Maukah Kau Menikah Denganku?

Maukah Kau Menikah Denganku?
17


__ADS_3

Taufan POV


Selamat hari jum'at.


Assalamualaikum semuanyaaa.


💕💕💕


Gue pulang. Nggak kuat kalau harus melihat orang yang gue sayang, dilamar sama cowok lain. Dan cowok itu adalah teman gue sendiri.


Dada gue kok rasanya perih ya?


Obat apa paling mujarab buat ngobatin luka di hati ini? Nasi padang pakai rendang? Atau nasi urap pakai peyek kacang?


Ah itu bukan obat hati, tapi lebih tepatnya obat lambung. Yaps, sakit hati itu larinya ke lambung kalau nggak cepat-cepat diobatin. Karena terus menerus memikirkan orang yang kita cintai dengan cowok lain, membuat kita lupa makan. Bisa jadi magh, asam lambung. Oh tidaaak.


💕💕💕


"Berharaplah hanya pada Allah. Melakukan sesuatu harus ikhlas, dan tulus, lillahi taala. Kalau kita melakukan sesuatu karena manusia. Bukan keberkahan yang didapat, tapi kekecewaan."


Suara ceramah itu menggema. Seolah sang ustadz tahu isi hati gue.


Iya, Tadz. Gue salah. Terlalu berharap sama Thifa. Mentang-mentang abinya ngasih lampu hijau. Tapi, belum tentu juga Thifa mau terima gue. Ujung-ujungnya kecewa, sakit hati.


💕💕💕


Niat awal gue mau pergi dari panti. Biar kaya orang-orang yang ngambek trus kabur dari rumah. Tapi, ngapain gue harus kabur? Harusnya gue bahagia, kalau Thifa beneran nikah sama Hanif. Dia cowok baik, sholeh, pintar ngaji. Idaman banget. Lah gue? Baru anak kemarin sore.


Mungkin memang Thifa bukan jodoh gue. Dia cuma perantara buat gue jadi orang yang lebih baik. Buat gue tobat, hijrah ke jalan yang benar.


Tiba-tiba handphone gue bunyi. Gue lihat nama adik gue yang nelpon.


"*Ya hallo, Rin. Kenapa?"


"Kakak di mana?"


"Di kerjaan."


"Pulang kerja, aku ikut kakak ya."


"Eh, ikut ke mana?"


"Ya, Kakak tinggal di mana? Aku ikut*."


What? Masa Karin mau ikut ke panti. Nanti gimana gue bilang sama keluarga Hanif. Apalagi Karin kan anaknya begitu, pake baju semaunya. Atas buka, bawah pendek. Hadeuh.


"*Emang kenapa nggak pulang ke rumah papa aja?" tanya gue males.


"Ada yang mau Karin omongin, Kak. Please …."


"Tapi gue pulang malem."


"Jam berapa?"


"Sebelas, loe di mana sekarang?"


"Masih di kampus."


"Ya udah, pulang kuliah tunggu gue di rumah papa. Tar gue jemput."


"Nggak mau!" bentaknya*.


Hadeuh kenapa lagi nih adek gue? "Ya udah terserah loe deh."


Tut tut tut. Telepon terputus. Gue pun bingung, apa yang terjadi sama adik gue itu? Nggak biasanya dia nelpon gue, pake mau ngikut segala. Pasti berantem deh sama bokap.


"Fan, di panggil Pak Oskar tuh," Hadi, teman kerja gue nyamperin gue yang lagi nongkrong istirahat.


"Owh, siyap!" Gue pun langsung menuju ruangan atasan gue itu.


Namanya Oskar Antonius. Kepala staf di gudang ini. Eh sebenarnya kerja gue apa ya? Hahha lupa. Yang lupa otornya nih, bukan opannya.

__ADS_1


Badannya kecil, sama gue tinggian gue ke mana-mana. Matanya agak sipit, hidung tumbuh cuma beberapa senti. Rambutnya selalu klimis, kulit putih. Kalau ngomong nyaring banget kaya petasan banting.


"Fan, kamu gimana sih? Ini kerjaan di line 5 kok banyak yang nggak bener. Pada cacat gitu. Pesanan numpuk ini." Buset dah baru juga gue naro pantat di kursi depan dia. Langsung disembur.


"Ah kata siapa, Pak? Kemarin saya cek semua baik-baik saja. Bahkan sebagian produk kita udah di packing."


"Yang mana?" Doi melotot.


"Lah line 5 kan? Bagian kerangka."


"Sekrup dan teman-temannya Taufaaan!"


Gue terkesiap. Sambil mengingat-ingat bagian produksi di dalam pabrik. Bener gue salah masuk kayanya kemarin. Mampus dah.


"Udah berubah emang, Pak?" tanya gue sok polos.


"Kamu jaga di line berapa?"


