
TAUFAN POV
.
💕💕💕
"Zain udah nggak sabar, Om. Mau lihat wajah Om Opan," celetuk Zain.
Gue cuma tersenyum kecil, lalu memandangi wajah ini ke dalam cermin yang ada di dinding dekat pintu toilet. Ganteng lah, nggak malu-maluin amat kalau nih bocah liat gue. Sambil menyugar rambut ke belakang, gue mengusap kepala Zain dengan lembut.
"Om, Bunda ke mana?" tanyanya.
"Mandi, kenapa? Zain mau minum? Atau mau apa?"
"Oh, enggak. Cuma tanya aja."
Gue melihat ke arah pintu toilet. Thifa lama banget mandinya. Apa semua perempuan kalau mandi lama ya? Perasaan ritual mandi tuh cuma sabunan sama sikat gigi. Kenapa bisa selama itu?
Klek.
"Assalamualaikum," sapa seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Wa---waalaikum salam," jawab gue gugup saat melihat siapa yang datang.
Abinya Thifa juga Umminya datang. Mereka menatap gue. Seolah memergoki seorang maling. Gua cuma menunduk, rasanya pengen kabur aja keluar kalau tangan Zain nggak megangin tangan gue.
"Loh, Zain. Bunda kamu mana?" tanya Abi Yusuf pada cucunya.
"Mandi."
Gue pun menghampiri abinya Thifa untuk menyalaminya. Namun, uluran tangan gue diremasnya dengan keras. Lalu beliau merangkul gue dan membawa gue ke luar ruangan.
Sumpah, ini seperti pengusiran secara halus. Gue cuma bisa menurut saja. Tanpa kata tiba-tiba saja abinya Thifa meluk gue, trus menepuk-nepuk bahu gue.
"Maafin Abi, ya, Nak Taufan. Kemarin Abi sudah berkata kasar sama kamu," ucapnya.
Gue benar-benar nggak nyangka kalau beliau bakalan minta maaf. "Eum, iya, Abi. Saya sudah maafin kok. Saya tahu saya memang salah."
Abi melepas pelukannya. "Abi minta kamu cepat nikahin Thifa. Abi nggak mau menunggu lama. Takut kalian akan berzina hati. Lebih baik langsung nikah saja, biar halal. Iya nggak?"
Duh, Abi bisa aja dah. Gue kan jadi enak.
"Insya Allah, Abi. Saya nunggu tujuh harian adik saya."
"Abi turut berduka cita ya, maaf, kemarin Abi nggak tahu yang sebenarnya."
"Nggak apa-apa, Abi."
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita ke dalam. Itu dokter sudah datang." Abi merangkul lagi bahu gue.
Kami berdua masuk ke dalam ruangan Zain. Di sana ternyata Thifa sudah selesai mandi. Gue yang lewat di sebelahnya mencium aroma tubuh dia yang harum. Membuat darah ini seketika berdesir. Benar kata Abi, kayanya emang gue harus cepat-cepat nikahin dia. Bisa zina hati beneran deh, bayangin yang enggak-enggak.
Huft.
"Sebentar, ya. Bapak-ibu. Saya periksa kondisi Zain terlebih dahulu. Habis itu baru kita buka perbannya." Dokter mulai memeriksa kondisi Zain.
Gue dan yang lainnya menunggu dengan cemas dan harap. Sambil lirik-lirik perempuan yang pakai gamis biru di seberang brankar Zain. Dia juga menunduk sekilas curi-curi pandang.
Dia pasti nggak nyangka kalau gue bisa beliin dia pakaian itu, plus dalemannya. Hehehe. Gimana reaksi dia ya pas baca tulisan itu. Pasti malu banget deh. Biarin, emang sengaja gue tulis gitu. Biar dia tahu maksud gue, kalau gue emang serius sama dia.
"Alhamdulillah, semuanya normal. Kita bisa buka perbannya sekarang. Nah, Zain. Kamu nanti buka matanya pelan-pelan saja ya. Kalau masih kelihatan buram atau terasa sakit, jangan dipaksakan." Dokter mencoba memberikan arahan.
"Iya, Dok."
"Bismillahirrahmanirrahim."
Dengan perlahan dokter melepas perban yang menutupi kedua mata Zain. Hingga perban itu terlepas semua, menyisakan kain kasa di kelopak mata. Lalu kain itu ia lepas, dan kini Zain mulai membuka matanya sedikit demi sedikit.
Gue tersenyum ke arahnya. Gue yakin dia sedang mengenali satu persatu orang yang ada di ruangan ini. Lalu tatapannya berhenti ke gue.
"Om Opan?" tanyanya.
Gue menghampirinya. "Iya, ini, Om. Nih pegang deh muka Om." Tangan Zain gue arahin ke muka gue. Dia mulai meraba, lalu terkekeh.
"Aku kan udah bisa lihat, Om. Kenapa suruh raba?" tanyanya.
"Iya, Om."
"Alhamdulillah," ucap Abi dan Ummi. Sementara Thifa mengusap kedua tangannya ke wajah.
"Anak kita dah bisa lihat, Dek," ucap gue.
Thifa melotot ke arah gue. Sedangkan kedua orang tuanya tertawa. "Udah buruan dikhitbah! Abi sama Ummi udah nggak sabar pengen punya mantu," ujar Abi.
