
Thifa POV
.
.
Semua pekerjaan rumah akhirnya
selesai juga. Setelah tadi pagi sebuah tragedy terjadi. Sebenarnya aku merasa
bangga memiliki suami yang begitu perhatian. Dia ingin meringankan pekerjaanku,
sayangnya malah kacau. Jujur saja, tadi aku geli kepingin tertawa melihat akar
bayam mengapung di dalam panci. Tapi, aku menghargainya dan mencoba untuk tidak
menertawakannya.
Cucian yang tadi sudah dicuci
akhirnya harus kubilas ulang. Dan sekarang semua sudah terjemur. Kini aku ingin
membuat materi untuk pengajian nanti siang.
Membahas tentang kenakalan remaja
memang tak akan pernah ada habisnya. Apalagi dengan adanya perkembangan zaman. Di
mana teknologi digital membuat dunia berada di dalam genggaman. Tontonan yang
tak seharusnya mereka lihat, dengan mudahnya diakses. Tanpa pengawasan langsung
dari orang tua.
Itulah sebabnya aku amat takut,
jika melepas putraku sekolah di luar sana. Meskipun di rumah kami menjaganya
dengan baik. Tidak menutup kemungkinan di luar sana ia akan terjerumus dengan
pergaulan eman-temannya.
Banyak orang tua yang kalah oleh
anak, apa saja yang anak inginkan selalu dituruti. Dengan dalih rasa sayang. Atau
anak yang sejak kecil kurang diberikan pendidikan ilmu agama. Sehingga sewaktu
ia beranjak dewasa tak mengerti bagaimana memperlakukan orang tua mereka dengan
baik, mengabdi, membantu kedua orang tua
yang sudah susah payah membesarkannya.
Seperti kasus tetanggaku dulu. Anaknya
keluar dari pondok dengan alasan tidak betah. Dia bilang terlalu banyak aturan
di dalam pesantren, sementara dia ingin bebas. Jelas, di pondok itu santri
sudah harus menaati peraturan dari dia bangun tidur, sampai hendak tidur lagi. Dari
mulai mandi, makan, semua harus mengantri. Untuk melatih kesabaran satu sama
lainnya.
Akhirnya anak itu keluar, orang
tuanya takut terjadi apa-apa jika anak itu tetap dibiarkan berada di pondok. Padahal
kami para pengajar, jika diberi kepercayaan penuh untuk mendidik mereka yang
memiliki rasa yang sama. Kami bisa membantunya, bukan malah menuruti kemauan
sang anak. Yang mana pada akhirnya aku mendengar kabar kalau anak itu masuk
penjara, terkena razia narkotika di sebuah tempat club malam. Naudzubillah.
***
Tanpa terasa waktu sudah
menunjukkan angka dua belas siang. Suara azan Zuhur pun baru selesai
berkumandang. Aku bergegas ke kamar mandi untuk bersiap-siap melaksanakan
sholat lalu berganti pakaian.
Benar saja baru selesai memakai
jilbab. Sudah terdengar suara salam dari depan pintu. cepat-cepat aku mengambil
tas dan memasukkan ponsel ke dalamnya. Kemudian ke luar menuju arah suara.
“Assalamualaikum, Ustadzah. Sudah
siap?” tanya Bu Fatimah.
“Waalaikum salam, Bu. Sudah yuk!”
kataku sambil mengunci pintu.
Kami berjalan menuju ke masjid
tak jauh dari rumah, terletak di ujung gang bersebrangan dengan jalan raya. Hanya
saja, aku tak melihat ibu-ibu lain dari rumah-rumah yang kulewati tadi.
“Yang ngaji kita berdua aja, Bu?”
tanyaku heran.
“Enggak, kok, Ustadzah. Di sana
nanti banyak jamaahnya.”
“Tapi kok ibu-ibu di sini nggak
ada yang ikutan? Tuh pada ngobrol di luar.” Aku menunjuk sekumpulan ibu-ibu
yang sedang asyik duduk-duduk sambil berbincang dan tertawa. Melihat kami lewat
pun mereka acuh.