Gue diem aja. Gara-gara mikirin Thifa nih. Wah iya, kemarin gue curhat ke tempatnya si Agus di line 3 bagian kerangka. Jadi, gue kaga ngecek line 5 bagian gue sendiri. Pikun pikuuun.


"Kenapa diam? Sana balik! Kalau kerja jangan main. Di line kamu itu banyak anak baru, kalau nggak diawasin, itu sekrup bisa-bisa nggak kepasang di perangkat, tapi ketelen sama mereka."


Buset dah si bos ngebul.


"Iya, Pak."


Gue pun bergegas keluar dari ruangan dia. Nasib dah nasib. Gue tuh kerja di pabrik printer gitu dah. Kalo pas ngerakit perangkat, itu sekrup banyak banget, beda ukuran, beda bentuk, beda fungsi. Jadi ngebayangin tuh sekrup beneran ketelen sama anak baru. Hahahaa.


Bodo ah.


Dulu gue pernah ditawarin lowongan kerja, katanya kerjanya gampang. Di pabrik donat gitu tapi gue tolak. Padahal gajinya gede, khusus cowok pulak. Kerjaannya cuma satu, ngebolongin donat. Cuma gue gakuat sama syaratnya. Syaratnya kaga boleh pake celana. Hahahaa.


Makanya gue pilih kerja di pabrik printer aja dah. Paling nggak pekerjanya ada ceweknya, mayan buat cuci mata gitu. Kalo ada yang bening-bening ranum baru lulus gitu. Beuuh.


Eits, sekarang malah gue harus terjebak cintanya janda muda. Huh.


💕💕💕


Balik kerja, gue nongkrong dulu di warung kopi. Sambil nungguin adik gue. Tadi sih gue udah share lokasi, biarin deh dia kan ke sini bawa mobil.


Wajahnya yang biasa ceria itu terlihat sembab. Matanya pun bengkak, dia pasti habis nangis nih.


"Kak," ucapnya lirih, dia tiba-tiba peluk gue sambil nangis. Bahunya berguncang hebat.


Gue pegang punggungnya sambil usap lembut kepalanya. "Loe kenapa? Cerita sama gue."


"Papa ngusir aku, Kak," ucapnya seraya mengurai pelukan.


"Apa? Kok bisa?"


"Aku---, aku hamil."


Panas menjalar di dalam tubuh gue. Darah seperti mendidih mendengar apa yang barusan Karin ucap. Hamil? Pantas Papa mengusirnya. Papa paling nggak suka sama anak yang bisa membuat jelek nama baiknya. Termasuk gue. Gue pun tahu diri, sebelum dia usir gue, lebih baik gue pergi duluan.


"Siapa yang hamilin loe?"


"Boy."


"Kita temuin dia, suruh tanggung jawab."


"Dia kabur, Kak. Aku udah nggak bisa lagi hubungin dia. Berikut keluarganya. Dia seakan lenyap di telan bumi. Aku pengen gugurin aja anak ini. Aku malu, Kak. Gimana sama kuliah aku nanti?"


Gue menarik napas pelan. Gue rengkuh kembali tubuh Karin, berusaha untuk memberinya kekuatan. Gue nggak mau lagi adik gue nambah dosa. Sudah menjadi pezina, lalu menjadi pembunuh.


"Kita balik dulu. Ke apartemen gue aja. Kebetulan nggak ada yang sewa. Sini kunci mobil, biar gue yang bawa."


Karin menurut. Dia masuk ke mobil. Sementara gue nitip motor di warung kopi itu. Besok gue ambil.


Kami pergi ke apartemen Green Mantion. Berada di tengah perkotaan. Kamar apartemen itu dulu hadiah dari nyokap buat gue. Nggak pernah gue pakai. Palingan gue sewain perbulannya lima juta. Lumayan buat nambah tabungan. Tapi udah dua bulan ini sengaja nggak gue sewain lagi. Soalnya gue takut dosa, karena biasanya yang nyewa kamar apartemen gue itu ya pasangan yang bukan suami istri. Dah numpuk dosa gue selama ini.


Kami pun tiba di kamar apartemen gue. Gue bawa barang-barang Karin masuk kamar. Gue suruh dia bersih-bersih badan, sementara gue bersihin bagian ruang tamu dan dapur.

__ADS_1


Selesai bersih-bersih, gue lihat Karin berbaring di ranjang. Gue mendekat.


"Bangun dulu! Gue ganti seprainya," pinta gue.


Karin menurut, dia beringsut dari ranjang, dan membantu gue memasang seprai. Lalu ia mulai beristirahat.


"Kak, mau ke mana?" tanyanya waktu gue berjalan ke pintu.


"Gue harus balik ke panti, nanti orang sana nyariin gue."


"Panti? Selama ini Kakak tinggal di panti? Buat apa?"


