Maukah Kau Menikah Denganku?

Maukah Kau Menikah Denganku?
Episode 33 Cemburu


__ADS_3

THIFA POV


.


.


Kedua mataku terbelalak kaget,


melihat seorang wanita berambut panjang berpenampilan menarik. Cantik, berkulit


putih, berpostur tinggi  dengan pakaian


mini, datang dan langsung memeluk juga mencium suamiku. Kejadian itu di depan


mata kepalaku sendiri. Hati ini rasanya sesak, mata pun memanas melihatnya,


kenapa Mas Taufan tak menghindar sama sekali. Apa dia tak menghargai


keberadaanku di sini?


Segera kubangkit dari duduk,


menghampiri Zain yang sedang bermain dan mengajaknya keluar dari area permainan.


“Ayo kita pulang, Zain.” Kuraih tangannya dan menggandengnya menjauh dari


tempat Mas Taufan dan wanita itu yang kulihat masih asyik mengobrol.


“Thifa … sayang, tunggu!”


panggilnya.


Aku menoleh, tapi tangan Mas


Taufan masih dipegang oleh wanita itu. Tak kuhiraukan panggilannya, aku terus


berjalan dan menjauh.


“Bunda, aku masih mau main.


Kenapa Ayah ditinggal?” tanya Zain.


“Bunda ngantuk,” jawabku singkat.


“Tungguin Ayah, Bunda. Kita


pulang naik apa?”


“Kita bisa pulang naik taksi


online.”


“Tapi Ayah?”


“Ayah kamu sudah besar, dia bisa


pulang sendiri. Ayo!” Aku mengajak Zain keluar area mol. Mengambil ponsel di


dalam tas untuk memesan taksi online.


Saat sebuah mobil berwarna biru


mendekat kea rah kami. Tangan kananku terasa hangat, kulihat Mas Taufan sudah berdiri


di sebelah.


“Kamu mau ke mana?” tanyanya.


Aku hanya diam, menahan segala


sesak di dalam dada. Tak ingin terlihat lemah apalagi menangis di hadapannya.


Terlebih di depan umum.


“Maaf, tadi teman aku. Tiara


namanya, aku juga bilang kalau kamu istri aku. Aku mau kenalin kalian, tapi


kamu malah pergi.” Mas Taufan berusaha menjelaskan.


“Aku mau pulang.” Aku melepas


tangannya, dan membuka pintu mobil yang sudah berhenti di depan kami.


“Sayang, kita bisa pulang


sama-sama. Nanti kalau orang tua kamu tanya gimana?” Mas Taufan mengetuk kaca


mobil yang sudah kututup.


“Bunda, kenapa Ayah ditinggal?”


tanya Zain yang sudah duduk di kursi depan.


“Jalan, Pak!” titahku pada sang


sopir.


Akhirnya mobil melaju perlahan


meninggalkan tempat di mana kulihat Mas Taufan masih berdiri di depan lobi


utama mol. Aku menatap jalanan dari kaca samping kiri. Entah mengapa perasaan


ini rasanya nyeri dan terlalu sakit. Baru semalam kami memadu kasih, merajut


cinta dan kebahagiaan. Berharap tak akan ada masalah yang terjadi. Namun, tanpa


disangka, seorang wanita datang menghancurkan mimpi itu. Mungkinkah aku terlalu


berlebihan? Cemburu dengan wanita itu, yang mungkin saja benar, hanya temannya


Mas Taufan.


Terlepas dari siapa dia tadi, tapi


aku tetap tidak menyukai caranya yang main sosor di depan umum. Tanpa sadar


pipi ini basah, kuusap perlahan bulir air yang menggenang di sudut mata.


Berusaha untuk melupakan kejadian tadi. Namun, bayangan Mas Taufan yang tak


bereaksi tadi membuatku benar-benar sakit hati.


***


Kami tiba di depan pondok.


Setelah membayar ongkos, aku dan Zain keluar dari mobil. Perut yang terasa


perih ini menambah rasa sakit di saja. Akhirnya aku mengajak Zain untuk pergi


makan mie ayam di seberang jalan. Karena saat di mol tadi, aku sama sekali


belum menyentuh makanan di sana. Sementara matahari sudah makin meninggi.


“Kita makan mie ayam dulu, yuk.


Bunda lapar,” kataku sambil menggandeng Zain untuk menyebrang.


“Kenapa nggak makan di rumah


saja, Bunda?”


