
Thifa POV
.
.
.
Seminggu sudah aku dibawa oleh Mas Taufan keluar dari rumah orang tua. Setelah Abi mengizinkan kami untuk mengontrak rumah, akhirnya kami pun boyongan pindah.
Jarak antara rumah Abi dengan kontrakan kami lumayan jauh. Kurang lebih satu jam ditempuh dengan kendaraan roda dua, dan roda empat kalau lewat jalan tol.
Mas Taufan mengajakku menempati sebuah rumah di perkampungan. Karena harganya lebih murah dari pada di komplek. Tapi, aku merasa nyaman selama tinggal berpisah jauh dari orang tua.
Namun, satu yang membuat telinga ini panas adalah omongan para tetangga sejak mereka tahu kalau kami baru sana menikah. Terlebih aku yang sudah memiliki seorang anak.
Mas Taufan senantiasa menghiburku, agar aku tak perlu mendengar apa kata mereka di luar sana. Ini yang aku takutkan kalau aku tak tinggal di lingkungan pesantren.
Orang-orang pesantren tak pernah mempermasalahkan status seseorang. Bahkan kekurangan fisik orang pun tak pernah dibuat perbincangan di belakang sana. Karena mereka tahu betul, manusia di mata Allah semua sama. Hanya keimanan dan ketaqwaan lah yang membedakan.
"Sayang, aku kerja dulu, ya. Nanti pulang mau dibawain apa?" Mas Taufan yang sedang memakai sepatu itu menatap erat.
Aku hanya tersenyum kecil, "Nggak usah bawa apa-apa. Aku kan selalu masak, sayang uangnya," jawabku.
"Kamu memang istri yang pengertian. Makasih ya, Sayang …." Mas Taufan mencubit pipi ini gemas.
"Oh iya hari ini kamu rencana mau ke mana?" tanyanya.
"Aku nggak ada rencana ke mana-mana. Mungkin di rumah saja. Semenjak kamu ngajak aku pindah, aku udah nggak punya pekerjaan lagi. Aku bingung mau ngapain."
"Hobi kamu apa?"
"Membaca, jalan-jalan."
"Ya udah, aku nggak akan maksa kamu buat ngelakuin apa pun yang kamu nggak suka. Tapi, sesekali kamu keluar buat sosialisasi sama tetangga. Tetangga yang nyinyir nggak usah didengerin. Toh kita hidup juga bukan dari mulut mereka kok."
Cup.
Mas Taufan mendaratkan kecupan di dahi. Aku bahkan tak siap, dan dia langsung berjalan ke lemari samping televisi. Mengambil helm lalu melangkah ke luar.
Aku mengekor, mencium punggung tangannya dan melepas kepergian suamiku ke kantor.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Motor Mas Taufan melaju membelah jalan. Jujur saja, aku kesepian karena sekarang aku sendiri. Abi mendaftarkan Zain TPA di pondok. Otomatis dia tinggal di sana. Aku tak membawanya ke sini, Mas Taufan pun berjanji akan menjenguknya seminggu sekali.
Saat kaki ini kembali melangkah hendak masuk rumah.
"Mbak, Mbak!" Sebuah suara seperti ada yang memanggil.
Aku menoleh, seorang ibu paruh baya dengan gamis batik dan jilbab berwarna hitam, datang menghampiri.
"Iya, Ibu panggil saya?" tanyaku.
"Iya, maaf. Mbak baru pindah ya? Nama Mbak siapa?"
"Oh, saya Thifa, Bu." Kami pun berjabat tangan.
"Saya Bu Fatimah. Saya dengar Mbak Thifa ini Ustadzah ya? Dari pesantren?"
"Iya, Bu. Alhamdulillah. Ada yang bisa saya bantu?"
"Begini, Mbak. Besok Rabu ada pengajian di masjid. Mbak bisa datang? Barangkali Mbak Thifa bisa mengisi tausyiah."
Aku tersenyum kecil, bahagia mendengar ajakan Ibu Fatimah ini. Kupikir tak ada pengajian di sini. Bersyukur ada yang mau mengajakku bergabung.
"Tapi, saya bukan penceramah, Bu. Saya dulu hanya pengajar saja." Aku berusaha menjelaskan.
