
Thifa POV
💕💕💕
Sore itu aku sedang membantu Ummi di dapur. Memasak makanan untuk makan malam. Seperti biasa keluarga kami selalu menyiapkan sayuran lengkap dengan lauk pauk. Sebenarnya aku paling suka masakan yang ditumis. Hanya saja akhir-akhir ini tenggorokan sering sakit. Kemungkinan karena panas dalam. Jadi aku hanya menyiapkan sayur bening, dengan lauk seadanya.
Ummi memasak, sementara aku menyiapkan perabotan. Dan menaruh lauk yang sudah matang ke dalam piring.
"Assalamualaikum." Terdengar suara salam dari luar.
Aku lupa, pintu depan tadi ditutup atau dibuka ya. Cepat aku melangkah menuju arah suara. Ternyata pintu tidak kututup tadi. Abi yang datang.
Langkahku terhenti saat melihat sesosok pria yang berdiri di belakang Abi. Kenapa Abi dan Zain bisa bersama dengan pria itu. Bukankah tadi mereka di pesantren?
"Waalaikum salam," jawabku seraya menunduk.
Aku langsung berpaling saat pria itu menatap ke arahku tak berkedip. Atau mungkin dia masih marah dan tidak terima atas tuduhanku waktu itu. Tapi, aku juga sudah meminta maaf.
Abi mempersilakan pria itu duduk. Dan menyuruhku membuatkan minuman. Aku pun bergegas ke dapur menjalani perintah Abi.
Jarak antara ruang tamu dengan dapur hanya terhalang oleh lemari besar berisi buku. Bukan dinding. Bahkan aku bisa melihat dan mendengar percakapan di luar.
Aku mengambil dua cangkir, menuangkan air panas dan teh celup. Lalu memberikan gula secukupnya. Kemudian mengaduknya perlahan sambil menyimak pembicaraan Abi dan pria itu.
Jujur aku malu, saat Abi bicara kalau banyak pria yang datang untuk mengkhitbahku. Seolah aku sedang mencari pendamping hidup. Atau mengobral diri. Padahal, Abi dan Ummi yang selalu memaksaku untuk menikah lagi. Dengan dalih, kasihan pada Zain. Dia butuh sosok seorang ayah.
"Ada tamu, Nduk?" tanya Ummi yang sudah berdiri di sebelahku seraya mengambil sendok.
"Eh, i-iya, Ummi. Tamunya Abi."
"Oh, ya sudah dibawa minumnya. Kasihan kalau nunggu lama."
"Iya, Ummi."
Aku mengangkat nampan berisi minuman, untuk segera kubawa ke hadapan mereka. Saat kaki ini baru melangkah. Aku mendengar ucapan pria itu. Yang menyatakan akan ikutan mengkhitbahku.
Seketika pegangan tanganku akan nampan merenggang.
Prang!
"Astaghfirullah." Cepat aku membereskan serpihan beling dari cangkir yang kubawa barusan.
Dua cangkir itu terjun bebas di bawah kakiku. Beruntung tidak mengenai kaki, hanya saja airnya membasahi kaus kaki yang kukenakan.
"Kenapa, Nduk?" Ibu mendekat dan membantuku.
"Tanganku licin, Ummi. Habis megang tahu sama tempe goreng tadi," jawabku gugup.
Mana mungkin aku bicara yang sesungguhnya kalau aku mendengar percakapan mereka. Nanti aku dibilang menguping pembicaraan orang lain. Nyatanya iya.
Ummi membuatkan kembali dua cangkir teh hangat. Lalu memberikannya padaku.
"Hati-hati."
"Iya, Ummi."
Aku segera melangkah ke depan, dan meletakkan dua cangkir teh hangat itu di atas meja. Lalu mengajak Zain untuk beranjak dari situ. Aku takut, kalau Zain sampai dekat dengan pria di sebelahnya.
Pakaian pria itu memang sudah sedikit rapi. Hanya saja rambutnya masih terlihat berantakan. Seandainya saja dia mau memotong rambutnya menjadi lebih pendek. Mungkin wajah tampannya akan terlihat.
Astaghfirullah, Thifa. Kenapa pula aku memujinya.
Aku membawa Zain masuk ke kamar. Ia duduk di tepi ranjang.
"Bunda, aku mau sama Ayah," celetuk Zain.
Aku mengernyit, Ayah?
Aku mendekati Zain, mengusap bahunya. Lalu memutar tubuhnya agar menghadap ke arahku.
"Ayah? Bunda kan sudah pernah bilang, kalau Ayah kamu sudah meninggal." Aku berusaha mengingatkan.
"Ayah baru, Bunda."
"Ayah baru?"
Ada-ada saja anak ini. Aku tersenyum kecil. Dalam hati sedikit perih dan rindu akan kehadiran Mas Athar. Seandainya saja dia masih hidup.
Kugenggam erat tangan Zain.
"Sayang, memangnya kamu mau beli Ayah di mana?" tanyaku bercanda.
