Maukah Kau Menikah Denganku?

Maukah Kau Menikah Denganku?
11


__ADS_3

Taufan POV


💎💎


Setelah pamit sama pak ustadz alias abinya Thifa. Hati gue merasa mantap dengan keputusan yang saat ini ingin gue ambil. Menyerahkan diri, dan hidup gue untuk berpindah keyakinan. Memeluk agama Islam menjadi seorang mualaf.


Sebenarnya ini bukan semata hanya karena seorang cewek yang gue taksir. Tapi lebih ke arah hati yang terasa nyaman. Berada dua malam di antara orang-orang yang selalu melakukan kegiatan ibadah tanpa henti. Yang menghentikan kegiatan itu hanyalah saat mereka makan, tidur dan juga mandi.


Pertanyaan yang selalu menggelayut di hati pun akhirnya sedikit demi sedikit mulai terjawab. Tentang kehidupan. Buat apa gue hidup di dunia ini. Bertahan dengan segala permasalahan yang kadang gue sendiri nggak pernah bisa menyelesaikannya.


Kalau berpikir hidup hanya untuk sekedar makan, bahkan binatang pun juga makan. Kalau hanya sekedar untuk bekerja, bahkan kera sekali pun ia bekerja untuk mendapatkan makan. Lalu apa bedanya kita dengan binatang?


Ternyata Allah memberikan kita akal sehat, untuk berpikir jernih. Berpikir bagaimana kita menjalani hidup. Saling membantu dan mengingatkan satu sama lain. Dengan bukan hanya sekedar mencari apresiasi dari manusia, tapi lebih dari itu. Kebaikan yang kita lakukan menjadi pahala atau bekal untuk di akhirat nanti.


Gue merebahkan tubuh di sofa sebuah cafetaria. Sambil menunggu seseorang yang mau gue mintain tolong. Segelas kopi hitam menemani malam senin gue. Besok gue balik kerja dan kebetulan masuk pagi. Kayanya gue nggak bisa pulang karena bokap kata adek gue marah besar.


Dua hari gue nggak buka hape, tadi pas keluar pesantren baru gue buka. Berentet pesan masuk dari Karin adek semata wayang gue. Dia bilang gue ditunggu bokap mau dikasih ceramah. Ya kalau cuma ceramah, kalau bogem mentah kaya yang udah-udah kan berabe. Muka ganteng gue nggak bakalan bisa dikenali lagi nanti sama eneng Thifa.


Brugh!


"Nih!"


Cewek di depan gue duduk dengan bibir mengerucut. Sebuah tas besar ia letakkan begitu saja di atas meja.


"Kakak ke mana aja sih? Nggak pulang. Bikin orang cemas aja. Ngasih kabar kek, kan aku jadinya yang disuruh papa buat nyariin. Males banget. Belum lagi tuh temennya yang cewek datang melulu ke rumah, nggak percaya lagi kalau dibilang Kakak nggak ada," gerutunya dengan kesal.


"Gue lagi cari ilmu, udah. Loe tenang aja. Kakak loe yang ganteng ini nggak akan kenapa-napa kok. Tengkyu yaaa …." Gue mengusap rambutnya pelan.


"Yaudah, aku mau pulang."


"Nggak mau minum dulu, atau makan dulu?"


"Nggak, udah kenyang."


"Loe nggak kangen sama gue, Rin?"


"Apaan sih, loe, Kak." Karin cemberut lalu beranjak dari duduknya menuju pintu keluar.


Ah adik gue yang satu itu sudah dewasa. Sudah nggak peduli lagi sama kakaknya ini. Udah punya cowok pula. Padahal dulu ke mana-mana selalu minta anterin. Takut digangguin lah sama cowok. Sekarang?


Gue menepuk-nepuk tas di atas meja, tas yang berisi baju kerja sama sepatu. Beberapa berkas juga ada di sini. Mulai sekarang gue bakalan menghilang dari keluarga gue dulu. Tinggal di kost dan mulai belajar buat memenuhi persyaratan yang pak ustadz kasih buat gue.


💎💎


Gue tiba di depan sebuah masjid di daerah perkampungan. Tempat di mana biasanya teman kuliah gue dulu suka ngajak gue ke sini buat bagi-bagi makanan kalau waktu bulan Ramadhan.