“Yah, ibu-ibu sini sih susah,
Ustadzah. Ya yang mau aja ngaji, atau kalau pas ngajinya dapet berkat makanan. Baru
deh pada dateng,” jelas Bu Fatimah.
Aku hanya tersenyum kecil,
kupikir di tempatku saja. Meskipun banyak yang tinggal di wilayah pesantren. Tidak
sedikit juga ibu-ibu yang memiliki kesadaran akan pentingnya sebuah ilmu
tentang agama. Minimal untuk diri kita sendiri dan keluarga.
Sesampainya kami di masjid,
ternyata memang benar sudah banyak yang datang. Aku disambut dengan salam dan
jabat tangan. Bahkan ada yang hendak mencium tanganku, tapi kutolak. Karena kulihat
usia mereka lebih tua dari pada aku. Malah seharusnya aku yang mencium tangan
mereka, seperti orang tuaku sendiri.
“Wah, ustadzahnya cantik. Kalau begini
sih, saya betah nih,” celetuk seorang ibu paruh baya. Aku hanya tersenyum
menanggapi.
“Udah menikah belum, Ustadzah? Saya
punya anak cowok, ganteng deh.” Kini seorang ibu paruh baya dengan jilbab biru
menawarkan putranya padaku. Aku tertawa kecil mendengarnya.
Bu Fatimah mengantarku duduk di
bagian tengah. Ia juga memperkenalkan aku dengan teman-temannya yang lain. Salah
satunya ketua majlis taklim tersebut.
Sebelum acara dimulai, Bu Fatimah
sebagai MC membuka acara dengan shalawat. Setelah itu acara dialihkan padaku
untuk membawakan tausyiah seperti tema yang diminta. Yakni, tentang kenakalan
remaja.
Masa remaja adalah masa yang
penuh dengan tantangan. Di mana dalam kehidupannya, banyak konflik yang terjadi
di masa pengembangan jiwa remaja itu sendiri. terjadinya goncangan perasaan
yang disebabkan oleh ketidakserasian antara keluarga, tempat pendidikan, teman,
dan lingkungan sekitar. Karena usia remaja itu sangatlah rawan untuk terjerumus
dalam hal-hal atau tindak criminal seperti pemakaian narkotika, free sex,
tawuran, bullying dll. Dan itu menjadi tugas yang berat bagi kita sebagai orang
tua. Selain membesarkan, merawat, kita juga harus mengawasi anak-anak kita di
usia remajanya. Jangan sampai mereka salah pegaulan.
Berikut dalil mengenai kenakalan
__ADS_1
remaja. Sebagai berikut :
1. Al-Isra :33
وَلَا تَقۡتُلُواْ
ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّۗ وَمَن قُتِلَ مَظۡلُومٗا
فَقَدۡ جَعَلۡنَا لِوَلِيِّهِۦ سُلۡطَٰنٗا
فَلَا يُسۡرِف فِّي ٱلۡقَتۡلِۖ إِنَّهُۥ كَانَ مَنصُورٗا
٣٣
Artinya: “ Dan janganlah
kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu
(alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya
Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris
itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat
pertolongan.” (QS: 17:33)
1. Al-Maidah : 38
وَٱلسَّارِقُ
وَٱلسَّارِقَةُ فَٱقۡطَعُوٓاْ أَيۡدِيَهُمَا جَزَآءَۢ بِمَا كَسَبَا نَكَٰلٗا
مِّنَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ٣٨
Artinya : “Laki-laki yang
mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai)
pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan
Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS: 5: 38)
2. Ayat tentang Kenakalan Remaja
3. Al-Hujurat : 11
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ
ءَامَنُواْ لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٞ مِّن قَوۡمٍ عَسَىٰٓ
أَن يَكُونُواْ خَيۡرٗا مِّنۡهُمۡ وَلَا
نِسَآءٞ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ
خَيۡرٗا
مِّنۡهُنَّۖ وَلَا تَلۡمِزُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَلَا تَنَابَزُواْ بِٱلۡأَلۡقَٰبِۖ
بِئۡسَ ٱلِٱسۡمُ ٱلۡفُسُوقُ بَعۡدَ ٱلۡإِيمَٰنِۚ وَمَن لَّمۡ يَتُبۡ
فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ١١
Artinya : “Hai orang-orang
yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang
lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula
sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan
itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil
dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan)
yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah
orang-orang yang zalim” (QS : 49: 11)
1. Al-Isra : 32
وَلَا تَقۡرَبُواْ
ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا ٣٢
Artinya : “Dan janganlah kamu
mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan
suatu jalan yang buruk” (QS : 17:32)
1. 5 Hadits tentang “Kriminalitas & Kenakalan Remaja”
2. Hadits tentang Kriminalitas
مَنْ
قَتَلَ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا دُفِعَ إِلَى أَوْلِيَاءِ المَقْتُولِ، فَإِنْ
شَاءُوا قَتَلُوا، وَإِنْ شَاءُوا أَخَذُوا الدِّيَةَ، وَهِيَ ثَلَاثُونَ حِقَّةً،
لَهُمْ، وَذَلِكَ لِتَشْدِيدِ العَقْلِ
Artinya : “Barangsiapa yang membunuh dengan sengaja, maka ia diserahkan
kepada keluarga terbunuh. Apabila mereka menghendaki, maka membunuhnya, dan
apabila mereka menghendaki ambillah diyat, yaitu tigapuluh ekor unta hiqqah,
tiga pukuh ekor unta jadzaah, dan empat puluh ekor unta khalafah. Hasil
perdamaian itu untuk mereka (ahli waris). Demikian itu untuk menakutkan
terhadap pembunuhan. (HR. Tirmidzi)
عن عائشة رضي الله
عنهما أن قريشا أهمهم شأن المرأة المخزمية التى سرقت فقالوا : من يكلم فيها رسول
الله صلى الله عليم وسلم فقالوا : ومن يجترىء عليه إلا أسامة حب رسول الله صلى
الله عليه وسلم فكلمه أسامة , فقال رسول الله صلى الله عليم وسلم : أتشفع فى حد من
حدود الله ثم قام فاختبط. فقال : أيها الناس إنما أهلك الذين قبلكم أنهم كانوا إذا
سرق فيهم الشريف تركوه وإذا سرق فيهم الضعيف أقاموا عليه الحد وأيم الله , لو أن
فاطمة بنت محمد سرقت لقطعت يدها. (رواه الشيخان)
Artinya : “Diriwayatkan dari Sayyidatina Aisyah r.a., katanya,
“Sesungguhnya kaum Quraisy merasa bingung dengan masalah seorang wanita dari
kabilah Makhzumiah yang telah mencuri. Mereka berkata, “Siapakah yang berani
memberi tahu masalah ini kepada Rasulullah SAW. Dengan serentak mereka
menjawab, “Kami rasa hanya Usamah saja yang berani memberitahukannya, karena
dia adalah kekasih Rasulullah SAW. Maka Usamah pun berangkat untuk memberi tahu
kepada Rasulullah SAW. Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Jadi, maksud kamu adalh
memohon syafaat (agar terbebas) dari ketetapan Allah ? Kemudian beliau berdiri
dan berpidato. Wahai sekalian manusia, sesungguhnya yang menyebabkan binasanya
umat-umat sebelum kamu adalah dikarenakan apabila mereka mendapati orang
terhormat yang mencuri, mereka membiarkannya. Akan tetapi, apabila mereka
mendapati orang lemah di antara mereka yang mencuri, maka mereka menjatuhkan
hukuman kepadanya. Demi Allah, sekiranya Fatimah binti Muhammad yang mencuri,
maka aku sendirilah yang akan memotong tangannya. (HR. Asy-Syaikhani).
حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ
عَلِيٍّ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ قَالَ
أَبُو الزُّبَيْرِ قَالَ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ عَلَى الْمُنْتَهِبِ قَطْعٌ وَمَنْ
انْتَهَبَ نُهْبَةً مَشْهُورَةً فَلَيْسَ مِنَّا
Artinya : “Tidak ada hukuman
potong tangan bagi perampas, & barangsiapa merampas secara terang-terangan
maka ia bukan dari golongan kami.” [HR.
Abudaud No.3817].
