
Taufan pOV
.
.
Tepat pukul lima sore gue sampe rumah, pintu rumah terbuka tapi gue nggak lihat bini gue di sana. Bukan apa-apa,
jalanan di sini rame dan rawan, banyak kabar kalau sering ada orang masuk trus ambil barang-barang berharga kita. Dompet, uang atau handphone. Yah, meskipun nggak ada barang berharga selain itu, atau televise dan kulkas. Tapi kalau hilang ya nyesek juga. Sebenarnya yang paling berharga ya bini gue itu.
“Assalamualaikum,” sapa gue
sambil berjalan ke dalam.
“Waalaikum salam, eh, Mas udah
pulang.” Thifa keluar dari kamar menyambut kedatangan gue dan langsung mencium
punggung tangan ini.
“Kamu lagi ngapain? Pintu dibuka
begitu?” tanya gue sambil duduk melepas sepatu.
“Tadi ada tikus, Mas. Masuk kamar,
kukejar, makanya kubuka pintunya biar dia keluar.”
“Apa? Tikus? Pala item?”
“Yee … itu mah kamu.”
“Enak saja, ya udah nanti kalau
tikusnya keluar lagi bilang aja. Mas mandi dulu.”
Gue berjalan ke arah kamar mandi,
tapi langkah ini berhenti di depan meja makan. Gue melihat banyak makanan di
atas meja. Ada kue basah, nasi kotak, gue intip lauknya rending, telur balado,
sambel hijau, tahu tempe. Mantep nih.
“Sayang …,” panngil gue.
Thifa berjalan mendekat, “Kenapa,
Mas?”
“Kamu beli semua makanan ini?”
“Enggak, kok. Tadi dari pengajian
dapat itu semua.”
“Masya Allah, rezeki nomplok ini.
Pas nanggung bulan begini, masih bisa makan enak.”
“Alhamdulillah, Mas.”
“Gimana tadi pengajiannya, lancar?”
Gue yang tadinya mau mandi,
berhenti sejenak. Menarik kursi plastic, duduk, nyomot dadar gulung sambil
natap bini gue yang mulai cerita pengalamannya waktu ngisi pengajian tadi. Nggak
nyangka aja, gue punya istri yang selain jago masak, pinter ngajar, juga pinter
ceramah. Emang Allah itu maha adil. Gue yang dulunya banyak dosa, dijodohin
sama yang bisa selalu ngingetin gue kalau banyak salah.
“Pergaulan remaja zaman sekarang
sangat memprihatinkan, ya, Mas. Aku nggak nyangka saja, ada ibu-ibu yang
menanyakan itu ke aku. Kalau lingkungan sekitar dia tuh remajanya parah-parah,
semapt kudengar ada yang sampai menyewa hotel melati. Trus perempuannya Cuma dibayar
empat puluh ribu sekali bercinta. Naudubillah ….”
“Uhuk.” Gue pun tersedak
mendengar bini gue cerita.
“Masa sih? Lah murah amat, anak
sekolah?”
“Iya, anak sekolah. Jadi, mereka
itu masih satu sekolahan. Nah ada cowok pemain yang suka nawarin tuh temen
ceweknya ke temen-temen cowoknya. Tempatnya juga dia tahu sewanya di mana. Masih
SMA, Mas.”
Gue menggeleng heran, gilak anak
zaman sekarang udah berani icip-icip. Nggak takut bunting apa? Gue aja
dideketin cewek takut khilaf. Iya kalau cinta, kalau enggak trus apes tuh cewek
bunting, kudu tanggung jawab. Ogah banget. Soalnya biasanya cewek yang sekali
pernah begituan sama cowoknya, nah dia juga berani tuh sama cowok lain kalau
suatu saat diputus sama cowoknya.
“Tapi nggak hamil?” tanya gue
penasaran.
“Bu Fatimah tadi cerita, tetangga
kita ada juga yang umur empat belas tahun hamil. Trus dinikahin, suaminya sih
udah dewasa. Tapi, dari keluarga nggak mampu gitu. Pas usia kandungan enam
bulan, bayinya harus lahir, entah ada kelainan apa. Karena keluarganya nggak
mampu, akhirnya bayi itu nggak ketolong. Meninggal dunia, Mas. Kan kasihan.”
“Dobel tuh dosanya. Astaghfirullah.”
__ADS_1
“Ssst … dosa atau enggaknya itu bukan urusan kita.”
“Iya, maaf.”
Gue membuka nasi kotak, mengambil
sendok dan mulai memotong rendang lalu memasukannya ke mulut beserta nasinya. “Kamu
udah makan, Dek?”
