
Thifa POV
💋💋💋
Mataku berbinar melihat sosok di belakang keluarga Mas Hanif. Pria dengan baju koko putih, beserta kopiah juga celana panjang hitam, terlihat berbeda.
Seminggu aku tak melihatnya, membuat dada ini berdebar-debar. Telapak tanganku berkeringat, sementara wajah ini pasti bersemu merah. Sekilas, kami saling pandang. Hanya saja, ia sesekali mencoba membuang muka dan tak tersenyum seperti biasanya.
Aku menunduk, mungkin dia masih memikirkan ucapanku waktu itu. Kalau aku tak pernah menyukainya. Memang, karena aku belum terlalu mengenalnya. Namun, entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu memikirkannya.
"Bunda, Om Hanif sudah datang ya?" tanya Zain yang berdiri di sebelahku.
"Iya, Sayang." Aku meraih tangan Zain, menggandengnya berjalan mengikuti Abi dan Umi.
Kediaman Rahmania calon tunangan Mas Hanif masih berada di komplek yang sama dekat pesantren. Sengaja mobil Pakde diparkir di halaman rumahku, lalu kami jalan kaki menuju rumah Rahmania. Karena, di sana tidak ada tempat untuk memarkir mobil.
Kulihat Taufan berjalan di belakang Mas Hanif. Hatiku bertanya-tanya, kenapa dia bisa datang dengan keluarga Mas Hanif. Ada hubungan apa Taufan dengan keluarga Pakdeku itu?
Kedatangan kami disambut dengan keluarga besar Rahmania yang sudah menunggu sejak tadi. Satu persatu kami dipersilakan untuk masuk. Tiba-tiba saja seperti ada yang menarik gamisku dari belakang.
Tanpa sengaja aku menabrak seseorang yang berdiri tegak di belakangku. Karena gamisku tertarik ke belakang. Lalu ia berbisik ke arahku.
"Jadi, bukan kamu yang dilamar?" tanyanya.
Aku menggeleng. Taufan masih memegangi gamisku. "Lepas, nggak enak dilihat orang!" kataku lirih. Akhirnya ia melepaskan tangannya, kami pun masuk.
Kami duduk di dalam rumah Rahmania. Gadis yang seumuran dengan adikku Deeva itu tampak anggun dan cantik. Mengenakan jilbab dan gamis berwarna putih. Senyum selalu mengembang di wajahnya. Pantas saja Mas Hanif kesemsem sama dia.
Aku merasa sejak tadi ada yang memperhatikan. Kulirik ke sebelah kiri, pria yang duduk di dekat pintu itu senyam-senyum. Sekarang gantian aku yang mencoba untuk mengalihkan pandangan.
"Bismillahirohmanirohim. Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh …."
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh."
Pakde Maulana menyampaikan tujuannya bertandang ke rumah ini. Yakni untuk meminta, meminang, putri dari Ustadz Haidar untuk menjadi menantunya. Tak banyak yang disampaikan, tak banyak juga basa-basi dan lainnya. Lamaran Mas Hanif langsung diterima dengan senang hati oleh keluarga Rahmania. Kami pun berucap Alhamdulillah, bahagia semua yang hadir.
Setelah itu kami berbincang membicarakan tanggal pernikahan. Sambil ngobrol, tiba-tiba saja Ustadz Haidar bertanya padaku. "Thifa kapan nih? Sudah ada calonnya?"
Aku hanya tersenyum kecil, kulirik pria di sudut pintu itu. Dia malah asyik memakan lontong dengan bakwan. Ah, dasar cowok tengil.
"Insya Allah, secepatnya." Abi memberikan jawaban yang membuatku seperti hendak dipaksa menikah.
"Oh iya, saya punya teman. Kebetulan teman saya ini baru menjadi mualaf, beliau belajar dengan kami di panti. Perkenalkan, namanya Taufan." Mas Hanif menunjuk ke arah cowok itu, memperkenalkan pada keluargaku juga keluarga Rahmania. Ternyata temannya Mas Hanif.
"Oh, kalau Taufan sih Paklek udah kenal, Nif. Calonnya Thifa, ya, Nduk?" goda Abi.
Duh Abi … kenapa harus bicara seperti itu di sini? Aku malu dan nggak enak sama mereka semua.
"Owh, Alhamdulillah kalau sudah kenal."