Dia pikir Ayah bisa dibeli begitu saja.
"Aku nggak beli, aku cuma mau Ayah baru. Ayah Taufan. Om yang tadi."
Deg.
Kenapa tiba-tiba Zain bicara seperti ini. Bahkan beberapa laki-laki yang datang dan berusaha melamarku saja ia tak pernah peduli. Kenapa kali ini Zain begitu menginginkan sosok pria itu untuk menjadi ayahnya? Apa yang sudah dilakukan pria itu pada anakku?
__ADS_1
"Kamu dikasih apa sama om tadi?" tanyaku menginterogasi.
"Nggak dikasih apa-apa. Omnya lucu, Bunda. Masa rambutnya gondrong, dia bilang ganteng."
Zain tertawa cekikikan. Aku ikut tersenyum melihatnya. Tak pernah ia seceria ini.
"Udah, udah. Nggak baik ngomongin orang. Kamu belum mandi sore. Ayo mandi dulu."
"Iya, Bunda."
Aku keluar kamar untuk menyiapkan air hangat. Zain terbiasa mandi dengan air hangat, ia tak bisa mandi air dingin sejak masih bayi, biasanya akan langsung flu.
Iseng aku mencoba melihat ke ruang tamu, hanya untuk memastikan apakah pria itu masih di sana. Ternyata masih.
Terdengar jelas bahwa dia benar-benar ingin belajar agama. Semoga saja niat pria itu bukan bermaksud untuk menggodaku dan mengganggu Zain.
Prang!
Haduh. Lagi-lagi tanpa sengaja aku menyenggol gelas yang berada tepat di sebelahku. Gelas itu kini teronggok di lantai. Siapa yang taruh gelas dipinggir meja sih.
Aku kembali membersihkan serpihan beling tersebut agar tak mengenai kaki. Ummi menghampiriku. Zain juga terlihat berjalan dengan tongkatnya ke arahku.
"Kamu kenapa lagi, Nduk?" tanya Ummi.
"Enggak. Ini loh kesenggol. Siapa sih yang naruh gelas dipinggir gini," gerutuku.
"Aku tadi, Bunda. Maaf." Suara Zain terlihat memelas.
"Oh, kamu. Ya sudah kamu ke kamar mandi duluan. Nanti pakai air termos dulu aja. Bunda bersihin ini dulu."
"Yowis sana mandiin Zain dulu, biar Ummi yang bersihkan."
Ummi mengambil alih pekerjaanku. Sementara aku bergegas ke kamar mandi. Karena hari kian gelap. Kalau dia sering ke sini bisa habis perabotan rumahku. Haduh kenapa juga aku tadi pakai ngintip segala.
Aku baru tahu kalau ternyata pria itu adalah non muslim.
💕💕💕
Pagi ini aku ada ngajar di jam pertama. Setelah sarapan bergegas menuju pesantren. Sebelumnya aku menemui Zain yang sedang di kamarnya.
"Zain, Bunda ngajar dulu, ya." Aku mencium keningnya lembut.
Zain meraih tanganku dengan meraba, lalu menciumnya. "Bunda, aku mau main sama Ayah," ucapnya pelan.
Aku duduk di sebelahnya. Harus bilang apa aku pada Zain. Pria itu kan pasti juga sudah pulang. Meskipun ada, apa mungkin dia mau bermain dengan putraku. Sebenarnya aku tak masalah Zain menyebut dengan sebutan itu. Aku hanya tak ingin dia jadi berharap lebih, dan nantinya aku dikira juga memberi harapan.
"Sayang, kalau mau main. Sama Abu Fikri aja. Nanti Bunda minta ke sini. Atau Zain mau Bunda antar ke rumah Abu Fikri sama Ummu Deeva?" Aku mencoba memberikannya opsi. Biasanya sih mau.
"Aku maunya sama Ayah Taufan. Dia lucu."
Aku tersenyum kecil, lucu?
Seandainya kamu tahu wajah dia seperti apa. Mungkin kamu akan takut, Nak. Pria berambut gondrong, sorot mata tajam dan jarang senyum.
"Bunda, kok diam?"
"Ya udah, nanti sama eyang akung aja, ya. Bunda berangkat dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam, Bunda."
💕💕💕
Aku sedang berada di dalam kantor, mengambil beberapa buku tugas santri, lalu segera pergi ke kelas. Cepat aku melangkah sebelum santriwati menunggu lama.
Brugh!
"Aw!" pekikku seraya memegang bahu kiri.
Buku yang kubawa terjatuh dan berserak di lantai. Seseorang baru saja menabrakku.
Tanpa melihat siapa orangnya, aku langsung berjongkok dan mengambil buku-buku yang jatuh. Ternyata orang itu ikut membantu.
"Ini." Dia mengulurkan beberapa buku ke arahku.
Aku menoleh.
Bug!
Buku yang kupegang kembali jatuh saat melihat siapa orang yang baru saja menabrakku.
"Maaf," ucapnya.