“Sudah, kok. Mas makan aja. Aku buatkan
kopi ya.”
“Iya, makasih, Dek.”
Thifa berlalu dari hadapan gue,
gue malahap makanan di meja. Mendengar cerita Thifa, mata dan pikiran gue kok
jadi kepikiran ke mana-mana. Mengingat almarhumah adik gue dulu. Gimana dia
bisa hamil di luar nikah, mungkin saja memang karena pergaulannya dahulu
seperti apa.
Gue juga pernah ditawarin perawan
waktu itu, dua puluh lima juta sekali kencan. Bokap masih kaya, duitnya
betebaran. Ibaratnya kalau gue mau minta pun pasti dikasih. Tap gue mikir lagi,
ah gila sekali kencan, sama orang yang nggak gue kenal, cinta juga enggak. Gimana
kalau tuh orang ternyata penyakitan, perawan apa enggaknya jug ague nggak tahu.
Bilangnya perwana pas gue celupin taunya udah nggak perawan, trus bawa
penyakit. Rugi di gue kan? Nggak mungkin jug ague lepas, ‘wah anjrit nggak ada
darah, nggak perawan’ mana bisa begitu, yang ada nanggung gue. Mau batalin dah
kadung nyelup, kalau nggak bayar bisa dilaporin ke polisi. Mending ya cari
aman, sama pasangan halal sendiri aja.
Beruntung gue kenal Thifa duluan,
jadi sebelum dosa gue bertambah banyak, gue dah keburu taubat. Alhamdulillah,
Allah masih kasih gue kesempatan ini.
***
Tiga bulan telah berlalu,
pernikahan yang gue jalani bersama Thifa Alhamdulillah masih baik-baik saja. Thifa
selalu nurut sama gue, dia juga nggak pernah menuntut apa-apa. Bahkan berapa
pun uang yang gue kasih buat sehari-hari, dia nggak pernah mengeluh sedikit
pun.
Kemarin, gue ditelepon sama Pak RT di rumah bokap, katanya
hari ini bokap balik, dia mau ke makam adik gue, Karin. Gue juga udah bilang
kalau anaknya yang paling tamvan ini sudah dewasa dan bertanggung jawab. Gue juga
bakalan bilang sama dia, gue nggak menyesal untuk menjadi seorang mualaf. Meskipun
nanti dai nggak nganggap gue jadi anaknya lagi.
“Sayang, kamu sudah siap?” tanya gue.
Thifa yang sedang berdiri di depan cermin itu menoleh. Masya
allah, cantik banget bini gue tuh. Pakai gamis putih, jilbab putih. Bibir tipisnya
diberi lipstick tipis warna pink muda. Bedaknya pun Cuma bedak bayi. Waktu gue
mau beliin dia kosmetik, dia nolak. Bilangnya sih mukannya nggak cocok, suka
jerawatan. Tapi gue yakin, dia bilang begitu bukan karen dia nggak mau. Tapi,
dia jaga perasaan gue, lebih tepatnya isi kantong dan dompet gue. Soalnya gue
tahu lah, gimana dia dulu waktu hidup sama mantan suaminya yang kaya raya itu.
jangankan kosmetik mahal, pasti semua barang pemberian almarhum suaminya
bermerk. Berbeda sama apa yang gue kasih ke dia selama ini.
“Sudah, yuk!”
Gue menggandeng tangan Thifa, dia malah berhenti berjalan
sambil natap gue dan tersenyum kecil. “Mas, emang mau nyebrang? Pake gandengan.
Nggak muat pintunya buat lewat kita berdua,” ucapnya.
Gue meringis, “Kalau lihat kamu bawaannya pengen gandengan
aja,” sahut gue.
“Kamu tuh.”
Akhirnya gue mengalah, membiarkan bini gue jalan duluan, dan
gue di belakangnya. Kami berdua naik motor kesayangan gue menuju pemakaman.
Perjalanan nggak sampai satu jam, lancar. Karena memang hari
libur. Gue lihat di depan pintu masuk pemakaman ada sebuah mobil hitam besar
yang gue kenal. Milik bokap gue, dan setelah dekat, gue lihat bokap berdiri di
bawah pohon bersama seorang wanita berambut panjang, di kepalanya sebuah
selendang berwarna hitam menjuntai.
“Assalamualaikum, Pah.” Gue mendekati bokap lalu mencium
punggung tangannya.
“Taufan!” Bokap memeluk gue erat. “Di mana makam adik kamu? Maafin
Papa waktu itu nggak bisa hadir saat Karin meninggal.”
