
Bismillahirohmanirohim
…
Assalamualaikum …
akhirnya aku bisa balik lagi buat lanjutin cerita pasangan ini.
Maaf kalau
updatenya laamaaaa banget.
Soalnya banyak
kerjaan di luar sana, ditambah aku juga baru abis pindahan rumah. Nah berhubung
banyak yang manggil-manggil tapi nggak bisa balas komen satu-satu. Makanya aku
putuskan untuk balik lanjutin cerita ini lagi.
Jangan lupa kasih
vote buat aku yaaa… biar semangat nulisnya. Makasih
Thifa POV
Saat mentari menyambut pagi
dengan sinarnya yang cerah. Begitu pun denganku yang menyambut hari ini dengan
hati bahagia. Untuk pertama kalinya aku merasakan menjadi seorang istri yang
sesungguhnya. Istri satu-satunya dari seorang pria yang belum lama kukenal.
Taufan memang bukan seperti pria
lain kebanyakan, yang melihat wanita dari fisik. Ia bahkan tak peduli dengan
statusku yang seorang janda beranak satu. Sampai dirinya nekat belajar agama,
mencari tahu tentang Islam, dan akhirnya ia kini sudah menjadi seorang mualaf.
Aku mungkin wanita paling
beruntung yang bisa mengenalnya. Ia yang begitu menyayangi Zain, seperti
putranya sendiri. Sementara di luar sana, mungkin banyak wanita yang
mendekatinya.
“Sayang, aku mau kita pindah
rumah. Maksudku, kita tinggal terpisah dari orang tua kamu.” Tiba-tiba saja Mas
Taufan berbicara denganku seperti itu.
Aku yang baru saja merapikan pakaian miliknya, memindahkan
dari koper ke dalam lemari. Menatapnya sekilas dengan perasaan bertanya-tanya.
“Loh memang kenapa harus pindah rumah, Mas?” tanyaku.
Mas Taufan lalu duduk di tepi ranjang, menghadap ke arahku.
“Aku Cuma mau mandiri aja, pisah, nggak mau ngerepotin kedua orang tua kamu,
Dek.”
“Mereka senang kok, nggak repot. Mas keberatan tinggal sama
mereka?”
“Bukan, eum … jujur saja, kalau aku harus tinggal di sini,
jarak ke kantor makin jauh, Dek.”
Aku berusaha mengerti dengan
keadaannya. Benar juga, dari sini ke kantornya memang jauh. Hampir tiga puluh
kilometer. Karena sebelumnya Fikri pernah bilang sama aku, kalau kantor Mas
Taufan jaraknya jauh dari pondok ini.
“Selama ini Mas tinggal di mana?”
tanyaku.
“Di kost. Tapi nanti kalau sama
kamu, ya kita ngontrak rumah aja. Atau mau tinggal di rumah papaku juga bisa.”
“Aku nggak enak kalau harus
tinggal di rumah papa kamu. Sementara dia aja nggak tahu kalau kita sudah
menikah.”
__ADS_1
“Kamu tenang saja, papa aku nggak
ada di kota ini. Dia nikah lagi, dan meninggalkan semuanya buat aku dan adikku.
Sayangnya, Karin pergi terlalu cepat. Bahkan papa juga nggak tahu itu semua.”
“Kamu yang sabar, ya, Mas.”
Aku tersenyum kecil, Mas Taufan
ternyata tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Kupikir dia akan seperti
lelaki iseng yang suka jahil dengan wanita. Ternyata setelah menjadi suami,
sikapnya berubah menjadi sedikit lebih dewasa.
“Kamu mau kita honeymoon ke
mana?” tanya Mas taufan seraya bangkit dari duduknya dan memelukku dari
belakang.
Aku bahkan tak bisa berpikir
untuk menjawab pertanyaannya barusan. Jantung ini sudah lebih dulu berdebar.
Tangan kekarnya yang melingkar di perut, membuat dada ini seakan dipenuhi oleh
ribuan kupu-kupu. Terlebih saat tangannya pindah ke bahu, memutar tubuhku
hingga kami saling bersitatap.
“Dek, kamu cantik. Aku
bahagiiiaaa banget, bisa nikahin kamu. Nggak nyangka aja gitu.” Mas Taufan
menjawil daguku.
Aku menunduk, wajah ini pasti
sudah memerah karena malu. “Aku juga, bahagia.”
“Ya udah, mau honeymoon ke mana?
Tapi, Zain titipin. Bilang sama dia, kita mau bikinin adek, nggak boleh
diganggu gitu.” Mas Taufan mulai memperlihatkan sikap seperti biasa yang
sedikit nakal.
“Bikin adek? Emang kamu bisa?”