Gue menarik napas dalam-dalam sebelum menceritakan semuanya pada Karin. Adik gue pun takjub mendengar gue udah jadi mualaf, udah khitan, bahkan sedang belajar menghafal alquran. Begitu juga dengan kisah cinta gue yang menyukai seorang janda.


"Aku heran sama Kakak. Kok bisa berubah kaya gini. Dulu Kakak begajulan, sekarang jadi kalem. Kaya bukan Kakak aku yang pernah kukenal."


"Hidup itu harus berubah, karena tiap harinya jatah hidup kita di dunia ini berkurang. Jadi, kalau kita nggak berubah jadi lebih baik. Gimana nanti di akhirat?"


"Akhirat? Kaya pernah mati aja. Kita kan nggak bisa tau gimana nanti di akhirat, Kak."


"Justru itu, karena kita nggak tahu. Makanya kita cari tahu. Pas udah tahu, kita jalanin deh. Ternyata kalau kita mau bahagia dia akhirat, ya kita harus punya bekal yang banyak."


"Bekal apa? Nasi?"


"Bekal amal, Adikku. Udah deh, gue baru belajar. Masih banyak yang belum gue tahu tentang hidup di dunia ini juga kehidupan setelah kita meninggal nanti. Makanya gue terus cari ilmu, belajar gimana menjadi seorang muslim yang baik."


Karin tersenyum.


"Loe mau ikutin jejak gue?" tanya gue hati-hati.


"Buat apa? Gue nggak mau ribet sama pakaian mereka. Harus tertutup semua. Belum lagi ngejalanin sholat, puasa, ah ribet." Karin membaringkan tubuhnya, menarik selimut dan tidur membelakangi gue.


Gue nggak bisa memaksa dia buat ikut keyakinan gue. Tapi, gue bisa bikin dia nanti jatuh cinta sama keyakinan yang baru gue anut ini, suatu hari nanti. Semoga loe bisa cepet dapat hidayah. Aamiin.


Akhirnya gue pun wa Hanif kalau hari ini nggak balik ke panti. Takutnya nanti nungguin pintu buat bukain gue masuk.


💕💕💕


Hari pun berlalu, dan jumat pagi ini gue mau pamit sama keluarga Hanif. Karena gue harus menjaga Karin. Dia suka minta yang aneh-aneh kalau malam. Gue nggak bisa ninggalin dia sendirian. Takut juga kalau dia tiba-tiba nekat mau bunuh diri.


"Eum, Pak, Bu, Hanif, Neng Husna. Saya mau pamit. Terima kasih karena selama ini saya diizinkan untuk tinggal di sini, belajar, pokoknya saya juga minta maaf kalau banyak salah dan merepotkan." Gue menatap satu persatu wajah penghuni panti.


"Loh, kenapa, Nak Taufan?" tanya ayahnya Hanif.


"Eum, saya harus jaga adik saya yang sedang sakit," kata gue berusaha menutupi kejadian yang sebenarnya.


Ya, Karin memang sakit. Dan dia butuh seseorang. Gua juga nggak mungkin bilang kalau adik gue hamil di luar nikah. Gimana nanti pandangan mereka sama gue dan adik gue.


"Tapi, besok kamu bisa datang ke sini kan. Ikut kami?" tanya Pak Maulana.


"Ada apa, Pak?"


"Loh, gimana sih. Emang, Hanif nggak cerita kalau besok dia mau lamaran?" Ibunya menimpali.


Apa? Lamaran? Bukannya minggu kemarin mereka sudah melakukannya?


Gue menggeleng. "Hanif nggak cerita apa-apa. "


"Iya, Fan. Besok aku mau lamaran ke pesantren. Kamu ikut, ya." Hanif tersenyum manis.


Gue menelan ludah. Gue harus gimana ini? Datang, sama aja gue mengiris dada sendiri pakai samurai. Sakit tapi tak berdarah menyaksikan mereka tukar cincin.


"Maaf, Nih. Pak, Bu. Besok saya ada jadwal chek up adik saya ke dokter. Kemungkinan saya nggak bisa hadir dan ikut mengantar kamu, Nif. Eum selamat ya. Semoga lancar sampai hari H." Hanya kata-kata itu yang sanggup gue ucap. Ini juga berat banget gaes.


"Aamiin … kemungkinan nikahnya dua minggu setelah lamaran. Karena kata orang nggak boleh lama-lama. Nanti pas nikah, kamu harus hadir. Soalnya kamu itu sudah Bapak anggap seperti anak sendiri. Sama seperti Hanif." Ucapan Pak Maulana, membuat jantung gue rasanya mau lepas.


Ya Allah, berat kali ujianMu. Tak bisa melihat lamarannya, malah disuruh datang ke pernikahannya.


Gue hanya tersenyum kecil dan mengangguk lirih. "Insya Allah" ucap gue pada akhirnya.


💕💕💕

__ADS_1


**Bersambung …


Vote komen jangan lupa**.


__ADS_2