__ADS_1
Gue Cuma mengangguk. Paham kenapa dia nggak bisa hadir,
karena sedang bersenang-senang dengan perempuan ini.
“Siapa dia, Fan?” tanya bokap menunjuk ke arah Thifa.
“Oh iya, Pah. Kenalin ini istri aku, Thifa namanya.”
Thifa tersenyum, lalu menyalami bokap. Namun, bokap gue
menatap tak percaya mungkin. “Ka-kamu … sudah menikah? Dengan wanita ini? Tanpa
persetujuan Papa?”
“Maaf, Pah. Waktu itu aku sudah pernah bilang, kalau aku
ingin berubah. Aku ingin belajar dan mengenal Islam.”
Bokap seperti enggan untuk bicara lagi, ia tak peduli dengan
ucapan dan penjelasan gue.
“Papa nggak ingin bahas itu, sekarang ayo ke makam Karin.”
Gue pun nggak ingin berdebat sama bokap sendiri, akhirnya
kami masuk ke pemakaman. Mencari makam adik gue. Perempuan yang bersama bokap
juga nggak dikenalin ke kita. Mana wajahnya menor banget kaya ondel-ondel. Apa Papa
nggak bilang kalau mau ke makam, dandanannya kaya mau dangdutan.
Sesampainya di depan makam, Thifa yang tadi saat di pintu
masuk sudah membeli bunga dan air mawar itu pun. Berjongkok, dan menabur bunga
tersebut, lalu dua plastic ia berikan ke bokap dan perempuan di sebelahnya. Kemudian
Thifa menyirami bagian atas. Thifa juga terlihat tak sungkan, mencabuti rumput
liar yang tumbuh di pinggiran makam..
Gue berdoa, dan membacakan yasin bersama Thifa. Sebelum Karin
meninggal, dia kepengen juga masuk Islam. Gue sama Thifa berharap niat baik dia
diterima sama Allah. Bokap gue sama istri barunya itu juga ikut mendoakan.
***
Pulangnya, bokap kepengen bicara sama gue, empat mata
katanya. Gue pun mengajak dia ke sebuah tempat. Masih sekitar pemakaman, dan
membiarkan Thifa bersama wanita itu.
“Papa mau ngomong apa?” tanya gue. Berharap dia nggak
membahas pernikahan gue.
“Istri kamu, mengingatkan Papa dengan mantan istri Papa
dulu. Kenapa kamu bisa tertarik dengan wanita seperti dia?” Papa menatap jauh
ke ujung jalanan.
“Coba, Papa ingat-ingat saja, kenapa dulu Papa bisa jatuh
cinta dengan wanita seperti istri aku?” tanya gue balik.
“Karena dia baik, cantik, dan nggak pernah nuntut apa pun,”
jawab bokap.
“Tepat.”
“Ah, itu baru permulaan, Fan. Nyatanya dia ninggalin Papa.”
“Bukan dia yang ninggalin Papa, tapi mungkin Papa yang nggak
bertanggung jawab.”
“Kita beda prinsip, Fan. Sampai kapan pun nggak akan bisa bersatu.”
“Tapi kalian bisa menikah.”
“Tanpa persetujuan orang tuanya, makanya kami nggak bisa
langgeng.”
“Papa marah aku menikah sama dia?”
“Papa nggak marah, hanya kecewa. Banyak gadis cantik dan
berpendidikan di luar sana yang mengantri untuk kamu nikahi. Kenapa malah pilih
dia? Lihat hidup kamu, susah kan?”
Gue terdiam sesaat, untuk bisa menjawab pertanyaan bokap
yang lama kelamaan menyindir hidup gue sama Thifa.
“Aku nggak pernah merasa susah, Pah. Memang di luar sana
banyak yang lebih cantik dan menarik. Tapi, yang bisa mengajakku ke syurganya
Allah, hanya Thifa. Aku banyak belajar sama dia.”
“Realistis lah, Fan. Kita ini hidupnya di dunia. Nggak usah
bawa-bawa syurga.”
“Hidup di dunia buat apa? Hidup yang sesungguhnya nnati,
setelah kita mati. Emang Papa mati bawa rumah? Mobil? Perempuan itu, enggak
kan?”
“Anak Papa sudah pintar ceramah rupanya. Terserah kamu, Papa
hany mengingatkan saja, kalau suatu saat kalian berpisah, bertengkar atau apa
pun itu. Jangan pernah cari Papa.” Bokap berjalan menjauh, dia pun pergi begitu
saja tanpa pamit, bahkan mengusap salampun tidak.
Gue menghampiri Thifa, dan tersenyum lalu mengajaknya pulang.
***
__ADS_1
Bersambung.