Maukah Kau Menikah Denganku?

Maukah Kau Menikah Denganku?
28


__ADS_3

THIFA POV.


*Bismillah.


Assalamualaikum.


Masih semangat kan???


Cepet yaa puasa udah masuk minggu kedua. Semoga selalu diberi kesehatan dan kelancaran. Aamiin.


.


Yang belom follow jangan lupa follownya.


Tengkyu*.


.


Happy reading.


💕💕💕


Pagi ini aku melihat Mentari bersinar terang. Sambutannya hangat sampai ke relung hati, seolah tahu bahwa hari ini aku akan melangsungkan sebuah perhelatan akbar.


Tanpa terasa hari yang dinanti tiba. Aku mematut diri di depan cermin. Kebaya putih yang melekat di tubuh ini, mengingatkanku akan kejadian yang sama beberapa tahun silam. Saat aku dipaksa menikah karena dijodohkan oleh seorang pria yang ternyata masih memiliki istri.


Saat itu perasaanku biasa saja. Karena aku beranggapan kalau cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Meski tak pernah tahu, kalau calon suamiku tak pernah menyayangi apalagi mencintaiku.


Namun, kini aku merasa sangat gugup. Sedikit khawatir akan kegagalan kembali dalam berumah tangga. Pria yang kukenal belum lama, membuat hati ini merasa nyaman. Kesungguhannya untuk menjadikanku makmum, membuat diri ini yakin, kalau dia adalah yang terbaik yang dikirim oleh Allah padaku.


"Bunda," panggil Zain yang tiba-tiba masuk ke kamarku.


Aku menoleh, dia menghambur ke pelukan. "Sebentar lagi aku mau punya ayah ya?" tanyanya.


Aku tersenyum dan mengangguk. "Insya Allah. Zain senang?"


Anak laki-laki kecil di pangkuanku mengangguk semangat. "Zain senang, nanti kalau Zain sekolah ada yang antar. Zain nggak dikatain lagi kalau nggak punya ayah."


Aku mengusap kepalanya lembut, lalu mengecupnya. "Iya, Bunda juga senang kalau Zain senang."


Aku mendengar suara langkah kaki mendekat. Kami berdua menoleh. Ummi sudah rapi dengan gamis putih dan jilbab warna senada. Berdiri di tengah pintu.


"Sudah siap, Fa?" tanyanya.


"Sudah Ummi. Yuk!" Aku menggandeng putraku keluar kamar.


Kami sekeluarga menuju masjid. Di sanalah Mas Taufan akan mengikrarkan janji sucinya. Rasanya langkah ini terasa berat. Gemetar dan sedikit gugup.


Keadaan di dalam pesantren tidak begitu ramai. Karena bertepatan dengan libur semester. Jadi, banyak santri yang pulang ke kampung halamannya.


Saat kaki ini menapak di lantai masjid. Dingin, tanganku pun mulai berkeringat. Di masjid ternyata sudah ada keluarga Hanif, Mas Taufan yang duduk di depan meja. Mengenakan jas hitam dengan pecinya. Aku tak bisa melihat wajahnya dari belakang.

__ADS_1


Masih menunduk, aku takut kalau sampai dia salah sebut namaku atau tidak lancar saat mengucap ijab kabul. Huft.


.


.


"Saya terima nikah dan kawinnya Lathifa Nur Rahma binti Yusuf Ramadhan dengan mas kawin yang tersebut dibayar tunai!"


Lantang kudengar Mas Taufan mengucap ijab, tanpa ada kata yang salah.


"Bagaimana saksi?"


"Sah."


"Sah."


"Sah."


"Alhamdulillah."


Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fiil Khairin


Artinya :”Mudah-mudahan Allah memberkahi engkau dalam segala hal (yang baik) dan mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan”


Semua berdoa untuk kami. Akhirnya aku telah resmi menjadi seorang istri. Mulai hari ini status janda sudah lepas dariku. Semoga Allah memberkahi pernikahan kami. Aamiin.


Haru, saat aku dipanggil untuk duduk bersebelahan dengan suamiku. Karena sejak tadi, aku berada di balik tirai pembatas. Kini, kami sudah sah.


Cincin ia sematkan di jari manisku, lalu perlahan ia mengecup pucuk kepalaku. Lamaaa. Dan dada ini rasanya berdebar hebat.


"Aku mencintaimu, dan akan selalu menyayangimu," ujarnya lirih.


Aku hanya tersenyum bahagia. Lalu, Zain mendekati kami. Dan langsung duduk di pangkuan ayahnya yang baru.