Masjid masih tampak sepi, gue lirik jam di pergelangan tangan masih menunjuk ke pukul delapan malam. Celingukan gue cari orang yang bisa gue tanya. Sambil duduk di teras masjid.


Dari kejauhan gue lihat seorang yang gue kenal dan emang gue cari. Cowok tinggi berkacamata, dengan wajah teduh dan berlesung pipi itu, tengah berjalan ke arah gue. Masih dengan pakaian lengkap seperti hendak sholat. Baju koko, kopiah juga sarung. Namun, ia tak berjalan sendirian. Beberapa anak-anak kecil berkisar umur 5-8th mengikutinya.


Sampai di depan gue, bisa terlihat dia tertegun menatap barang bawaan yang gue bawa.

__ADS_1


"Kamu? Taufan, kan?" tanyanya.


"Iya, ini gue, Nif."


"A-ada apa, ya? Malam-malam ke sini?"


"Eum, ada perlu sama loe. Bisa kita bicara?"


"Oh, tunggu sebentar, ya. Anak-anak, kalian bisa masuk duluan ke masjid. Nanti Kakak nyusul, Rizki, kamu pimpin teman-teman yang lain, ya."


"Iya, Kak."


Setelah cowok di depan gue itu memberikan arahan pada anak-anak tadi. Anak-anak itu pun masuk ke masjid. Gue juga nggak tahu mereka mau ngapain.


"Mari, Taufan. Kita duduk di sana!" Cowok itu menunjuk ke teras masjid dekat dengan dinding.


Kami duduk bersisian dengan kaki bersila. Dari dalam masjid terdengar suara anak-anak yang mulai membaca doa. Baru tahu gue, ternyata mereka belajar mengaji. Dengaan duduk di balik meja kayu panjang.


"Apa kabara, Fan? Kerja di mana sekarang?"


"Di pabrik, Nif."


"Oh, trus kamu ke sini ada perlu apa? Aku lihat kok kaya mau pindahan?" tanyanya seraya menunjuk ke arah tas yang gue taruh di atas motor.


"Gue mau nyari kosan. Untuk sementara gue nggak mau pulang dulu."


"Loh, kenapa? Nanti orang tua kamu gimana?"


"Jadi, gini, Nif. Loe masih ngajar ngaji, kan?"


"Iya."


"Bokap loe gimana?"


"Ada kok, baik."


"Bu-bukan, maksud gue kalau gue minta tolong sama bokap loe, boleh kan?" tanya gue gugup.


Hanif, adalah teman kuliah satu kelas dulu. Bapaknya adalah tokoh masyarakat di kampung ini. Punya yayasan panti asuhan, juga pondok pesantren khusus anak yatim.


"Sebenarnya kamu mau minta tolong apa?"


"Gue--- eum, mau dibimbing untuk jadi mualaf Nif," ucap gue lirih sambil nunduk.


"Masya Allah, kamu serius? Jadi ini alasan kamu pergi dari rumah?"


Gue hanya mengangguk. "Se-sebenarnya, kemarin dua hari gue tinggal di pesantren. Ikut semua kegiatan di sana. Dari situ gue merasa hati gue lebih tenang dan damai. Gue mau belajar, Nif."


"Kenapa kamu nggak minta dibimbing di pesantren itu saja. Bukannya di sana banyak ustadz juga?"


Gue diam. Sebenarnya gue juga maunya gitu. Tapi, mereka kan tahunya gue muslim. Yang tahu kalau gue non muslim cuma keluarganya Thifa. Sementara orang pesantren mereka nggak tahu apa-apa. Nanti jadi perbincangan ada orang non muslim masuk pesantren dan mau menikahi anak ustadz.

__ADS_1


"Eum, karena gue harus kerja, nggak bisa ditinggal. Makanya gue cari kos sekalian buat belajar ngaji. Kalau di sana kan santrinya udah islam dari orok, Nif. Waktu kecil udah biasa diajarin huruf arab sama baca doa. Kalau gue? Masih buta, Nif. Makanya gue mau loe yang ngajarin gue dari nol. Loe nggak keberatan kan?"


