Maukah Kau Menikah Denganku?

Maukah Kau Menikah Denganku?
Episode 32 Tiara nongol


__ADS_3

Taufan POV


.


Selesai sarapan, Zain ngajak gue


sama Thifa buat jalan-jalan. Gue mau membuktikan kalau cowok macam gue ini juga


bisa jadi suami yang baik, dan sayang sama keluarga.


Nanti setelah pulang dari mol,


gue mau ajak mereka ke rumah bokap. Biar mereka tahu selama ini gue hidup dan


dibesarkan di rumah itu.


“Dek, kira-kira aku pakai baju


apa, ya?” tanya gue sambil memilih baju yang mau gue pakai pergi.


“Ke mol biasanya kamu pakai baju


apa emang, Mas?”


“Nggak pake baju.”


“Apa?” teriaknya.


Gue Cuma cengengesan, “Kamu kok kaget


gitu, bilang aja suka.” Gue mencoba buat meledeknya.


“Apaan sih. Nih, baju ini aja.”


Thifa mengambilkan sebuah kaos abu-abu lengan panjang dan menyodorkannya ke


gue.


“Gerah, Dek. Masa pake baju


panjang,” tolak gue yang nggak begitu suka sama bahan tuh kaos. Panas.


“Aurat, Mas. Kamu mau pakai baju


pendek, yang lengan kamu ini kelihatan gitu?”


“Aurat cowok kan atas dengkul,


Dek. Lengan mah enggak.”


“Ya udah terserah kamu aja. Nggak


usah minta pendapat kalau nggak mau dikasih saran.”


“Iya-iya. Gitu aja ngambek. Sun dulu dong!” Gue memajukan bibir ke arahnya.


“Enggak. Sama tembok aja tuh.” Thifa


ngeloyor pergi.


Dih, masa sama tembok. Jontor lah


nih bibir. Duh, punya bini satu aje susah banget ngertiinya ya. Gimana yang


punya banyak coba. Gue pikir, cewek tuh kalau udah nikah bakalan lemah lembut


gitu. Nggak tahunya, jutek ya jutek aja, judes ya tetep judes. Duh, untung


sayang, legit pula.


Sebenarnya kalau tadi Zain nggak


minta jalan di depan orang tuanya Thifa, mungkin gue bisa nolak. Soalnya hari


ini gue kepengen ngabisin waktu berdua aja sama bini baru gue. Di kamar. Hahahah.


Kan mumpung dia belom datang bulan. Kalau tuh bulan udah datang, bisa puasa


tujuh purnama gue. Hahaha lebay euy.


Akhirnya, mau nggak mau deh, gue


pake nih baju pilihan istri tercinta. Ini baju kalau nggak salah gue beli waktu


baru lulus kuliah. Gara-garanya si James temen main gue nawarin tuh baju, nggak


dibeli kasihan. Ya udah gue ambil, padahal gue nggak suka sama bahannya yang semi


rajut itu. Modelnya kaya sweater, kan panas kalo dipake di kota tropis ini. Kecuali

__ADS_1


kalo di puncak Bogor.


Enak kali ya kalau bulan madu ke


sana. Berduaan, ke kebun teh, malemnya tafakur alam deh, ke dalam goa dan bukit


milik bini tercinta. Hahahaha.


***


 Thifa pergi pakai gamis pink muda dan jilbab


warna senada. Ya Allah, manis banget istri gue. Kalo nggak tahu malu, udah gue


unyel-unyel di jalanan. Biar semua orang tahu kalau kita pengantin baru yang


sedang bahagia.


Gue memberikan helm dan


memasangkannya di kepala Thifa, lalu mengunci tali pengamannya di bawah dagu. Gue


usap lembut pipinya yang memerah dan mencubit gemas hidungnya.


“Ciye … ciye … Ayah,” celetuk


Zain menggoda kami.


Gue Cuma ketawa aja, “Kenapa? Sini


kamu duduk di depan apa di belakang?”


“Di belakang aja, Mas. Kasihan kalau


di depan. Kena angin.” Thifa menggandeng tangan putranya dan hendak


menggendongnya untuk naik ke motor.


“Ya udah, pegangan yang kuat ya,


nanti Ayah bawa motornya kaya Rossa, ngebuuut.” Gue pun memakai helm dan


memutar kunci motor.


