
Taufan POV
💕💕💕
Semalam adalah malam yang paling memalukan di hidup gue. Bisa-bisanya gue mikir kalau adiknya Hanif itu kuntilanak yang nyangkut di loteng. Gedebuk turun gitu aje buat ngegodain gue. Alhasil, celana gue basah. Bekas sunat anyep, untung nggak gatel.
Dalam keadaan setengah basah, gue bantu Husna jalan ke kamarnya. Beruntung gue pake celana warna hitam, jadi basah bekas cairan dari dalam celana gue nggak begitu kelihatan. Cuma, tetap saja aromanya semerbak, sampai Husna memencet hidungnya trus nanya ke gue.
"Bang, kok bau pipis, ya?" tanyanya.
"Iya, Neng. Tadi nggak sengaja abis nginjek kencing kucing pas duduk di kursi situ," kata gue sambil nunjuk ke bangku panjang bekas duduk gue tadi.
"Neng, ngapain naik ke atas?" tanya gue penasaran.
"Iya, tadi sore saya mandi di kamar mandi atas. Lupa jepit rambut saya ketinggalan. Mau ambil malah kepleset."
"Tapi, mukenanya kan bisa dicopot dulu."
"Ya, gimana, Bang. Buru-buru. Pas sholat inget. Jadi selesai sholat langsung aja naik, ntar lupa lagi."
"Nakut-nakutin orang aja. Kirain Mbak Kunti."
"Jadi, Abang takut? Jangan-jangan Abang ngompol, ya?" Husna terkekeh.
Ah elah, pake diketawain. Tapi sumpah. Senyumnya manis banget. Beruntungnya gue bisa dekat sama dia kaya gini.
Akhirnya gue antar dia sampai depan kamarnya. Tanpa seorang pun yang tahu. Karena memang keadaan sudah tengah malam. Dan saat itu pula gue langsung ngambil handuk di jemuran, mandi lagi, sambil gue kucek-kucek tuh daleman sama kolor pakai sabun sampe Wangi.
💕💕💕
Paginya Hanif ngajak gue buat sarapan bareng keluarganya. Kalau bukan karena kejadian semalam, mungkin gue udah semangat buat sarapan. Tidak untuk kali ini, malu ketahuan ngompol sama cewek.
"Fan, ayo sarapan!" ajak Hanif lagi yang berdiri di tengah pintu.
"Eum, duluan aja."
"Ya udah bareng aja. Kenapa sih?"
"Eum … bentar." Gue mengambil masker warna hijau buat nutupin sebagian wajah tampan ini.
"Kamu sakit?" tanya Hanif.
"Eum, hatcim!" Gue pun bersin bohongan. "Iya, nih. Pilek." Sambil sibuk masang masker gue berjalan mengikuti langkah Hanif.
"Owh, yasudah ayo!"
Dengan berat gue melangkah ke ruang makan. Terlihat beberapa anak panti yang sudah menunggu, beserta keluarga Hanif. Hanya saja penampilan mereka ada yang berbeda. Entah hanya perasaanku saja atau gimana.
Gue menarik kursi untuk duduk, Husna melirik sekilas dan tersenyum. Senyumnya biasa saja sih, bukan mengejek atau meledek karena semalam gue ngompol. Berarti dia orang yang dapat dipercaya. Karena tidak menceritakan aib gue ke yang lain.
"Nak, Taufan. Kami berempat mau pergi ke Desa Wilujeng. Kebetulan mau sowan sama teman lama Bapak. Nak Taufan kerja?" tanya Pak Maulana.
"Eum, i-iya, Pak. Saya kerja." Oh mau pergi, pantesan pada rapi.
"Oh, yasudah."
"Ada acara apa, Pak?" tanyaku penasaran.
"Silaturahmi saja. Mumpung Husna ada di sini."
Gue mikir sejenak, nama desa itu mirip sama desanya pesantren Thifa. Apa mungkin mereka mau ke sana ya? Bisa jadi sih. Namanya sama-sama punya pesantren kan.
