Maukah Kau Menikah Denganku?

Maukah Kau Menikah Denganku?
25


__ADS_3

TAUFAN POV


assalamualaikum.


Bismillah.


Yang belum follow boleh lah follow dulu.


Jangan ditunda-tunda bacanya, soalnya setelah tamat mau langsung kuhapus sebagian. Muehehehe.


💕💕💕


Pagi ini gue kebangun karena mencium aroma harum dari dapur. Setelah sholat Subuh tadi, gue ketiduran di sofa. Bangun-bangun ternyata udah jam tujuh aja.


Gue melangkah ke arah ruang makan. Karin kelihatan sibuk menata meja, di atasnya sudah tersedia sarapan. Gue langsung menarik kursi dan duduk.


"Wuiih, ada angin apa nih? Tumben loe masak?" tanya gue sambil memotong telur gulung dan melahapnya.


"Iseng aja, Kak. Aku cuma nyoba menu yang berkeliaran di instagram. Enak nggak? Itu makanan Korea loh."


"Apaan, telor gulung gini di abang-abang pinggir jalan juga banyak."


"Ye, beda lah."


"Nasinya nggak ada nih?"


"Enggak, cuma telor aja. Roti mau?" Karin menyodorkan roti tawar.


"Mana kenyang. Emang loe nggak masak nasi? Kan ada mejikom."


"Nggak tau takarannya, Kak."


Gue cuma menghela napas pelan. Anak manja kaya dia mana pernah masak nasi. Bisa masak telor aja gue juga udah bangga.


"Kak!" panggilnya.


"Apaan?"


"Eum, aku mau …."


"Bikinin gue kopi dulu deh. Ada kopi sachet di lemari atas. Rebus air dulu ya dikit, jangan pake air termos."


Gue lihat adik gue bangkit dari duduknya. Lalu ke arah dapur membuatkan kopi. Sementara gue masih asyik menikmati telur gulung dengan sosis di dalamnya. Enak juga nih. Nggak terasa meskipun tanpa nasi, sudah bikin perut kenyang.


"Nih, Kak!" Karin meletakkan secangkir kopi di hadapan gue.


"Dah, duduk deh. Loe mau ngomong apa? Oh iya loe udah makan belum?"


"Udah, kok. Kak, aku mau minta pendapat." Karin mengambil ponsel miliknya. Gue cuma menatap aja, nggak tahu dia mau ngasih tahu apaan.


"Baju ini bagus nggak?" Karin memperlihatkan baju gamis berwarna pink muda.


Gue mengernyit. "Bagus, buat kado?"


"Kalo jilbabnya yang ini, cocok nggak?" Kembali Karin memperlihatkan gambar jilbab warna pink juga dengan motif bunga kecil-kecil.


"Cocok."


"Kalo aku yang pake, pantes nggak?"


"Uhuk." Gue melotot ke arah cewek di depan gue ini.


"Maksud loe?"


Karin mengembuskan napas kasar, lalu meletakkan ponselnya di atas meja. "Nggak pantes ya kalo aku pakai baju kaya gitu? Padahal aku pengen ngikuti jejak Kakak, biar kaya calon istri Kakak waktu itu. Kelihatan cantik dan anggun," ujarnya lirih.


Mata gue berbinar, menatap gadis yang mulai beranjak dewasa itu. Tak menyangka, kejadian yang sudah menimpanya, dapat memberikan hidayah turun ke hatinya.


"Bu--bukan, maksud gue. Loe tuh cantik, pake baju apa aja juga cocok. Apalagi pake gamis. Sama lah kaya gue yang tampan ini. Nggak pake baju juga tetap kelihatan macho. Hehehe."


Pluk.


Karin melempar sendok ke arah gue. Untung bisa ngeles, nggak kena deh.


"Ye, maap. Trus kapan loe mau berubah? Loe mau masuk Islam kan?" tanya gue memastikan.


"Jangan sekarang deh, Kak. Nunggu sampe anak ini lahir aja gimana?"


"Karin, adikku yang paling cantik. Niat baik itu nggak boleh ditunda-tunda. Kalau bisa sekarang, kenapa enggak. Langsung nih gue ajak loe ke rumah temen gue, si Hanif. Dia juga punya adik perempuan. Bisa jadi teman loe nanti. Keluarga mereka juga baik semua. Trus abis itu, gue bakalan beliin semua kebutuhan loe, baju gamis, baju tangan panjang, celana panjang, rok panjang, kaus kaki, jilbab-jilbab. Gue serius nih, langsung ambil cuti demi loe."


