
Alya memandangi kalender di kamarnya, tepat 18 bulan dirinya menikah dengan Emil namun sikap suaminya semakin hari semakin membuatnya menderita.
Kekerasan fisik selalu Alya dapatkan, bahkan sang suami tak pernah menyentuhnya. Padahal dirinya berharap jika hamil mungkin sikap keras pada Emil akan melunak ternyata tidak.
Jarum jam telah menunjukkan pukul 5 sore, sebentar lagi Emil akan pulang kerja. Ibu mertuanya dari pagi hingga saat ini belum juga kembali dari acara reuni teman-teman sekolahnya.
Dista, gadis itu yang hanya tahu menghabiskan uang Emil dengan selalu kumpul bersama temannya tanpa pernah mengenal waktu.
Gama, bocah yang tahun ini genap berusia 12 tahun paling baik diantara ketiga anggota keluarga lainnya. Dia akan pulang tepat waktu dari sekolah bahkan diam-diam selalu membelikan Alya makanan.
Sehingga keduanya sangat begitu akrab, Alya telah menganggap adik iparnya itu sebagai adik kandungnya sendiri.
Begitu juga sebaliknya Gama, karena hanya Alya yang selalu menemaninya belajar serta bercerita ketika ibu dan kedua kakaknya tak ada di rumah.
Alya bergegas ke dapur mempersiapkan makan malam buat keluarga suaminya. Gama berniat membantu tapi ia melarangnya takut jika Emil akan marah.
Gama akhirnya memilih menonton televisi setelah menyiapkan PR dari sekolah.
Begitu pulang dari kantor, Emil lantas berteriak memanggil nama istrinya.
Alya dengan langkah tergopoh-gopoh menghampirinya, "Ya, Mas!"
"Rebus air panas untukku!"
"Mas Emil sakit?" tanya Alya karena tak biasanya suaminya itu meminta air panas.
"Jangan banyak tanya, cepat laksanakan!" perintahnya.
"Baik, Mas." Alya berlari ke dapur dan melakukan tugasnya.
Setelah merebus air, Alya menuangkannya ke dalam bathtub.
Alya lalu melanjutkan pekerjaannya menyiapkan makan malam.
Tepat jam 7 malam, seluruh keluarga Emil telah berkumpul di ruang makan.
Alya juga sudah mandi ketika menghidangkan makanan di meja. Lalu, ia pun kembali ke dapur menunggu makanan sisa dari mereka.
"Emil tadi Mama bertemu dengan teman lama. Dia punya anak gadis yang cantik dan pintar, kamu mau jika dijodohkan dengannya?" Sari menawarkan kepada putranya.
"Apa dia memiliki pekerjaan, Ma?" Emil balik bertanya.
"Tentunya, dia seorang manajer di perusahaan besar. Kamu harus menikahinya agar kita dapat memanfaatkannya, harta warisan orang tuanya sangat banyak. Dia hanya memiliki satu saudara laki-laki saja," jelas Sari.
"Aku mau, Ma. Tapi, bagaimana dengan wanita itu?" tanya Emil lagi.
"Biarkan dia tetap menjadi istrimu, lumayan buat menjadi pembantu di rumah ini," jawab Sari.
"Kenapa kalian begitu jahat kepada Kak Alya? Padahal dia sangat baik kepada kita? Apa tidak takut akan dapat balasan?" Gama tiba-tiba berbicara karena kesal melihat keluarganya itu selalu menyakiti kakak iparnya.
"Hei, anak kecil tak usah berbicara. Ini urusan orang dewasa!" bentak Dista.
"Kata guruku, kita harus berbuat baik kepada orang lain agar suatu saat diperlakukan dengan baik juga," ujar Gama.
"Dia itu tidak pantas kita perlakukan baik," ucap Dista.
"Kamu sudah selesai makannya, 'kan? Pergilah ke kamar dan segera tidur," kata Sari dengan lembut.
__ADS_1
Gama mendorong kursinya lalu melangkah menuju kamarnya.
Alya yang berada di dapur mendengarnya hatinya menjadi perih, suaminya akan menikah lagi sedangkan dirinya saja belum mendapatkan hak sebagai seorang istri. Tambah sakit ketika ibu mertuanya tetap menjadikannya pembantu tanpa menyuruh putranya berpisah.
"Kapan Mama mau mempertemukan aku dengan dia?" tanya Emil.