Ngapain juga gue mikirin. Yang penting hari ini gue harus balik kerja lagi, shift sore.
Gue menyendok makanan ke dalam mulut. Sambil menatap sekeliling. Keadaan ini mengingatkan gue akan Mama. Dulu, waktu Mama masih hidup, kita selalu sarapan dan makan malam bersama. Namun, semenjak Mama tiada kegiatan itu sudah jarang kita lewati bersama. Papa sibuk sama kerjaannya, gue juga, Karin juga sibuk sama kuliahnya.
Sebenarnya gue kangen sama keluarga gue. Terutama bokap. Meskipun dia suka galak, tapi dia paling sayang sama gue. Dari kecil apa pun yang gue minta selalu diturutin. Dia berharap banget gue bakalan nerusin usahanya. Sayangnya dia harus kejebak sama cintanya sendiri. Mungkin saja sekarang dia sudah benar-benar menikah sama wanita itu. Trus dia bakalan ngabisin harta Papa.
Tiba-tiba.
Drrrttt …
Panggilan telepon nyaris bikin gue tersedak. Apalagi waktu ngelihat nama yang tertera di layar. 'Abi Yusuf'. Calon bapak mertua nelpon gue pagi-pagi. Ada apakah gerangan?
Gue yang lagi menyantap sarapan bersama keluarga besar Hanif. Akhirnya mohon izin ke belakang buat angkat telepon.
"Ya Assalamualaikum, Abi. Ada apa?"
"Nak Taufan, di mana?"
__ADS_1
"Saya di ---- eum, di rumah."
Duh bohong nih gue.
"Bisa ke pondok sekarang?"
"Ta-tapi, saya mau kerja, Bi."
"Kalau nggak bisa nggak apa-apa. Tapi, jangan nangis kalau Thifa nanti dilamar yang lain."
"Oh, siap, Bi. Otewe."
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
"Enak aja, main lamar-lamar," gumam gue kesel.
Gue balik ke meja makan, pandangan orang-orang menatap aneh ke arah gue. Terutama kedua orang tua Hanif. Mereka seperti mau menginterogasi gue.
"Ada apa, Fan?" tanya Hanif.
"Siapa yang dilamar?" tanya bapaknya Hanif.
"Eng-eng, ini gue mau pamit ke kantor dulu. Kemarin udah nggak masuk tiga hari."
"Oh yaudah habisin dulu makanannya."
"Udah kenyang, Pak. Saya permisi dulu. Buru-buru. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Gue bergegas ke kamar. Mengambil tas lalu meluncur ke pesantren. Sambil memikirkan kira-kira apa yang akan dibicarakan oleh abinya Thifa. Nggak biasanya dia nelpon gue. Ditambah persyaratan itu kan masih sebulan lagi. Baru kemarin gue jadi primus (pria mushola)Â masa udah langsung diterima aja jadi mantu. Pasti pak ustadz udah nggak sabaran nih gendong cucu dari gue.
Gue cengar cengir aja sepanjang perjalanan. Wajah gue emang sudah tampan dari lahir, jadi nggak ada tandingannya. Pak ustadz pasti nggak akan membiarkan Putri kesayangannya itu kelamaan bersolo karier (alias jendes). Hehehe. Makanya cepet-cepet ngehubungin gue. Sialnya, macet sepanjang jalan kenangan. Haduuuhhh.
Tanpa terasa, gue tiba di depan pondok pesantren khusus putra. Setelah memarkir motor di depan gerbang. Gue mencoba masuk lewat pintu samping. Namun, dua santri mencegat langkah gue.
"Maaf, Masnya mau cari siapa?" tanya salah satunya.
"Eum, ada perlu sama Ustadz Yusuf."
"Saya juga nggak tahu. Coba aja kalian deh yang tanya. Soalnya saya cuma diminta datang."
"Oh, sebentar Akhi." Seorang santri yang berkoko hitam masuk ke dalam.
