Maukah Kau Menikah Denganku?

Maukah Kau Menikah Denganku?
Episode 37 Kenakalan Remaja


__ADS_3

Thifa POV


.


.


Semua pekerjaan rumah akhirnya


selesai juga. Setelah tadi pagi sebuah tragedy terjadi. Sebenarnya aku merasa


bangga memiliki suami yang begitu perhatian. Dia ingin meringankan pekerjaanku,


sayangnya malah kacau. Jujur saja, tadi aku geli kepingin tertawa melihat akar


bayam mengapung di dalam panci. Tapi, aku menghargainya dan mencoba untuk tidak


menertawakannya.


Cucian yang tadi sudah dicuci


akhirnya harus kubilas ulang. Dan sekarang semua sudah terjemur. Kini aku ingin


membuat materi untuk pengajian nanti siang.


Membahas tentang kenakalan remaja


memang tak akan pernah ada habisnya. Apalagi dengan adanya perkembangan zaman. Di


mana teknologi digital membuat dunia berada di dalam genggaman. Tontonan yang


tak seharusnya mereka lihat, dengan mudahnya diakses. Tanpa pengawasan langsung


dari orang tua.


Itulah sebabnya aku amat takut,


jika melepas putraku sekolah di luar sana. Meskipun di rumah kami menjaganya


dengan baik. Tidak menutup kemungkinan di luar sana ia akan terjerumus dengan


pergaulan eman-temannya.


Banyak orang tua yang kalah oleh


anak, apa saja yang anak inginkan selalu dituruti. Dengan dalih rasa sayang. Atau


anak yang sejak kecil kurang diberikan pendidikan ilmu agama. Sehingga sewaktu


ia beranjak dewasa tak mengerti bagaimana memperlakukan orang tua mereka dengan


baik, mengabdi, membantu kedua  orang tua


yang sudah susah payah membesarkannya.


Seperti kasus tetanggaku dulu. Anaknya


keluar dari pondok dengan alasan tidak betah. Dia bilang terlalu banyak aturan


di dalam pesantren, sementara dia ingin bebas. Jelas, di pondok itu santri


sudah harus menaati peraturan dari dia bangun tidur, sampai hendak tidur lagi. Dari


mulai mandi, makan, semua harus mengantri. Untuk melatih kesabaran satu sama


lainnya.


Akhirnya anak itu keluar, orang


tuanya takut terjadi apa-apa jika anak itu tetap dibiarkan berada di pondok. Padahal


kami para pengajar, jika diberi kepercayaan penuh untuk mendidik mereka yang


memiliki rasa yang sama. Kami bisa membantunya, bukan malah menuruti kemauan


sang anak. Yang mana pada akhirnya aku mendengar kabar kalau anak itu masuk


penjara, terkena razia narkotika di sebuah tempat club malam. Naudzubillah.


***


Tanpa terasa waktu sudah


menunjukkan angka dua belas siang. Suara azan Zuhur pun baru selesai


berkumandang. Aku bergegas ke kamar mandi untuk bersiap-siap melaksanakan


sholat lalu berganti pakaian.


Benar saja baru selesai memakai


jilbab. Sudah terdengar suara salam dari depan pintu. cepat-cepat aku mengambil


tas dan memasukkan ponsel ke dalamnya. Kemudian ke luar menuju arah suara.


“Assalamualaikum, Ustadzah. Sudah


siap?” tanya Bu Fatimah.


“Waalaikum salam, Bu. Sudah yuk!”


kataku sambil mengunci pintu.


Kami berjalan menuju ke masjid


tak jauh dari rumah, terletak di ujung gang bersebrangan dengan jalan raya. Hanya


saja, aku tak melihat ibu-ibu lain dari rumah-rumah yang kulewati tadi.


“Yang ngaji kita berdua aja, Bu?”


tanyaku heran.


“Enggak, kok, Ustadzah. Di sana


nanti banyak jamaahnya.”


“Tapi kok ibu-ibu di sini nggak


ada yang ikutan? Tuh pada ngobrol di luar.” Aku menunjuk sekumpulan ibu-ibu


yang sedang asyik duduk-duduk sambil berbincang dan tertawa. Melihat kami lewat


pun mereka acuh.