Karin membuang muka, wajahnya kini tampak sendu. "Dosa aku banyak ya, Kak? Tuhan lagi ngehukum aku. Aku nggak tahu sampai kapan bisa bertahan."


"Loe nggak boleh ngomong gitu. Loe masih dikasih kesempatan buat berubah, bertaubat. Bukan putus asa. Ini bisa jadi pelajaran buat loe. Asal loe tau ya. Sebrengsek-brengseknya gue, gue nggak pernah sampe tidur bareng sama cewek, sampe ngesex, paling pol cuma minum, balap liar. Karena apa? Gue nggak mau masa depan gue rusak cuma gara-gara ngebuntingin anak orang."


"Iya, aku tahu, aku salah. Aku benar-benar dimabok cinta sama Boy. Setiap ucapan dia aku percaya. Sampai aku mau ngelakuin itu sama dia. Nggak tahunya dia malah kabur."


"Ya udah, loe mau pergi sama gue sekarang apa enggak?"


Karin menggeleng lemah. "Kakak mau kerja?"


"Siang."


"Trus pagi ini rencana mau ke mana?"


"Rumah sakit, nemuin anaknya Thifa."

__ADS_1


"Aku sendiri lagi?"


"Ya trus, makanya ikut gue aja sekalian."


"Besok aja deh kalo Kakak libur."


Huft. Gue menghela napas kasar. "Ya udahlah. Gue mau mandi trus jalan. Loe baik-baik di rumah. Nggak usah pergi ke mana-mana." Gue bangkit dari duduk dan mengusap rambut Karin dengan lembut. Lalu melangkah ke kamar mandi.


💕💕💕


Kejadian tadi pagi di ruang makan masih terngiang jelas. Kini, Karin adik kesayangan gue sedang berada di ruang ICU. Gue berharap dia baik-baik saja. Seandainya tadi gue paksa dia buat ikut, mungkin kejadiannya nggak akan seperti ini.


Klek.


Pintu ruangan terbuka, dokter keluar dari ruangan Karin. Gue pun langsung menghampiri. "Gimana keadaan adik saya, Dok?" tanya gue cemas.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, nyawa adik anda dan bayinya tak bisa diselamatkan."


Ucapan dokter barusan bagaikan petir yang menyambar ke dalam dada gue. Sakit banget dengernya. Gue nggak percaya.


"Nggak mungkin, Dok. Adik saya pasti selamat. Doktet bohong, kan?" Gue mengguncang tubuh sang dokter. Namun, dokter bertubuh tambun di depan gue hanya menggeleng dan memegang bahu gue.


"Yang sabar ya, Pak."


Gue pun mendobrak pintu ruangan tersebut, dan berjalan perlahan menuju brankar. Gue lihat kain putih sudah menutupi seluruh tubuh Karin, bahkan sampai ke wajahnya.


Ya Allah, kematian begitu dekat. Bahkan kami baru tadi pagi berbincang. Karin baru saja ingin menjadi seorang mualaf. Namun, Engkau berkehendak lain.


Ya Allah, ampuni segala dosa-dosa adik hamba selama ini. Hamba sudah gagal menjadi seorang Kakak, belum bisa membawa dia pada kebaikan. Karin masih meninggal dalam keadaan belum masuk Islam.


Gue menangis memeluk erat tubuhnya yang sudah kaku. Gue buka bagian atas, gue cium keningnya sebagai ucapan perpisahan.


Gue bergegas keluar ruangan. Lalu menghubungi nomor Papa. Terdengar nada sambung dari seberang telepon. Lama, tak ada sahutan sama sekali.


Gue terduduk di kursi tunggu, menunduk, meremas rambut dengan kedua telapak tangan. Gue nggak pernah merasakan kehilangan yang teramat dalam seperti ini.


"Mas," panggil seseorang dengan lembut.


Gue menoleh, cepat gue hapus sisa air mata di pipi. Thifa sudah duduk di sebelah menatap penuh tanya.