“Rossa siapa?” tanya Zain polos.


Gue lihat Thifa terkekeh, “Rossi


“Oh iya, lupa. Kalau Rossa itu


yang nyanyinya gini ya, Kumenangiiis … membayangkan betapa.”


“Apaan sih, Mas. Kamu korban


sinetron pasti?” Thifa tertawa.


Gue ikut terbahak, sementara


bocah yang duduk di tengah-tengah kami hanya memandang bingung dengan


pembahasan kedua orang tuanya.


Gue menarik tangan Thifa agar ia


berpegangan di pinggang. Motor perlahan melaju membelah jalan, lama gue


nangkring di atas motor ke mana-mana seorang diri. Akhirnya gue udah nggak


jomlo lagi gaes. Biar pun cewek di belakang gue janda, punya anak. Tapi,


usianya seumuran sama gue. Mudah-mudahan aja, gue bisa ngebahagiain dia nggak


kaya mantan suaminya dulu.


Tanpa terasa motor sudah berjalan


hampir empat puluh lima menit. Sampai akhirnya kami tiba di sebuah kawasan yang


penuh dengan gedung bertingkat, juga mol-mol yang terlihat ramai oleh para


pengunjung. Gue ngantri untuk ambil kartu parker, setelah itu turun ke basement


memarkir kendaraan.


“Udah sampe, ya, Yah?” tanya zain


sambil turun dari motor.


“Udah dong. Yuk!” Gue menggendong

__ADS_1


Zain, tangan yang satu menggandeng bini biar nggak digandeng cowok lain.


“Kamu udah pernah ke sini belum?”


tanya gue sambil nyium pipi Zain.


“Belum, Yah.”


“Senang nggak ke sini? Tuh lihat,


banyak baju-baju, mainan, makanan juga ada.” Gue menunjukkan satu persatu


outlet yang berada di sekitar itu. “Kamu mau Ayah beliin apa nanti? Mobil-mobilan


atau robot-robotan? Buat mainan di rumah.”


Gue lihat Zain tampak bingung


untuk menjawab pertanyaan. “Ya udah, kita mainan dulu di atas yuk!”


Gue mengajak mereka berdua untuk


menaiki tangga escalator, menuju ke lanta paling atas khusus timezone. Gue membeli


kartu yang sudah terisi pulsa, agar Zain bisa main sepuasnya di sana. Sambil menunggu


Zain yang sedang mandi bola. Gue dan Thifa duduk di sebuah outlite minuman. Memesan


dua vanilla late dan donat kentang.


“Sayang, kamu mau beli baju?”


tanya gue.


“Nggak usah, Mas. Belum perlu.”


“Perhiasan, atau hape baru?”


tawar gue lagi, biasanya cewek bakalan girang banget kalo ditawarin dua itu. Eh


si Thifa malah cengengesan.


“Nggak usah, Mas. Kamu tuh


ngapain beliin kaya gituan. Pakai yang ada dan masih bisa dipakai. Uangnya bisa


digunakan buat hal-hal yang lebih penting lagi nanti.”


“Iya, aku kan Cuma mau bahagiain


kamu. Biar nggak dibilang pelit.”


“Iya, aku negrti, kok.”


“Oh iya, kita jadi pindah ya.”


Gue kembali membicarakan perihal itu. karena bagi gue itu penting banget.


Kalau harus berangkat kerja dari


pondok ke kawasan. Itu udah kaya touring, pulang pergi bisa 60 kilometer. Badan


bisa remuk, mana ini juga tinggal tulang belulang.


“Aku ikut aja. Lalu gimana sama


kerjaan aku, Mas?”


“Kamu nggak perlu kerja, biar aku


saja. Kalau kamu nggak keberatan, nanti aku mau buatkan kamu tempat khusus biar


kamu bisa ngajar ngaji di kontrakan kita nanti.”


“Waah ide bagus, tuh, Mas.” Thifa


tampak bahagia. Gue meraih tangannya dan mengusap-usap punggung tangannya yang


lembut.


“Taufan!” Tiba-tiba saja seorang


cewek udah berdiri di sebelah gue.


Tiara? Ngapain dia di sini. Sontak


gue bangkit dari duduk. Eh tuh cewek main nyosor aje, meluk dan cipika cipiki


sama gue di depan Thifa. ****** deh gue.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2