“Yah, ibu-ibu sini sih susah,


Ustadzah. Ya yang mau aja ngaji, atau kalau pas ngajinya dapet berkat makanan. Baru


deh pada dateng,” jelas Bu Fatimah.


Aku hanya tersenyum kecil,


kupikir di tempatku saja. Meskipun banyak yang tinggal di wilayah pesantren. Tidak


sedikit juga ibu-ibu yang memiliki kesadaran akan pentingnya sebuah ilmu


tentang agama. Minimal untuk diri kita sendiri dan keluarga.


Sesampainya kami di masjid,


ternyata memang benar sudah banyak yang datang. Aku disambut dengan salam dan


jabat tangan. Bahkan ada yang hendak mencium tanganku, tapi kutolak. Karena kulihat


usia mereka lebih tua dari pada aku. Malah seharusnya aku yang mencium tangan


mereka, seperti orang tuaku sendiri.


“Wah, ustadzahnya cantik. Kalau begini


sih, saya betah nih,” celetuk seorang ibu paruh baya. Aku hanya tersenyum


menanggapi.


“Udah menikah belum, Ustadzah? Saya


punya anak cowok, ganteng deh.” Kini seorang ibu paruh baya dengan jilbab biru


menawarkan putranya padaku. Aku tertawa kecil mendengarnya.


Bu Fatimah mengantarku duduk di


bagian tengah. Ia juga memperkenalkan aku dengan teman-temannya yang lain. Salah


satunya ketua majlis taklim tersebut.


Sebelum acara dimulai, Bu Fatimah


sebagai MC membuka acara dengan shalawat. Setelah itu acara dialihkan padaku


untuk membawakan tausyiah seperti tema yang diminta. Yakni, tentang kenakalan


remaja.


Masa remaja adalah masa yang


penuh dengan tantangan. Di mana dalam kehidupannya, banyak konflik yang terjadi


di masa pengembangan jiwa remaja itu sendiri. terjadinya goncangan perasaan


yang disebabkan oleh ketidakserasian antara keluarga, tempat pendidikan, teman,


dan lingkungan sekitar. Karena usia remaja itu sangatlah rawan untuk terjerumus


dalam hal-hal atau tindak criminal seperti pemakaian narkotika, free sex,


tawuran, bullying dll. Dan itu menjadi tugas yang berat bagi kita sebagai orang


tua. Selain membesarkan, merawat, kita juga harus mengawasi anak-anak kita di


usia remajanya. Jangan sampai mereka salah pegaulan.


Berikut dalil mengenai kenakalan

__ADS_1


remaja. Sebagai berikut :


1.       Al-Isra :33


وَلَا تَقۡتُلُواْ


ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّۗ وَمَن قُتِلَ مَظۡلُومٗا


فَقَدۡ جَعَلۡنَا لِوَلِيِّهِۦ سُلۡطَٰنٗا


فَلَا يُسۡرِف فِّي ٱلۡقَتۡلِۖ إِنَّهُۥ كَانَ مَنصُورٗا


٣٣


Artinya: “ Dan janganlah


kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu


(alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya


Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris


itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat


pertolongan.” (QS: 17:33)


1.       Al-Maidah : 38


وَٱلسَّارِقُ


وَٱلسَّارِقَةُ فَٱقۡطَعُوٓاْ أَيۡدِيَهُمَا جَزَآءَۢ بِمَا كَسَبَا نَكَٰلٗا


مِّنَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ٣٨


Artinya : “Laki-laki yang


mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai)


pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan


Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS: 5: 38)


2.       Ayat tentang Kenakalan Remaja


3.       Al-Hujurat : 11


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ


ءَامَنُواْ لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٞ مِّن قَوۡمٍ عَسَىٰٓ


أَن يَكُونُواْ خَيۡرٗا مِّنۡهُمۡ وَلَا


نِسَآءٞ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ


خَيۡرٗا


مِّنۡهُنَّۖ وَلَا تَلۡمِزُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَلَا تَنَابَزُواْ بِٱلۡأَلۡقَٰبِۖ


