
Thifa POV
Assalamualaikum.
Mohon maaf atas ketidak aktivanku selama seminggu ini.
Virus Corona sudah menjadi wabah nasional di negeri ini. Mungkin bukan virus pertama yang pernah ada. Namun, penyebarannya yang terlalu cepat dan harus melalui penanganan khusus. Membuat kita harus bisa menjaga diri dan keluarga dari virus itu.
Jangan anggap sepele, meskipun banyak pasien yang dinyatakan sembuh. Tak ada salahnya mengikuti intruksi untuk tetap tinggal di rumah, dan menghindari bepergian juga kerumunan.
Takdir, hidup dan mati memang sudah digariskan oleh Tuhan. Tapi, bukan berarti kita pasrah begitu saja. Dengan malah pergi berlibur di saat banyak korban covid-19 dirujuk ke rumah sakit.
Tetap jaga kebersihan, kesehatan, banyak minum air putih, berjemur di pagi hari, mencuci tangan pakai sabun. Dan, yang pasti adalah berdoa pada yang maha kuasa. Agar wabah ini segera hilang dan musnah dari muka bumi. Aamiin.
Untuk teman-teman yang mungkin terinfeksi, tetap semangat. Semoga lekas sembuh dan kembali dapat beraktifitas.
Virus itu berinkubasi di dalam tubuh selama 14hari. Jadi, setelah itu akan ada gejala sesak napas yang katanya seperti orang tenggelam. Nah, kalau imun kita kuat selama 14hari itu. Maka bisa dipastikan virus itu tidak akan berkembang.
Gejalanya memang ringan, tapi kita harus tetap hati-hati temans.
🌸🌸🌸
Balik ke laptop. Sambil menunggu masa aktif kembali ke sekolah, kerja, atau kegiatan lainnya yang saat ini mungkin ter pending. Insya Allah, aku coba buat lanjutin cerita satu satu.
🌸🌸🌸
Perasaan malu masih menggelayuti. Kenapa bisa sampai tembus dan harus terlihat oleh dia? Aku benar-benar malu. Harus kutaruh di mana muka ini kalau bertemu dia lagi?
Ceklek.
Pintu kamarku terbuka. Dari balik pintu menyembul kepala dengan terbungkus jilbab hijau toska. Wajahnya tersenyum sambil menatapku. "Ngapain, Mbak?" tanyanya seraya masuk dan berjalan mendekat.
Deeva duduk di tepi ranjang, aku menggeser dudukku. "Ngapain ke sini? Tumben."
"Aku mau nginep."
Aku mengernyit, "Nginep? Suami kamu? Ditinggal?"
Deeva tak menjawab, ia justru melepas jilbabnya lalu menggerai rambut panjangnya dan berbaring di tempat tidurku. Atau mungkin sedang ada masalah?
"Va, kenapa? Kalian bertengkar?" tanyaku penasaran.
Deeva kembali duduk. "Mbak, aku capek, mertuaku nanyain aku melulu. Kapan hamil, kapan hamil? Kalau aku bisa buat anak pakai adonan kue bolu, udah kucetak banyak-banyak biar dia repot."
"Hush, nggak boleh ngomong begitu. Trus suami kamu bilang apa?"
"Dia mana bisa bantah ibunya. Cuma diem aja. Bela aku enggak. Ya abis gimana, setiap kali aku ajak periksa kesuburan, atau program ke dokter, Mas Fikri selalu nolak."
"Ya kamu yang sabar, jangan kabur kaya gini." Aku sebagai kakak harus bisa menasihati adikku. Sebesar apa pun masalah yang kita hadapi dengan pasangan, jangan sampai kita melibatkan orang luar.
"Aku nggak kabur, Mbak. Ibu mertuaku yang nyuruh aku pulang saja. Karena----"
__ADS_1
Deeva tak lagi melanjutkan kalimatnya. Ia menunduk, lalu kulihat bulir bening mulai membasahi wajahnya. Ia menutup wajah itu dengan bantal dan kembali berbaring membelakangiku.
