Maukah Kau Menikah Denganku?

Maukah Kau Menikah Denganku?
29


__ADS_3

TAUFAN POV


.


.


Alhamdulillah segala puji syukur gue ucapkan dalam hati. Penantian panjang selama ini sudah tercapai. Bukan hanya memiliki istri sholeha. Namun, satu paket dengan anak yang sholeh juga.


Gue nggak pernah menyangka, hidup gue akan berakhir di sini. Di dalam pesantren, bersama seorang wanita berjilbab. Yang sudah membawa gue pada sebuah keyakinan. Di mana dulu orang tua gue menentang, bahkan tak pernah mengenalkannya pada kami.


Setelah bercanda sama istri gue. Nggak tahu kenapa rasanya gue masih agak canggung, nggak seiseng dulu waktu belum halal. Padahal mah, sekarang kalau mau nemplok juga dia nggak akan nolak.


"Dek!" panggil gue lirih.


Thifa menoleh lalu kembali menunduk. Duh, kenapa jadi kaya orang baru kenal gini.


"Iya, Mas," jawabnya ikutan pelan.


Ya Allah, kenapa juga gue jadi gemeteran begini. Huft. Tarik nafas pelan-pelan sambil ngusap-ngusap tempat tidur. "Eum, ka---kamu, nggak ganti baju?" tanya gue gugup.


"Ta--tapi, Mas. Aku malu."


Gue terkekeh geli. Ya iyalah, gue juga malu kalau disuruh ganti baju depan dia sekarang. Nggak tahu besok dan besoknya lagi.


"Ya udah, bobok yuk!" ajak gue.


Thifa hanya mengangguk lalu mengikuti gue yang berbaring di ranjang. Gue suruh dia rebahan di lengan sebelah kiri. Duh, harum jilbabnya bikin jantung gue berdebar-debar.


"Buka jilbabnya dong!" Akhirnya kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut gue.


Sumpah, penasaran banget gue sama rambutnya. Jangan aja pas dibuka nggak taunya botak. Zonk. Hihihi.


Thifa kembali duduk, gue ikutan duduk juga sambil melihatnya membuka jilbab. Pertama ia melepas peniti yang ada di bagian leher. Lalu, ia mulai menjauhkan jilbab panjang itu dari kepalanya.


Gue mengernyit. Ternyata dia masih pakai pembungkus kepala lagi. Gue pikir jilbab dilepas langsung kelihatan itu rambut. Ternyata belum.


Duh, jakun gue naik turun lihat leher putihnya yang jenjang. Rasanya pengen gigit. Masya Allah, sungguh Indah ciptaanmu ini.


Thifa pun melepas pembungkus kepalanya, dan rambut panjang hitam mengkilap terurai sampai ke pinggangnya. Sesaat gue takjub, ini kalau malam pake daster putih. Bisa jadi gue salah sangka.


Thifa menunduk, gue memegang bahunya dan memutar tubuhnya agar menghadap ke arah gue. Dia masih menunduk. Gue meraih wajahnya, dan mendekatkan wajah gue. Gue lihat ia memejamkan kedua matanya. Siap sama serangan gue.


Perlahan, gue kecup lembut bibirnya yang mungil itu. Sekilas, sambil lihat reaksi dia. Thifa cuma diam. Wajahnya menjadi merah, dan kedua matanya tampak berkedip malu.


"Kamu suka?" tanya gue.


Thifa tak menjawab. Gue pun bangkit dan menuju ke arah koper besar yang berisi baju. Gue udah punya gaun buat istri tersayang.


"Kamu pakai ini!" Gue sodorin lingerie hitam ke hadapannya.

__ADS_1


Entah kenapa wajahnya seketika memucat, atau jangan-jangan dia nggak suka?


"Dek, kenapa?"


Thifa terdiam, "Simpan itu, Mas. Aku nggak mau pakai itu."


"Iya, kenapa? Kamu malu?"


"Bukan, pakaian itu mengingatkanku sama Mas Athar, dia dulu pernah membelikan gaun yang sama seperti itu. Aku nggak mau kenangan itu kembali muncul dan merusak kebahagiaan kita," jelasnya.


"Ya sudah. Maaf, aku nggak tahu. Berarti selera aku sama suami kamu sama dong?"


Akhirnya gue simpen lagi pakaian tadi. Yang lebih mirip sama saringan tahu. Padahal gue pengen banget kaya yang di film-film gitu. Lihat tubuh istri gue dibalut baju tipis. Ulalaaa.


Gue akhirnya balik lagi ke atas ranjang. Duduk di sebelahnya. Thifa masih memakai gamis warna pink. Gue gerah lihatnya.


"Mas, aku ganti baju dulu. Tapi, kamu tutupin muka kamu, ya." Thifa meraih tangan gue lalu mengarahkannya ke wajah. Seolah tahu isi kepala gue.


"Iya," jawab gue.


Ya kali gue nurut banget suruh nutup wajah. Iya, muka gue emang ketutup. Tapi kan gue bisa ngintip, karena mata gue kebuka. Hehee.