"Besok malam kita bertemu dengannya di restoran," jawab Sari.
"Baiklah, besok aku akan usahakan pulang lebih awal dari kantor," kata Emil.
"Aku ikut 'ya, Ma!" ucap Dista.
Sari mengiyakan.
****
Keesokan harinya, jam 5 lewat 30 menit. Emil bersiap-siap hendak menemui gadis kaya yang akan dijodohkan dengannya.
"Mas, ini kemeja dan celananya," kata Alya meletakkan pakaian itu di atas ranjang.
"Ya, sekarang kamu keluar!" ucap Emil yang sedang mengeringkan rambutnya.
Alya memandangi tubuh suaminya yang begitu sempurna.
Emil merasa di perhatikan lantas menoleh, "Kenapa melihatku seperti itu? Aku tampan, 'kan?"
"Iya, Mas Emil sangat tampan," puji Alya tersenyum.
"Tapi, aku tidak suka denganmu!"
"Sudah sana keluar, aku tak suka kamu melihat aku berganti pakaian!"
Alya pun keluar dari kamar suaminya.
Setengah jam kemudian, Emil telah rapi dan wangi begitu juga dengan Sari dan Dista.
"Kalian mau ke mana?" tanya Gama.
"Kami ada urusan, kamu di rumah saja dengannya!" jawab Sari.
"Hmm, baiklah!" kata Gama kemudian berlari kecil menuju ruang santai keluarga.
Sari dan Dista berjalan lebih dahulu ke mobil, Alya mendekati suaminya dengan langkah lebar.
"Mas!" panggilnya.
Emil menoleh.
"Mas, benar ingin menikah dengannya?" tanya Alya.
"Jika dia cantik dan aku menyukainya, maka ku akan menikahinya," jawab Emil.
"Bagaimana dengan aku, Mas?"
"Kamu?"
"Aku 'kan istri Mas Emil."
__ADS_1
"Kamu itu hanya seorang pembantu, bahkan aku tak berselera denganmu!"
"Mas..."
"Aku mau pergi, jangan tidur sebelum kami pulang!"
Alya mengangguk mengiyakan.
Setelah suami, ibu mertua dan adik iparnya pergi, Alya melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Selang beberapa menit, Gama datang menghampirinya, "Kak Alya, aku lapar."
"Sebentar, ya. Kakak akan buatkan untukmu," ucap Alya.
"Tapi, tolong buatkan dua porsi. Kita makan bersama," ujar Gama.
Alya tersenyum lalu mengiyakan.
Tak sampai 30 menit, makanan yang diminta Gama telah selesai dibuat. Alya dan adik iparnya kini makan bersama di ruangan tempat dirinya biasanya tak boleh duduk.
Sembari makan nasi dengan lauk telur ceplok, Gama lantas bertanya, "Apa Kak Alya ingin pergi dari sini?"
Alya menghentikan suapannya sejenak menatap adik iparnya.
"Jika besar nanti dan telah memiliki uang, aku akan mengeluarkan Kak dari rumah ini," ujar Gama.
"Memangnya kamu tidak sayang dengan Kakak?"
"Aku sangat sayang dengan Kakak tapi kutak suka mereka selalu jahat pada Kak Alya."
"Jika keluar dari sini, Kakak bingung harus ke mana," ucap Alya.
Gama pun terdiam, dirinya juga bingung.
"Semoga suatu saat Mas Emil dapat berubah menjadi baik begitu juga dengan ibu dan kakakmu," harap Alya.
Gama manggut-manggut.
"Semoga kamu tidak memiliki sifat dan sikap seperti mereka ketika dewasa nanti," ujar Alya.
"Jika aku besar nanti, pasti ku akan menyayangi wanita yang menjadi istriku," kata Gama.
Alya tersenyum mendengarnya.
"Kamu bicara tentang istri, memangnya sudah ada perempuan yang ditaksir?" tanya Alya iseng.
Gama tampak malu-malu.
"Lebih baik fokus belajar, kejarlah cita-citamu . Jika memang waktunya kamu akan bertemu dengan jodohmu," nasehat Alya.
Gama mengiyakan.
"Cepat habiskan makannya. Jangan lupa lanjut belajar lagi setelah itu tidur," ucap Alya lembut.
"Iya, Kak."
Selesai makan, Gama menuju kamarnya dan Alya mencuci piring bekas.
__ADS_1