Tiba-tiba saja jantungku berdebar hebat kala menatap mata elang itu. Entah kenapa dia bisa berada di pondok Putri?
"Hellow?" ujarnya lagi melambaikan tangan ke depan wajahku.
Aku tersentak kaget. Astaghfirullah.
"Kamu ngapain di sini?" tanyaku gugup seraya mengambil kembali buku yang berserak.
__ADS_1
"Mau ketemu kamu," jawabnya singkat.
Pria itu berdiri di hadapanku, kali ini ia tak membantu mengambil buku yang terjatuh.
"Untuk apa?" Aku menunduk, menghindari tatapannya.
"Bertemu dengan Ustadz Fikri."
"Memangnya Abi ke mana?"
"Beliau pergi, aku di suruh cari kamu buat antar aku ke Ustadz Fikri."
"Oh, kenapa nggak cari langsung, kenapa harus aku yang disuruh?"
Abi ada-ada saja. Kenapa menyuruhku mengantar pria ini. Padahal bisa saja dia menelpon Ustadz Fikri untuk menemuinya di pondok putra.
"Ya mana aku tahu, mau antar nggak?"
Dengan malas, aku melangkah ke arah kantor tanpa menjawab pertanyaannya. Di mana Ustadz Fikri biasanya di jam segini ada di meja kerjanya. Pria tadi mengikuti langkahku di belakang.
"Denger-denger kamu lagi cari pendamping hidup?"
"Mbak Thifa, saya boleh daftar," imbuhnya lagi.
Aku menghentikan langkah, dan berbalik badan. Menatapnya sinis.
"Maksud kamu apa? Siapa yang bilang?"
"Pak ustadz. Saya udah kerja kok, kamu mau minta mahar apa pun saya kasih. Kalau kamu mau. Oh iya, nolak lamaran bikin perawan tua loh."
"Maaf, tapi aku udah nggak perawan." Aku kembali melangkah menuju kantor.
Koridor kelas yang kami lewati tidak begitu ramai. Karena belum jam istirahat. Jadi, percakapan kami tadi tidak ada yang tahu. Semoga saja.
"Mbak, tunggu. Saya belum selesai bicara. Maaf kalau perkataan saya tadi ----."
Aku kembali menghentikan langkah.
"Kamu bisa diam nggak?"
"Enggak! Sebelum kamu terima tawaran aku, aku bersedia jadi suami kamu."
"Tapi kamu non muslim."
"Memangnya salah? Aku suka kamu dari pertama lihat. Makanya aku belain sampai ke sini buat belajar agama."
"Wanita muslimah tidak halal untuk laki-laki kafir. Begitu pun sebaliknya. Karena hal ini sama saja merendahkan martabat Islam."
"Lalu bagaimana kalau aku mau menikahi kamu. Mahar apa yang akan kamu terima?"
Aku menghela napas pelan. Entah pria ini benar serius atau hanya untuk berusaha mendekatiku. Atau mungkin hanya rasa kasihan saja, karena melihatku janda dengan seorang anak laki-laki yang buta.
"Mbak, jawab. Aku akan kasih kamu mahar yang paling Indah. Itu sih kalau diterima. Coba sebutin. Kalau enggak, aku bakalan kejar kamu terus."
"Keislaman adalah mahar terindah," kataku kembali berjalan dengan cepat menuju kantor.
Entah apa yang ada dipikiranku. Aku sih nggak yakin dia bisa meninggalkan keyakinannya hanya demi aku.
Setelah itu aku tidak mendengarnya lagi berbicara dan bertanya. Benar dugaanku, dia hanya berusaha untuk menghiburku. Mana mungkin pria lajang seperti dia mau menikah dengan seorang janda.
Kami tiba di depan kantor, aku melihat Ustadz Fikri di mejanya bersama adikku, Deeva. Aku berjalan mendekat.
"Assalamualaikum," sapaku.
Keduanya menoleh.
"Waalaikum salam, eh Mbak."
"Tadz, ini ada yang cari." Aku menunjuk pria yang tiba-tiba jadi pendiam itu.
"Owh, loh kamu bukannya yang waktu itu di kantor polisi?" Ustadz Fikri menyalaminya.
"Iya."
"Ada perlu apa?"
"Eum, sa-saya mau be-belajar agama."
"Oh, iya iya. Boleh. Duduk dulu. Nanti saya ajak keliling pondok."
Aku kembali ke mejaku. Membiarkan mereka mengobrol. Diam-diam aku melihatnya dari kejauhan. Tak ada yang salah dengan pria itu. Tapi, apa mungkin dia bisa jadi pemimpin yang baik.
Tiba-tiba dia menoleh ke arahku. Gawat kalau sampai dia tahu aku memperhatikannya sejak tadi. Aku pura-pura sibuk dengan buku di tangan.
Kulirik sekilas, ia menyunggingkan senyum. Itu membuat jantungku tiba-tiba berdegup kencang.
💕💕💕
*Tbc.
__ADS_1
Aissshhhh.
Like dan komennya ya gaesss*.