Sebenarnya aku juga maunya


begitu. Tapi, kalau sampai Abi dan Ummi bertanya, kenapa kami tak makan di


luar. Pasti mereka akan curiga, ditambah kami tak pulang bersama.


“Bunda lagi kepengen makan mie


ayam, yang pedeees,” jawabku

__ADS_1


“Oh.”


Aku memesan dua porsi mie ayam


dan es the manis. Sengaja aku duduk di bagian dalam agar tidak terlihat dari


luar. Takutnya nanti Mas Taufan tiba-tiba datang dan menghampiri kami di sini.


Aku malas untuk bicara sama dia saat ini.


Tak lama kemudian pesanan kami


tiba, aku mengambil saus dan sambal. Menuangkannya di dalam mangkuk. Tepat di


atas ayam yang dicincang dan taburan daun daun bawang. Harumnya menyeruak


membuat cacing di dalam perutku menggelinjang.


“Bunda, tante yang sama Ayah tadi


siapa?” tanya Zain.


Aku menoleh kea rah putraku yang


duduk di sebelah kiri, sambil mengunyah aku berusaha untuk menarik napas


dalam-dalam. Lalu menjawab pertanyaannya setelah makanan di dalam mulut ini


tertelan. “Bunda nggak tahu. Nanti tanya Ayah saja.”


“Bunda kenapa nggak pulang bareng


Ayah?”


“Bunda kan bilang, ngantuk.”


“Tapi kenapa Bunda nggak langsung


pulang, malah makan mie ayam?”


Aku menghela napas pelan. Anak


ini terlalu pintar memang, bertanya sesuatu yang mungkin menurutnya ganjal. Aku


juga bingung harus menjawab dan menjelaskan apa? Masa aku bilang kalau aku


cemburu dengan wanita tadi?


“Ya, karena Bunda lapar. Biar


tidurnya nyenyak.”


“Tapi ini udah jam tiga sore,


Bunda. Kata Bunda kalau sudah sore nggak boleh tidur.” Zain kembali memberikan


pernyataan yang membuatku semakin bingung.


“Sayang, kamu habiskan mienya.


Trus pulang, kalau kamu ngomong terus, mienya nggak habis-habis. Mau Bunda


tinggal?” Aku malah mengancamnya. Zain langsung terdiam dan menyantap kembali


makanannya.


Ponselku seketika bordering,


kurogoh tas kecil dan melihat siapa yang baru saja menelpon. Panngilan masih


tersambung, sebuah nama yang amat kukenal mencoba menelponku berkali-kali. Mas


Taufan, pasti dia sedang mencariku.


Kuabaikan panggilan itu, lalu


meletakkan ponsel di sebelah tempat sambal. Sampai tiba-tiba seorang wanita


“Ustadzah, ada yang cari di


luar.” Wanita berjilbab di sebelahku menunjuk ke arah luar.


Aku menoleh.


Pria jangkung berbaju abu-abu itu


tersenyum ke arahku, ia melambaikan tangannya. Aku menoleh sekilas lalu kembali


membuang muka.


“Ayah!” panggil Zain yang


langsung berlari menghampiri Mas Taufan.


Terpaksa aku cepat-cepat minum,


lalu ikut keluar. Saat hendak membayar makanan yang kupesan, ternyata sudah


dibayar oleh Mas Taufan. Aku berjalan menghampirinya.


“Jangan ngambek dong, Sayang …


aku minta maaf.” Mas Taufan meraih tanganku.


“Jangan bicara di sini, di rumah


aja. Nggak enak dilihat orang.” Aku melangkah ke arah pondok. Kami masuk lewat pondok


putri.


Mas Taufan langsung menggendong


Zain dan mengikutiku di belakang. Saat melintas melewati ruang kebetulan penuh


dengan para orang tua yang sedang menjenguk putrid mereka, beberapa pasang mata


menatap kami tak berkedip.


“Masya Allah, Ustadzah Thifa sama


Mas Taufan, kalian emang pasangan yang serasi. Selamat ya atas pernikahannya.”


Arum, teman seprofesiku tiba-tiba datang dan langsung menyalami.


“Makasih, ya.” Aku hanya


tersenyum kecil.


Lalu dari arah belakang, ternyata


banyak anak didikku yang sedang piket menyapu dan membersihkan halaman depan


kamar mereka. Mereka yang melihat langsung menghampiri dan ikutan menyalami. Aku


senang melihat perhatian mereka. Sayangnya, tidak dengan hati ini mengingat


kejadian siang tadi.