Gue lihat Thifa berjalan ke depan lemari. Membuka lemari itu dan mengambil sebuah pakaian. Lalu ia menoleh sejenak, mungkin memastikan kalau gue nggak liatin dia. Trus dia menurunkan resleting gamisnya di bagian belakang. Udah kaya nonton film horor nunggu pocongnya keluar. Dag dig dug.


Bless. Gamis terjatuh ke lantai. Mata gue melotot melihat keseksian tubuh istri gue sendiri. Yang cuma berbalut pakaian dalam. Pingsan deh nih gue.


Gue memejamkan mata. Huft sambil tarik napas dalam-dalam.


Thifa sudah berdiri di samping ranjang dan tersenyum. Kini dia memakai daster warna pink. Bagian bahunya mengkerut, lengannya buntung, dan panjangnya hanya sebatas paha.


"Ka-kamu?" tanya gue gugup.


"Sekarang aku sudah jadi milikmu, Mas. Aku mau ibadah sama kamu. Aku tahu kamu begitu menginginkannya kan? Bahkan dari sebelum kita nikah. Aku nggak mau dilaknat Allah karena menolak."


"Tapi, aku kan nggak maksa kamu, Dek. Kalau belum siap, nggak apa-apa kok."


"Ya sudah kalau nggak mau!" Thifa langsung naik ke ranjang. Lalu menarik selimut dan menutupi tubuhnya.


Duh, apa gue salah ngomong ya? Nih dia kayanya ngambek deh. Kenapa jadi dia yang ngebet gini ya?


"Dek," panggil gue sambil mengusap bahunya.


Thifa nggak menyahut. Gue lihat dia malah memejamkan mata. Duh, masa malam pertama gagal sih cuma gara-gara salah paham.


"Dek." Lagi gue mengusap tubuhnya, dan memeluknya dari belakang.


Thifa tetap tak bergerak. "Katanya takut dilaknat. Masa suaminya dipantatin?" tanya gue.


Tiba-tiba aja dia balik badan. Hidung mancungnya langsung kena ke hidung gue. Ya Allah harum banget tubuhnya.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, gue pun mulai kasih dia serangan ke bibirnya yang ranum itu. Selanjutnya gue menikmati setiap inci tubuh indahnya. Naik ke atas peraduan berdua, saling melepas peluh, bertukar liur. Gue berhasil meraih puncak di malam nan dingin ini. Tanpa penolakan dan tetap dengan kelembutan.


Meskipun dia seorang janda. Gue nggak merasakan itu. Bagi gue, dia tetap seperti seorang perawan. Karena rasanya masih sempit, dan tubuhnya pun semua masih kencang.


Ya Allah, nikmat mana lagi yang kau dustakan.


Benar kata orang, malam pengantin itu memang indah. Benar-benar indah. Bahkan kami tak sadar sudah melucuti pakaian sendiri. Dan bergumul di bawah selimut yang hangat.


Selesai menunaikan kewajiban. Sebelum kami membersihkan diri. Gue rebahan sejenak melepas lelah. Capeknya kaya abis naik gunung gaes. Gue lihat Thifa juga masih tiduran di samping tubuh gue. Dia meringkuk, dan gue peluk dia dari samping.


"Makasih ya, Sayang." Gue kecup lagi keningnya.


Thifa hanya mengangguk.


Tok tok tok.


"Thifa, Taufaaan. Zain mau tidur bareng kalian nih!" Suara Ummi dari depan kamar membuat gue dan Thifa saling pandang.


Cepat-cepat gue ambil baju sama celana. Gue pakai lagi, gue bantu Thifa juga buat memakai baju, dan mengikat rambutnya.


Gue yang udah duluan rapi, menuju ke pintu. Gue buka pintunya. "Eh, Zain." Gue pun berbasa basi.


"Ayah!" Zain tiba-tiba meluk gue.


"Ya udah, Ummi balik ke kamar ya."


"Makasih, Ummi."


Ummi melangkah ke kamar, gue lalu tutup pintu. Untungnya pergulatan gue udah selesai. Coba kalau belum. Jadi nanggung kan nggak enak.


"Bunda, Bunda kok rambutnya berantakan. Abis ngapain?" celetuk Zain.


"Tidur," jawab Thifa.


Zain langsung naik ke atas kasur. Gue garuk-garuk kepala yang nggak gatal. Thifa pun merangkul Zain dan kembali berbaring.


"Ih, ini apa basah-basah," ucap Zain sambil kembali duduk.


Tangan Zain tiba-tiba ke atas, di tangannya dia pegang ****** ***** gue yang ketinggalan di kasur. Amsyooong. Kenapa pula gue lupa pake lagi itu semvak.


"Ih, Ayah nggak pake celana dalem ya? Hihihi." Bocah itu cekikikan. Gue rebut tuh celana dari tangannya. Thifa hanya senyum-senyum.


"Makanya, punya barang dijaga, Mas. Masa nggak berasa kalau nggak pake?"


"Ya gimana, buru-buru."


Akhirnya Zain tidur bersama kami bertiga. Dan masih tanpa daleman gue tidur. Biar adik gue yang di bawah bisa bernapas lega.


.

__ADS_1


**End.


Makasih semuanyaaa.


__ADS_2