Maukah Kau Menikah Denganku?

Maukah Kau Menikah Denganku?
23


__ADS_3

Taufan POV


🌸🌸🌸


Alhamdulillah, gue pun mengucap syukur yang teramat dalam. Mendengar ucapan dokter barusan. Operasi Zain berjalan lancar. Itu tandanya, dia akan bisa melihat lagi.


Gue meraih tangan Thifa, namun cepat dia menariknya kembali. Astagfirullah, lupa gue. Kan belum muhrim ya. Abis udah kesenengan duluan. Mana nih cewek susah banget lagi disuruh ngomong sayang. Gengsinya kegedean nih.


"Assalamualaikum," sapa seseorang.


Kami menoleh ke arah suara. Ternyata Abi dan Uminya Thifa baru datang. Gue langsung menyalami Abi.


"Maaf, kami baru datang. Soalnya tadi Abi harus mengisi kotbah jumat di masjid."


"Nggak apa-apa, Bi. Alhamdulillah operasi Zain lancar," sahut Thifa.


"Alhamdulillah. Loh, Nak Taufan di sini? Dari tadi?" tanya Abi tersenyum.


Gue mengangguk. "Iya, Bi."


"Ini yang namanya Pak Rendi?" Abi menunjuk ke arah pria di sebelahnya.


"Iya, Pak. Saya Rendi."


Mereka berdua saling berjabat tangan. "Wah, terima kasih banyak atas semuanya, ya, Pak. Saya merasa bersyukur sekali, bertemu dengan orang baik seperti Bapak dan putera Bapak."


"Sama-sama, Pak. Saya hanya menjalankan amanah anak saya. Tapi--- saya masih boleh kan menunggu sampai putra Bu Thifa sembuh dan bisa melihat kembali? Saya hanya ingin melihat kedua mata anak saya. Kalau saya kangen, saya boleh berkunjung ke rumah kalian?" tanya Pak Rendi dengan mata berkaca-kaca.


Duh, kenapa gue jadi melow ya. Kasihan juga sih, anaknya meninggal. Matanya dikasih ke orang lain yang bahkan dia nggak kenal. Kalau kangen sama anaknya, dia bisa lihat Zain. Tapi ---- bahaya juga kalau sering ketemu Thifa. Bisa-bisa mereka nanti cinlok lagi. Yang satu duda, yang satu janda. Duh, gue harus bisa kawal mereka terus nih, jangan sampai berduaan.


"Tentu boleh, Pak," jawab Thifa disertai oleh anggukan yang lain.


Gue keberatan, Dek. Ngertiin perasaan Kang Masmu ini dong. Kalau dia sering-sering kangen bijimane?


"Kalau begitu, saya pamit dulu." Pak Rendi akhirnya berpamitan pada kami.


🌸🌸🌸


Tiga jam berlalu, waktu sudah menunjuk ke angka lima sore. Zain juga sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Waktu kunjungan sudah berakhir. Abi dan Umi juga mama mertua Thifa sudah pulang duluan. Tinggalah gue dan Thifa di ruangan. Sementara Zain baru saja tidur setelah diberikan obat.


"Mas, sudah sholat?" tanyanya.


"Belum, mau diimamin?" tanya gue.


Gue lihat dia membuka tas kecil dan mengambil mukena. Thifa lalu membuka lemari kecil di samping brankar, mengambil dua sajadah dan sebuah sarung. Lalu memberikan sarung itu padaku. "Wudhu dulu sana!" titahnya.


"Siap Tuan Putri!" Gue bergegas ke kamar mandi.


Duh mimpi apa gue semalam? Bisa ngimamin calon istri. Huhuhu. Lagi pula, kedua orang tua Thifa percaya banget sama gue, pake ditinggalin berduaan aja di sini. Kan jadi enak. #eh


Selesai wudhu, gue pun berdiri di depan doi yang udah siap buat sholat Ashar berjamaah. Gue memakai sarung dan berdiri di atas sajadah. Tiba-tiba jantung gue berdegup kencang. Gue jadi Imam sholat? Baca surat apa coba?


Oh iya, ini kan sholat Ashar. Nggak perlu ngeluarin suara. Dia nggak akan tahu gue baca surat apa. Oke. Bismillah.


"Allahu Akbar."


