
Taufan POV
*Bismillah.
Assalamualaikum.
Sehat semua?
Semoga semuanya sehat dan dalam lindungan Allah SWT. Aamiin*.
🌸🌸🌸
Menunggu memang hal yang amat sangat membosankan. Apalagi barengan sama ibu-ibu hamil. "Gue ke toilet dulu ya," ucap gue ke Karin.
"Hem," jawabnya tanpa menoleh ke arah gue. Sibuk dia sama hapenya.
Gue pun berjalan ke arah toilet. Sambil celingukan takut kepergok sama mantan mertuanya Thifa. Ya, gue inget kalau ibu tadi pernah dipanggil Oma sama Zain. And Thifa bilang kalau dia adalah ibu dari almarhum suaminya.
Selesai buang air kecil, gue keluar toilet. Tiba-tiba gue lihat seseorang yang mirip banget sama Thifa lagi jalan tapi---.
Bukan, dia bukan cuma mirip sama Thifa, tapi emang itu Thifa dan Zain. Ngapain mereka di sini?
Diam-diam gue ngikutin mereka berdua dari belakang. Sesekali gue bersembunyi di balik dinding. Mereka berdua berjalan ke ruangan dokter spesialis mata. Gue pun mengernyit. Memikirkan apa yang sedang Thifa dan Zain lakukan di sana.
Gue menunggu mereka keluar. Lumayan lama juga, sampe pegel ini kaki berdiri dari tadi.
Setengah jam berlalu, pintu berwarna putih itu pun akhirnya terbuka. Keluarlah wanita berjilbab putih bersama putranya. Wanita calon ibu dari anak-anak gue kelak. Gue tersenyum kecil, saat ia keluar bersama seorang dokter. Namun, hati gue kembali bertanya saat mertuanya Thifa berjalan di belakangnya bersama seorang pria.
Pria bertubuh tinggi besar, berpenampilan rapi seperti seorang esmud. Terlihat berbicara serius dengan mereka. Setelah dokter pergi meninggalkan mereka.
Pengen banget nguping pembicaraan mereka, tapi nggak kedengeran. Apa yang sedang mereka bicarakan ya? Apa gue samperin aja ke sana buat cari tahu?
Brak!
Aduh, kaki gue pake nyenggol tempat sampah pula. Gue membungkukkan badan untuk memperbaiki letak tempat sampah yang terjatuh ke tengah koridor.
"Taufan!" panggil seseorang dengan suara lembut.
"Om gondrong, ya?" Suara kecil berikutnya disertai langkah kaki yang mulai mendekat.
Sial, gue ketauan.
Gue menggaruk kepala yang tak gatal sambil tersenyum ke arah keduanya. "Ka--kalian ngapain di sini?" tanya gue pura-pura.
"Om gondrong, sebentar lagi, aku mau operasi mata. Nanti aku bisa lihat lagi," jawab Zain membuat mata gue melotot.
Gue berjongkok di hadapan bocah lima tahunan ini. Sambil memegang bahunya dan menatap wajahnya. Ada rasa haru sekaligus bahagia. "Om senang dengarnya. Nanti kita bisa main bola. Bener, Dek?" tanya gue pada bundanya yang sejak tadi berdiri menatap ke arah gue tanpa kedip. Diem-diem gue kan juga merhatiin dia.
Thifa hanya tersenyum dan mengangguk.
"Doain, ya, Mas," ucapnya lirih sambil nunduk.
Apa? Gue nggak salah denger kan? Barusan dia panggil gue "Mas" mimpi apa gue semalam.
"Kakak! Aku cariin dari tadi. Ditungguin lama banget. Nggak taunya ngobrol di sini!" teriak Karin yang tiba-tiba datang dan langsung menarik tangan gue. "Ayo, pulang. Aku lapar!"
Gue menghela napas pelan. Gue lihat wajah Thifa berubah sambil menatap ke arah gue dan Karin secara bergantian. Mungkin ini saatnya gue perkenalkan mereka berdua.
"Eum, Dek. Ini adik aku, Karin. Karin, ini Thifa, dia calon kakak ipar kamu," kata gue memperkenalkan mereka.
