Maukah Kau Menikah Denganku?

Maukah Kau Menikah Denganku?
24


__ADS_3

Thifa POV


Bissmillah...


Assalamualaikum semuanya...


Bagaimana kabar kalian? Masih stay di rumah kan?


Semoga selalu sehat dan dalam lindungan Tuhan. Aamiin.


****


Aku tiba di rumah langsung membersihkan diri, mandi dan sholat magrib. Karena nanti setelah Isya aku akan kembali ke rumah sakit untuk menemani Zain. Ada perasaan bersalah sih waktu aku tak sempat memberi kabar pada Taufan untuk pulang, dia pasti kembali ke rumah sakit karena berpikir aku masih di sana.


"Fa, Abi mau bicara." Tiba-tiba saja Abi sudah berdiri di depan pintu kamarku yang memang tak tertutup penuh.


Aku melepas mukena, melipatnya dan meletakannya di atas tempat tidur, lalu keluar menghampiri Abi.


"Ya, Bi. Ada apa?" tanyaku yang kini duduk di hadapannya.


"Bagaimana hubungan kamu dengan Taufan? Kapan dia akan datang melamar?"


"Bukannya Abi memberikan dia syarat? Menurut Abi apakah dia cocok menjadi pendamping aku?"


Abi tersenyum. "Insya Allah, Abi percaya sama dia. Semua tergantung kamunya."


Aku terdiam, bagaimana caranya aku bilang kalau Taufan ingin menunda lamarannya perihal sang adik yang hamil di luar nikah. Kalau sampai Abi tahu, apakah Abi akan tetap menerimanya sebagai menantu.


"Thifa, ada apa? Apa kalian ada masalah? Cerita sama Abi."


Bagaimana ini? Apa aku harus jujur saja? Aku menghela napas pelan, dan akan bicara sejujurnya. 


"Bi, tadi Mas Taufan bilang sama aku, dia mau menunda lamarannya," ucapku lirih. Rasanya sesak sekali dada ini.


Aku melihat alis Abi bertaut. "Loh, kenapa? Masalah hafalan Abi tak mempermasalahkan itu. Karena Abi yakin dia bersungguh-sungguh."


"Bukan masalah itu, Bi. Ta---Tapi, masalahnya adalah adik Mas Taufan."


"Adiknya kenapa?"


"Hamil di luar nikah, usia kandungannya sudah empat bulan. Mas Taufan nggak mungkin meninggalkan sang adik yang sedang butuh perhatiannya sebagai kakak. Jadi, dia mengorbankan acara kami."


Abi mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Abi pikir semua akan baik-baik saja. Ternyata----" Abi bangkit dari duduknya dan meninggalkanku, aku pun mengejarnya.


"Abi, Abi nggak berubah pikiran kan? Abi masih percaya sama Mas Taufan, kan?"


"Kamu pikir saja sendiri, Fa. Apa kata orang nanti kalau sampai tahu adiknya suami kamu itu punya adik yang hamil di luar nikah? Abi nggak masalah dia seorang mualaf, tapi kalau masalah adiknya, Abi belum bisa terima."


"Abi ---- Manusia adalah tempatnya salah dan khilaf. Aku yakin, Saat ini Mas Taufan pasti sedang menasihati adiknya. Memberikan semangat serta arahan yang baik. Nggak menutup kemungkinan kan kalau adiknya nanti akan mengikuti jejak sang kakak untuk menjadi mualaf?"


Abi menatapku. "Kamu sudah jatuh cinta sama dia?"


Aku menunduk, menahan debaran di dalam dada yang tiba-tiba saja berdegup kencang. Aku memang benar-benar sudah jatuh cinta pada sosok pria tengil itu.


"Abi akan carikan kamu calon lainnya." Abi pun berlalu.


"Abi---." Tanpa sadar air mataku membasahi wajah. Tak pernah sebelumnya aku merasakan sesedih ini. Kenapa di saat hati ini mulai terbuka pada pria lain, selalu ada masalah yang menghalangi perasaanku.


Kuusap wajahku dan kembali ke kamar.

__ADS_1


****


Esoknya.


Semalaman aku tidur bersama Zain di rumah sakit. Kumandang adzan Subuh dari masjid samping rumah sakit ini membangunkanku.


"Bunda …." Suara Zain lirih.


Aku yang hendak ke kamar mandi pun menoleh dan menghampirinya. "Ya, Sayang?"


"Aku mau pipis, aku mau sholat sama Bunda," pintanya.


Aku tersenyum kecil seraya mengusap kepalanya. "Ayo Bunda tuntun!" Dengan menuntut Zain turun dari ranjang menuju toilet, aku berdoa semoga kelak ia menjadi anak yang sholeh.


Kami pun sholat berjamaah. Zain tampak khusuk mengikuti. Meski kedua matanya masih tertutup oleh perban. Namun, tak menyurutkan niatnya untuk tetap melaksanakan ibadah sholat.


Sejak Zain kecil, aku memang sudah mengenalkannya dengan tugas dan kewajiban seorang muslim. Kami yang tinggal di lingkungan pesantren pun, harus bisa memberikan contoh yang baik untuknya.


Selesai sholat, tak lupa aku berdoa memohon petunjuk pada Allah. Tentang jodoh yang telah dihadirkan dalam kehidupanku. Jika memang Taufan adalah jodohku, aku memohon pada Allah, untuk lancarkan semuanya, mudahkan kami untuk bersatu. Jika memang dua bukan jodohku, aku meminta untuk dapat melupakan dan melepaskannya dengan hati yang ikhlas.


Aku tahu, apa pun yang direncanakan oleh manusia. Semua dapat terjadi dengan kehendak Allah. Namun, dengan kita meminta padaNya. Allah akan tahu kesungguhan hati kita.