بِئۡسَ ٱلِٱسۡمُ ٱلۡفُسُوقُ بَعۡدَ ٱلۡإِيمَٰنِۚ وَمَن لَّمۡ يَتُبۡ


فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ١١


Artinya : “Hai orang-orang


yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang


lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula


sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan


itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil


dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan)


yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah


orang-orang yang zalim” (QS  : 49: 11)


1.       Al-Isra : 32


وَلَا تَقۡرَبُواْ


ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا ٣٢


Artinya : “Dan janganlah kamu


mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan


suatu jalan yang buruk” (QS : 17:32)


1.       5 Hadits tentang “Kriminalitas & Kenakalan Remaja”


2.       Hadits tentang Kriminalitas


مَنْ


قَتَلَ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا دُفِعَ إِلَى أَوْلِيَاءِ المَقْتُولِ، فَإِنْ


شَاءُوا قَتَلُوا، وَإِنْ شَاءُوا أَخَذُوا الدِّيَةَ، وَهِيَ ثَلَاثُونَ حِقَّةً،


لَهُمْ، وَذَلِكَ لِتَشْدِيدِ العَقْلِ


Artinya : “Barangsiapa yang membunuh dengan sengaja, maka ia diserahkan


kepada keluarga terbunuh. Apabila mereka menghendaki, maka membunuhnya, dan


apabila mereka menghendaki ambillah diyat, yaitu tigapuluh ekor unta hiqqah,


tiga pukuh ekor unta jadzaah, dan empat puluh ekor unta khalafah. Hasil


perdamaian itu untuk mereka (ahli waris). Demikian itu untuk menakutkan


terhadap pembunuhan. (HR. Tirmidzi)


عن عائشة رضي الله


عنهما أن قريشا أهمهم شأن المرأة المخزمية التى سرقت فقالوا : من يكلم فيها رسول


الله صلى الله عليم وسلم فقالوا : ومن يجترىء عليه إلا أسامة حب رسول الله صلى


الله عليه وسلم فكلمه أسامة , فقال رسول الله صلى الله عليم وسلم : أتشفع فى حد من


حدود الله ثم قام فاختبط. فقال : أيها الناس إنما أهلك الذين قبلكم أنهم كانوا إذا


سرق فيهم الشريف تركوه وإذا سرق فيهم الضعيف أقاموا عليه الحد وأيم الله , لو أن


فاطمة بنت محمد سرقت لقطعت يدها. (رواه الشيخان)


Artinya : “Diriwayatkan dari Sayyidatina Aisyah r.a., katanya,


“Sesungguhnya kaum Quraisy merasa bingung dengan masalah seorang wanita dari


kabilah Makhzumiah yang telah mencuri. Mereka berkata, “Siapakah yang berani


memberi tahu masalah ini kepada Rasulullah SAW. Dengan serentak mereka


menjawab, “Kami rasa hanya Usamah saja yang berani memberitahukannya, karena


dia adalah kekasih Rasulullah SAW. Maka Usamah pun berangkat untuk memberi tahu


kepada Rasulullah SAW. Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Jadi, maksud kamu adalh


memohon syafaat (agar terbebas) dari ketetapan Allah ? Kemudian beliau berdiri


dan berpidato. Wahai sekalian manusia, sesungguhnya yang menyebabkan binasanya


umat-umat sebelum kamu adalah dikarenakan apabila mereka mendapati orang


terhormat yang mencuri, mereka membiarkannya. Akan tetapi, apabila mereka


mendapati orang lemah di antara mereka yang mencuri, maka mereka menjatuhkan


hukuman kepadanya. Demi Allah, sekiranya Fatimah binti Muhammad yang mencuri,


maka aku sendirilah yang akan memotong tangannya. (HR. Asy-Syaikhani).


حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ


عَلِيٍّ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ قَالَ


أَبُو الزُّبَيْرِ قَالَ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ


صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ عَلَى الْمُنْتَهِبِ قَطْعٌ وَمَنْ


انْتَهَبَ نُهْبَةً مَشْهُورَةً فَلَيْسَ مِنَّا


Artinya : “Tidak ada hukuman


potong tangan bagi perampas, & barangsiapa merampas secara terang-terangan


maka ia bukan dari golongan kami.” [HR.


Abudaud No.3817].


