
Thifa POV
💎💎💎
Esoknya. Seperti biasa aku hendak berangkat mengajar. Tiba-tiba saja Abi mengajakku untuk pergi ke sebuah tempat. Terpaksa hari ini aku izin untuk tidak masuk kelas.
Aku dan Abi sudah berada di sebuah ruangan, ruang tamu khusus di pesantren ini. Biasanya dipakai jika ada tamu penting. Seperti para habaib, alim ulama, pejabat daerah, mereka yang ingin membuat acara seperti tabligh akbar atau pun maulid nabi berkumpulnya di sini.
Aku dan Abi memintaku duduk di sofa. Sepasang suami istri ternyata telah menunggu kami. Seorang pria yang wajahnya tak asing untukku. Biasa terlihat di stasiun televisi, dan mengisi beberapa ceramah di mesjid-mesjid. Videonya pun banyak beredar di youtube.
Sementara perempuannya aku tak pernah melihatnya, kemungkinan itu adalah istrinya. Mereka berdua sangat serasi, dengan memakai pakaian warna senada satu sama lain.
Sang pria dengan jenggot tipis mengenakan koko hitam dan pecinya, juga celana panjang warna hitam. Sementara wanita di sebelahnya mengenakan gamis hitam dengan jilbab besar berwarna hitam juga. Wajah keduanya tampak bersinar, tampan dan cantik.
"Assalamualaikum," sapa Abi.
"Waalaikum salam, Pak Ustadz," jawab si pria seraya menjabat tangan Abi.
Aku menangkupkan kedua tangan di depan dada, lalu menyalami wanita di sebelahnya. Kemudian duduk bersisian dengan Abi, dan berhadapan dengan keduanya.
"Maaf, kedatangan kami pagi-pagi mungkin mengganggu," ucap sang pria.
"Owh, tidak apa, Pak. Mungkin ada yang bisa kami bantu? Sampai Pak Ikhsan ini pagi-pagi datang ke pesantren kami." Abi pun mulai bertanya perihal maksud dan tujuan kedatangan tamunya itu.
"Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri dulu di hadapan Putri Pak Ustadz. Nama saya Muhammad Ikhsan, ini istri saya Nur Aisyah Wulandari."
Aku mengangguk dan tersenyum. Lalu kembali memperhatikan pria di depanku ini berbicara. Namun, perasaanku mulai tidak enak, saat tanpa sengaja melihat pria di depanku itu mengedipkan satu mata ke arahku. Genit.
"Saya dengar, Putri Pak Ustadz ini sedang mencari jodoh. Maka dari itu saya datang kemari untuk menyatakan kalau saya berminat mempersunting putri Pak Ustadz yang bernama Thifa menjadi istri kedua saya," ujar pria bernama Ikhsan itu secara terang-terangan.
Aku melotot, tak percaya. Bisa-bisanya pria ini bicara ingin meminangku di hadapan istrinya sendiri. Apakah pria ini menganut poligami? Begitu juga dengan istrinya.
Aku menoleh ke arah Abi. Tampaknya, beliau juga kaget dengan ucapan pria itu.
__ADS_1
"Bagaimana Pak Ustadz?" tanyanya.
"Sebabnya apa? Bukankah Pak Ikhsan sudah memiliki istri?" tanya Abi, satu pemikiran denganku.
"Jadi begini, Pak. Saya dan istri saya ini sudah tiga tahun menikah tapi belum dikaruniai seorang anak. Beliau mengizinkan saya menikah lagi, dengan syarat saya menikahi seorang janda yang sudah memiliki anak. Maka dari itu saya mengajukan diri setelah tahu kalau ternyata putri Bapak adalah seorang janda."
"Saya janji akan membahagiakan Dek Thifa, menafkahi dan memberikan kehidupan yang cukup. Kebetulan saya punya tiga rumah, yang sudah saya siapkan untuk calon anak saya. Berhubung saya belum memiliki anak, maka rumah itu akan saya berikan untuk istri-istri saya."
Aku tertawa kecil. Masa aku harus kembali menjadi istri kedua hanya untuk mendapatkan anak. Dia pikir aku ini apa? Jangan mentang-mentang aku janda, lalu dia seolah ingin membeliku.
Aku menunggu jawaban dari Abi, semoga saja beliau punya jawaban bijak yang bisa menggagalkan niat si pria ini. Baru tiga tahun menikah saja sudah ingin menikah lagi. Istrinya juga cantik, mungkin saja kan ini ujian untuk mereka. Karena kutahu pria ini sibuk mengisi kajian.
"Wah, sebelumnya saya mohon maaf. Saya tidak berani menolak, atau pun menerima. Karena kelak yang akan menjalani rumah tangga adalah putri saya. Saya percaya kalau Pak Ikhsan ini akan menjamin kehidupan anak saya. Tetapi, berikan waktu untuk anak saya mengambil keputusan," ucap Abi.
Kenapa Abi tidak langsung menolaknya?
