Maukah Kau Menikah Denganku?

Maukah Kau Menikah Denganku?
Episode 31 #Session 2 Ingin Pindah


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim



Assalamualaikum …


akhirnya aku bisa balik lagi buat lanjutin cerita pasangan ini.


Maaf kalau


updatenya laamaaaa banget.


Soalnya banyak


kerjaan di luar sana, ditambah aku juga baru abis pindahan rumah. Nah berhubung


banyak yang manggil-manggil tapi nggak bisa balas komen satu-satu. Makanya aku


putuskan untuk balik lanjutin cerita ini lagi.


Jangan lupa kasih


vote buat aku yaaa… biar semangat nulisnya. Makasih


Thifa POV


Saat mentari menyambut pagi


dengan sinarnya yang cerah. Begitu pun denganku yang menyambut hari ini dengan


hati bahagia. Untuk pertama kalinya aku merasakan menjadi seorang istri yang


sesungguhnya. Istri satu-satunya dari seorang pria yang belum lama kukenal.


Taufan memang bukan seperti pria


lain kebanyakan, yang melihat wanita dari fisik. Ia bahkan tak peduli dengan


statusku yang seorang janda beranak satu. Sampai dirinya nekat belajar agama,


mencari tahu tentang Islam, dan akhirnya ia kini sudah menjadi seorang mualaf.


Aku mungkin wanita paling


beruntung yang bisa mengenalnya. Ia yang begitu menyayangi Zain, seperti


putranya sendiri. Sementara di luar sana, mungkin banyak wanita yang


mendekatinya.


“Sayang, aku mau kita pindah


rumah. Maksudku, kita tinggal terpisah dari orang tua kamu.” Tiba-tiba saja Mas


Taufan berbicara denganku seperti itu.


Aku yang baru saja merapikan pakaian miliknya, memindahkan


dari koper ke dalam lemari. Menatapnya sekilas dengan perasaan bertanya-tanya.


“Loh memang kenapa harus pindah rumah, Mas?” tanyaku.


Mas Taufan lalu duduk di tepi ranjang, menghadap ke arahku.


“Aku Cuma mau mandiri aja, pisah, nggak mau ngerepotin kedua orang tua kamu,


Dek.”


“Mereka senang kok, nggak repot. Mas keberatan tinggal sama


mereka?”


“Bukan, eum … jujur saja, kalau aku harus tinggal di sini,


jarak ke kantor makin jauh, Dek.”


Aku berusaha mengerti dengan


keadaannya. Benar juga, dari sini ke kantornya memang jauh. Hampir tiga puluh


kilometer. Karena sebelumnya Fikri pernah bilang sama aku, kalau kantor Mas


Taufan jaraknya jauh dari pondok ini.


“Selama ini Mas tinggal di mana?”


tanyaku.


“Di kost. Tapi nanti kalau sama


kamu, ya kita ngontrak rumah aja. Atau mau tinggal di rumah papaku juga bisa.”


“Aku nggak enak kalau harus


tinggal di rumah papa kamu. Sementara dia aja nggak tahu kalau kita sudah


menikah.”

__ADS_1


“Kamu tenang saja, papa aku nggak


ada di kota ini. Dia nikah lagi, dan meninggalkan semuanya buat aku dan adikku.


Sayangnya, Karin pergi terlalu cepat. Bahkan papa juga nggak tahu itu semua.”


“Kamu yang sabar, ya, Mas.”


Aku tersenyum kecil, Mas Taufan


ternyata tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Kupikir dia akan seperti


lelaki iseng yang suka jahil dengan wanita. Ternyata setelah menjadi suami,


sikapnya berubah menjadi sedikit lebih dewasa.


“Kamu mau kita honeymoon ke


mana?” tanya Mas taufan seraya bangkit dari duduknya dan memelukku dari


belakang.


Aku bahkan tak bisa berpikir


untuk menjawab pertanyaannya barusan. Jantung ini sudah lebih dulu berdebar.


Tangan kekarnya yang melingkar di perut, membuat dada ini seakan dipenuhi oleh


ribuan kupu-kupu. Terlebih saat tangannya pindah ke bahu, memutar tubuhku


hingga kami saling bersitatap.


“Dek, kamu cantik. Aku


bahagiiiaaa banget, bisa nikahin kamu. Nggak nyangka aja gitu.” Mas Taufan


menjawil daguku.


Aku menunduk, wajah ini pasti


sudah memerah karena malu. “Aku juga, bahagia.”


“Ya udah, mau honeymoon ke mana?


Tapi, Zain titipin. Bilang sama dia, kita mau bikinin adek, nggak boleh


diganggu gitu.” Mas Taufan mulai memperlihatkan sikap seperti biasa yang


sedikit nakal.


“Bikin adek? Emang kamu bisa?”