2. Hadits tentang Kenakalan Remaja
عن أنس بن مالك رضي
الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم أتي برجل قد شرب الخمر فجلده بجريدتين نحو
أربعين , قال : وفعله أبو بكر , فلما كان عمر استشار الناس, فقال عبد الرحمن بن
عوف : أخف الحدود ثمانون , فأمر به عمر رضي الله عنه. ( متفق عليه).
Artinya :“Diriwayatkan dari
Anas bin Malik r.a., katanya: “Sesungguhnya seorang lelaki yang meminum arak
telah di hadapkan kepada Nabi SAW., kemudian beliau memukulnya dengan dua
pelepah kurma sebanyak empat puluh kali. Anas berkata lagi, “hal tersebut juga
dilakukan oleh Abu Bakar”. Ketika Umar meminta pendapat dari orang-orang
__ADS_1
(mengenai hukuman tersebut), Abdurrhman bin Auf berkata, “Hukuman yang paling
ringan (menurut ketetapan Al-Qur’an) adalah delapan puluh kali pukulan”.
Kemudian Umar pun menyuruhnya demikian”.( HR. Muttafaq ‘Alaih).
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ
اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لاَ يَزْنِى الزَّانِى حِيْنَ يَزْنِى وَ هُوَ
مُؤْمِنٌ. وَ لاَ يَسْرِقُ السَّارِقُ حِيْنَ يَسْرِقُ وَ هُوَ مُؤْمِنٌ. وَ لاَ
يَشْرَبُ اْلخَمْرَ حِيْنَ يَشْرَبُهَا وَ هُوَ مُؤْمِنٌ. مسلم 1: 76
Artinya : “Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW
bersabda, “Tidaklah berzina seorang yang berzina ketika dia berzina itu dalam
keadaan iman. Dan tidaklah mencuri seorang pencuri ketika mencuri itu dalam
keadaan iman. Dan tidak pula meminum khamr (seorang peminum khamr) ketika
meminumnya itu dalam keadaan iman.” [HR. Muslim juz 1, hal. 76].
Setelah aku menjabarkan dan
menyebutkan beberapa ayat juga hadis nabi. Aku mulai membuka pertanyaan untuk
para jamaah yang hadir.
“Ustadzah, bagaimana caranya kita
orang tua nih. Biar anak tuh nggak melawan gitu. Soalnya anak saya kalo
dibilangin galakan dia.” Ibu berjilbab putih di dengan tahi lalat dihidung
mengajukan pertanyaan pertama.
“Dengan ibu siapa?” tanyaku.
“Saya Ibu Ani, Ustadzah.”
“Baik Ibu Ani, saya akan mencoba memberikan ulasan sedikit. Tahukah
ibu bahwa anak adalah peniru ulung orang tuanya. Bisa jadi, yang dilakukan anak
terhadap kita, itu karena mereka melihat kita memerlakukan mereka. Bagaimana
bisa, anak yang kita didik dengan baik, bertutur kata lembut, diajarkan sopan
santun. Bisa melawan kita? Pasti dia tak akan tega dan mengerti bagaimana adab
terhadap orang tua. Saya tidak menuduh Ibu bersikap buruk atau menuduh cara ibu
mendidik sang putra. Hanya saja sebagian orang tua itu mereka hanya ingin
dimengerti, tanpa mau memngerti perasaan anak. Nah, ketika anak melawan, kita
langsung sebut dia anak durhaka. Padahal kemarin-kemarin kita seriiing banget
marahin dia. Betl apa betul?”
Suara riuh menggema, semua merasa
demikian. Ibu-ibu pasti suka banget ngomelin anaknya. Salah dikit ngomel.
“Makasih, Ustadzah. Saya jadi
tersentil.” Bu Ani terlihat malu-malu.
“Ustadzah, di lingkungan saya
nih. Ada anak abege sering nongkrong, mereka pasang-pasangan gitu. Saya pernah
lihat mereka ciuman di tempat gelap. Mana raba-raba tuh tangan ke mana-mana. Yang
jadi pertanyaan saya nih. Gimana ya bilanginnya gitu, negur mereka. Soalnya kalau
langsung ke orang tuanya, saya takut tuh anak-anak bakalan dimarahin. Kalau ke
RT saya juga takut, kalau bilangin langsung saya juga takutnya anak-anak itu
dendam sama saya dan keluarga saya. Mohon solusinya, ya Ustadzah.” Ibu bertubuh
gemuk dengan jilbab hitam itu bertanya dan jamaah lain menatap erat.