Aku mendekat, memegang bahunya. Mencoba menenangkan dan mencari tahu. Apa yang sebenarnya tengah terjadi. "Va, cerita sama, Mbak. Kenapa ibunya Fikri nyuruh kamu pulang."
Bantal di tangannya ia buka. "Mbak, Mas Fikri disuruh nikah lagi untuk mendapat keturunan," jelas Deeva.
Aku tersentak, tak menyangka kalau kedua orang tua Fikri tega melakukan itu pada adikku. Kupeluk erat tubuh Deeva yang sejak tadi terisak. Ya Allah, mengapa nasib kami seperti ini. Pernikahan yang pernah kujalani pun hancur. Aku hanya menjadi istri kedua suamiku, kini adikku harus rela dimadu hanya untuk mendapatkan keturunan.
🌸🌸🌸
Aku terbangun karena ada yang menggoncang tubuhku. "Iya, Va." Aku mengucek mata dan duduk menghadap Deeva yang sedang melepas mukena. Sepertinya dia baru saja melaksanakan sholat Subuh. Kulihat jam di dinding menunjuk pukul lima.
"Mbak nggak sholat?" tanyanya.
Aku menggeleng. Lalu beringsut dari ranjang keluar kamar menuju ke kamar mandi. Kulihat Umi sedang memasak air dan mencuci beras di dapur.
"Fa, adikmu kenapa?" tanya Umi sedikit berbisik. "Tumben dia pulang, menginap di sini. Dia cerita nggak sama kamu?"
"Sebentar, ya, Umi. Thifa kebelet." Aku bergegas masuk kamar mandi.
Selesai buang air kecil, dan mencuci muka. Aku ke dapur untuk membantu Umi memasak. Sambil memotong sayuran, Umi diam-diam mendekatiku. "Fa, cerita nggak?" tanyanya lagi.
Aku bingung harus bicara apa, kalau aku bicara yang sebenarnya aku takut reaksi Umi nanti. Bisa saja Umi marah, atau menyuruh Deeva berpisah dari suaminya.
"Thifa nggak tau, Umi. Nggak cerita. Umi tanya aja coba." Akhirnya aku berbohong demi adikku.
Kudengar Umi mengembuskan napas berat. Lalu kembali ke pekerjaannya. Menuang air yang baru saja mendidih itu ke dalam gelas. Mengambil teh celup dan menaik turunkan talinya hingga air di dalam gelas berubah keemasan. Setiap pagi, Umi selalu membuatkan teh tawar untuk Abi.
Deeva tak keluar dari kamar, atau mungkin dia takut diinterogasi oleh Umi? Sampai aku selesai masak sayur sop, menggoreng telur dadar dan membuat sambal kecap. Adikku itu belum menampakkan diri di depan kami.
"Va, kamu ngapain?" tanyaku.
"Lagi chat, sama Mas Fikri," jawabnya.
"Dia mau jemput kamu kapan?" tanyaku penasaran.
Deeva menoleh lalu mengernyit. "Emang kenapa, Mbak?"
"Tadi Umi nanya sama Mbak. Kamu kenapa? Tapi Mbak nggak bilang yang sebenarnya."
"Bilang juga nggak apa-apa, Mbak."
"Ngaco, nanti kalau Umi ngelabrak keluarga Fikri gimana?"
"Ya nggak akan mungkin lah Mbak, masa Umi ngelabrak. Paling enggak, aku ada yang ngebela. Aku nggak mau berbagi suami, Mbak. Mas Fikri baik, ganteng, sholeh. Aku nggak rela dia nikah sama orang lain."
"Ya kalau kamu nggak rela, kamu nggak usah pergi dari rumahnya. Meskipun kamu di suruh pulang. Kamu pertahanin rumah tangga kamu. Istri itu nurut sama suami. Nanti kalau kaya gini, suami kamu dibawa orang emang kamu tau?"
Deeva terdiam menatapku. Lalu sibuk kembali dengan ponselnya, dan meletakkan ponsel ke telinga. "Mas, jemput aku sekarang!"
