Maukah Kau Menikah Denganku?

Maukah Kau Menikah Denganku?
10


__ADS_3

Thifa POV


πŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’Ž


Malam ini ada suasana berbeda di rumah kami. Kedatangan mama mertuaku membuat rumah menjadi sedikit ramai. Celotehan Zain yang bercerita tentang kegiatannya sehari-hari dengan sang oma, diselingi tawa renyah dari Abi dan Ummi yang mendengar.


Aku yang sejak tadi memperhatikan mereka dari dapur hanya bisa tersenyum kecil. Ada perasaan rindu yang membuncah akan kehadiran Mas Athar. Mengapa Allah hanya menakdirkan aku memiliki pria yang kusayangi dengan waktu sebentar saja. Bahkan kami belum saling mengungkapkan perasaan.


Aku mulai menata makan malam di meja makan. Setelah semuanya tersaji, aku pun menghampiri mereka di ruang tamu dan mengajak makan malam bersama.


"Makan dulu, yuk, Mah," ajakku.


"Sebentar, Thifa. Duduk sini, Mama mau bicara." Mama menunjuk ke kursi di sebelahnya


Abi dan Ummi beranjak menuju ke ruang makan lebih dulu. Sementara aku, Zain dan Mama masih di ruang tamu.


"Ada apa, Mah?" tanyaku seraya menatapnya ingin tahu.


"Benar, pria tadi calon suamimu?" tanya Mama dengan sorot mata tajam.


Aku langsung mengalihkan pandangan ke arah lain. Sebenarnya tak ingin membahas masalah cowok itu. Terlebih tentang niatnya yang ingin belajar di pesantren. Mama pasti sakit hati mendengarnya, karena ia mungkin berpikir aku sudah melupakan anaknya, Mas Athar.


"Thifa, jawab. Kalau memang dia calon kamu, Mama nggak masalah. Sudah seharusnya kamu menikah lagi, kasihan Zain, dia butuh sosok seorang ayah."


Tanpa disangka, mama mertuaku itu tidak merasa marah apalagi sakit hati. Ia justru mendukungku. Tapi, aku belum punya perasaan apa-apa dengan cowok itu.


"Zain mau punya ayah?" tanya Mama Hilda pada putraku.


Aku menoleh ke arah Zain yang tengah duduk diam di sebelah omanya. Ia pasti sedang mendengarkan pembicaraan kami tadi.


"Mau, Oma. Ayah Opan tapi. Dia baik sama aku, orangnya juga lucu." Zain terkekeh.


Astaghfirullah anak ini.


"Anak kamu aja suka, masa bundanya nggak mau." Mama menepuk pahaku pelan. Aku hanya tersenyum kecil.


Bukan nggak mau, Mah. Tapi, cowok itu terlalu kepedean. Apalagi, dia masih baru mau belajar mengenal Islam. Mualaf juga belum, bagaimana dia bisa jadi pemimpin rumah tangga yang baik.


"Ya sudah, kita makan malam dulu, yuk. Kasihan Abi sama Ummi kamu sudah nungguin."


Mama Hilda bangkit dari duduk seraya menuntun Zain. Aku mengikutinya dari belakang. Mama ingin nginap malam ini di rumah karena kangen sama cucunya. Aku pun mengizinkan.


πŸ’ŽπŸ’Ž


Ahad pagi, aku bangun lebih awal dari pada yang lain. Karena pagi ini ada jadwal mengajar di jam pertama. Hari ahad bukanlah hari libur seperti kebanyakan. Di pesantrenku libur sekolah hanya hari jumat. Jadi, hari pertama dalam satu minggu adalah hari sabtunya. Kegiatan belajar mengajar di hari ini sama seperti biasanya.


Setelah sholat subuh dan mandi, aku menuju dapur menyiapkan sarapan. Kulihat Abi dan Ummi yang baru keluar dari kamar mereka.

__ADS_1


"Thifa, ada ngajar pagi?" tanya Ummi seraya menghampiriku.


"Iya, Ummi. Ini sarapan sudah aku siapin. Jam enam nanti ada senam bersama di lapangan," katakuΒ  sambil menata piring dan gelas di atas meja.


"Oh, ya sudah. Ummi mau sholat dulu."


Abi duduk di kursi ruang makan menunggu Ummi untuk bergantian kamar mandi. Biasanya sih Abi bangun lebih awal untuk sholat subuh berjamaah. Namun, semalam Abi sempat mengeluh tidak enak badan pada Umni saat makan malam.


"Sudah baikkan, Bi?" tanyaku dengan meletakkan secangkir teh manis hangat di hadapannya.


"Alhamdulillah, oh iya, Fa. Kamu tahu nggak? Semalam, waktu Abi mau sholat isya. Abi lihat si Taufan ketiduran di masjid." Abi menggeleng sambil tertawa kecil.