Rakaat demi rakaat hingga rakaat keempat selesai. Gue menoleh ke kanan dan ke kiri sambil mengucap salam. Lalu tanpa sengaja tangan gue mengulur ke belakang. Thifa cuek saja dan menggeleng. "Belum muhrim, Mas."


Astagfirullah, lupa. Gue usap tangan kanan gye ke muka gue sendiri. Taufan oh Taufan. Ngebet banget lu pen megang-megang.


Selesai sholat, gue lihat Thifa membaca Alquran kecil di samping Zain. Gue mendekat, suaranya pelan tapi terdengar merdu.


"Dek, kamu bawa baju ganti?" tanya gue.


"Enggak."


Dia lalu melanjutkan bacaannya.

__ADS_1


"Ukuran baju kamu apa?"


Thifa menghentikan bacaannya dan menoleh ke arahku. "Nanti Deeva ke sini bawain aku baju ganti. Mas kalau capek, mau pulang, pulang saja."


"Kamu ngusir aku?" tanya gue cemberut.


Gue denger dia mengembuskan napas pelan. "Ya bukan ngusir. Kasihan Karin dia sendirian kan?"


"Dia udah gede."


"Aku juga udah gede."


"Aku nggak jagain kamu, tapi Zain," sahut gue.


Thifa mengerucutkan bibirnya, lalu kembali fokus ke bacaan qurannya. Ah bodo amatlah, gue mau keluar beliin dia baju ganti. Masalah ukuran, gampang. Bisa nanya nanti sama orang.


🌸🌸🌸


Gue pergi ke pusat perbelanjaan khusus busana muslimah. Mencari gamis yang seperti biasa dipakai Thifa. Gue coba cari yang sepaket sama jilbabnya sekalian.


Nah dapet nih, warnanya cantik pink muda. Kulit dia kan putih, kalau pakai baju warna gini kan jadi kelihatan bersinar. Tapi, ukurannya apa? Jangan sampai kegedean, bisa tenggelam dia.


"Mau yang mana, Mas?" tanya seorang SPG yang sedari tadi ngikutin gue milih baju.


"Yang ini, Mbak." Gue mengambil gamis itu dari gantungan.


"Ukurannya?"


Duh, gue celingukan deh nyari cewek yang kira-kira tubuhnya sama kaya Thifa. Kalau embak-embak di depan gue mah kegedean orangnya. Terlalu subur. Thifa nggak sebengkak ini.


"Sebentar, Mbak!" Gue menghampiri SPG dengan rambut panjang yang sedang berdiri di dekat patung.


"Maaf, Mbak. Mbaknya pernah pakai gamis?" tanya gue.


Sial muka tuh SPG kaya ngajak ribut. "Eum, maaf, saya mau beliin baju buat cewek saya. Tapi nggak tau ukurannya. Nah, badannya se-Mbaknya. Kalau Mbak pakai ukuran apa ya?" tanya gue langsung keburu dia berpikir yang enggak-enggak.


"Oh gitu. Makasih, ya, Mbak. Oh iya, kalau daleman, Mbak? Nomor berapa?" tanya gue lagi. Sekalian gitu. Masa luarnya doang yang ganti, dalemannya enggak.


Plak!


Gue ditampar, gaes.


"Salah saya apa, Mbak?" tanya gue menahan perih di pipi kiri.


"Mas pikir aja sendiri. Dasar omes! Modus loe ya."


"Astagfirullah, enggak, Mbak. Saya serius." Gue mengusap-usap pipi nan perih ini.


Demi ukuran bra-nya Thifa nih, gue kena gampar. Sial-sial.


"Udah, pergi sana. Tanyain langsung aja sama ceweknya ukurannya berapa, biar pas!" bentaknya.


Sompret, ya kali gue nanya Thifa. "Dek, ukuran bra kamu berapa?" Lah bisa langsung dibatalin semua rencana Indah gue nanti.


Akhirnya gue kembali ke Mbak subur yang masih megangin gamis yang gue pilih tadi. "Mbak, yang M ya. Dua, warnanya bedain. Satu biru muda."


Si Mbak subur ini malah ketawa. "Kenapa, Mas? Kok ditampar?" tanyanya.


"Saya nanya ukuran bra, Mbak. Saya kan nggak tau. Cuma cewek saya sedia." Gue menunjuk ke SPG yang tadi nampar gue.


Untungnya gue baek, kaga laporin dia ke atasannya. Karena sudah berbuat kurang ngajar pada pelanggan.