"Bagaimana, Dek Thifa. Kalau Dek Thifa menerima, minggu depan saya langsung datang ke sini untuk melamar," ujarnya lagi.
Tanganku seketika berkeringat. Debaran di dadaku pun semakin cepat. Bayangan akan masa lalu, saat aku menjadi istri kedua Mas Athar kembali muncul. Betapa aku merasa bersalah akan semua ketidak tahuanku. Bahkan sampai semuanya terbongkar aku masih merasa bersalah. Meskipun Mbak Syahilla akhirnya menerimaku.
"Maaf, Mas Ikhsan. Saya sudah memilik pria pilihan. Insya Allah sebulan lagi dia juga akan datang untuk melamar saya," ucapku tiba-tiba.
Entan kenapa bayangan cowok itu selalu menari di benakku. Meskipun aku tidak terlalu banyak berharap dia datang. Paling tidak, aku terlepas dari pria yang satu ini.
"Yang dikabarkan pria itu bukannya mualaf? Dek Thifa yakin ingin menikah dengan seorang mualaf? Membaca alquran saja mungkin dia belum bisa, bagaimana akan menjadi pemimpin rumah tangga, Imam Dek Thifa."
Astagfirullah.
"Astaghfirullah, Mas Ikhsan tidak boleh merendahkan seseorang, lalu membandingkannya dengan diri sendiri. Saya tahu, Mas Ikhsan aktif di kajian, sering ngisi acara di televisi. Harusnya bisa bersikap lebih sopan, menjaga nama baik. Bukan takabur seperti ini," selorohku kesal.
Baru ini aku melihat seorang yang dikagumi banyak orang. Karena ucapannya saat memberi tausiyah. Nyatanya berbanding kebalik dengan aslinya. Ke mana ilmu yang ia dapat?
"Dek Thifa ndak usah jual mahal, Dek Thifa itu hanya seorang janda dengan anak tuna netra. Masih beruntung yang melamar saya, semua orang kenal saya. Keluarga Dek Thifa bisa naik nanti status sosialnya."
__ADS_1
Aku semakin sesak mendengar ucapannya yang terus menerus merendahkanku. Kulirik Abi, tangannya mengepal. Beliau juga pasti tidak terima, putri kesayangannya itu dihina dan diinjak-injak martabatnya.
"Maaf, Pak Ikhsan. Putri saya sudah menolak anda. Sudah jelas, kan?" ucap Abi dengan nada serak. Menahan amarah sepertinya.
"Baik, Pak Ustadz. Saya terima penolakan ini. Terima kasih. Ayo, Sayang. Buang-buang waktu saja. Sudah mending ada yang mau nikahin." Pria itu bangkit seraya menarik tangan sang istri untuk pergi meninggalkan ruangan ini.
Tanganku mengepal, menunduk. Tanpa sadar, pipiku telah basah. Air mata tak bisa kubendung. Abi merengkuh bahuku, semakin aku terisak di bahunya. Karena dada ini semakin sesak. Betapa buruknya sebuah predikat janda di mata orang-orang. Sebaik apa pun akhlak kita, secantik apa pun rupa kita. Janda tetaplah janda.
💎💎💎
Siangnya aku kembali ke pesantren. Setelah sholat dhuhur berjamaah di masjid, aku masuk ke ruang guru. Duduk menatap tumpukan tugas para santri yang belum sempat kunilai.
Tubuhku lemas, masih teringat jelas perkataan pria tadi.
"Dek Thifa ndak usah jual mahal, Dek Thifa itu hanya seorang janda dengan anak tuna netra. Masih beruntung yang melamar saya, semua orang kenal saya. Keluarga Dek Thifa bisa naik nanti status sosialnya."
Dada ini rasanya sakiiiit sekali. Ya Allah, ampuni hambamu ini. Terlalu sering mengeluh, terlalu banyak meminta.
"Assalamualaikum, cantik," sapa seseorang.
Aku menoleh, seketika jantungku nyaris copot melihat sesosok pria sudah duduk di depanku sambil tersenyum. Taufan.
Aku celingukan, melihat ke sekitar. Mereka biasa saja melihat Taufan masuk ke ruangan ini. Bahkan seolah tak sadar. Sementara aku, terkejut bukan main.
"Ka-kamu, kenapa bisa ada di sini?" tanyaku gugup seraya mengusap ujung mata yang berair. Untungnya belum sempat tumpah air mataku, malu kalau sampai aku menangis di hadapan cowok tengil ini.
"Aku juga nggak tahu, ada apa sih? Tiba-tiba Abi kamu telepon, suruh aku datang siang ini, trus beliau juga nyuruh aku cepat-cepat melamar kamu minggu ini," ucapnya tanpa dosa.
"Apa?"
Aku memijat kening, seketika kepalaku pening. Abi langsung memutuskan secara sepihak, tanpa persetujuanku? Jangan-jangan ucapanku tadi dianggap keputusanku untuk menerima pinangan cowok ini. Makanya Abi langsung menelponnya.
💎💎💎
__ADS_1
Bersambung.
Vote dan komennya jangan lupaa yaaa.