Mereka semua pun akhirnya malah fokus membicarakanku. Bukan pernikahan Mas Hanif dengan Rahmania. Ya Allah, mau ditaruh di mana ini mukaku. Cowok itu sih kesenengan.
"Bunda, ada om gondrong, ya?" tanya Zain seraya menarik tanganku.
"Iya."
"Mana?"
"Dekat pintu."
"Aku mau ke om gondrong, Bun."
"Nanti saja. Nggak enak ngelangkahin makanan."
"Om gondrong!" teriak Zain.
Kami semua langsung menatap Zain yang tiba-tiba teriak memanggil cowok itu.
"Hay Zain!" Taufan melambaikan tangannya.
Payah, ya jelas Zain nggak akan lihat dia di mana. Namun, seolah tahu di mana cowok itu duduk. Zain menoleh ke arah kiri dan tersenyum.
"Om sini!" panggilnya lagi.
__ADS_1
"Eh, ngaco kamu. Mau duduk di mana?" tanyaku pada putraku itu.
"Sini, Fan. Aku mau keluar sebentar." Fikri yang tadi duduk di sebelah kanan Zain tiba-tiba bangkit dari duduknya dan berjalan keluar. Lalu bergantian dengan Taufan yang menghampiri Zain dan duduk di sebelahnya.
Zain sontak memeluk Taufan. Aku dan beberapa pasang mata lainnya memandangi mereka.
"Zain kangen sama Om," ucapnya.
"Sama, Om juga. Kemarin Om ke sini katanya kamu lagi liburan di rumah oma."
"Iya, Om. Om nanti main yuk!"
"Okey, mau main apa?"
"Tapi ajak Bunda juga."
"Eh, enggak--- Bunda sibuk," sahutku.
"Wah kalian cocok sekali, kapan ini peresmiannya? Sepertinya Zain dan Taufan sudah sangat akrab ya?" tanya Ustadz Haidar.
"Doakan, Tadz," jawab Taufan.
Ish, pede banget nih orang. Ya Allah, kapan acara ini berakhir. Kalau terlalu lama, aku bisa jantungan. Sejak tadi jantungku selalu berdebar hebat kala Taufan memandangiku.
Acara silaturahmi itu pun berlangsung lumayan lama. Dari jam sembilan pagi hingga hendak Dhuhur, kami baru berpamitan pulang.
Rona bahagia terpancar dari wajah Mas Hanif dan keluarganya. Begitu juga denganku. Minimal aku bisa melihat dia lagi. Sedikit mengobati rasa penasaran dan rasa kangenku.
"Fan, kamu mau pulang nggak?" tanya Hanif yang sudah masuk mobil.
Taufan masih asyik bermain dengan Zain. Sementara aku berdiri di dekat pagar rumah.
"Duluan aja, gue masih mau di sini. Kasihan Zain nggak ada temannya," jawabnya.
Alasan saja nih orang.
Tak lama mobil Pakde pun meninggalkan rumah kami. Abi dan Umi juga sudah masuk rumah, Deeva beserta sang suami juga sudah pulang. Tinggal kami bertiga.
Aku melangkah masuk rumah, membiarkan cowok itu bermain di luar bersama Zain. Aku ke dapur untuk membuatkannya minuman. Di dapur, Abi hendak pergi ke masjid untuk sholat Dzuhur berjamaah.
"Ngomong gitu gimana?"
"Ya tentang Taufan. Emangnya dia beneran serius sama aku?"
"Ya, insya Allah."
"Abi … aku takut kalau Taufan akan mempermainkanku."
"Insya Allah enggak."
Abi bergegas keluar rumah. Kulihat Abi juga mengajak Taufan dan Zain untuk pergi ke masjid.
💋💋💋
Sementara menunggu mereka yang sholat di masjid. Aku yang kebetulan sedang berhalangan, duduk di kursi ruang tamu.
"Kenapa tow, Nduk?" Umi tiba-tiba datang dan duduk di hadapanku.
"Nggak apa-apa, Umi. Thifa cuma iri saja sama Rahma. Dia bisa dapat lelaki yang sholeh dan pintar seperti Mas Hanif."
"Insya Allah, kamu kelak juga akan mendapatkan pasangan seperti itu."
"Aamiin."
Tak lama kemudian Abi terlihat datang sambil menggendong Zain yang tertidur. "Assalamualaikum."
"Waalaikum salam." Aku hendak mengikuti langkah Abi ke kamar. Namun, Abi mencegahnya.