2.       Hadits tentang Kenakalan Remaja


عن أنس بن مالك رضي


الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم أتي برجل قد شرب الخمر فجلده بجريدتين نحو


أربعين , قال : وفعله أبو بكر , فلما كان عمر استشار الناس, فقال عبد الرحمن بن


عوف : أخف الحدود ثمانون , فأمر به عمر رضي الله عنه. ( متفق عليه).


Artinya :“Diriwayatkan dari


Anas bin Malik r.a., katanya: “Sesungguhnya seorang lelaki yang meminum arak


telah di hadapkan kepada Nabi SAW., kemudian beliau memukulnya dengan dua


pelepah kurma sebanyak empat puluh kali. Anas berkata lagi, “hal tersebut juga


dilakukan oleh Abu Bakar”. Ketika Umar meminta pendapat dari orang-orang

__ADS_1


(mengenai hukuman tersebut), Abdurrhman bin Auf berkata, “Hukuman yang paling


ringan (menurut ketetapan Al-Qur’an) adalah delapan puluh kali pukulan”.


Kemudian Umar pun menyuruhnya demikian”.( HR. Muttafaq ‘Alaih).


عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ


اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لاَ يَزْنِى الزَّانِى حِيْنَ يَزْنِى وَ هُوَ


مُؤْمِنٌ. وَ لاَ يَسْرِقُ السَّارِقُ حِيْنَ يَسْرِقُ وَ هُوَ مُؤْمِنٌ. وَ لاَ


يَشْرَبُ اْلخَمْرَ حِيْنَ يَشْرَبُهَا وَ هُوَ مُؤْمِنٌ. مسلم 1: 76


Artinya : “Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW


bersabda, “Tidaklah berzina seorang yang berzina ketika dia berzina itu dalam


keadaan iman. Dan tidaklah mencuri seorang pencuri ketika mencuri itu dalam


keadaan iman. Dan tidak pula meminum khamr (seorang peminum khamr) ketika


meminumnya itu dalam keadaan iman.” [HR. Muslim juz 1, hal. 76].


Setelah aku menjabarkan dan


menyebutkan beberapa ayat juga hadis nabi. Aku mulai membuka pertanyaan untuk


para jamaah yang hadir.


“Ustadzah, bagaimana caranya kita


orang tua nih. Biar anak tuh nggak melawan gitu. Soalnya anak saya kalo


dibilangin galakan dia.” Ibu berjilbab putih di dengan tahi lalat dihidung


mengajukan pertanyaan pertama.


“Dengan ibu siapa?” tanyaku.


“Saya Ibu Ani, Ustadzah.”


“Baik Ibu Ani,  saya akan mencoba memberikan ulasan sedikit. Tahukah


ibu bahwa anak adalah peniru ulung orang tuanya. Bisa jadi, yang dilakukan anak


terhadap kita, itu karena mereka melihat kita memerlakukan mereka. Bagaimana


bisa, anak yang kita didik dengan baik, bertutur kata lembut, diajarkan sopan


santun. Bisa melawan kita? Pasti dia tak akan tega dan mengerti bagaimana adab


terhadap orang tua. Saya tidak menuduh Ibu bersikap buruk atau menuduh cara ibu


mendidik sang putra. Hanya saja sebagian orang tua itu mereka hanya ingin


dimengerti, tanpa mau memngerti perasaan anak. Nah, ketika anak melawan, kita


langsung sebut dia anak durhaka. Padahal kemarin-kemarin kita seriiing banget


marahin dia. Betl apa betul?”


Suara riuh menggema, semua merasa


demikian. Ibu-ibu pasti suka banget ngomelin anaknya. Salah dikit ngomel.


“Makasih, Ustadzah. Saya jadi


tersentil.” Bu Ani terlihat malu-malu.


“Ustadzah, di lingkungan saya


nih. Ada anak abege sering nongkrong, mereka pasang-pasangan gitu. Saya pernah


lihat mereka ciuman di tempat gelap. Mana raba-raba tuh tangan ke mana-mana. Yang


jadi pertanyaan saya nih. Gimana ya bilanginnya gitu, negur mereka. Soalnya kalau


langsung ke orang tuanya, saya takut tuh anak-anak bakalan dimarahin. Kalau ke


RT saya juga takut, kalau bilangin langsung saya juga takutnya anak-anak itu


dendam sama saya dan keluarga saya. Mohon solusinya, ya Ustadzah.” Ibu bertubuh


gemuk dengan jilbab hitam itu bertanya dan jamaah lain menatap erat.


