
Emil melakukan olahraga lari santai di sekitar pemukiman rumahnya. Kebiasaannya seperti ini telah dilakukannya setahun belakangan.
Di tengah kegiatannya, matanya tak sengaja menangkap sosok pria paruh baya yang sedang berjualan kerupuk keliling.
Emil yang penasaran lantas mendekatinya, kemudian ia tersenyum menyeringai saat tahu siapa pria tersebut.
"Masih jualan seperti ini saja padahal sepuluh tahun sudah berlalu," kata Emil sinis.
Sam menoleh dan memasang wajah ketus. "Mau apa kamu?"
"Aku dengar keponakan Pak Tua sekarang sudah kaya. Masa sih' membiarkan pamannya bekerja di jalanan seperti ini?"
"Biarkan saja dia kaya, daripada menderita hidup bersama kamu!"
Emil tertawa meledek.
"Saya senang jika Alya hidup bahagia karena dia memang pantas dan layak mendapatkan itu semua."
"Tapi membiarkan orang tua yang mengurusnya dari kecil selalu menderita," singgung Emil.
"Saya mengurus dan merawat Alya dari kecil sangat ikhlas. Jadi, dia mau menolong saya atau tidak. Itu tak jadi masalah," ujar Sam.
"Ternyata, keponakan Pak Tua memang tak tahu diri. Sudah di tolong malah menjadi sombong!" ucap Emil.
"Biarin saja. Lagian kamu kenapa selalu menyebut Alya, apa masih menginginkannya?" tanya Sam.
"Cih, aku mengharapkan dia. Apa tidak ada wanita yang lebih cantik darinya," jawab Emil dengan sombong.
"Jika tidak mengharapkan dia lagi, buat apa kamu mendekati saya?"
"Saya hanya penasaran saja, apa benar keponakan Pak Tua sekarang benar-benar kaya atau menjual diri!"
"Tutup mulutmu!" sergah Sam.
Emil malah tersenyum.
"Alya, wanita baik-baik. Dia takkan menjual tubuhnya demi kenikmatan dunia!" ujar Sam.
"Tapi kenyataannya memang begitu!"
"Apa kamu sudah pernah bertemu dengannya?" tanya Sam.
Emil terdiam.
"Jika belum pernah bertemu dengannya, jangan menyebarkan gosip apapun tentangnya kalau tidak mau mendapatkan balasan!"
Emil tertawa sinis.
"Apa yang bisa dilakukan gadis miskin sepertinya?" tanya Emil.
"Walaupun dia tak mampu membalasnya, ada Sang Maha Kuasa yang akan melakukannya!" jawab Sam.
"Aku tidak takut dengan ancaman yang dikeluarkan oleh mulut Pak Tua dan si Alya gadis buruk rupa!" kata Emil dengan tawa mengejek.
Sam yang tak tahan dengan omongan Emil memilih pergi melanjutkan perjalanannya.
Emil tampak begitu senang karena sudah membuat pamannya Alya kesal.
Emil kemudian melanjutkan lari santainya, sebuah mobil melaju sangat lama mengikutinya dari belakang lalu membunyikan klakson berkali-kali dengan sengaja.
Emil yang terkejut berhenti lalu menghampiri mobil tersebut.
Emil menggedor kaca jendela mobil yang berhenti.
Seorang pria keluar dari kursi pengemudi lalu berjalan mendekati Emil. "Kenapa gedor-gedor? Tidak senang, hah!" bentaknya.
"Apa anda tidak lihat kalau jalan sebelah kanan sangat lapang? Kenapa mengganggu kegiatan saya?"
"Oh, jadi anda tak senang kalau saya membunyikan klakson, hah?" tanyanya dengan nada marah.
__ADS_1
"Iya!" jawab Emil tak mau kalah.
Pria itu lantas memukul perut Emil hingga terhuyung.
Emil memegang perutnya yang terasa sakit.
"Mau tambah lagi, hah?" gertaknya.
Emil melambaikan telapak tangannya.
"Makanya, jangan sok jagoan!" sentaknya.
Emil mengangguk menyerah.
Pria itu kemudian kembali masuk ke mobil dan berlalu.