Kebetulan aku memang bukan penceramah, ilmu yang kumiliki masih belum mumpuni untuk menjadi seorang penceramah. Julukan ustadzah memang disematkan oleh para santri di sana untuk memanggil pengajar seperti kami. Tapi, kalau di luar sebenarnya ini menjadi tuntutan agar aku kelak belajar lebih, dan bisa memberikan tausyiah seperti yang diinginkan.
"Emang beda, ya, Mbak?" tanya si ibu.
"Eum … gimana, ya, Bu. Ada temanya?" tanyaku.
"Tentang kenakalan remaja, Mbak."
"Kalau gitu, kita bicara di dalam rumah saja, yuk, Bu."
Akhirnya aku mengajak Bu Fatimah untuk mampir ke rumah. Karena aku berpikir ini tawaran menarik dan mungkin dengan cara ini aku bisa mengisi kekosongan waktuku selama ditinggal Mas Taufan bekerja.
Aku membuatkan teh manis hangat, dan cemilan untuk teman ngobrol. Bu Fatimah menceritakan kondisi lingkungan di sekitar kami ini.
Di mana banyak remaja usia dini, antara anak sekolah menengah pertama samapai menengah atas. Mempunyai pergaulan yang begitu mengkhawatirkan. Ada yang suka ngumpul mabuk-mabukan, judi, bahkan **** bebas. Sampai-sampai para orang tua bingung harus berbuat apa.
__ADS_1
"Mungkin Mbak Thifa nanti bisa memberikan solusi bagi para orang tua. Agar anak-anaknya mau nurut. Dan mungkin juga, Mbak Thifa bisa membuka kelas atau pengajian khusus remaja gitu." Bu Fatimah memberikan usul untukku.
"Wah, ini suatu kehormatan buat saya sebagai warga baru di sini, Bu. Mungkin besok saya memperkenalkan diri dulu sebelum memberikan materi. Takutnya nanti ibu-ibu nggak mau terima saya."
"Nggak lah, Mbak. Kan saya yang diminta untuk mencari pengisi tausyiah besok."
"Oh, begitu. Ya sudah, Bu. Saya terima tawarannya. Besok jam berapa?"
"Ba'da Zuhur, Mbak. Tapi …."
Tiba-tiba raut wajah Bu Fatimah berubah. Aku tidak tahu kenapa. "Tapi, kenapa, Bu?"
"Nggak ada bayarannya, Mbak. Palingan seikhlasnya kita aja. Duh, saya jadi malu." Bu Fatimah menunduk, dengan wajah merah.
"Masya Allah, Bu. Saya nggak pasang tarif. Saya akan jadikan itu semua buat lahan belajar saya juga. Ladang untuk saya menanam pahala, biar Allah yang membalas semuanya. Saya Ikhlas, Bu. Saya malah senang sudah diberi kesempatan sama ibu."
"Ya Allah, Mbak. Makasih banyak. Jujur dari tadi saya malu. Udah minum teh, makanin biskuit. Eh besok Mbaknya nggak dikasih bayaran."
Aku tersenyum kecil menanggapinya. Mungkin bagi sebagian orang sepertiku, yang mengisi tausyiah menjadikan itu ladang usaha. Tapi, tidak untukku.
Abi dan Ummi selalu mengajarkanku untuk ikhlas dalam berbuat baik terhadap sesama. Jika ada yang memberikan bayaran atas ilmu yang kita sampaikan. Maka itu hanya sekadar titipan, biasanya kami menyerahkan uang itu ke panti asuhan atau rumah yatim.
Selama aku mengajar di pesantren pun, gaji yang seharusnya aku dapatkan. Tak pernah kupakai untuk kepentingan pribadi. Begitu pun dengan Abi yang selalu dimintai mengisi tausyiah ke berbagai wilayah.
Kami sekeluarga hidup dari usaha Abi, sebuah percetakan buku-buku islami, buku pelajaran, juga alquran dan iqro. Percetakan itu dikelola oleh orang kepercayaan Abi. Sudah ada lima cabang untuk daerah Jawa dan sekitarnya.
Setelah Ibu Fatimah pulang. Aku langsung masuk kamar untuk mencari buku tentang tanda akhir zaman. Lalu membuka ponsel mencari referensi lainnya. Ditambah dalil alquran untuk melengkapi tausyiah besok. Semoga ini menjadi awal aku berinvestasi. Investasi kebaikan, dan ilmu yang bermanfaat.
