
THIFA POV
.
.
Kedua mataku terbelalak kaget,
melihat seorang wanita berambut panjang berpenampilan menarik. Cantik, berkulit
putih, berpostur tinggi dengan pakaian
mini, datang dan langsung memeluk juga mencium suamiku. Kejadian itu di depan
mata kepalaku sendiri. Hati ini rasanya sesak, mata pun memanas melihatnya,
kenapa Mas Taufan tak menghindar sama sekali. Apa dia tak menghargai
keberadaanku di sini?
Segera kubangkit dari duduk,
menghampiri Zain yang sedang bermain dan mengajaknya keluar dari area permainan.
“Ayo kita pulang, Zain.” Kuraih tangannya dan menggandengnya menjauh dari
tempat Mas Taufan dan wanita itu yang kulihat masih asyik mengobrol.
“Thifa … sayang, tunggu!”
panggilnya.
Aku menoleh, tapi tangan Mas
Taufan masih dipegang oleh wanita itu. Tak kuhiraukan panggilannya, aku terus
berjalan dan menjauh.
“Bunda, aku masih mau main.
Kenapa Ayah ditinggal?” tanya Zain.
“Bunda ngantuk,” jawabku singkat.
“Tungguin Ayah, Bunda. Kita
pulang naik apa?”
“Kita bisa pulang naik taksi
online.”
“Tapi Ayah?”
“Ayah kamu sudah besar, dia bisa
pulang sendiri. Ayo!” Aku mengajak Zain keluar area mol. Mengambil ponsel di
dalam tas untuk memesan taksi online.
Saat sebuah mobil berwarna biru
mendekat kea rah kami. Tangan kananku terasa hangat, kulihat Mas Taufan sudah berdiri
di sebelah.
“Kamu mau ke mana?” tanyanya.
Aku hanya diam, menahan segala
sesak di dalam dada. Tak ingin terlihat lemah apalagi menangis di hadapannya.
Terlebih di depan umum.
“Maaf, tadi teman aku. Tiara
namanya, aku juga bilang kalau kamu istri aku. Aku mau kenalin kalian, tapi
kamu malah pergi.” Mas Taufan berusaha menjelaskan.
“Aku mau pulang.” Aku melepas
tangannya, dan membuka pintu mobil yang sudah berhenti di depan kami.
“Sayang, kita bisa pulang
sama-sama. Nanti kalau orang tua kamu tanya gimana?” Mas Taufan mengetuk kaca
mobil yang sudah kututup.
“Bunda, kenapa Ayah ditinggal?”
tanya Zain yang sudah duduk di kursi depan.
“Jalan, Pak!” titahku pada sang
sopir.
Akhirnya mobil melaju perlahan
meninggalkan tempat di mana kulihat Mas Taufan masih berdiri di depan lobi
utama mol. Aku menatap jalanan dari kaca samping kiri. Entah mengapa perasaan
ini rasanya nyeri dan terlalu sakit. Baru semalam kami memadu kasih, merajut
cinta dan kebahagiaan. Berharap tak akan ada masalah yang terjadi. Namun, tanpa
disangka, seorang wanita datang menghancurkan mimpi itu. Mungkinkah aku terlalu
berlebihan? Cemburu dengan wanita itu, yang mungkin saja benar, hanya temannya
Mas Taufan.
Terlepas dari siapa dia tadi, tapi
aku tetap tidak menyukai caranya yang main sosor di depan umum. Tanpa sadar
pipi ini basah, kuusap perlahan bulir air yang menggenang di sudut mata.
Berusaha untuk melupakan kejadian tadi. Namun, bayangan Mas Taufan yang tak
bereaksi tadi membuatku benar-benar sakit hati.
***
Kami tiba di depan pondok.
Setelah membayar ongkos, aku dan Zain keluar dari mobil. Perut yang terasa
perih ini menambah rasa sakit di saja. Akhirnya aku mengajak Zain untuk pergi
makan mie ayam di seberang jalan. Karena saat di mol tadi, aku sama sekali
belum menyentuh makanan di sana. Sementara matahari sudah makin meninggi.
“Kita makan mie ayam dulu, yuk.
Bunda lapar,” kataku sambil menggandeng Zain untuk menyebrang.
“Kenapa nggak makan di rumah
saja, Bunda?”