“Mau ke mana Ustadzah?” tanya


salah satu santriwati.


“Mau pulang,” jawabku.


“Kenapa nggak lewat belakang aja?”


“Nggak apa-apa, kangen sama


kalian.”


“Oh ….”


Aku lalu berpamitan dan kembali

__ADS_1


melanjutkan perjalanan. Melewati koridor utama, di mana berada di tengah-tengah


kamar para santriwati. Karena hanya jalanan itu yang menyambungkan dengan


gerbang belakang rumah Abi. Selain lewat pondok putra, yang langsung di depan


rumah kami.


Sengaja aku lewat sini, biar dia


malu diperhatikan banyak perempuan. Aku hanya ingin melihat ekspresinya. Kalau dia


terlihat bahagia, berarti memang Mas Taufan senang diperhatikan banyak wanita. Kalau


dia malu, berarti dia masih punya rasa malu.


Aku sesekali menengok ke arah


belakang, Zain di gendongannya tampak tertidur di pundak. Kasihan dia, menjadi


korban kedua orang tuanya yang salah paham seperti sekarang. Sementara wajah


Mas Taufan memerah sambil menunduk ia berusaha memperbaiki posisi kepala Zain.


Tanpa sadar kami tiba di depan


halaman rumah, Abi yang sedang duduk menyambut kedatangan kami.


“Assalamualaikum,” sapaku.


“Waalaikum salam. Loh, motornya


mana, Nak Taufan?” tanya Abi.


“Eum … di depan, Bi. Zain tidur.”


“Tapi kenapa lewat pondok putrid?”


tanya Abi dengan alis mengkerut.


Aku hanya tersenyum kecil melihat


mimic wajah Mas Taufan yang kebingungan. “Tadi aku pengen ke sana, Bi. Kangen aja


sama santriwati,” jawabku.


“Oh, ya sudah. Bawa masuk Zain,


kasihan.”


“Iya, Bi.”


Mas Taufan membawa Zain ke


kamarnya, kulihat dari depan pintu ia membaringkan tubuh anak laki-laki itu


dengan perlahan ke atas kasur. Setelah itu ia beringsut dari ranjang, dan aku


melangkah ke kamar.


Mas Taufan mengekor, setelah di


dalam kamar. Ia menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Lalu menghampiriku


yang duduk di tepi ranjang.


“Kamu marah?” tanyanya menatap


intens.


Aku hanya menunduk.


“Maaf, kalau aku membuat kamu


kecewa,” sambungnya lagi.


“Apa kamu selalu melakukan hal


itu sama semua wanita?” tanyaku pada akhirnya.


“Maksud kamu? Melakukan apa?”


“Berciuman di depan umum dengan


lawan jenis.”


“Astaghfirullah, kamu pikir aku


serendah itu?”


“Buktinya, kamu diam saja waktu


wanita itu cium kamu.”


“Aku juga kaget, aku nggak bisa


menghindar. Maafin aku, Sayang.”


Aku lagi-lagi hanya bisa diam,


bagaimana bisa aku terima itu. Mungkin aku bisa memaafkan, tapi tidak untuk


melupakan.


Mas Taufan meraih tanganku, lalu


mengecupnya lembut. “Aku rela kamu hukum. Asal kamu mau maafin aku. Aku janji


nggak akan ngulangin itu lagi,” ucapnya.


“Aku yang harusnya minta maaf,


karena nggak tahu dan mengenal kamu juga teman-teman kamu yang dulu.”


“Sayang, aku ….” Mas Taufan sudah


mencium bibirku tanpa aku sadari. Ia ******* bahkan sesekali menggigit hingga


bibir bawah ini terasa sakit.


“Mas.” Aku mendorong pelan


tubuhnya ke belakang.


“Kamu nolak suami kamu?”


tanyanya.


“Bukan, kamu nggak dengar itu


suara adzan Asar?” tanyaku mengalihkan.


Kulihat Mas Taufan mengusap


wajahnya, lalu menyugar rambut dan bangkit dari duduknya. “Okey, kita sholat


dulu. Habis itu kita lanjutin.”


“Lanjutin apa?” tanyaku.


“Eum … yang barusan,” katanya


gugup.


“Emangnya aku udah maafin kamu?”


Aku bangkit dan melangkah keluar kamar.


***


bersambung


jangan lupa vote dan komennya yaaa

__ADS_1


__ADS_2