🌼🌼🌼
Sorenya aku sudah menyiapkan makanan untuk Mas Taufan. Karena dia masuk pagi, biasanya habis Asar sudah sampai rumah.
Tak lama aki mendengar suara deru motor masuk ke halaman. Cepat aku menghampiri dan menyambut kedatangannya.
"Assalamualaikum," sapa Mas Taufan seraya melepas helm.
"Waalaikum salam." Aku mengambil alih helm dari tangannya. Mencium kembali punggung tangannya.
"Masak apa kamu, Dek?" tanyanya.
"Aku nyayur lodeh sama goreng ayam."
Mas Taufan membuka tudung saji, "Waah harum banget nih. Aku mandi dulu, ya. Kamu siapin nasi, nanti kita makan bareng."
"Iya."
Selesai mandi, Mas Taufan langsung duduk dan minum perlahan.
"Kamu nggak makan?" tanyanya.
"Aku masih kenyang, Mas. Baru abis makan siang tadi jam dua."
"Ya udah, liatin aku makan aja, ya. Heheh."
Kulihat Mas Taufan makan dengan lahap. Aku bahagia, dia tipe pria pemakan segala. Alias, nggak susah, mau aku masak apa pun, dia pasti makan dan suka.
"Mas, besok aku minta izin ya." Aku pun mencoba meminta izin untuk pengajian besok.
"Kamu mau ke mana? Pesantren?"
"Bukan, tadi Bu Fatimah, tetangga kita ngajak aku ikut pengajian di masjid besok."
"Oh, ya udah ikut aja. Biar kenal sama ibu-ibu sini."
"Iya, Mas. Tapi …."
"Kenapa? Nanti Mas kasih ongkos, tenang saja."
Aku terkekeh, "Bukan itu, Mas."
"Trus tapi apa?"
"Aku … disuruh untuk jadi penceramah," ucapku malu.
"Ya Bagus itu. Kamu kan emang ustadzah. Lumayan kan amplopnya. Hehehe."
"Astagfirullah, kenapa malah yang dipikirin amplopnya sih, Mas?"
"Iya, iya. Eh tapi emang bener kan? Banyak tuh ustazdah yang kaya-kaya ca ngisi ceramaj setengah jam amplopnya tebel."
"Mas, aku bahkan nggak mikirin itu. Aku cuma ingin menyampaikan ilmu yang aku punya. Insya Allah kelak akan menjadi tabungan kita di akhirat. Dihitung amal jariyah. Ini malah minta amplop. Di warung banyak." Aku berusaha untuk menjelaskan dan reaksi Mas Taufan hanya tersenyum kecil.
"Iya, Sayang … kaya aku udah nggak mampu nafkahin kamu aja. Kan kubilang, kamu lakuin aja hobi kamu. Bebass. Tapi jangan lupa juga kewajiban kamu sebagai istri dan seorang ibu."
"Iya, Mas."
__ADS_1
Mas Taufan sudah menghabiskan makanannya. Ia pun terlihat sibuk dengan ponsel di tangannya.
"Dek, sebenarnya aku mau ngajak kamu bulan madu loh. Udahan kan datang bulannya?" tanya Mas Taufan tiba-tiba.
Aku menelan saliva, kenapa dia bisa ingat kalau ini sudah tujuh hari. Pagi tadi aku bari saja mandi wajib.
"Mau bulan madu ke mana? Nggak sayang uangnya?" tanyaku pura-pura.
"Nah itu, kubilang sebenarnya. Berhubung Zain juga nggak di sini. Ya kita bulan madunya di kontrakan aja ya. Hehehe. Yuk!" ajaknya menarik tanganku.
"Ke mana, Mas?"
"Ke kamar, Sayang … bentar doang, dah nggak tahan ini seminggu dianggurin."
Aku hanya bisa menurut saat Mas Taufan menggiringku ke kamar. Ia pun menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
"Begah," ucapnya sambil terlentang di ranjang.
"Astagfirullah, baru habis makan, Mas. Duduk dulu." Aku menarik tangannya agar kembali duduk.
"Tapi belum makan kamu, Dek." Tangan Mas Taufan mulai nakal.
Ia membelai jilbabku, lalu menariknya perlahan sampai rambut ini terlihat. Dengan lembut ia mengusap rambut dan mengecup kening ini pelan.