Sebenarnya aku juga maunya
begitu. Tapi, kalau sampai Abi dan Ummi bertanya, kenapa kami tak makan di
luar. Pasti mereka akan curiga, ditambah kami tak pulang bersama.
“Bunda lagi kepengen makan mie
ayam, yang pedeees,” jawabku
__ADS_1
“Oh.”
Aku memesan dua porsi mie ayam
dan es the manis. Sengaja aku duduk di bagian dalam agar tidak terlihat dari
luar. Takutnya nanti Mas Taufan tiba-tiba datang dan menghampiri kami di sini.
Aku malas untuk bicara sama dia saat ini.
Tak lama kemudian pesanan kami
tiba, aku mengambil saus dan sambal. Menuangkannya di dalam mangkuk. Tepat di
atas ayam yang dicincang dan taburan daun daun bawang. Harumnya menyeruak
membuat cacing di dalam perutku menggelinjang.
“Bunda, tante yang sama Ayah tadi
siapa?” tanya Zain.
Aku menoleh kea rah putraku yang
duduk di sebelah kiri, sambil mengunyah aku berusaha untuk menarik napas
dalam-dalam. Lalu menjawab pertanyaannya setelah makanan di dalam mulut ini
tertelan. “Bunda nggak tahu. Nanti tanya Ayah saja.”
“Bunda kenapa nggak pulang bareng
Ayah?”
“Bunda kan bilang, ngantuk.”
“Tapi kenapa Bunda nggak langsung
pulang, malah makan mie ayam?”
Aku menghela napas pelan. Anak
ini terlalu pintar memang, bertanya sesuatu yang mungkin menurutnya ganjal. Aku
juga bingung harus menjawab dan menjelaskan apa? Masa aku bilang kalau aku
cemburu dengan wanita tadi?
“Ya, karena Bunda lapar. Biar
tidurnya nyenyak.”
“Tapi ini udah jam tiga sore,
Bunda. Kata Bunda kalau sudah sore nggak boleh tidur.” Zain kembali memberikan
pernyataan yang membuatku semakin bingung.
“Sayang, kamu habiskan mienya.
Trus pulang, kalau kamu ngomong terus, mienya nggak habis-habis. Mau Bunda
tinggal?” Aku malah mengancamnya. Zain langsung terdiam dan menyantap kembali
makanannya.
Ponselku seketika bordering,
kurogoh tas kecil dan melihat siapa yang baru saja menelpon. Panngilan masih
tersambung, sebuah nama yang amat kukenal mencoba menelponku berkali-kali. Mas
Taufan, pasti dia sedang mencariku.
Kuabaikan panggilan itu, lalu
meletakkan ponsel di sebelah tempat sambal. Sampai tiba-tiba seorang wanita
“Ustadzah, ada yang cari di
luar.” Wanita berjilbab di sebelahku menunjuk ke arah luar.
Aku menoleh.
Pria jangkung berbaju abu-abu itu
tersenyum ke arahku, ia melambaikan tangannya. Aku menoleh sekilas lalu kembali
membuang muka.
“Ayah!” panggil Zain yang
langsung berlari menghampiri Mas Taufan.
Terpaksa aku cepat-cepat minum,
lalu ikut keluar. Saat hendak membayar makanan yang kupesan, ternyata sudah
dibayar oleh Mas Taufan. Aku berjalan menghampirinya.
“Jangan ngambek dong, Sayang …
aku minta maaf.” Mas Taufan meraih tanganku.
“Jangan bicara di sini, di rumah
aja. Nggak enak dilihat orang.” Aku melangkah ke arah pondok. Kami masuk lewat pondok
putri.
Mas Taufan langsung menggendong
Zain dan mengikutiku di belakang. Saat melintas melewati ruang kebetulan penuh
dengan para orang tua yang sedang menjenguk putrid mereka, beberapa pasang mata
menatap kami tak berkedip.
“Masya Allah, Ustadzah Thifa sama
Mas Taufan, kalian emang pasangan yang serasi. Selamat ya atas pernikahannya.”
Arum, teman seprofesiku tiba-tiba datang dan langsung menyalami.
“Makasih, ya.” Aku hanya
tersenyum kecil.
Lalu dari arah belakang, ternyata
banyak anak didikku yang sedang piket menyapu dan membersihkan halaman depan
kamar mereka. Mereka yang melihat langsung menghampiri dan ikutan menyalami. Aku
senang melihat perhatian mereka. Sayangnya, tidak dengan hati ini mengingat
kejadian siang tadi.