"Mas, nama saya Taufan, bukan Akhi. Nanti Pak Ustadz nggak tahu kalau salah nama," kata gue seraya berbisik pada santri di depan gue ini.
Yeh, ni bocah malah ketawa. Mesam-mesem. Gue yang deg-degan, kalau nama gue diganti jadi Akhi. Nggak enak manggilnya, Akh … akh … aduuh ngilu euy.
"Kok ketawa sih, Mas? Apa yang lucu?" tanya gue bingung.
"Akhi itu panggilan, Mas. Seperti Mas, Abang, Kakak. Begitu," jelasnya.
"Owh, ngomong dong dari tadi. Jangan cuma ketawa aja. Saya kan bingung." Gue menggaruk kepala yang nggak gatal.
Santri yang tadi ke dalam pun akhirnya kembali. Ia berlari menghampiri gue. "Mas Taufan, di suruh langsung ke kantor aja. Mbak Thifa sudah nunggu."
"Ah, yaudah. Saya mau lewat. Permisi. Assalamualaikum," kata gue sambil masuk melewati dua santri penjaga itu.
"Waalaikum salam."
💕💕💕
Dari kejauhan sudah kelihatan wanita dengan jilbab pink muda duduk di ujung ruangan. Kantor yang dimaksud berjendela dan berpintu kaca. Jadi, kalau apa pun yang terjadi di dalam ruangan itu, akan kelihatan dari luar. Menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Karena beberapa kali dulu sempat ada pencuri yang masuk ingin menghancurkan semua berkas pondok. Itu sih yang pernah gue dengar dari Fikri.
Gue lihat dari depan pintu, wajah wanita pujaan gue kelihatan mendung banget. Ibarat awan menghitam, tinggal nunggu tetesan airnya tumpah. Entah apa yang terjadi, gue nggak tahu.
Beberapa karyawan, ustadz, dan ustadzah yang berada di ruangan pun nggak ada yang berani mendekat. Mereka justru tersenyum menyambut kehadiran gue.
"Assalamualaikum, cantik," sapa gue.
Thifa menatap gue dengan melotot. Gue seolah mau ditelannya hidup-hidup. Bola matanya yang bulat, dan bibir tipisnya yang basah membuat jantungku berdebar. Aku menarik kursi dan langsung duduk di hadapannya.
Kuberi wanita di depanku ini sebuah senyuman paling manis yang gue punya. Eh dia malah celingukan. Gemes jadinya. Bukannya jawab salam gue. Emang gue makhluk halus apa, nggak kelihatan?
"Ka-kamu, kenapa bisa ada di sini?" tanyanya gugup seraya mengusap ujung matanya.
Bidadari gue mau nangis?
__ADS_1
"Aku juga nggak tahu, ada apa sih? Tiba-tiba Abi kamu telepon, suruh aku datang siang ini, trus beliau juga nyuruh aku cepat-cepat melamar kamu minggu ini," ucapku.
"Apa?"
Duh frank gue berhasil bikin dia pusing nih. Padahal abinya cuma nyuruh datang doang, nggak ngelamar. Kenapa Thifa mijitin keningnynya. Jangan-jangan dia kepikiran lagi?
"Ka-kamu jangan asal kalo ngomong. Emang siapa yang minta dilamar?" tanyanya mengalihkan pandang.
Semburat merah sekilas tampak di wajahnya. Elah, malu-malu tapi mau, kaaan? Dasar cewek. Mau alim, mau kaga kalau denger kata 'lamar' pasti hatinya ser-seran.
"Ya nggak tahu. Emang kamu nggak mau aku lamar?" tanya gue sedikit berbisik.
"Kamu jangan kegeeran ya. Aku nggak suka sama kamu."
"Aku juga nggak akan maksa kamu buat suka sama aku. Tapi, aku janji akan jadi pria yang bisa melindungi kamu, yang menyayangi dan mencintai kamu."
