Maukah Kau Menikah Denganku?

Maukah Kau Menikah Denganku?
7


__ADS_3

Taufan POV


💕💕💕


**Assalamualaikum.


Yang jawab salam, semoga kalian selalu sehat, banyak rezekinya dan selalu dilimpahkan Rahmat dari Allah swt.


Aamiin**.


💕💕💕


"Keislaman adalah mahar terindah," ucapnya.


Gue terpaku sejenak, mencoba meresapi perkataannya barusan. Sebegitu mulianyakah agama itu? Sampai tak ternilai oleh apa pun.


Gue melanjutkan langkah mengikuti dia dari belakang. Nggak tau mau dibawa ke mana. Untung aja tadi pas gue baru masuk ke sini, langsung ngeliat dia yang baru keluar dari kelas.


Kami tiba di sebuah ruangan. Gue bisa tebak kalau ruangan ini adalah kantor para pengajar. Soalnya kelihatan dari wajah mereka yang kebanyakan sudah berumur. Nggak mungkin kan ruang kelas.


"Assalamualaikum," sapa Thifa


Gue dibawa ke depan meja seorang cowok yang waktu itu mengantar Thifa dan Pak Ustadz ke kantor polisi.


"Waalaikum salam, eh Mbak." Seorang wanita berjilbab menjawab salam Thifa.


"Tadz, ini ada yang cari." Thifa nunjuk ke arah gue. Gue cuma senyum dan mengangguk.


"Owh, loh kamu bukannya yang waktu itu di kantor polisi?" Cowok itu mengulurkan tangannya.


"Iya." Gue menjabat tangannya.


"Ada perlu apa?" tanyanya


"Eum, sa-saya mau be-belajar agama."


"Oh, iya iya. Boleh. Duduk dulu. Nanti saya ajak keliling pondok."


Akhirnya gue duduk di kursi depan si Fikri. Thifa kembali ke mejanya mungkin. Gue lirik dia sekilas. Wanita di depan gue pun kembali ke meja yang ada tak jauh dari situ.


"Sebentar ya, Oh iya siapa nama kamu? Saya ngerjain pembukuan ini dulu"


"Oh iya, santai bro. Gue Taufan."


"Oh panggil saya Fikri."


"Ok."


Gue ngerasa ada yang merhatiin dari belakang. Seketika gue nengok, nah bener kan. Thifa ngeliatin gue. Elah, pake pura-pura nunduk lagi pas gue senyumin. Gue tau kok kalau loe juga sebenarnya suka sama gue.


"Yuk, ikut saya ke gedung sebelah." Fikri beranjak dari duduknya.


Gue ikutan berdiri.


"Mau ke mana, Fik?" tanya gue saat dia keluar, dan tanpa Thifa.

__ADS_1


"Ke gedung sebelah, pondok putra. Sebentar lagi waktunya makan siang. Kita ke sana."


"Oh." Gue paham.


Pantesan Thifa nggak diajak. Mau ke pondok cowok ternyata. Makan siang, tau aja perut gue keroncongan. Tadi pagi sih gue juga ikutan makan di pondok sama pak Ustadz.


Ngambil makannya ngantri euy, dah gitu nasi sama lauk dijatah. Mungkin biar semua kebagian. Salut sama mereka yang tinggal di pondok. Betah. Karena semuanya serba antri. Bahkan tadi pagi aja gue nyerobot mandi sama anak kamar berapa gue lupa.


Abis kebelet buang air besar, nunggu antrian masih panjang. Yodah nyelak aja sekalian mandi. Hahaha.


Tempat pondok putra sama putri lumayan jauh kalau lewat depan. Tapi, kalau lewat dalam dipisah sebuah gerbang besar. Jalanan masuknya juga lumayan jauh sih. Entah kenapa harus dipisah antara perempuan dan laki-laki. Takut pada pacaran mungkin. Soalnya gue pernah denger ceramah ustadz kalau dalam Islam itu nggak boleh pacaran. Haram. Ah tapi buktinya diluar banyak banget yang pacaran, sampai malah ada yang hamil diluar nikah.


Akhirnya setelah perjalanan yang cukup melelahkan, gue dan Fikri tiba juga di depan gedung yang dia bilang ini adalah pondok putra.


Jam di pergelangan tangan gue nunjuk ke angka setengah dua. Banyak santri yang sedang berjalan ke arah ruang makan.


Ruang makannya besar, mirip restauran. Tapi ini lebih luas lagi. Sudah banyak pula yang duduk sambil makan siang, dan bercengkrama dengan teman mereka. Ah betapa indahnya kebersamaan itu. Tidur bareng-bareng, makan bareng-bareng.


Iseng, gue lirik lauk di piring mereka. Gue menelan ludah. Sayur asem, tempe goreng sama sambel terasi. Nikmat banget itu.


Di pojok dekat dengan ruang makan, ada kantin juga. Tadi pagi gue mampir ke sana liat-liat. Kantin itu menjual berbagai macam makanan, kue-kue basah. Gorengan, puding, bahkan lauk pauk seperti ikan dicabein, telur dicabein juga ada.


Mungkin maksudnya buat para santri yang nggak cocok atau kurang sama makanan yang didapat dari pondok. Mereka bisa jajan. Tapi, buat gue kasihan juga sama yang nggak punya uang lebih buat jajan.