Ini bukan masalah pertanyaannya,
bagiku itu adalah masalah serius. Di mana para remaja sudah tak lagi punya urat
malu. Mereka menganggap apa yang mereka lakukan itu adalah hal biasa. Padahal amat
berdampak nantinya pada kehidupan mereka kelas.
“Maaf dengan ibu siapa?” tanyaku.
“Saya Bu Diyan.”
“Terima kasih, Bu Diyan. Baik ibu-ibu,
pertanyaan Bu Diyan ini amat serius, ya. Di mana dosa zina itu azabnya akan
terkena satu kampung. Empat puluh tahun dosa kita tak diampuni. Menurut buku
yang saya baca. Meskipun Allah memang maha pengampun, tapi di akherat kelak
yang akan dipertangungjawabkan adalah para orang tua.”
“Bu Diyan, kalau Ibu takut. Saya sarankan
Ibu pindah dari tempat ibu tinggal sekarang. Lingkungan sekitar ibu sudah tidak
sehat. Nggak menutup kemungkinan kelak akan berdampak ke anak-anak kita. Laporkan
pada orang tuanya, dengan bukti dan minta untuk merahasiakan siapa yang melapor
dalam hal ini Bu Diyan sebagai pelapor.”
“Banyak kemungkinan yang akan
terjadi setelah kita memberitahukan hal tersebut dengan orangg tua, ketua RT
atau langsung ke anaknya. Kalau orang tuanya nggak peka, nggak percaya, mereka
akan cuek. Atau hanya mengurung anaknya dalam beberapa hari saja. Kalau digerebek
RT, palingan hanya akan dipermalukan selama beberapa hari saja. Anak zaman
sekarang itu lebih pintar, kita larang di sini. Mereka akan mencari tempat lain
yang bisa saja lebih berani dari yang sekarang. Hotel melati misalnya.”
“Salah satu cara hanya melaporkan
pada orang tuanya. Setelah Itu sebisa mungkin kita menghidari tempat tersebut. Biar
nanti menjadi urusan orang tuanya, yang penting kita sudah mengingatkan.”
“Terima kasih, Ustadzah.”
“Sama-sama. Satu pertanyaan lagi
ya.”
“Ustadzah, saya Bu Desi. Anak saya
hobi banget tawuran. Saya capek nebus dia ke kantor polisi. Gimana caranya ya
biar dia tuh kapok.”
“Waaah anaknya hebat ya, Bu Desi,”
sindirku.
Bu Desi hanya terkekeh.
“Bu, kalau anak berbuat
kesalahan. Jangan langsung dibela. Karena apa? Mereka menganggap kalau
perbuatan itu bukanlah kesalahan besar. Jadi, kalau dia sampai dipenjara. Udah,
biarin aja, nggak usah langsung ditolongin. Seminggu aja, pasti kapok kok. Karena
di sana dia akan berpikir, hal yang paling berharga adalah kebebasan.”
“Tapi, Ustadzah. Nanti kita
dibilang nggak sayang lagi?”
“Balikin dong, Bu. Yang nggak
sayang kamu apa ibu? Ibu sama bapak udah nyekolahin kamu, banting tulang cari
uang. Kamu malah tawuran, kalau nanti kamu kenapa-napa, siapa yang kena? Kalau sampai
celaka, siapa yang rugi? Biarkan mereka berpikir, pada dasarnya anak seusia
mereka masih mudah untuk diberikan arahan yang baik sebelum masuk ke jurang
yang lebih dalam lagi.”
Akhirnya setelah aku menjawab
beberapa pertanyaan dari para ibu, aku mencoba merangkum apa yang sudah aku
jelaskan tadi. Alhamdulillah, semua ibu-ibu merasa puas dengan tausyiahku. Semoga
saja bermanfaat bagi kita semua para orang tua. Karena aku pun masih tahap
belajar.
***
__ADS_1
Bersambung.