"Kenapa, Mas? Apa yang terjadi?" tanyanya.


Ya Allah, kalau udah sah. Gue peluk nih cewek sebelah gue. Biar dia tahu kalau gue saat ini benar-benar butuh seseorang.


"Mas, kenapa?"


"Karin, Dek."


"Karin kenapa?"


"Trus? Dia nggak apa-apa kan?"


"Karin pendarahan, dan nyawanya nggak bisa diselamatkan."


"Innalillahi wa innailaihi rojiun. Aku turut berduka cita ya, Mas."


Gue hanya mengangguk. Namun, tiba-tiba suara keras terdengar di hadapan kami.


"Thifa, ayo kembali!"


Gue lihat Abi menarik tangan Thifa dan membaqamya menjauh. Gue bangkit dari duduk. Entaj mengapa gue merasa ada yang berbeda dengan sikap Abi barusan.


"Abi, jangan tarik-tarik aku. Mas Taufan sedang berduka." Suara Thifa terdengar memohon.


"Thifa, anak kamu ditinggal sendirian di kamarnya. Sedangkan kamu malah asyik berduaan di sini. Ingat, kalian itu belum menikah, bukan mahrom." Abi mencoba kembali menarik tangan anaknya.


"Abi, Abi. Maaf, kalau kehadiran saya ----"


"Sudah, sudah. Kamu nggak usah ikutan bicara. Kamu urus saja adik kamu yang hamil di luar nikah itu! Ayo, Thifa. Oh iya, jangan pernah temui anak saya lagi, apalagi cucu saya."


Thifa melangkah mengikuti Abinya. Gue cuma bisa menatap kepergian mereka. Sesekali Thifa menoleh ke belakang, raut wajahnya terlihat begitu sedih.


Gue nggak tahu harus berbuat apa, sekarang orang yang gue sayang dan gue cintai pergi. Dan semua terjadi bukan karena kehendak dan perbuatan gue.


Gue terduduk sejenak. Menahan segala gejolak yang terjadi di dalam dada ini. Sementara bokap gue dari tadi nggak bisa dihubungi. Ya Allah ….


💕💕💕


Rintik hujan membasahi tanah makam. Tak banyak yang mengiringi kepergian Karin. Hanya gue dan keluarga Hanif. Gue pun bersyukur mereka masih mau datang. Gue sengaja tak memberitahu teman-teman Karin. Karena dulu adik gue pernah bilang, kehamilannya tak boleh ada yang tahu.


"Yang sabar, Fan!" Hanif menepuk bahu gue pelan.


Gue hanya mengangguk. "Makasih, Nif. Bapak, Ibu, Husna. Kalian sudah mau datang." Gue menatap satu persatu wajah-wajah teduh di hadapan gue.


"Iya, Nak Taufan. Kamu sudah saya anggap seperti keluarga kami sendiri." Pak Maulana, Ayah Hanif menatap gue haru.


Ya Allah, mereka lebih perhatian, lebih sayang dari pada orang tua gue sendiri. Gue bahagia ada di antara mereka, gue bahagia kenal dengan mereka. Tapi, adik gue?


Gue menatap gundukan tanah merah di bawah kaki. Taburan bunga di atasnya harum menusuk hidung. Karin, semoga kamu tenang di sana.


"Sekarang kamu mau ke mana? Apartemen atau tinggal lagi dengan kami?" tanya ibunya Hanif.


"Saya mau pulang ke rumah dulu, saya harus beritahu berita duka ini pada ayah saya. Soalnya dari tadi saya nggak bisa menghubungi beliau," ucap gue.


"Oh gitu, kalau kamu mau balik ke panti lagi. Pintu rumah kami selalu terbuka buat kamu," ujar ayahnya Hanif.

__ADS_1


Gue tersenyum kecil, "Makasih, Pak, Bu."


"Iya, sama-sama."


💕💕💕


Sejam lebih gue berdiri di depan pagar rumah bokap. Tapi, gue rasa nggak ada orang di dalam sana. Bahkan security saja tak terlihat.


"Loh, Mas Taufan."


Gue menoleh. Pak RT yang menegur barusan kelihatan bingung.


"Loh, bukannya ayah Nak Taufan sudah pindah?" tanyanya.


Gue hanya mengernyit. "Pindah? Papa pindah ke mana, Pak?"