Astagfirullah, Deeva. Dia minta jemput suaminya sekarang? Padahal dia sendiri belum mandi. Aku hanya menggeleng melihat tingkah adikku itu. Kusambar handuk di samping lemari dan meninggalkannya keluar kamar.
🌸🌸🌸
__ADS_1
Matahari pagi kali ini tak menampakkan sinarnya. Cuaca mendung, aku mendengar derap langkah kaki yang mendekat. Kulihat Zain sedang berjalan dengan tongkatnya hendak ke arahhku. Aku bangkit dan menuntunnya. Semalam anak ini tidur bersama Umi dan Abi.
"Bunda, Oma telepon Bunda nggak?" tanyanya saat kami sudah duduk di ruang tamu.
"Enggak, emang Oma mau ngapain?"
"Katanya Oma mau cariin aku donor mata. Kok lama ya, Bunda?" Bibir Zain terlihat maju. Kubelai lembut kepalanya dan merangkulnya.
"Sayang, mencari donor mata itu nggak mudah. Kalau orang itu rela mendonorkan matanya biat kamu. Berarti nanti orang itu akan kehilangan penglihatan seperti kamu sekarang. Jadi, kamu yang sabar, ya. Insya Allah, suatu hari nanti kita akan dipertemukan oleh orang yang baik hati. Yang ingin memberikan matanya untuk kamu."
"Aamiin. Zain kepengen sekolah, bermain sama teman-teman kaya yang lainnya. Zain bosan di rumah terus."
Tanpa terasa ujung mataku berair. Tak pernah sebelumnya aku mendengar Zain mengeluh seperti ini. Biasanya ia akan baik-baik saja, bahkan tak peduli kalau dirinya tak bisa melihat. Ia tetap semangat belajar mengaji, menghafal ayat demi ayat. Maafkan Bunda, Zain.
"Emangnya kalau kamu bisa melihat, kamu mau lihat apa?" tanyaku berusaha untuk menghiburnya.
"Eum---- aku mau lihat om gondrong."
Deg. "Kenapa?"
"Ganteng ya, Bun?" tanyanya seraya memperlihatkan barisan giginya yang putih.
"Iya, kalau cowok pasti ganteng. Kalau cantik itu cewek."
"Ih, Bunda."
Tiba-tiba saja ponselku berdering. Cepat kuraih benda pipih di atas meja. Sebuah panggilan dari Mama membuatku mengernyit. "Oma nelpon, nih!" Aku mengusap bahu Zain lembut.
Kutekan tombol speaker, agar Zain bisa mendengar percakapan kami. "Assalamualaikum, Ma."
"Assalamualaikum, Oma."
"Waalaikumsalam. Eh, ada Zain ya. Cucu Oma lagu ngapain?"
"Lagi ngobrol, Oma."
"Thifa, Mama lagi di rumah sakit sekarang. Kamu ke sini ajak Zain, ya. Ada bapak-bapak yang mau donorin mata anaknya buat Zain."
"Mama serius?" Mataku berbinar mendengar kabar barusan.
"Iya, Thifa. Mama tunggu ya, Sayang."
"Makasih, Ma."
Aku memutus sambungan telepon. Lalu menatap wajah Zain dan memeluknya. "Sayang, doa kita terkabul. Kamu dengar, kan, barusan Oma ngomong apa?"
"Iya, Bunda."
Aku pun berkemas untuk pergi ke rumah sakit di mana Mama mertuaku itu berada. Beliau sudah mengirimkan alamatnya ke pesan dalam ponsel. Aku meminta Abi untuk mengantar kami dengan mobil pondok. Hanya mengantar saja, Abi tak perlu menunggu sampai kami selesai.
Rasa bahagia ini seolah mampu menghapus sebagian kesedihan yang pernah menimpa rumah tanggaku dulu. Kebahagiaan putraku kini yang utama. Dan aku tak akan mengulangi kesalahan lagi, lalai terhadap kesehatan dan keselamatan keluargaku.
🌸🌸🌸
__ADS_1
**Bersambung.
Vote dan komennya ya gaess**