"Temani Taufan, ada yang mau dia bicarakan sama kamu," ucap Abi.
Aku menurut, Abi dan Umi masuk ke kamarku. Sementara Taufan menunggu di luar rumah. Jantungku berdegup kencang ketika menghampirinya.
"Ada apa?" tanyaku gugup.
__ADS_1
Dia berdiri tepat di depanku. Aku menunduk, sesekali melirik untuk bisa menatap wajahnya.
"Dek," panggilnya lirih.
Deg. Darah ini seketika berdesir saat ia menyapaku dengan sebutan itu.
"Ma-maaf. Kamu nggak suka ya aku panggil kaya gitu?" tanyanya.
Aku diam. Bukan berarti tak suka, saking senangnya sampai aku tak bisa berkata-kata.
"Eum, aku cuma mau bilang. Ka---kalau aku serius sama kamu. Aku tahu, aku bukan lelaki kaya Hanif, yang sholeh, pintar, alim. Tapi, aku sungguh-sungguh sama kamu," ucapnya terbata.
Aku masih terdiam dan menunduk.
"Dek, kamu mau kan menikah sama aku? Jadi istri aku? Mungkin ini bukan lamaran resmi. Aku cuma mau mastiin aja. Kalau kamu terima aku sekarang, aku akan datang nanti dengan keluargaku. Tapi, kalau kamu benar-benar nggak terima aku, aku janji. Nggak akan ganggu kamu lagi, aku akan pergi jauh buat lupain kamu."
Tanpa terasa pipiku menghangat. Ya Allah, dia memang tak seperti Mas Hanif. Tapi, dari nada bicaranya dia begitu sungguh-sungguh ingin menikahiku.
"Dek, jangan nangis! Maaf, kalau kata-kata aku udah bikin kamu sedih. Ini." Taufan menyodorkan sapu tangan tepat di depan wajahku.
Aku masih terdiam. Mencoba menghapus air mata dengan punggung tangan. Tiba-tiba tangan Taufan menyentuh wajahku, ia mengusapkan sapu tangan itu di ujung mataku.
"Maaf," ucapnya lirih menarik kembali tangannya.
"Aku butuh waktu," jawabku.
"Jangan lama-lama, karena aku nggak bisa nunggu."
"Emang kamu mau ngapain buru-buru?" tanyaku lagi.
"Aku ingin ajak kamu dan keluargamu pergi umroh, Dek."
Masya Allah, air mata ini kembali meleleh mendengarnya. Penantian Abi dan Umi selama ini, pergi melaksanakan umroh bersama aku dan Zain. Dulu Abi dan Umi sudah pernah pergi haji bersama dibiayai oleh pesantren. Namun, semenjak aku menikah, keinginan itu sempat tertunda. Ditambah lagi masalah biaya.
"Kamu mau kan jadi istri aku?" tanyanya lagi.
Aku tersenyum dan mengangguk pelan. Mungkin, ini adalah jawaban atas doaku. Bisa memberangkatkan keluargaku pergi umroh.
"Katanya tadi butuh waktu?" tanyanya terkekeh.
"Ya udah nggak jadi." Dia benar-benar menyebalkan.
"Eh iya iya. Makasih, ya, Sa---" Taufan tak melanjutkan kalimatnya.
Aku melotot ke arahnya. Belum apa-apa dia sudah mau panggil aku sayang?
"Ya sudah, aku pamit. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Taufan masih berdiri di depanku, padahal sudah berpamitan. Kenapa dia tidak langsung pergi saja?
"Masuk sana!" titahnya.
"Kamu duluan sana, pulang!" kataku.
"Aku harus memastikan calon istriku masuk rumah dengan selamat," ujarnya.
"Ya udah." Aku pun berbalik badan dan berjalan ke arah pintu.
"Dek!" panggilnya lagi.
Aku menoleh. Dia berlari ke arahku, mau ngapain?
"Kamu tembus tuh, nih tutupin," ucapnya seraya berbisik dan memberikanku sapu tangan. Lalu ia melangkah keluar pagar seraya melambaikan tangan.
Aku menepuk keningku, melihat bagian belakang gamis. Astagfirullah, betapa malunya aku. Bercak merah tercetak jelas di gamisku yang berwarna putih ini.
💋💋💋
**Bersambung.
Vote komennya yaaa.
__ADS_1
Meleleh hati adek, Baaaang.
😂😂😂😂**