"Dek, maafin Mas ya." Mas Taufan meraih tanganku dan mengecupnya.
"Iya, Mas. Aku juga minta maaf sama kamu. Sudah berprasangka buruk."
"Kamu nggak pernah salah. Aku yang harusnya bisa menghindar. Kamu tahu kan, seperti apa perjuanganku untuk mendapatkan kamu? Wanita cantik di luar sana memang banyak. Tapi, hanya kamu yang selalu ada di dalam doaku." Mas Taufan mengecup pipiku lembut.
Aku dan dia hanyut dalam pikiran masing-masing. Meski bibir kami diam, tapi jantung ini rasanya berdebar begitu hebat. Sentuhan tangan Mas Taufan pada tubuhku membuat wajah ini bersemu merah.
"Terima kasih, Mas. Kamu sudah mau menerima semua kekuranganku," ucapku saat ia berusaha ******* bibir ini.
Tak lagi kudengar suaranya. Mas Taufan yang sedang haus buaian dan kasih sayang itu pun. Tak membiarkan istrinya ini untuk beranjak sedikit pun. Ia melakukan banyak serangan di tubuhku. Kami kembali menikmati manisnya pengantin baru. Saat Ia berhasil mengecap maduku.
🌼🌼🌼
Malam harinya, selesai sholat Isya berjamaah di rumah. Aku dan Mas Taufan hendak jalan-jalan ke luar rumah. Untuk menikmati malam. berdua, menghirup udara malam yang dingin.
Mas Taufan mengajakku untuk makan di luar. Dia sedang ingin makan nasi bebek yang berada di ujung jalan. Orang-orang bilang itu bebeknya enak banget, dagingnya lembut dan bumbunya maknyus.
"Dek, kamu tahu nggak kenapa hujan turunnya air?" tanya Mas Taufan.
"Ya karena kalau batu, sakit lah."
"Kurang tepat."
"Kalau duit nanti orang pada senang," jawabku lagi.
"Salah lagi. Yang benar, kalau turunnya aku nanti jadi rebutan. Eeeaa."
"Ish kepedean." Aku mencubit pinggangnya pelan.
Ya Allah, terima kasih atas karunia dan nikmatmu. Kau kirim seorang Imam rumah tangga yang tak hanya pintar, sholeh, ia juga humoris. Aku tak pernah sebahagia ini. Meskipun dulu saat bersama Mas Athar, hodupki lebih jauh bergelimang harta. Namun, tak sedikit pun merasakan kebahagiaan seperti sekarang ini.
"Dek, udah sampe. Kamu mau pesan berapa porsi?" tanyanya.
Aku sampai tidak terasa kalau sudah sampai di depan warung bebek. Kulihat semua kursi penuh terisi. Tapi, satu yang menjadi perhatianku adalah. Para pelayan di warung itu adalah wanita dengan pakaian mini. Rok mini, kaus putih ketat, dan wajah yang dirias terlalu menor.
"Mas, bawa pulang saja makannya," pintaku yang merasa tak nyaman melihat para pelayan itu berseliweran melewati kami berdiri.
Sesekali kulihat Mas Taufan yang curi-curi pandang pada wanita-wanita itu. Aku tidak suka, sama saja aku membiarkan suamiku untuk berzina mata.
"Enakan makan di sini, Dek." Mas Taufan yang sedang mengantri pesanan seolah tak mendengar permintaanku.
Tanganku memang digenggamnya, tapi kedua bola matanya selaku berputar mengikuti arah para pelayan wanita itu berjalan menuju meja pengunjung.
"Ya sudah, aku pulang saja." Aku melepas tangan ini dari genggamannya.
"Dek, kamu kenapa sih?"
"Mas nggak lihat, pelayan itu pakai bajunya seronok?" kataku seraya berbisik.
Tidak enak juga kalau sampai aku marah di warung mereka karena melihat pakaian para pelayannya.
"Ya allah, Dek. Masa cuma gara-gara itu kita nggak jadi makan."
"Ya makan aja, tapi di bawa pulang. Jangan makan di sini."
"Sayang, kita kan mau senang-senang. Di sini enak udaranya. Kita makan di luar sambil lihat lalu lalang kendaraan."
"Lalu lalang kendaraan apa paha mulus?" kataku sinis.
🌼🌼🌼
__ADS_1
bersambung.