Maukah Kau Menikah Denganku?

Maukah Kau Menikah Denganku?
Episode 38 bokap


__ADS_3

Taufan pOV


.


.


Tepat pukul lima sore gue sampe rumah, pintu rumah terbuka tapi gue nggak lihat bini gue di sana. Bukan apa-apa,


jalanan di sini rame dan rawan, banyak kabar kalau sering ada orang masuk trus ambil barang-barang berharga kita. Dompet, uang atau handphone. Yah, meskipun nggak ada barang berharga selain itu, atau televise dan kulkas. Tapi kalau hilang ya nyesek juga. Sebenarnya yang paling berharga ya bini gue itu.


“Assalamualaikum,” sapa gue


sambil berjalan ke dalam.


“Waalaikum salam, eh, Mas udah


pulang.” Thifa keluar dari kamar menyambut kedatangan gue dan langsung mencium


punggung tangan ini.


“Kamu lagi ngapain? Pintu dibuka


begitu?” tanya gue sambil duduk melepas sepatu.


“Tadi ada tikus, Mas. Masuk kamar,


kukejar, makanya kubuka pintunya biar dia keluar.”


“Apa? Tikus? Pala item?”


“Yee … itu mah kamu.”


“Enak saja, ya udah nanti kalau


tikusnya keluar lagi bilang aja. Mas mandi dulu.”


Gue berjalan ke arah kamar mandi,


tapi langkah ini berhenti di depan meja makan. Gue melihat banyak makanan di


atas meja. Ada kue basah, nasi kotak, gue intip lauknya rending, telur balado,


sambel hijau, tahu tempe. Mantep nih.


“Sayang …,” panngil gue.


Thifa berjalan mendekat, “Kenapa,


Mas?”


“Kamu beli semua makanan ini?”


“Enggak, kok. Tadi dari pengajian


dapat itu semua.”


“Masya Allah, rezeki nomplok ini.


Pas nanggung bulan begini, masih bisa makan enak.”


“Alhamdulillah, Mas.”


“Gimana tadi pengajiannya, lancar?”


Gue yang tadinya mau mandi,


berhenti sejenak. Menarik kursi plastic, duduk, nyomot dadar gulung sambil


natap bini gue yang mulai cerita pengalamannya waktu ngisi pengajian tadi. Nggak


nyangka aja, gue punya istri yang selain jago masak, pinter ngajar, juga pinter


ceramah. Emang Allah itu maha adil. Gue yang dulunya banyak dosa, dijodohin


sama yang bisa selalu ngingetin gue kalau banyak salah.


“Pergaulan remaja zaman sekarang


sangat memprihatinkan, ya, Mas. Aku nggak nyangka saja, ada ibu-ibu yang


menanyakan itu ke aku. Kalau lingkungan sekitar dia tuh remajanya parah-parah,


semapt kudengar ada yang sampai menyewa hotel melati. Trus perempuannya Cuma dibayar


empat puluh ribu sekali bercinta. Naudubillah ….”


“Uhuk.” Gue pun tersedak


mendengar bini gue cerita.


“Masa sih? Lah murah amat, anak


sekolah?”


“Iya, anak sekolah. Jadi, mereka


itu masih satu sekolahan. Nah ada cowok pemain yang suka nawarin tuh temen


ceweknya ke temen-temen cowoknya. Tempatnya juga dia tahu sewanya di mana. Masih


SMA, Mas.”


Gue menggeleng heran, gilak anak


zaman sekarang udah berani icip-icip. Nggak takut bunting apa? Gue aja


dideketin cewek takut khilaf. Iya kalau cinta, kalau enggak trus apes tuh cewek


bunting, kudu tanggung jawab. Ogah banget. Soalnya biasanya cewek yang sekali


pernah begituan sama cowoknya, nah dia juga berani tuh sama cowok lain kalau


suatu saat diputus sama cowoknya.


“Tapi nggak hamil?” tanya gue


penasaran.


“Bu Fatimah tadi cerita, tetangga


kita ada juga yang umur empat belas tahun hamil. Trus dinikahin, suaminya sih


udah dewasa. Tapi, dari keluarga nggak mampu gitu. Pas usia kandungan enam


bulan, bayinya harus lahir, entah ada kelainan apa. Karena keluarganya nggak


mampu, akhirnya bayi itu nggak ketolong. Meninggal dunia, Mas. Kan kasihan.”


“Dobel tuh dosanya. Astaghfirullah.”

__ADS_1


“Ssst  … dosa atau enggaknya itu bukan urusan kita.”


“Iya, maaf.”


