir, bisa hubungin aku.” Aku melangkah keluar setelah
bersalaman dengan Mama.
“Insya Allah, nanti kalau ada
waktu. Ini juga tadi buru-buru mau balik ke butik. Si Laras, tahu kan, nelponin
terus. Susah kalau nggak ada yang jagain.”
“Iya, Ma. Kami pamit dulu.
Assalamualaikum.”
***
Sesampainya di rumah, kulihat Mas
Taufan langsung berlari ke kamar mandi. Kudengar dia muntah-muntah. Aku pun
bingung kenapa dengannya.
Aku menghampirinya, pintu kamar
mandi yang tak tertutup membuatku bisa melihat kondisi Mas Taufan. “Kamu nggak
apa-apa, Mas?” tanyaku panic sambil mengusap tengkuknya yang basah.
Mas Taufan membasuh wajah dengan
air, dan menyiram bekas muntahannya. Wajahnya yang memerah menatapku. “Dek,
kamu tolong belikan aku obat magh, ya. Kayanya asam lambungku naik lagi.”
Aku mengangguk dan segera menuju
ke warung. Dalam perjalan ke warung Mbak Denok, yang berada di seberang jalan. Aku
melihat segerombolan anak remaja sedang ngumpul bareng, ada tiga orang cewek
berpakaian ketat, dan tiga orang cowok asyik merokok.
Aku hanya melirik sambil melewati
mereka. Cewek-cewek itu terlalu berani, saling bergelayut manja di bahu laki-laki
yang bukan mahromnya. Bukannya aku sirik atau iri, hal-hal seperti itu tidak
patut mereka lakukan di depan umum. Bagaimana nanti kalau ada anak kecil yang
melihat, dan membenarkan perbuatan mereka. Aku mencoba memberanikan diri untuk
menhampiri.
“Asslamualaikum …,” sapaku.
Sontak keenam remaja tanggung itu
menatap ke arahku. “Waalaikum salam,” jawab salah seorang perempuan.
“Kalian lagi ngapain?” tanyaku
basa-basi.
“Nongkrong aja, Bu.”
“Pacaran?” tanyaku lagi.
“Dia doing yang pacaran, kita mah
enggak, Bu,” kata seorang cowok yang duduk di atas motor sambil menunjuk
temannya yang asyik bercengkama.
“Oh, emang nggak ada tempat lain
buat nongkrong selain di jalanan kaya gini? Kalian nggak malu dilihat orang?”
“Nggak lah, Bu. Kita kan juga
__ADS_1
nggak kenal mereka.”
Aku mengernyit, nggak kenal? “Emang
rumah kalian di mana?”
Seketika semuanya hanya diam,
lalu ketiga cowok itu naik ke motornya mashing-masing. Diikuti oleh teman
ceweknya yang langsung duduk di boncengan.
“Cabuts, yuk! Ada orang sirik
gangguin idup orang aja,” celetuk salah satu dari mereka.
Dan akhirnya, mereka tancap gas
meninggalkanku yang mencoba untuk menahan emosi. Menarik napas perlahan dan
mengembuskannya.
“Astaghfirullah, anak zaman
sekarang kalau dikasih tau malah kaya gitu.” Aku kembali melanjutkan langkah.
Sesampainya di warung, kulihat
ibu-ibu berkerumun. Aku yang penasaran pun mendekat dan mencari tahu. “Ada apa,
Bu?” tanyaku pada seorang pemilik warung.
“Eh Ustadzah. Itu ada bayi
dibuang, kasihan deh. Mana cakep banget lagi tuh anaknya, cewek, putih.”
Aku mencoba melihatnya, Masya
Allah, benar bayi masih dalam bedongan itu menggeliat lucu. Bibir tipisnya yang
berwarna kemerahan mengecap-ngecap mencari susu. Aku pun mendekatinya, karena
kerumunan ibu-ibu membuat bayi itu menangis histeris.
“Boleh saya gendong?” tanyaku.
“Eh, Ustadzah. Boleh, ini, Bu.”
Bu RT memberikan bayi itu, kini
bayi mungil tersebut berpindah tangan berada di gendonganku. Kuusap pelan
pipinya yang kemerahan. “Sudah lapor, Bu?” tanyaku.
“Sudah sih, ke polisi. Tapi nggak
tahu nanti diproses atau nggak. Habisnya susah juga sih kalau nemuin bayi
begini. Kecuali ada yang mau adopsi.” Bu RT menjelaskan.
“Duh, Bu. Anak saya udah banyak. Kalo
nggak mah saya mau.”
“Iya, mana sekarang apa-apa
mahal.”
“Susu anak kan mahal banget
sekarang, belum lagi nanti biaya sekolah, jajan. Penghasilan suami pas-pasan.”
“Ya udah trus gimana nih, bu-ibu?”
Semua saling berkomentar pada
bayi yang berada di gendonganku. Rasanya aku ingin sekali mengadopsinya, tapi
bagaimana bilang pada Mas Taufan.
“Tapi bayi ini sehat, kan?”
tanyaku penasaran.
“Sehat ustadzah. Tadi ada bidan
juga yang ke sini. Lagi ke kantor polisi. Tapi biasanya sih nanti kalau nggak
ketemu orang tuanya, ya palingan kaya yang udah-udah. Dimasukin ke panti.” Bu
Rahmi si pemilik warung menjelaskan.
“Kasihan anak ini,” ucapku lirih
sambil menggoyang tubuh mungilnya, dia merasa nyaman di gendonganku. Tangisnya pun
perlahan berhenti.
“Wah, sama ustadzah langsung diem
bayinya. Gimana kalau Bu Ustadzah bawa aja bayi itu. kan Ibu juga belum punya
momongan. Barangkali bisa jadi pancingan,” celetuk salah seorang ibu.
“Bener tuh, Bu. Bawa aja. Nanti saya
nyumbang baju-baju bayi deh, baju anak saya yang udah nggak kepakai lagi.”
Dan lagi, banyak ibu-ibu yang
mendukungku membawa pulang bayi ini. Ada rasa bahagia, juga rasa takut kalau
sampai nanti suatu saat orang tua bayi ini datang untuk mengambilnya kembali. Juga
rasa takut kalau Mas Taufan tak menerima kehadirannya.
Akhirnya setelah aku membeli obat
untuk Mas Taufan, kuputuskan untuk membawa pulang bayi perempuan ini. Ibu-ibu
yang berkumpul pun memberikanku uang sumbangan, bahkan ada yang berlari pulang
dan kembali lagi dengan membawa kantung plastic berisi pakaian bayi bekas
anak-anak mereka. Masya Allah…
Aku pun berpesan pada Bu RT, agar
jika polisi menanyakan bayi ini. Biarkan saja aku yang merawatnya. Dan ibu-ibu
yang berada di sini menjadi saksi atas bayi yang kubawa.
***
bersambung
__ADS_1