
Taufan POV
.
Selesai sarapan, Zain ngajak gue
sama Thifa buat jalan-jalan. Gue mau membuktikan kalau cowok macam gue ini juga
bisa jadi suami yang baik, dan sayang sama keluarga.
Nanti setelah pulang dari mol,
gue mau ajak mereka ke rumah bokap. Biar mereka tahu selama ini gue hidup dan
dibesarkan di rumah itu.
“Dek, kira-kira aku pakai baju
apa, ya?” tanya gue sambil memilih baju yang mau gue pakai pergi.
“Ke mol biasanya kamu pakai baju
apa emang, Mas?”
“Nggak pake baju.”
“Apa?” teriaknya.
Gue Cuma cengengesan, “Kamu kok kaget
gitu, bilang aja suka.” Gue mencoba buat meledeknya.
“Apaan sih. Nih, baju ini aja.”
Thifa mengambilkan sebuah kaos abu-abu lengan panjang dan menyodorkannya ke
gue.
“Gerah, Dek. Masa pake baju
panjang,” tolak gue yang nggak begitu suka sama bahan tuh kaos. Panas.
“Aurat, Mas. Kamu mau pakai baju
pendek, yang lengan kamu ini kelihatan gitu?”
“Aurat cowok kan atas dengkul,
Dek. Lengan mah enggak.”
“Ya udah terserah kamu aja. Nggak
usah minta pendapat kalau nggak mau dikasih saran.”
“Iya-iya. Gitu aja ngambek. Sun dulu dong!” Gue memajukan bibir ke arahnya.
“Enggak. Sama tembok aja tuh.” Thifa
ngeloyor pergi.
Dih, masa sama tembok. Jontor lah
nih bibir. Duh, punya bini satu aje susah banget ngertiinya ya. Gimana yang
punya banyak coba. Gue pikir, cewek tuh kalau udah nikah bakalan lemah lembut
gitu. Nggak tahunya, jutek ya jutek aja, judes ya tetep judes. Duh, untung
sayang, legit pula.
Sebenarnya kalau tadi Zain nggak
minta jalan di depan orang tuanya Thifa, mungkin gue bisa nolak. Soalnya hari
ini gue kepengen ngabisin waktu berdua aja sama bini baru gue. Di kamar. Hahahah.
Kan mumpung dia belom datang bulan. Kalau tuh bulan udah datang, bisa puasa
tujuh purnama gue. Hahaha lebay euy.
Akhirnya, mau nggak mau deh, gue
pake nih baju pilihan istri tercinta. Ini baju kalau nggak salah gue beli waktu
baru lulus kuliah. Gara-garanya si James temen main gue nawarin tuh baju, nggak
dibeli kasihan. Ya udah gue ambil, padahal gue nggak suka sama bahannya yang semi
rajut itu. Modelnya kaya sweater, kan panas kalo dipake di kota tropis ini. Kecuali
__ADS_1
kalo di puncak Bogor.
Enak kali ya kalau bulan madu ke
sana. Berduaan, ke kebun teh, malemnya tafakur alam deh, ke dalam goa dan bukit
milik bini tercinta. Hahahaha.
***
Thifa pergi pakai gamis pink muda dan jilbab
warna senada. Ya Allah, manis banget istri gue. Kalo nggak tahu malu, udah gue
unyel-unyel di jalanan. Biar semua orang tahu kalau kita pengantin baru yang
sedang bahagia.
Gue memberikan helm dan
memasangkannya di kepala Thifa, lalu mengunci tali pengamannya di bawah dagu. Gue
usap lembut pipinya yang memerah dan mencubit gemas hidungnya.
“Ciye … ciye … Ayah,” celetuk
Zain menggoda kami.
Gue Cuma ketawa aja, “Kenapa? Sini
kamu duduk di depan apa di belakang?”
“Di belakang aja, Mas. Kasihan kalau
di depan. Kena angin.” Thifa menggandeng tangan putranya dan hendak
menggendongnya untuk naik ke motor.
“Ya udah, pegangan yang kuat ya,
nanti Ayah bawa motornya kaya Rossa, ngebuuut.” Gue pun memakai helm dan
memutar kunci motor.
“Rossa siapa?” tanya Zain polos.