"Oh, kalau se Fani mah kecil, Mas. Paling 34. Tuh daleman di sebelah sana. Kalau celana dalam sekalian ukurannya sama kaya baju biasanya. Kecuali kalau pinggulnya besar." Si Mbak yang subur ini justru terlihat lebih open sama gue.


"Oh gitu, ya, Mbak."


"Iya, kalau buat cewek yang masih gadis sih ya. Tapi kalau buat yang udah pernah melahirkan dan menyusui kaya saya sih, ukurannya agak gedean, Mas. Hihihi."

__ADS_1


Dih, dia ketawa geli. Thifa nggak segede elu juga kali, Mbak.


Setelah baju pilihan gue ditulisin notanya. Gue pergi memilih bra dan celana dalam. Bingung sumpah. Banyak banget motifnya. Ada yang bunga, berenda, polos, polkadot. Aduh kepala gue malah pusing ngebayangin isinya.


Ya Allah, cobaan cobaan.


Sambil mencet-mencet busa bra. Wk wk wk. Gimana cara nyari ukurannya kalau begini. Masa dicobain. Tar dikira gue banci kaleng.


"Maaf, Mas. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang SPG.


"Eum, Mbak. Tolong cariin ukuran buat ibu menyusui," kata gue polos.


Sengaja gue cari ukuran itu. Kalau kekecilan kan kasihan ntar nggak dapet hawa. Wk wk wk. Kegedean kan bisa dikecilin ada talinya.


"36 atau 36B?" tanya si SPG.


Si SPG memberikan contoh bra dengan ukuran tersebut. **** 36B mah gombloh. Gede banget ini kaya punya cupita. Hahaha.


"Yang ini aja, Mbak." Gue nunjuk yang ukuran 36 tanpa busa tapi. Takut ntar dalemnya keringetan kalo berbusa. Soalnya adek gue juga pake yang nggak ada busanya. Dia sih pernah bilang kalau yang berbusa trus ada kawatnya nggak Bagus katanya. Wk wk wk. Waktu itu gue pernah nguping pas temen-temen Karin main ke rumah ngomongin begituan.


Gue pilih motif polkadot warna hitam plus celdamnya. Menurut gue itu seksi. Hahay. Semoga aja cocok. Soalnya kalau yang berenda udah cem punya nenek-nenek tetangga gue dulu. Mana behanya lebar-lebar, Jember banget ngeliatnya.


Selesai gue pilah pilih, gue pun menyelesaikan pembayaran and lanjut balik ke rumah sakit. Sesampainya di ruangan Zain, ternyata udah ada adiknya Thifa juga suaminya.


"Assalamualaikum," sapa gue.


"Waalaikum salam, Akhi." Fikri menyambut gue dengan pelukan.


Gue celingukan nyariin ke mana bidadari gue. Kok nggak ada. "Thifa mana?" tanya gue.


"Owh, pulang sebentar tadi, sama Abi," jaqab perempuan berjilbab ungu.


What? Dia pulang. Trus ini bungkusan berisi baju gamis sama daleman yang udah gue beli buat dia, bijimane nasibnya?


"Kenapa, Fan?" tanya Fikri.


"Oh, nggak apa-apa. Eum. Ya udah, saya pamit juga deh. Ini nanti titip buat Thifa." Gue meletakkan paper bag di atas nakas. Beruntung tuh baju gamis tadi gue suruh bungkus pakai bungkus kado biar nggak ketahuan isinya. Bisa gawat kalau dibuka sama sepasang suami istri ini.


"Zain belum bangun?" tanya gue.


"Belum."


"Oh, ya sudah. Saya pamit ya, Fik, Va. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Sebelum gue keluar ruangan. Gue mendekati Zain dan mengecup keningnya. Namun, tiba-tiba tangan gue seperti ada yang menarik. "Om, Om Opan---" Zain terbangun.


"Zain?"


Tangannya tampak memegang tangan gue erat. "Om pulang dulu ya. Mau mandi. Bau acem. Ada Om Fikri sama Tante Deeva."


"Iya, Om. Besok Om ke sini lagi ya."


"Iya."


Gue lalu mencium pipi gembilnya. Zain menarik kedua bibirnya ke samping. Senyumnya mirip sekali dengan sang bunda.


"Assalamualaikum, Zain."


"Waalaikum salam, Om," jawabnya.


🌸🌸🌸


**Bersambung.


Vote komen yaaa**.

__ADS_1


__ADS_2