Gue membuka nasi kotak, mengambil


sendok dan mulai memotong rendang lalu memasukannya ke mulut beserta nasinya. “Kamu


udah makan, Dek?”


“Sudah, kok. Mas makan aja. Aku buatkan


kopi ya.”


“Iya, makasih, Dek.”


Thifa berlalu dari hadapan gue,


gue malahap makanan di meja. Mendengar cerita Thifa, mata dan pikiran gue kok


jadi kepikiran ke mana-mana. Mengingat almarhumah adik gue dulu. Gimana dia


bisa hamil di luar nikah, mungkin saja memang karena pergaulannya dahulu


seperti apa.


Gue juga pernah ditawarin perawan


waktu itu, dua puluh lima juta sekali kencan. Bokap masih kaya, duitnya


betebaran. Ibaratnya kalau gue mau minta pun pasti dikasih. Tap gue mikir lagi,


ah gila sekali kencan, sama orang yang nggak gue kenal, cinta juga enggak. Gimana


kalau tuh orang ternyata penyakitan, perawan apa enggaknya jug ague nggak tahu.


Bilangnya perwana pas gue celupin taunya udah nggak perawan, trus bawa


penyakit. Rugi di gue kan? Nggak mungkin jug ague lepas, ‘wah anjrit nggak ada


darah, nggak perawan’ mana bisa begitu, yang ada nanggung gue. Mau batalin dah


kadung nyelup, kalau nggak bayar bisa dilaporin ke polisi. Mending ya cari


aman, sama pasangan halal sendiri aja.


Beruntung gue kenal Thifa duluan,


jadi sebelum dosa gue bertambah banyak, gue dah keburu taubat. Alhamdulillah,


Allah masih kasih gue kesempatan ini.


***


Tiga bulan telah berlalu,


pernikahan yang gue jalani bersama Thifa Alhamdulillah masih baik-baik saja. Thifa


selalu nurut sama gue, dia juga nggak pernah menuntut apa-apa. Bahkan berapa


pun uang yang gue kasih buat sehari-hari, dia nggak pernah mengeluh sedikit


pun.


Kemarin, gue ditelepon sama Pak RT di rumah bokap, katanya


hari ini bokap balik, dia mau ke makam adik gue, Karin. Gue juga udah bilang


kalau anaknya yang paling tamvan ini sudah dewasa dan bertanggung jawab. Gue juga


bakalan bilang sama dia, gue nggak menyesal untuk menjadi seorang mualaf. Meskipun


nanti dai nggak nganggap gue jadi anaknya lagi.


“Sayang, kamu sudah siap?” tanya gue.


Thifa yang sedang berdiri di depan cermin itu menoleh. Masya


allah, cantik banget bini gue tuh. Pakai gamis putih, jilbab putih. Bibir tipisnya


diberi lipstick tipis warna pink muda. Bedaknya pun Cuma bedak bayi. Waktu gue


mau beliin dia kosmetik, dia nolak. Bilangnya sih mukannya nggak cocok, suka


jerawatan. Tapi gue yakin, dia bilang begitu bukan karen dia nggak mau. Tapi,


dia jaga perasaan gue, lebih tepatnya isi kantong dan dompet gue. Soalnya gue


tahu lah, gimana dia dulu waktu hidup sama mantan suaminya yang kaya raya itu.


jangankan kosmetik mahal, pasti semua barang pemberian almarhum suaminya


bermerk. Berbeda sama apa yang gue kasih ke dia selama ini.


“Sudah, yuk!”


Gue menggandeng tangan Thifa, dia malah berhenti berjalan


sambil natap gue dan tersenyum kecil. “Mas, emang mau nyebrang? Pake gandengan.


Nggak muat pintunya buat lewat kita berdua,” ucapnya.


Gue meringis, “Kalau lihat kamu bawaannya pengen gandengan


aja,” sahut gue.


“Kamu tuh.”


Akhirnya gue mengalah, membiarkan bini gue jalan duluan, dan


gue di belakangnya. Kami berdua naik motor kesayangan gue menuju pemakaman.


Perjalanan nggak sampai satu jam, lancar. Karena memang hari


libur. Gue lihat di depan pintu masuk pemakaman ada sebuah mobil hitam besar


yang gue kenal. Milik bokap gue, dan setelah dekat, gue lihat bokap berdiri di


bawah pohon bersama seorang wanita berambut panjang, di kepalanya sebuah


selendang berwarna hitam menjuntai.


“Assalamualaikum, Pah.” Gue mendekati bokap lalu mencium


punggung tangannya.


“Taufan!” Bokap memeluk gue erat. “Di mana makam adik kamu? Maafin


Papa waktu itu nggak bisa hadir saat Karin meninggal.”