Thifa dan Karin saling bersalaman.
__ADS_1
"Siapa, Om?" tanya Zain yang lupa nggak gue kenalin.
Thifa merangkul Zain, "Ini anak saya, Zain." Zain mengulurkan tangan ke arah Karin. Karin menoleh ke gue dan gue jawab dengan anggukan. Gue lihat Zain mencium tangan adik gue.
"Thifa, Zain. Pak Rendi ngajak periksa kondisi Zain." Wanita berjilbab yang tak lain mertua Thifa berjalan menghampiri kami dengan pria muda yang disebut bernama Rendi.
"Kamu, ngapain di sini?" tanya mertuanya Thifa ke arah gue. "Nah, pasti ini pacar kamu ya, hamil di luar nikah nih pasti," celetuknya membuat hati gue kesel. Kasihan Karin, dia cuma nunduk aja.
"Mama, Mama ngomong apa sih? Ini adiknya Taufan, bukan pacarnya," ucap Thifa membela gue.
"Halah, jangan mau dibohongin sama cowok zaman sekarang, Fa. Mungkin aja dia cuma ngaku-ngaku buat cari simpati dan perhatian sama kamu."
"Ma, nggak boleh suudzon." Thifa masih berusaha membela gue.
"Mama lihat kok kalau tadi mereka keluar dari ruang dokter kandungan."
Thifa menatap gue penuh tanya. Pengen banget ngejelasin. Tapi-----
"Ayo, Kak. Kita pulang!" Tangan Karin langsung menarik tangan gue.
"Aku pamit dulu, ya. Assalaamualaikum," ucap gue seraya berpamitan.
"Waalaikum salam."
"Om gondrong. Om Opan, mau ke mana? Zain masih kangen sama Om!" teriak Zain dari kejauhan.
Karin terus tarik gue buat menjauh dari mereka. Gue tahu, dia pasti sakit hati mendengar ucapan mertuanya Thifa tadi. Tapi, gue juga sedih lihat Zain yang berusaha mengejar gue tapi ditahan sama bundanya. Zain nangis. Ya Allah, gue nggak tega lihatnya.
🌸🌸🌸
Gue dan Karin mampir ke sebuah rumah makan sunda. Karin lagi kepengen makan pakai sayur asem dan sambal terasi. Sementara gue, sama sekali nggak nafsu makan. Padahal mata ikan peda yang dicabein dari tadi ngelirik ke arah gue. Berharap gue sentuh dan gue makan.
"Kak, makan!" tegur Karin.
"Hem."
"Ibu-ibu tadi mamanya Kak Thifa? Dih, aku mah ogah punya mertua kaya gitu. Judes banget ngomongnya."
"Bukan, dia mantan mertuanya Thifa."
"Apa? Mantan mertua? Kak Thifa cerai sama suaminya? Bukan gara-gara Kakak, kan?" Karin melotot ke arah gue.
"Sembarangan. Bukan lah. Mantan suaminya meninggal sebelum anaknya lahir."
"Berarti, dia janda? Trus anaknya buta dari lahir?"
"Enggak, tabrak lari. Dulu, loe inget kan, gue pernah dipanggil polisi. Nah, gue dituduh nabrak anaknya dia. Soalnya gue waktu itu beli mobil seken dari orang. Ternyata pemilik mobil itu yang nabrak anaknya. Bukan gue."
"Oh, jadi itu pertama kalian ketemu?"
"Betul."
"Kenapa Kakak bisa suka sih sama dia? Dia kan janda, mana anaknya buta. Kaya nggak ada cewek lain aja." Karin menggeleng dengan senyum sinis.
Gue menarik napas pelan. "Perempuan yang lebih cantik mungkin banyak, yang masih single juga banyak. Tapi, yang bisa menjaga kehormatan dan jaga diri itu nggak banyak."
Karin menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu mengambil air minum dan menenggaknya. Kedua matanya menatap geram ke arah gue.
"Kenapa? Kenyataannya begitu kan? Gue suka sama dia bukan karena fisik. Tapi emang hati gue udah kadung cinta sama dia."