Ini bukan masalah pertanyaannya,


bagiku itu adalah masalah serius. Di mana para remaja sudah tak lagi punya urat


malu. Mereka menganggap apa yang mereka lakukan itu adalah hal biasa. Padahal amat


berdampak nantinya pada kehidupan mereka kelas.


“Maaf dengan ibu siapa?” tanyaku.


“Saya Bu Diyan.”


“Terima kasih, Bu Diyan. Baik ibu-ibu,


pertanyaan Bu Diyan ini amat serius, ya. Di mana dosa zina itu azabnya akan


terkena satu kampung. Empat puluh tahun dosa kita tak diampuni. Menurut buku


yang saya baca. Meskipun Allah memang maha pengampun, tapi di akherat kelak


yang akan dipertangungjawabkan adalah para orang tua.”


“Bu Diyan, kalau Ibu takut. Saya sarankan


Ibu pindah dari tempat ibu tinggal sekarang. Lingkungan sekitar ibu sudah tidak


sehat. Nggak menutup kemungkinan kelak akan berdampak ke anak-anak kita. Laporkan


pada orang tuanya, dengan bukti dan minta untuk merahasiakan siapa yang melapor


dalam hal ini Bu Diyan sebagai pelapor.”


“Banyak kemungkinan yang akan


terjadi setelah kita memberitahukan hal tersebut dengan orangg tua, ketua RT


atau langsung ke anaknya. Kalau orang tuanya nggak peka, nggak percaya, mereka


akan cuek. Atau hanya mengurung anaknya dalam beberapa hari saja. Kalau digerebek


RT, palingan hanya akan dipermalukan selama beberapa hari saja. Anak zaman


sekarang itu lebih pintar, kita larang di sini. Mereka akan mencari tempat lain


yang bisa saja lebih berani dari yang sekarang. Hotel melati misalnya.”


“Salah satu cara hanya melaporkan


pada orang tuanya. Setelah Itu sebisa mungkin kita menghidari tempat tersebut. Biar


nanti menjadi urusan orang tuanya, yang penting kita sudah mengingatkan.”


“Terima kasih, Ustadzah.”


“Sama-sama. Satu pertanyaan lagi


ya.”


“Ustadzah, saya Bu Desi. Anak saya


hobi banget tawuran. Saya capek nebus dia ke kantor polisi. Gimana caranya ya


biar dia tuh kapok.”


“Waaah anaknya hebat ya, Bu Desi,”


sindirku.


Bu Desi hanya terkekeh.


“Bu, kalau anak berbuat


kesalahan. Jangan langsung dibela. Karena apa? Mereka menganggap kalau


perbuatan itu bukanlah kesalahan besar. Jadi, kalau dia sampai dipenjara. Udah,


biarin aja, nggak usah langsung ditolongin. Seminggu aja, pasti kapok kok. Karena


di sana dia akan berpikir, hal yang paling berharga adalah kebebasan.”


“Tapi, Ustadzah. Nanti kita


dibilang nggak sayang lagi?”


“Balikin dong, Bu. Yang nggak


sayang kamu apa ibu? Ibu sama bapak udah nyekolahin kamu, banting tulang cari


uang. Kamu malah tawuran, kalau nanti kamu kenapa-napa, siapa yang kena? Kalau sampai


celaka, siapa yang rugi? Biarkan mereka berpikir, pada dasarnya anak seusia


mereka masih mudah untuk diberikan arahan yang baik sebelum masuk ke jurang


yang lebih dalam lagi.”


Akhirnya setelah aku menjawab


beberapa pertanyaan dari para ibu, aku mencoba merangkum apa yang sudah aku


jelaskan tadi. Alhamdulillah, semua ibu-ibu merasa puas dengan tausyiahku. Semoga


saja bermanfaat bagi kita semua para orang tua. Karena aku pun masih tahap


belajar.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2