"Ayah, boleh aku panggil Om ayah?" tanya Zain.


"Boleh dong, kan sekarang Om udah jadi ayah kamu," ucap Mas Taufan lalu mencium pipi Zain dan memeluk tubuh mungilnya.


"Asiiik, Zain punya ayah," teriaknya riang.


Para tamu dan undangan sontak tertawa mendengar celetukkan bocah lima tahunan itu. Lalu aku dan Mas Taufan menyalami Abi dan Ummi. Meminta restu dan doa.


Aku lalu mendekati mama Hilda yang sejak tadi menatap haru. "Mah, makasih ya. Mamah sudah izinkan aku menikah lagi." Aku mencium punggung tangannya.


Mama Hilda mengusap kepalaku lembut, lalu mengecupnya. "Semoga kamu bahagia, Nak. Mama yakin, Athar juga pasti bahagia melihat kamu dan Zain bahagia."


"Makasih, Mah." Kami pun berpelukan erat. Mama Hilda terisak di bahuku, aku tahu bagaimana perasaannya saat ini. Dia pasti kembali mengingat Mas Athar. Dulu kejadian ini pernah terjadi pada putranya.


.


.

__ADS_1


Malamnya. Untuk pertama kalinya, Mas Taufan berada di tengah-tengah keluargaku. Kami masih berbincang di ruang tamu. Ada Deeva dan Fikri juga di sini.


"Mbak, aku senang deh. Akhirnya bisa lihat Mbak tersenyum bahagia lagi," ucap Deeva.


"Iya, aku juga. Selamat ya, Bro. Akhirnya nggak sia-sia jadi anak panti, ikut sunat masal. Kalau akhirnya bahagia begini," ujar Fikri sambil merangkul Mas Taufan yang duduk di sebelahnya.


Aku hanya tersenyum, tersipu. Aku tahu betul memang perjuangannya untuk menjadi mualaf. Dari pertemuan kami yang tak terduga dulu, hingga ia menjadi seperti yang sekarang. Siapa sangka, kalau hidayah Allah akan turun padanya.


Mungkin Mas Taufan masih awam, masih baru belajar agama. Namun, ia sudah mampu menghafal surah pendek dalam alquran. Dan satu surah yang dipersembahkan khusus untukku. Surah ar-rahman. Meskipun dia belum hafal semuanya. Mendengar ia melantunkannya dengan merdu saja, sudah membuatku terkesima.


"Ya sudah, sudah malam. Kita pulang dulu, ya. Kasihan pengantin baru mau istirahat," goda Fikri yang kemudian berpamitan pulang.


"Kamu istirahat, Nduk. Nak Taufan anggap aja rumah sendiri. Hehehe." Abi menepuk bahu Mas Taufan yang kelihatan kikuk.


Abi dan Ummi membawa Zain yang tertidur ke kamar mereka. Duh, sepertinya mereka sengaja ingin memberikan kesempatan buat aku dan Mas Taufan berduaan saja.


Mas Taufan mendekat, dia meraih tanganku. "Kok nggak nepis?" tanyanya seraya meringis.


Aku mendelik, "Kan udah sah," jawabku malu.


"Kalau udah sah, boleh dong?"


"Boleh apa?"


"Ke kamar," bisiknya.


"Ngapain?" tanyaku pura-pura.


"Terserah kamu, Dek. Mau main perang-perangan apa main dokter-dokteran."


Aku mencubit pinggangnya. "Ish, nakal!" Aku langsung berlari ke kamar, dia mengejar lalu langsung menutup dan mengunci pintu kamar dari dalam.


Deg.


Jantungku berdebar hebat saat aku yang terduduk di tepi ranjang melihatnya melangkah mendekatiku. Lalu Mas Taufan duduk di sebelah.


"Dek, boleh?" tanyanya sambil memegang ujung jilbabku.


"Kamu mau pakai jilbab?" tanyaku menggoda.


Kulihat dia tertawa, lalu mencubit gemas pipiku. "Kok kamu lucu sih? Masih saudara ya sama Mbak Nunung?" tanyanya.


Kini aku yang tersenyum mendengarnya berbicara. Kemudian aku memintanya untuk melaksanakan sholat dua rakaat terlebih dahulu.


Alhamdulillah, aku bahagia hari ini.


Terima kasih ya Allah, Engkau telah mengirimkan seorang imam yang insya Allah baik, dan akan membimbingku menuju syurga-Mu.


.


**Pov Taufan nanti yaaa abis buka puasa. Wkwkwk.

__ADS_1


Bersambung**


__ADS_2