“Mau ke mana Ustadzah?” tanya
salah satu santriwati.
“Mau pulang,” jawabku.
“Kenapa nggak lewat belakang aja?”
“Nggak apa-apa, kangen sama
kalian.”
“Oh ….”
Aku lalu berpamitan dan kembali
__ADS_1
melanjutkan perjalanan. Melewati koridor utama, di mana berada di tengah-tengah
kamar para santriwati. Karena hanya jalanan itu yang menyambungkan dengan
gerbang belakang rumah Abi. Selain lewat pondok putra, yang langsung di depan
rumah kami.
Sengaja aku lewat sini, biar dia
malu diperhatikan banyak perempuan. Aku hanya ingin melihat ekspresinya. Kalau dia
terlihat bahagia, berarti memang Mas Taufan senang diperhatikan banyak wanita. Kalau
dia malu, berarti dia masih punya rasa malu.
Aku sesekali menengok ke arah
belakang, Zain di gendongannya tampak tertidur di pundak. Kasihan dia, menjadi
korban kedua orang tuanya yang salah paham seperti sekarang. Sementara wajah
Mas Taufan memerah sambil menunduk ia berusaha memperbaiki posisi kepala Zain.
Tanpa sadar kami tiba di depan
halaman rumah, Abi yang sedang duduk menyambut kedatangan kami.
“Assalamualaikum,” sapaku.
“Waalaikum salam. Loh, motornya
mana, Nak Taufan?” tanya Abi.
“Eum … di depan, Bi. Zain tidur.”
“Tapi kenapa lewat pondok putrid?”
tanya Abi dengan alis mengkerut.
Aku hanya tersenyum kecil melihat
mimic wajah Mas Taufan yang kebingungan. “Tadi aku pengen ke sana, Bi. Kangen aja
sama santriwati,” jawabku.
“Oh, ya sudah. Bawa masuk Zain,
kasihan.”
“Iya, Bi.”
Mas Taufan membawa Zain ke
kamarnya, kulihat dari depan pintu ia membaringkan tubuh anak laki-laki itu
dengan perlahan ke atas kasur. Setelah itu ia beringsut dari ranjang, dan aku
melangkah ke kamar.
Mas Taufan mengekor, setelah di
dalam kamar. Ia menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Lalu menghampiriku
yang duduk di tepi ranjang.
“Kamu marah?” tanyanya menatap
intens.
Aku hanya menunduk.
“Maaf, kalau aku membuat kamu
kecewa,” sambungnya lagi.
“Apa kamu selalu melakukan hal
itu sama semua wanita?” tanyaku pada akhirnya.
“Maksud kamu? Melakukan apa?”
“Berciuman di depan umum dengan
lawan jenis.”
“Astaghfirullah, kamu pikir aku
serendah itu?”
“Buktinya, kamu diam saja waktu
wanita itu cium kamu.”
“Aku juga kaget, aku nggak bisa
menghindar. Maafin aku, Sayang.”
Aku lagi-lagi hanya bisa diam,
bagaimana bisa aku terima itu. Mungkin aku bisa memaafkan, tapi tidak untuk
melupakan.
Mas Taufan meraih tanganku, lalu
mengecupnya lembut. “Aku rela kamu hukum. Asal kamu mau maafin aku. Aku janji
nggak akan ngulangin itu lagi,” ucapnya.
“Aku yang harusnya minta maaf,
karena nggak tahu dan mengenal kamu juga teman-teman kamu yang dulu.”
“Sayang, aku ….” Mas Taufan sudah
mencium bibirku tanpa aku sadari. Ia ******* bahkan sesekali menggigit hingga
bibir bawah ini terasa sakit.
“Mas.” Aku mendorong pelan
tubuhnya ke belakang.
“Kamu nolak suami kamu?”
tanyanya.
“Bukan, kamu nggak dengar itu
suara adzan Asar?” tanyaku mengalihkan.
Kulihat Mas Taufan mengusap
wajahnya, lalu menyugar rambut dan bangkit dari duduknya. “Okey, kita sholat
dulu. Habis itu kita lanjutin.”
“Lanjutin apa?” tanyaku.
“Eum … yang barusan,” katanya
gugup.
“Emangnya aku udah maafin kamu?”
Aku bangkit dan melangkah keluar kamar.
***
bersambung
jangan lupa vote dan komennya yaaa
__ADS_1