“Eh, kamu ngeledek? Yang semalam


nangis-nangis itu emang ngapain?” ujarnya sambil mencubit kedua pipiku.


“Ngapain ya, aku lupa.” Aku


beranjak dari hadapannya. Mencoba beralih, agar ia tak lagi membahas apa yang


sudah terjadi tadi malam.


Tiba-tiba saja tanganku


ditariknya, “Ish. Jawab dulu pertanyaanku.”


“Pertanyaan apa, Mas?”


“Kita mau ke mana?”


“Selama perginya sama kamu, aku


ikut saja. Kita sarapan dulu, yuk. Nggak enak ditungguin sama yang lain.”


Akhirnya pembahasan honeymoon


tertunda sejenak, kami berdua menuju ruang makan. Kulihat Abi dan Ummi sudah


duduk menunggu kami, Zain juga tampak semringah wajahnya saat melihatku dan Mas


Taufan keluar dari kamar.


“Bunda lama banget sih, aku kan


udah lapar,” celetuk bocah laki-laki di sebelah Abi.


“Maaf, ya. Ayah kamu ngajak


ngobrol dulu tadi.” Aku mengusap lembut kepalanya seraya menarik kursi untuk


duduk.


“Nak Taufan, Abi harap kamu betah


ya tinggal di sini,” ucap Abi.


Aku melihat ke samping, wajah Mas

__ADS_1


Taufan sedang berusaha tersenyum. Bibirnya tertarik sedikit ke samping. Aku tahu,


ada yang ingin ia sampaikan mungkin. Tapi mungkin masih menjaga perasaan Abi,


hingga ia hanya mengangguk pelan.


“Ambilin suamimu makan, Fa.” Ummi


menyodorkan piring ke arahku.


Aku lalu menyendokkan nasi untuk


Mas Taufan, dan meletakkan piring tersebut di hadapannya. “Kamu mau makan pakai


apa, Mas?” tanyaku.


Mas Taufan tampak memerhatikan


satu persatu lauk dan sayur yang tersaji di meja makan. Mungkin terasa asing. “Ini


ikan tongkol dicabein, enak. Aku ambilin ya. Kalau ini sayur lodeh, nggak pedes


kok. Kamu bisa ambil sendiri secukupnya.” Aku mencoba untuk menjelaskan. Sementara


gorengan tahu dan tempe tak perlu kukasih tahu lagi.


“Seadanya ya, Nak Taufan. Maaf,


nggak ada daging sapinya sama daging ayam,” ujar Ummi sambil tersenyum kecil.


“Nggak apa-apa kok, Ummi. Saya juga


biasa makan di warteg. Malah cuma pakai telur ceplok atau kerupuk. Hehehe.” Mas


Taufan terkekeh sambil menyendokkan nasi ke dalam mulutnya.


“Ayah, nanti kita jalan-jalan ya.


Aku mau naik motor sama Ayah sama Bunda juga.” Zain tampak bersemangat mengajak


ayah barunya.


“Ayah Taufan masih capek, Nak. Besok


aja, ya.” Aku berusaha membujuk Zain untuk tidak ke mana-mana hari ini. Karena kulihat


wajah suamiku masih sedikit kelelahan.


“Nggak kok, Ayah nggak capek. Kamu


mau ke mana? Ke mol? Kita main di sana.” Mas Taufan berusaha untuk membuat Zain


ceria.


“Mau, mau. Aku mau main di mol. Boleh


kan, Bunda?” tanya Zain dengan wajah antusias.


Aku hanya tersenyum dan


mengangguk, “Iya, boleh.”


“Asyiiik.”


“Tapi, habisin dulu makannya.”


Aku meletakkan lauk di piring putraku, ia pun makan dengan lahap.


Mana mungkin aku menolak atau


melarang mereka. Selama ini aku tidak melihat Zain yang begitu bahagia. Sekarang


kedua matanya sudah bisa melihat kembali, sebentar lagi juga Zain akan mulai


aku sekolahkan seperti anak-anak lainnya. Tapi, aku masih bingung dengan


keinginan suamiku yang meminta kami untuk pindah rumah.


“Kamu kok bengong, Dek?” tanya


Mas Taufan yang tiba-tiba membuyarkan lamunanku.


“Oh, enggak. Enggak apa-apa,  kok, Mas.”


“Kamu kenapa, sakit?”


Aku hanya menggeleng, “Enggak, ya


udah dilanjut makannya.”


Bagaimana aku harus bilang pada


Abi dan Ummi tentang keinginan pindah itu? Aku takut mereka akan kecewa dan


sedih, karena harus terpisah dari anak dan cucunya. Aku juga nggak mungkin


menolak, karena Mas Taufan adalah suamiku saat ini, dan aku harus patuh.

__ADS_1


***


bersambung.


__ADS_2