"Astagfirullah, orang itu." Aku merasa kesal mendengarnya. Bisa-bisanya dia tidur di masjid.


"Bukannya kemarin ada tausiyah ya, Bi?"


"Iya, dia ketiduran dengerin ceramah kayanya."


"Emang isi ceramahnya apa?"


"Tentang akhir zaman."


"Astaghfirullah, susah emang, Bi. Kalau orang yang niat belajarnya setengah-setengah kaya gitu."


"Kamu nggak boleh bicara seperti itu, Fa. Emang kamu tahu kalau niat dia cuma setengah. Nanti kalau dia sungguh-sungguh, jangan kaget dengan perubahannya, ya."


Aku mendelik, "Kok Abi ngomong gitu?"


Aku memang tak ada perasaan apa pun dengan cowok baru itu. Hanya saja aku merasa ingin tahu lebih tentang dirinya belum lagi keluarganya, apakah keluarganya orang baik-baik, atau malah sebaliknya. Karena jarang ada cowok non muslim, rela menginap di pesantren hanya karena ingin mengenal agama kami.


Biasanya keluarga tak semua menyetujui keputusan seseorang, terlebih untuk masalah keyakinan. Atau jangan-jangan dia buronan yang kabur dari penjara, masuk pesantren hanya kedok saja untuk bersembunyi. Astaghfirullah.


πŸ’ŽπŸ’Ž


Tiba di kantor tepat pukul enam kurang lima belas menit. Aku langsung duduk di meja kerja, menata beberapa buku yang hendak kubawa kekelas nanti. Lalu mengisi buku absensi.


"Mbak!" panggil seseorang dari depan pintu.


Kulihat Deeva berjalan menghampiriku dengan tergesa-gesa. Di belakangnya sang suami berjalan mengikutinya.


"Mbak, bener kabar yang beredar?" tanya Deeva adikku secara tiba-tiba.


Deeva yang sudah duduk di depan mejaku itu menatap dengan alis bertaut. Aku merasa seperti hendak diinterogasi.


"Kabar apa?" tanyaku bingung.


Deeva menghela napas pelan, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, dan melirik ke arah sang suami.

__ADS_1


"Pura-pura dia, Kak," ujarnya pada Ustadz Fikri.


Ustadz Fikri hanya menggeleng lemah, ia seperti tidak ingin ikut dalam perbincangan istrinya.


"Ada apa sih, Va? Mbak nggak ngerti."


"Masa Mbak nggak tahu sih, gimana ceritanya. Itu sepondok putra heboh sama kabar Mbak dengan santri baru itu. Kabarnya kalian mau menikah. Wah selamat, ya, Mbak." Wajah Deeva berseri bahagia, seolah dirinya yang akan menikah.


"Apa?" tanyaku tak percaya.


Aku bangkit dari duduk dan menghampiri Ustadz Fikri.


"Fik, antar aku ketemu cowok itu. Jangan sampai kabar itu jadi fitnah," pintaku.


"Mbak Thifa, dia sudah pulang tadi pagi."


"Ini juga masih pagi, kamu nggak bohong kan? Jangan sembunyikan dia dari aku. Aku malu kalau semua orang menganggap aku akan menikah dengan dia. Sementara aku aja nggak ada perasaan apa pun sama dia."


"Kamu mau ngapain ketemu dia? Yang ada seluruh penghuni pesantren semakin yakin kalau kalian memang ada hubungan."


Aku menahan diri sejenak, "Tapi aku cuma mau minta dia buat klarifikasi."


"Percuma, Mbak. Orang dia sendiri yang nemuin Abi meminta izin buat ngelamar kamu."


"Apa? Trus Abi bilang apa?"


"Abi ngasih syarat, trus dia izin pulang."


"Kapan dia nemuin Abi?"


"Semalam, habis sholat Isya."


Allahu Akbar, pantas saja tadi pagi Abi bilang jangan kaget kalau tiba-tiba dia berubah. Mungkin ini maksud perkataan Abi. Tapi kenapa Abi nggak cerita ke aku langsung.


"Assalamualaikum, Ustadzah Thifa, selamat, ya."


"Iya, akhirnya sebentar lagi Zain punya Ayah."


"Barakallah, ya, Ustadzah."


"Semoga lancar sampai hari H."


Satu persatu ustadzah yang datang menyalamiku sambil mengucapkan selamat. Ya Allah, lemes aku. Mengapa kabar seperti ini cepat sekali tersebar. Padahal aku sendiri nggak tahu apa-apa. Lalu bagaimana nanti kalau Mama tahu.


πŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’Ž


Tbc.

__ADS_1


Segini dulu, ya.


Vote dan komennya jangan lupa.


__ADS_2