"Dia juga yang bikin Kakak pindah keyakinan?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Awalnya iya. Tapi sekarang nggak cuma dia yang bikin gue yakin untuk mempelajari tentang Islam."
Karin tertawa kecil, "Aku nggak habis pikir aja. Kakak bisa jatuh cinta sama perempuan macam dia. Udah gitu mantan mertuanya masih ikut campur urusan dia. Bisa-bisa nanti rumah tangga kalian nggak akan tenang dan tentram."
"Kalau gue udah jadi kepala rumah tangganya. Thifa bakalan gue ajak tinggal bertiga, mertuanya ya nggak ikut lah. Kan udah mantan, dia bukan mertuanya lagi. Dan sebagai seorang istri, harus nurut sama suami."
"Bagus lah. Tapi aku tetap nggak suka."
"Dan gue juga nggak perlu restu dari loe, kok."
"Terserah Kakak!"
Gue diam. Nggak mau berdebat lebih lagi sama adik gue. Dia tau apa sama hidup ini. Yang dia tahu cuma main, kuliah juga nggak tahu bener apa enggak.
"Boy gimana?" tanya gue memecah sunyi.
"Nggak ada kabar. Udah deh nggak usah ngomongin dia lagi. Bikin kesel."
Okey, gue nurut. Karena perut gue lapar. Akhirnya gue ambil nasi ke piring. Beserta lauk juga sayurnya. Lumayan enak juga. Pantes si Karin abis banyak makannya. Nih bocah nggak hamil aja makannya banyak, gimana hamil. Huft.
"Loe nggak mual-mual?" tanya gue. Heran aja masa udah hamil empat bulan nggak berasa.
"Enggak. Aku nggak ngerasain apa-apa. Cuma aku sadar pas kemarin temen bilang sakit perut karena haidh. Aku baru inget kalau aku udah lama nggak haidh. Makanya aku langsung telpon si Boy, trus beli tespek, eh positif. Boy suruh gugurin. Pas aku bilang sama papa, eh malah diusir."
Aku menghela napas pelan. "Makanya kalo ada apa-apa, jangan langsung bilang papa. Bilang gue dulu."
"Ya aku pikir kalau bilang papa, Boy bakalan takut dan mau tanggung jawab."
"Ya udah, loe yang sabar. Gue bakalan temenin loe sampe lahiran."
"Tapi, gue nggak mau anak ini lahir nggak ada bapaknya."
"Ya trus gimana? Siapa yang mau jadi suami dadakan buat loe?"
"Cariin dong, Kak. Siapa aja deh. Gue siap. Yang penting nih anak lahir ada bapaknya."
"Ah gila, loe. Ogah gue. Lagi juga nggak boleh nikah saat hamil. Nggak sah nikahnya. Harus nunggu sampai anak itu lahir. Lagi juga emang ada yang mau apa nikahin cewek yang udah hamil duluan."
Karin tertunduk, wajahnya seketika suram. Mendung, kayanya bakalan mewek nih bocah. Cepat gue abisin makan gue biar bisa langsung pulang. Capek semua nih badan.
Ting.
Hape gue bergetar, suara pesan whatsapp masuk. Gue merogoh saku celana sebelah kiri. Sebuah nomor tak dikenal ngirim pesan. Cepat-cepat gue buka.
[Assalamualaikum. Mas Taufan, maaf ya atas perkataan mama tadi. Mohon doanya agar operasi Zain lancar. Thifa]
Deg. Hati gue rasanya melayang. Thifa ngechat gue. Aaahh dia pasti cari tau nomor gue ke Fikri nih. Ya Allah, akhirnya gue bisa ngobrol sama dia lewat chat. Bisa mandangin foto profilnya yang syantik. Tapi, sayang dia nggak pajang fotonya sendiri.
[Waalaikum salam, Dek. Iya, aku doain semoga operasinya berjalan lancar. Maaf, aku belum bisa temani kalian. Nanti, kalau adikku sudah tidur, aku ke sana.]
Tep. Gelap.
Semprul! Hape gue lowbeth.
Aaahhh elah. Tuh pesan udah kekirim apa belom ya?
🌸🌸🌸🌸
**Bersambung.
Vote dan komennya jangan lupaaaa**.
__ADS_1