Gue lihat Thifa terkekeh, “Rossi
“Oh iya, lupa. Kalau Rossa itu
yang nyanyinya gini ya, Kumenangiiis … membayangkan betapa.”
“Apaan sih, Mas. Kamu korban
sinetron pasti?” Thifa tertawa.
Gue ikut terbahak, sementara
bocah yang duduk di tengah-tengah kami hanya memandang bingung dengan
pembahasan kedua orang tuanya.
Gue menarik tangan Thifa agar ia
berpegangan di pinggang. Motor perlahan melaju membelah jalan, lama gue
nangkring di atas motor ke mana-mana seorang diri. Akhirnya gue udah nggak
jomlo lagi gaes. Biar pun cewek di belakang gue janda, punya anak. Tapi,
usianya seumuran sama gue. Mudah-mudahan aja, gue bisa ngebahagiain dia nggak
kaya mantan suaminya dulu.
Tanpa terasa motor sudah berjalan
hampir empat puluh lima menit. Sampai akhirnya kami tiba di sebuah kawasan yang
penuh dengan gedung bertingkat, juga mol-mol yang terlihat ramai oleh para
pengunjung. Gue ngantri untuk ambil kartu parker, setelah itu turun ke basement
memarkir kendaraan.
“Udah sampe, ya, Yah?” tanya zain
sambil turun dari motor.
“Udah dong. Yuk!” Gue menggendong
__ADS_1
Zain, tangan yang satu menggandeng bini biar nggak digandeng cowok lain.
“Kamu udah pernah ke sini belum?”
tanya gue sambil nyium pipi Zain.
“Belum, Yah.”
“Senang nggak ke sini? Tuh lihat,
banyak baju-baju, mainan, makanan juga ada.” Gue menunjukkan satu persatu
outlet yang berada di sekitar itu. “Kamu mau Ayah beliin apa nanti? Mobil-mobilan
atau robot-robotan? Buat mainan di rumah.”
Gue lihat Zain tampak bingung
untuk menjawab pertanyaan. “Ya udah, kita mainan dulu di atas yuk!”
Gue mengajak mereka berdua untuk
menaiki tangga escalator, menuju ke lanta paling atas khusus timezone. Gue membeli
kartu yang sudah terisi pulsa, agar Zain bisa main sepuasnya di sana. Sambil menunggu
Zain yang sedang mandi bola. Gue dan Thifa duduk di sebuah outlite minuman. Memesan
dua vanilla late dan donat kentang.
“Sayang, kamu mau beli baju?”
tanya gue.
“Nggak usah, Mas. Belum perlu.”
“Perhiasan, atau hape baru?”
tawar gue lagi, biasanya cewek bakalan girang banget kalo ditawarin dua itu. Eh
si Thifa malah cengengesan.
“Nggak usah, Mas. Kamu tuh
ngapain beliin kaya gituan. Pakai yang ada dan masih bisa dipakai. Uangnya bisa
digunakan buat hal-hal yang lebih penting lagi nanti.”
“Iya, aku kan Cuma mau bahagiain
kamu. Biar nggak dibilang pelit.”
“Iya, aku negrti, kok.”
“Oh iya, kita jadi pindah ya.”
Gue kembali membicarakan perihal itu. karena bagi gue itu penting banget.
Kalau harus berangkat kerja dari
pondok ke kawasan. Itu udah kaya touring, pulang pergi bisa 60 kilometer. Badan
bisa remuk, mana ini juga tinggal tulang belulang.
“Aku ikut aja. Lalu gimana sama
kerjaan aku, Mas?”
“Kamu nggak perlu kerja, biar aku
saja. Kalau kamu nggak keberatan, nanti aku mau buatkan kamu tempat khusus biar
kamu bisa ngajar ngaji di kontrakan kita nanti.”
“Waah ide bagus, tuh, Mas.” Thifa
tampak bahagia. Gue meraih tangannya dan mengusap-usap punggung tangannya yang
lembut.
“Taufan!” Tiba-tiba saja seorang
cewek udah berdiri di sebelah gue.
Tiara? Ngapain dia di sini. Sontak
gue bangkit dari duduk. Eh tuh cewek main nyosor aje, meluk dan cipika cipiki
sama gue di depan Thifa. ****** deh gue.
__ADS_1
***
Bersambung