__ADS_1


Gue Cuma mengangguk. Paham kenapa dia nggak bisa hadir,


karena sedang bersenang-senang dengan perempuan ini.


“Siapa dia, Fan?” tanya bokap menunjuk ke arah Thifa.


“Oh iya, Pah. Kenalin ini istri aku, Thifa namanya.”


Thifa tersenyum, lalu menyalami bokap. Namun, bokap gue


menatap tak percaya mungkin. “Ka-kamu … sudah menikah? Dengan wanita ini? Tanpa


persetujuan Papa?”


“Maaf, Pah. Waktu itu aku sudah pernah bilang, kalau aku


ingin berubah. Aku ingin belajar dan mengenal Islam.”


Bokap seperti enggan untuk bicara lagi, ia tak peduli dengan


ucapan dan penjelasan gue.


“Papa nggak ingin bahas itu, sekarang ayo ke makam Karin.”


Gue pun nggak ingin berdebat sama bokap sendiri, akhirnya


kami masuk ke pemakaman. Mencari makam adik gue. Perempuan yang bersama bokap


juga nggak dikenalin ke kita. Mana wajahnya menor banget kaya ondel-ondel. Apa Papa


nggak bilang kalau mau ke makam, dandanannya kaya mau dangdutan.


Sesampainya di depan makam, Thifa yang tadi saat di pintu


masuk sudah membeli bunga dan air mawar itu pun. Berjongkok, dan menabur bunga


tersebut, lalu dua plastic ia berikan ke bokap dan perempuan di sebelahnya. Kemudian


Thifa menyirami bagian atas. Thifa juga terlihat tak sungkan, mencabuti rumput


liar yang tumbuh di pinggiran makam..


Gue berdoa, dan membacakan yasin bersama Thifa. Sebelum Karin


meninggal, dia kepengen juga masuk Islam. Gue sama Thifa berharap niat baik dia


diterima sama Allah. Bokap gue sama istri barunya itu juga ikut mendoakan.


***


Pulangnya, bokap kepengen bicara sama gue, empat mata


katanya. Gue pun mengajak dia ke sebuah tempat. Masih sekitar pemakaman, dan


membiarkan Thifa bersama wanita itu.


“Papa mau ngomong apa?” tanya gue. Berharap dia nggak


membahas pernikahan gue.


“Istri kamu, mengingatkan Papa dengan mantan istri Papa


dulu. Kenapa kamu bisa tertarik dengan wanita seperti dia?” Papa menatap jauh


ke ujung jalanan.


“Coba, Papa ingat-ingat saja, kenapa dulu Papa bisa jatuh


cinta dengan wanita seperti istri aku?” tanya gue balik.


“Karena dia baik, cantik, dan nggak pernah nuntut apa pun,”


jawab bokap.


“Tepat.”


“Ah, itu baru permulaan, Fan. Nyatanya dia ninggalin Papa.”


“Bukan dia yang ninggalin Papa, tapi mungkin Papa yang nggak


bertanggung jawab.”


“Kita beda prinsip, Fan. Sampai kapan pun nggak akan bisa bersatu.”


“Tapi kalian bisa menikah.”


“Tanpa persetujuan orang tuanya, makanya kami nggak bisa


langgeng.”


“Papa marah aku menikah sama dia?”


“Papa nggak marah, hanya kecewa. Banyak gadis cantik dan


berpendidikan di luar sana yang mengantri untuk kamu nikahi. Kenapa malah pilih


dia? Lihat hidup kamu, susah kan?”


Gue terdiam sesaat, untuk bisa menjawab pertanyaan bokap


yang lama kelamaan menyindir hidup gue sama Thifa.


“Aku nggak pernah merasa susah, Pah. Memang di luar sana


banyak yang lebih cantik dan menarik. Tapi, yang bisa mengajakku ke syurganya


Allah, hanya Thifa. Aku banyak belajar sama dia.”


“Realistis lah, Fan. Kita ini hidupnya di dunia. Nggak usah


bawa-bawa syurga.”


“Hidup di dunia buat apa? Hidup yang sesungguhnya nnati,


setelah kita mati. Emang Papa mati bawa rumah? Mobil? Perempuan itu, enggak


kan?”


“Anak Papa sudah pintar ceramah rupanya. Terserah kamu, Papa


hany mengingatkan saja, kalau suatu saat kalian berpisah, bertengkar atau apa


pun itu. Jangan pernah cari Papa.” Bokap berjalan menjauh, dia pun pergi begitu


saja tanpa pamit, bahkan mengusap salampun tidak.


Gue menghampiri Thifa, dan tersenyum lalu mengajaknya pulang.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2