Hanif tersenyum kecil dan mengangguk. "Iya, aku pasti bimbing kamu. Benar juga sih. Kalau pun kamu di pesantren, ya harus ikit belajar langsung kurikul yang ada di sana."


"Nah itu, kan malu, Nif. Dah setua ini masa nggak ngerti apa-apa."


"Belajar itu nggak usah malu, Fan. Berarti nanti di sini kamu gabung sama anak-anak itu." Hanif menunjuk anak-anak yang sedang belajar di dalam.


"Iya, nggak apa-apa."


"Ya udah, tapi kamu mau ngekos di mana?"


"Di sini nggak ada tempat kosan gitu?"


Hanif menggeleng. "Tinggal di panti aja, mau?"


"Yah, masa gue tinggal di panti asuhan. Kasihan amat."


"Ye, aku juga tinggal di sana sama ortu. Kan kamarnya banyak. Sebagian anak-anak udah masuk ke pesantrennya. Jadi beberapa kamar banyak yang kosong."


"Nanti ngerepotin."


"Enggak kok."


"Makasih, ya, Nif."


"Sama-sama."


Gue bernapas lega, akhirnya ada teman yang mau bantuin gue buat belajar, dan yang pasti biar gue bisa menuhin persyaratan dari pak ustadz untuk mempersunting anaknya. Nggak mungkin juga gue cerita sama Hanif kalau semua ini gue lakukan demi Thifa. Bisa diketawain, Taufan yang dulu di kampus di gilai wanita, kini tak berkutik dengan seorang janda beranak satu. Heleh heleh.


💎💎


Sepulang ngaji di masjid, Hanif ngajak gue ke panti asuhan milik orang tuanya. Ternyata anak-anak yang diajar ngaji tadi itu adalah anak-anak yang tinggal di perkampungan sekitar sini. Hanif bercerita banyak bahwa dirinya setelah lulus kuliah mengabdikan diri untuk anak-anak sebagai guru ngaji. Padahal waktu kuliah dia termasuk mahasiswa yang pintar dan sering mendapat beasiswa. Alasannya klasik, ia tak mau bekerja di perusahaan. Karena baginya ilmu dan amal lebih bermanfaat dan berguna untuk bekal di akhirat.


Lalu bagaimana untuk dia melangsungkan hidup? Bukankah harus bekerja? Hanif hanya bilang kalau rezeki sudah diatur oleh Allah. Dan Allah menjamin rezeki tiap-tiap manusia. Rezeki keluarganya berasal dari para donatur yang tak segan memberikan sebagian hartanya untuk kelangsungan hidup keluarganya dan anak-anak panti juga para santri.


Namun, terlepas dari itu bukan berarti ayahnya tak bekerja. Ayahnya Hanif mempunyai sebuah bengkel, dan sebagian pekerjanya adalah anak-anak asuhnya yang remaja. Ia mendapatkan modal membuka bengkel dari uang pesangon yang pada waktu itu diberikan perusahaan yang memPHK karyawannya di zaman orde baru.


Setelah gue diperkenal oleh keluarganya, gue pun diajak masuk ke kamar. Di kamar ini ada dua dipan. Ternyata dipan yang satu milik Hanif.


"Kita sekamar." Hanif tersenyum kecil. "Dulu sih ada yang sekamar sama aku, tapi orangnya meninggal karena sakit. Dan tempat tidurnya masih bersih, sama seperti terakhir kali dia pergi. Sekarang kamu yang tempatin. Dan aku nggak iseng lagi."


Glek, gue menelan ludah, sambil mengusap kasur yang dia bilang bekas orang meninggal. Ah gila nih si Hanif. Katanya banyak kamar di sini. Kenapa yang dia kasih ke gue malah kamarnya yang bekas orang udah nggak ada. Nanti kalau tiba-tiba pas malam-malam orangnya nongol minta gue pergi gimana?


Tiba-tiba tengkuk gue dingin dan merinding. Apalagi Hanif malah keluar pula ninggalin gue sendirian. Gue lihat, tirai di dekat tempat tidur Hanif yang warna putih itu bergerak-gerak. Ah sumpah nih kamar horor banget. Mana gue kaga bisa baca doa buat ngusir setan lagi.


💎💎💎


Tbc.


Vote dan komennya jangan lupaaaa

__ADS_1


__ADS_2