"Fan. Kita makan di mana?" tanya Fikri yang tiba-tiba udah bawa dua piring lengkap sama isinya.


"Oh, eum. Di mana saja deh."


"Di sana yuk!"


"Kita makan siang dulu, baru cerita. Oke," katanya.


"Oh siap."


Gue pun makan dengan lahap. Sumpah ini makanan terenak yang pernah gue nikmatin. Ya maklum, di rumah gue jarang banget si Bibi masak beginian. Palingan kalo gue mau makan makanan kaya gini ya harus ke warteg.


Ah si Fikri lupa, dia kaga bawa minum. Akhirnya dengan inisiatif gue pergi ke kantin membeli dua minuman dingin. Lalu kembali ke meja.


Setelah selesai makan. Fikri ngeliat ke arah gue.


"Kamu benar mau belajar agama? Kata Abi kamu non muslim."


"Iya, Fik. Gue emang non muslim. Emang kalo non muslim nggak boleh belajar agama islam?"


"Boleh, siapa pun boleh. Apa yang pertama kali ingin kamu ketahui?"


Gue mikir, apaan ya? Nah iya.


"Kenapa cowok kaya gue, yang non muslim nggak boleh menikahi wanita muslimah seperti Thifa?"


Sial si Fikri pake ketawa lagi. Emang itu tujuan gue ke sini. Gue nggak bohong. Jangan ketawain gue.


"Oh, jadi kamu ke sini karena suka sama Thifa?"


Ah kupret nih orang. Pake dipertegas segala lagi.

__ADS_1


"Okey, saya akan jelaskan perlahan biar kamu mengerti. Jadi, setiap agama pasti punya kitab sendiri. Kitab itu sebagai landasan kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Seperti halnya kami, umat muslim. Kami berpegang Teguh pada Al-Quran dan sunnah Nabi. Semua hal telah diatur dalam Islam, dari kita bangun tidur, bermuamalah, bahkan sampai masalah pernikahan."


Gue manggut-manggut, paham lah kalo ini. Makanya bokap sering bilang kalo Islam itu ribet.


"Seperti Firman Allah dalam surah Al-Mumtahanah ayat 10. Bahwasanya wanita muslimah tidak halal bagi laki-laki kafir (non muslim)."


"Sebab dalam hukum Islam, hak suami menuntut adanya kelebihan dari hak istri. Sebagaimana Firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 34. Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)."


Gue masih menatap dan menyimak penjelasan Fikri. Ini sesuatu hal yang baru gue dengar. Berarti pernikahan yang pernah terjadi antara bokap gue sama mantan istrinya dulu itu. Nggak sah dong?


"Nah, apabila pernikahan itu terjadi, maka hak-hak yang ada dalam ayat tersebut tidak akan tercapai. Seperti dalam surat An-Nisa ayat 141. Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir, untuk memusnahkan orang-orang yang beriman."


Oh jadi kaya gitu.


"Secara naluri zhahir maupun bathin, seorang istri lebih lemah dibanding suami. Padahal Rasullullah saw bersabda bahwa 'Islam itu tinggi, dan tidak bisa diungguli oleh agama apapun'."


"Kalau gue mau nikahin Thifa, berarti gue harus masuk Islam?"


"Ya, tapi saya harap kamu tidak main-main dengan keputusan kamu. Nanti setelah kamu mendapatkan Thifa, lalu kamu kembali dengan ajaran kamu sebelumnya dan membawa Thifa pergi."


Astaga, kenapa dia bisa berpikiran seperti itu? Mana mungkin lah gue bawa kabur anak orang.


"Memang apa yang mendasari kamu untuk menikah dengan Thifa? Bukannya kalian tidak saling kenal?" Fikri menautkan kedua alisnya. Curiga dia.


Gue tersenyum kecil. "Cinta pada pandangan pertama, Bro."


Dia terkekeh. "Okey, okey, saya paham."


"Fik, gue boleh nanya-nanya nggak tentang masa lalu Thifa, mantan suaminya, keluarganya gitu?"


"Maaf, saya bukannya nggak mau cerita, itu jatuhnya kita ngomongin orang. Mending kamu fokus aja belajar ngaji, fokus ambil hati Thifa. Gimana caranya biar Thifa tertarik sama kamu. Contoh, rambut kamu potong gih. Thifa kurang suka sama cowok yang nggak rapi."


Gue mengacak rambut yang dikuncir. Sambil nyengir kuda ke arah Fikri. Emang kayanya harus dipotong sih.


"Loe dukung gue?"


"Saya hanya ingin membantu kamu mengenal Islam secara kaffah. Saya akan membimbing kamu agar istiqomah. Oh iya, kamu sudah khitan?"


"Khitan? Sunat maksud loe?"


"Iya."


Gue menggeleng. "Emang harus?"


"Iya, harus itu. Nanti setelah kamu benar-benar serius dengan keputusan kamu. Lalu kamu berikrar mengucap dua kalimat syahadat. Selanjutnya kamu harus dikhitan."


"Aw." Spontan gue megang tengah ************.


Seberapa besar pisau yang bakal dipakai buat motong punya gue ya? Yang gue tahu kalau sunat itu cuma dilakuin waktu masih kecil. Kaya teman-teman gue dulu. Oh no.


💕💕💕


*Tbc.


Jangan lupa like dan komennya ya gaesss*

__ADS_1


__ADS_2