Thifa nunduk, sedangkan gue senyum-senyum aja. Duh, Dek. Abang kan jadi pengen nyubit pipi kamu yang memerah itu. Hihihi.
💕💕💕
Hari pun berganti. Sudah hampir sebulan gue dipingit. Tanpa bertemu dan berkontak dengan Thifa. Abi nyuruh gue buat menyelesaikan hafalan. Gimana bisa menghafal, kalau pikiran gue selalu kebayang wajahnya Thifa.
Sekarang gue tinggal di rumah Hanif. Karena gue butuh mentor untuk setor hafalan. Seminggu yang lalu Hanif menikah, dan ia tinggal di rumah mertuanya. Sementara sang adik, sudah kembali ke pondoknya. Dan gue mulai belajar ngaji, hafalan bersama Pak Maulana, ayahnya Hanif.
Selama tinggal di panti, gue banyak banget belajar. Tentang adab seseorang dari di meja makan, menerima tamu, bahkan berkunjung. Belum lagi, pelajaran yang sangat sulit dalam hidup ini adalah belajar ikhlas.
Meskipun sudah lewat empat puluh hari kepergian Karin. Gue masih selalu teringat dia, kadang gue menyesali diri ini. Karena belum bisa menjadi pelindung buat adik gue sendiri. Ditambah bokap gue yang tak berkabar, bahkan dia juga nggak tahu kalau anak perempuannya sudah tiada. Namun, gue kudu bisa ikhlas, biar adik gue tenang di alam sana.
__ADS_1
Dua hari lalu gue diantar keluarga Hanif pergi melamar Thifa. Membawa seserahan seadanya dan langsung menentukan tanggal pernikahan. Sekitar seminggu lagi kami akan melakukan ijab kabul di mesjid pesantren.
Meski tak sabar, tapi ada juga rasa gugup menyelimuti. Gue nggak tahu nanti setelah nikah gue bakalan tinggal di mana. Pekerjaan gue nggak bisa gue tinggal. Mana bisa gue hidup cuma ngandelin keluarga Thifa. Gue harus cari nafkah buat anak dan istri gue kelak.
Jabatan di pabrik emang cuma jadi supervisor tapi lumayan lah cukup kalau untuk makan bertiga. Dan gue mungkin bakalan tempatin rumah yang bokap kasih kemarin.
"Nak Taufan. Kok kayanya akhir-akhir ini agak kurang fokus hafalannya?" tanya Pak Maulana.
Gue cuma menunduk saja. "Maaf, Pak. Saya kepikiran nanti."
"Pernikahan?"
Gue mengangguk lirih. Ya maklum, ini pertama kalinya dalam hidup gue. Nikah. Kata orang sih nikah itu enak. Tapi, kenapa dulu bokap bisa pisah sama istri pertamanya. Terus nikah sama nyokap sekarang nikah lagi. Apa saking enaknya sampai bisa seenaknya nikah dengan siapa saja?
"Pernikahan adalah suatu ibadah yang dianjurkan oleh Rosulullah. Untuk mencegah perbuatan yang dilarang oleh agama. Nak Taufan sudah siap kan?" Pak Maulana kembali menatap gue.
"Insya Allah, saya siap, Pak."
"Lalu, kenapa kamu kelihatan ragu?"
"Saya takut nggak bisa membahagiakannya."
"Kita nggak bisa mengukur kebahagiaan seseorang. Dari mana kamu tahu kalau kamu nggak bisa membahagiakan dia? Kamu belum mencoba. Ingat! Dengan kamu berani menikahi seorang wanita. Itu sudah menjadi kebahagiaan buat dia dan keluarganya."
Pernyataan Pak Maulana barusan membuat gue berpikir. Benar, kalau kebahagiaan itu nggak bisa diukur seberapa besar. Bahagia atau tidaknya seseorang bisa saja berbeda. Namun, gimana cara kita membahagiakan orang yang kita sayang itu?
"Kewajiban suami tak hanya menafkahi istri dengan materi. Istri juga butuh kasih sayang, nafkah bathin yang nggak boleh kamu lalai. Kamu bisa mendatangi istrimu dari arah mana saja, atas, bawah, samping, kecuali belakang."
Gue menyimak setiap ucapan pria paruh baya di hadapanku ini. Pak Maulana memang begitu berwibawa. Di usianya yang seperti bokap gue, rumah tangganya masih sangat harmonis. Bahkan pada anak-anaknya pun ia terlihat sangat menyayangi mereka.
"Istri itu suka ngambekan, kamu harus tahu gimana caranya biar istri kamu nanti pas lagi ngambek gampang luluhnya," bisik Pak Maulana.
"Gimana, Pak?"
"Biasanya sih kalau saya ajak ke kamar. Hihi."
Duh, si bapak bikin gue mupeng aja ini. Pelajaran jadi Imam rumah tangga yang baik jadi ke mana-mana pembahasannya.
"Udah, nggak usah dipikirin. Yang penting kamu udah siap lahir bathin. Usia kamu juga sudah cukup kok berumah tangga. Nggak boleh nunda menikah kalau sudah siap. Kelihatannya juga si Thifa sayang banget sama kamu, apalagi anaknya."
"Iya, Pak. Saya siap!"
"Bismillah."
💕💕💕
**Bersambung.
__ADS_1
Siap-siap kondangan yaaa.
Vote komennya**.