"Jangan ngegombal di sini. Malu. Kamu nggak punya malu, ya?"
Gue menghela napas. Sampai kapan kita ngomong sambil bisik-bisik gini.
"Kemaluaan aku sudah kamu ambil," jawab gue.
Plak.
Duh, lengan gue dipukulnya pakai buku. Salah ngomong apa gue?
"Jangan kurangajar!" katanya dengan mata melotot.
"Dek, aku beneran trisno karo koe."
"Kamu panggil aku apa?"
"Dek Thifa."
Thifa tersenyum, tuh kan. Baru dipanggil gitu aja udah senyum-senyum. Sebenarnya yang geer itu siapa? Dasar cewek.
"Assalamualaikum," sapa seseorang dari depan pintu.
Gue menoleh. Ustazd Yusuf alias abinya Thifa datang dan langsung menghampiri kami.
"Waalaikum salam." Gue bangkit dari duduk dan menyalaminya.
"Nak Taufan sudah datang. Kenapa nggak diajak ke rumah, sih, Thifa? Ayo ke rumah. Teman Abi sudah datang." Ustadz Yusuf menepuk bahu gue.
"Iya, Abi," jawab Thifa yang ikutan berdiri dan melangkah ke luar ruangan. Gue mengekor mereka.
Sepanjang koridor menuju rumah kediaman Thifa. Ustadz Yusuf bertanya dan berbincang sama gue.
"Gimana, Fan. Yang saya minta sudah dijalankan?"
"Sudah, Abi."
"Ada perubahan nggak dalam hidup kamu?"
"Iya, sedikit." Gue bingung perubahan apa yang dimaksud.
"Nggak apa-apa. Namanya baru belajar, saya harap kamu bisa istiqomah, ya."
Gue hanya mengangguk. Sambil memikirkan apa itu istiqomah.
"Dari kemarin banyak yang ingin melamar Thifa. Seandainya anak saya tidak berjodoh dengan kamu. Kamu ikhlas, kan? Karena saya tidak bisa memaksa anak saya untuk menikah dengan siapa."
Deg. Langkah gue tiba-tiba jadi berat. "Ta-tapi, Pak Ustadz kan udah ngasih syarat ke saya. Masa belum sebulan Thifa sudah …."
"Iya saya tahu. Makanya saya bilang, seandainya kalian berjodoh. Thifa pasti tunggu kamu. Tapi, kalau enggak. Saya bisa apa?"
Lemas sudah kaki ini. Terlebih tadi Thifa juga sudah mengatakan isi hatinya. Kalau dia nggak suka sama gue. Meskipun gue nggak tahu pasti dia beneran nggak suka atau cuma malu saja.
"Di rumah sedang ada tamu. Anaknya teman saya juga datang untuk Thifa." Pak Ustadz benar-benar membuat hati gue panas. Apa maksudnya dia ngundang gue ke sini.
"Maksud Pak Ustadz ngundang saya ke sini apa?"
"Saya ingin tahu hati anak saya. Ada seorang pria tampan, sholeh, dan mapan yang sedang menunggunya di rumah. Apakah Thifa akan menerima pinangannya atau tidak. Dengan menghadirkan Nak Taufan, kalau Thifa menolak. Berarti kamu masih ada harapan."
Jantung gue berdegup kencang. Saat halaman rumah Thifa sudah terlihat. Sebuah mobil berwarna hitam terparkir di sana. Dan, gue hapal banget itu mobil siapa. Karena selalu gue lihat tiap hari nongkrong di depan panti.
Abi dan Thifa mempercepat langkah. Nggak, gue nggak mau ke sana. Gue malu, gue bukan siapa-siapa. Gue emang nggak pantas buat Thifa. Mungkin lebih baik gue pergi. Membawa semua harapan-harapan gue. Ternyata menikahi seorang janda sholehah lebih susah dari pada menikahi anak gadis yang berkeliaran di jalan.
💕💕💕
__ADS_1
Bersambung.