"Wah saya nggak tahu. Setelah minggu kemarin beliau menikah. Beliau pamit sama saya mau pindah. Saya dengar ke Manado atau ke mana gitu?"


Gue hanya melengos. Papa sudah menikah lagi? Bahkan dia rela pindah dari rumah yang penuh dengan kenangan ini.


"Rumah ini dijual?" tanya gue.


"Oh, enggak. Ini kuncinya. Beliau nitip pesan sama saya. Katanya rumah ini buat kamu, terserah kamu mau bagi dua sama adik kamu atau gimana. Yang pasti beliau hanya memberikan kunci beserta sertifikat rumah ini ke kamu. Karena beliau nggak tahu lagi cari tahu kamu ke mana. Oh iya, adik kamu gimana kabarnya?"


Pak Burhan menyerahkan sertifikat tanah dan kunci rumah ke gue. "Adik saya baru saja meninggal, Pak. Makanya saya ke sini. Karena saya hubungi Papa nggak bisa-bisa."


"Oh, iya. Papa kamu kecopetan. Handphone sama dompetnya hilang semua. Mungkin nomornya juga ganti."


Gue hanya menghelan napas pelan. "Saya titip salam buat Papa saya, Pak. Kalau sewaktu-waktu beliau ke sini. Ini nomor ponsel saya." Gue menyerahkan ponsel gue pada Pak RT. Beliau menyalinnya ke ponsel miliknya.


Gue pun pamit. Membawa titipan bokap. Gue nggak nyangka meskipun bokap bersikap keras sama gue. Ternyata dia masih inget sama gue, padahal gue nggak pernah minta apa pun dari dia.


💕💕💕


Malam ini rasanya begitu dingin. Selesai membaca al-qur'an. Gue pun melipat sajadah dan masuk ke kamar. Nggak kuat melihat kamar yang sejak beberapa hari ini ditiduri oleh Karin. Sedih. Aroma parfumnya pun masih terasa di hidung. Gue yakin, dia masih di sini.


Gue lirik meja makan, masih ada sisa telur gulung buatannya di sana. Tertutup oleh penutup makanan. Ya Allah, Karin ….


Ting.


Suara ponsel mengejutkan. Gue merogog kantong celana. Pesan whatsapp dari Thifa.


Thifa.


[Assalualaikum. Mas, maafin Abi ya. Mas sekarang di mana?]


Gue tersenyum sambil ngetik balasan.


[Waalaikumsalam. Aku di apartemen. Sendiri. Kamu sudah makan? Zain gimana keadaannya?]


Semenit kemudian pesan dibalas. Sebuah foto bocah lima tahunan sedang duduk sambil makan potongan buah pear.


Thifa.


[Zain kangen kamu.]


[Bundanya enggak?] tanya gue coba goda dia.


Thifa.


[Emot melet. Mas, sebenarnya aku nggak mau bahas ini. Tapi, aku harus bilang sama kamu. Abi mau carikan aku jodoh lain.]


Gue menarik napas dalam-dalam. Ya, mungkin gue memang bukan jodoh dia. Kamu dan keluarga kamu baik, Fa. Sementara keluarga gue?


[Aku ngerti, Dek. Aku pasrah kalau Abi kamu nolak aku. Tapi, jujur aku serius sama kamu. Kalau kamu yakin sama aku, aku mohon doakan aku agar bisa secepatnya meminang kamu.]


Thifa.


[Iya, Mas.]


[Kamu sayang nggak sama aku?]


Thifa.


[Hem. Emot malu.]


[Kok hem doang? Kamu nggak cinta ya sama aku?]


Thifa.


[Hem.]


Duh nih cewek. Pasti dia malu deh.


[Yaudah, kamu istirahat ya. Sudah malam. Aku mau beres-beres kamar dulu.]


Thifa.


[Iya, Mas. Jangan lupa makan malam. Aku juga sayang kamu.]


Deg. Ada debaran yang tak biasa hadir di dalam dada ini. Padahal cuma balasan chat wa doang. Gimana kalo denger dia ngomong langsung. Ya Allah, jaga hati hambamu ini. Jaga bidadari surgaku di sana.


💕💕💕


Tbc.

__ADS_1


Vote komennya yaaaa.


__ADS_2