Aku pun tak lupa untuk mengucap syukur. Atas semua nikmat dan karunia yang Allah berikan untuk keluargaku. Terutama untuk Zain. Allah telah mengirimkan malaikat yang rela mengorbankan kornea matanya untuk orang yang tak dikenal.


"Bunda nangis?" tanya Zain tiba-tiba.


Aku menoleh dan mengusap tangannya lembut. "Bunda nggak nangis, cuma terharu aja."


"Terharu? Apa itu Bunda?"


Aku tersenyum kecil, ya anak seusianya mana paham dengan kata itu. "Bunda menangis karena bahagia."


"Iya, karena Zain sebentar lagi sudah bisa melihat. Dan Bunda nggak nyangka ada orang baik yang mau mendonorkan matanya buat kamu, Sayang." Aku kembali memeluk putraku erat.


"Kalau aku udah bisa lihat lagi. Nanti Bunda kasih tau aku ya, siapa orang baik itu."


"Iya, Sayang."


"Oh iya, Bunda. Semalam Om Opan ke sini. Tapi Bundanya pulang. Trus Om Opan kayanya nitip sesuatu buat Bunda."


Aku mengernyit. "Nitip apa?"


"Aku nggak tahu, aku cuma dengar aja dia ngomong sama Abu Fikri, katanya nitip buat Bunda."


"Oh, ya udah. Nggak usah dipikirin. Palingan nanti dia datang lagi tengokin kamu."


"Iya, Bunda."


Aku bangkit dan melipat kembali mukena juga sajadah. Lalu membaringkan Zain di brankar. Karena dia harus masih banyak istirahat.


💕💕💕


Tepat pukul tujuh pagi. Seorang perawat datang membawakan nampan berisi makanan untuk sarapan Zain.


"Selamat pagi, Zain. Ibu!" sapanya seraya tersenyum ke arahku.


"Selamat pagi, Sus." Aku bangkit mengikuti langkahnya.


Suster perawat bernama Nadia itu pun hendak meletakkan nampan itu di atas nakas. Namun, tangannya berhenti sesaat dan menoleh ke arahku.

__ADS_1


"Maaf, Bu. Ini apa ya? Eum, bisa dipindahkan?" tanyanya.


Aku mengernyit. Sebuah paper bag warna pink teronggok di sana. Aku pun mengambilnya. "Silakan, Sus. Bisa ditaruh di situ!" kataku menunjuk ke atas nakas.


"Permisi, Bu. Obatnya jangan lupa diminum ya. Oh iya, nanti dokter datang jam delapan, Bu."


"Oh iya, Sus. Terima kasih."


"Sama-sama."


Suster itu pun melangkah keluar kamar. Aku masih menggenggam erat paper bag tadi. Kulihat isi di dalamnya, terbungkus kado bergambar hati warna warni. Lucu. Apa mungkin kado untuk Zain?


Aku tak pedulikan bungkusan itu. Kuletakkan kembali paper bag tersebut di samping nakas, lebih tepatnya di bawah brankar Zain. Lalu mengambil nampan berisi makanan.


"Zain makan dulu ya, trus minum obat." Aku duduk di hadapan Zain.


Zain pun ikut duduk menghadapku. Sarapan pagi ini dengan nasi, sayur bayam, perkedel. Berikut sepotong puding, juga satu buat apel merah.


Zain makan dengan lahap. Karena memang dari kemarin dia belum bisa makan banyak. Apalagi tiga jam sebelum operasi harus puasa lebih dulu. Dan sekarang pun ia tidak diperkenankan makan yang amis-amis, seperti ikan atau telur.


💕💕💕


Hari makin siang. Sudah jam sebelas. Zain tidur sejak satu jam yang lalu, setelah menyelesaikan hafalan suratnya. Padahal aku tak pernah memaksanya untuk murojaah. Tapi, dia merasa jika satu hari tak setor hafalan, seperti ada yang kurang. Ia menganggapnya itu hutang, atau kewajibannya.


Berkali aku melihat ke arah ponsel yang tergeletak di sampingku duduk. Sejak kemarin malam. Bahkan Taufan tak menghubungiku. Mengirim pesan whatsapp pun tidak, sama sekali tak memberi kabar.


Banyak sekali yang ingin aku bicarakan dengannya. Apalagi semalam melihat reaksi Abi saat mengetahui sang adik hamil di luar nikah. Aku takut, kalau dia mengundurkan diri menjadi calon imamku.


Perutku seketika berbunyi, lapar. Tadi pagi aku hanya menghabiskan apel milik Zain, karena dia tidak menyukai buah itu. Dan minum sekotak susu yang kubawa.


Karena Zain masih tertidur, aku pun ingin keluar sebentar ke kantin rumah sakit untuk membeli makan.


Aku titip Zain dengan suster perawat yang berjaga di depan kamar. Lalu melangkah menuju lift untuk turun ke bawah.


Brugh!


Aduh, aku memegangi bahu sebelah kanan. Seseorang baru saja menabrakku dengan keras. Aku menoleh.


"Mas Taufan?"


"Ma-maaf, Dek. Aku nggak sengaja. Aku lagi buru-buru." Taufan kemudian berlalu meninggalkanku.


Apa yang terjadi dengannya?


Aku pun penasaran dan mencoba mengikuti langkahnya dari belakang.


💕💕💕


**Segini dulu yaaa.


Tbc.


Masih ada yang nungguin nggak yaaa ceritanyaaa.


Si Babang kenapa tuh ya buru-buru?


Jangan-jangan kebelet boker.


Hahaaaa**.

__ADS_1


__ADS_2