“Eh, kamu ngeledek? Yang semalam
nangis-nangis itu emang ngapain?” ujarnya sambil mencubit kedua pipiku.
“Ngapain ya, aku lupa.” Aku
beranjak dari hadapannya. Mencoba beralih, agar ia tak lagi membahas apa yang
sudah terjadi tadi malam.
Tiba-tiba saja tanganku
ditariknya, “Ish. Jawab dulu pertanyaanku.”
“Pertanyaan apa, Mas?”
“Kita mau ke mana?”
“Selama perginya sama kamu, aku
ikut saja. Kita sarapan dulu, yuk. Nggak enak ditungguin sama yang lain.”
Akhirnya pembahasan honeymoon
tertunda sejenak, kami berdua menuju ruang makan. Kulihat Abi dan Ummi sudah
duduk menunggu kami, Zain juga tampak semringah wajahnya saat melihatku dan Mas
Taufan keluar dari kamar.
“Bunda lama banget sih, aku kan
udah lapar,” celetuk bocah laki-laki di sebelah Abi.
“Maaf, ya. Ayah kamu ngajak
ngobrol dulu tadi.” Aku mengusap lembut kepalanya seraya menarik kursi untuk
duduk.
“Nak Taufan, Abi harap kamu betah
ya tinggal di sini,” ucap Abi.
Aku melihat ke samping, wajah Mas
__ADS_1
Taufan sedang berusaha tersenyum. Bibirnya tertarik sedikit ke samping. Aku tahu,
ada yang ingin ia sampaikan mungkin. Tapi mungkin masih menjaga perasaan Abi,
hingga ia hanya mengangguk pelan.
“Ambilin suamimu makan, Fa.” Ummi
menyodorkan piring ke arahku.
Aku lalu menyendokkan nasi untuk
Mas Taufan, dan meletakkan piring tersebut di hadapannya. “Kamu mau makan pakai
apa, Mas?” tanyaku.
Mas Taufan tampak memerhatikan
satu persatu lauk dan sayur yang tersaji di meja makan. Mungkin terasa asing. “Ini
ikan tongkol dicabein, enak. Aku ambilin ya. Kalau ini sayur lodeh, nggak pedes
kok. Kamu bisa ambil sendiri secukupnya.” Aku mencoba untuk menjelaskan. Sementara
gorengan tahu dan tempe tak perlu kukasih tahu lagi.
“Seadanya ya, Nak Taufan. Maaf,
nggak ada daging sapinya sama daging ayam,” ujar Ummi sambil tersenyum kecil.
“Nggak apa-apa kok, Ummi. Saya juga
biasa makan di warteg. Malah cuma pakai telur ceplok atau kerupuk. Hehehe.” Mas
Taufan terkekeh sambil menyendokkan nasi ke dalam mulutnya.
“Ayah, nanti kita jalan-jalan ya.
Aku mau naik motor sama Ayah sama Bunda juga.” Zain tampak bersemangat mengajak
ayah barunya.
“Ayah Taufan masih capek, Nak. Besok
aja, ya.” Aku berusaha membujuk Zain untuk tidak ke mana-mana hari ini. Karena kulihat
wajah suamiku masih sedikit kelelahan.
“Nggak kok, Ayah nggak capek. Kamu
mau ke mana? Ke mol? Kita main di sana.” Mas Taufan berusaha untuk membuat Zain
ceria.
“Mau, mau. Aku mau main di mol. Boleh
kan, Bunda?” tanya Zain dengan wajah antusias.
Aku hanya tersenyum dan
mengangguk, “Iya, boleh.”
“Asyiiik.”
“Tapi, habisin dulu makannya.”
Aku meletakkan lauk di piring putraku, ia pun makan dengan lahap.
Mana mungkin aku menolak atau
melarang mereka. Selama ini aku tidak melihat Zain yang begitu bahagia. Sekarang
kedua matanya sudah bisa melihat kembali, sebentar lagi juga Zain akan mulai
aku sekolahkan seperti anak-anak lainnya. Tapi, aku masih bingung dengan
keinginan suamiku yang meminta kami untuk pindah rumah.
“Kamu kok bengong, Dek?” tanya
Mas Taufan yang tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
“Oh, enggak. Enggak apa-apa, kok, Mas.”
“Kamu kenapa, sakit?”
Aku hanya menggeleng, “Enggak, ya
udah dilanjut makannya.”
Bagaimana aku harus bilang pada
Abi dan Ummi tentang keinginan pindah itu? Aku takut mereka akan kecewa dan
sedih, karena harus terpisah dari anak dan cucunya. Aku juga nggak mungkin
menolak, karena Mas Taufan adalah suamiku saat ini, dan aku harus patuh.
__ADS_1
***
bersambung.