Sesampainya di rumah, Sari melihat putranya memegang perut. Ia pun lalu bertanya, "Kenapa, Mil?"
"Tadi ada pria bodoh yang memukul aku, Ma."
"Lalu kamu diam saja?"
Emil mengiyakan.
"Kamu tuh yang bodoh. Kenapa tidak membela diri?"
"Tubuhnya tinggi dan sangat besar, aku tidak sanggup melawannya, Ma."
"Lain kali kalau ada orang yang menyakitimu teriak," saran Sari.
"Iya, Ma."
Sementara itu, Sam kini berada di dalam mobil bersama Amy.
"Kenapa Paman masih bekerja seperti ini? Apa uang yang aku berikan tidak cukup untuk membuat toko?" tanya Amy.
"Uang kamu sangat banyak, Paman bisa saja membuka toko tapi tak ingin membuat bibi kamu menjadi sombong. Dia pasti akan bertanya dari mana modal yang Paman dapat," jawab Sam. "Pasti dia akan mencari tahu kamu dan meminta uang kepadamu," lanjutnya.
"Paman lebih senang begini, jika orderan lagi sepi Paman dapat memakainya untuk memberikan bibi kamu uang belanja."
Amy mengangguk paham.
"Kenapa kamu berada di jalan ini?"
"Kami memang sengaja memotong jalan."
"Oh."
"Paman tidak disakitinya, 'kan?"
"Tidak, Amy."
"Syukurlah."
Sam tersenyum.
"Aku juga sudah memberikan dia sedikit pelajaran," ucap Amy.
"Kamu menghukumnya?" tanya Sam.
"Iya, Paman. Sebagai peringatan agar tidak terlalu sombong," jawab Amy tersenyum.
Selepas bertemu dengan Paman Sam, Amy pulang ke rumah. Suaminya sudah berdiri menunggunya di depan pintu.
"Dari mana saja kamu?" tanya Ardan lembut.
Amy dengan senyumnya memeluk suaminya dan mengecup pipinya. "Aku tadi bertemu dengan paman dan ku memberikan hadiah kecil buat si perusuh."
"Kamu bertemu dengan dia?" tanya Ardan. Dia adalah Emil, mantan suaminya Amy yang dijuluki perusuh.
__ADS_1
"Aku tidak menemuinya, tapi ada orang kita yang memberikannya."
"Aku pikir kamu bertemu dengannya, karena kutak suka kalian saling bertatap wajah."
"Kamu tenang saja, dihatiku hanya ada Ardan seorang. Dia telah musnah beberapa tahun lalu."
Ardan mengecup kening istrinya, "Aku percaya kamu!"
***
Gama mengantarkan Amy dan suaminya sampai depan pintu masuk restoran ketiganya sangat begitu akrab.
"Lain waktu lagi kami kemari lagi," ucap Ardan.
"Terima kasih, Kak." Kata Gama dengan senang hati.
"Semoga Kak Amy dan Kak Ardan selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan," lanjut Gama.
"Semoga kamu mendapatkan hal yang sama," ujar Amy.
"Kami pamit, ya. Bekerjalah dengan baik, jangan sia-siakan kebaikan dari Kak Marco," kata Ardan.
"Iya, Kak."
Amy dan Ardan memasuki mobil mewah miliknya, kemudian berlalu.
Gama membalikkan badannya hendak memasuki restoran, ternyata kekasihnya telah berdiri dihadapannya.
"Siapa mereka?" tanya Nesha penasaran karena Gama berbicara dengan orang yang menaiki mobil mewah.
"Bukan siapa-siapa, hanya tamu di sini," jawab Gama.
"Kelihatan kalian sangat begitu akrab," ucap Nesha.
"Itu hanya perasaan kamu saja," ujar Gama.
"Kenapa kamu sampai mengantarkan mereka di sini?" Nesha belum puas dengan jawaban kekasihnya.
"Ya, karena manajer restoran yang memintanya," jelas Gama lagi.
"Oh."
"Kenapa kamu cepat sekali menjemputku?" tanya Gama.
"Aku rindu denganmu," jawab Nesha.
Gama tersenyum tipis lalu berkata, "Tunggu lima belas menit di mobil, aku 'kan segera pulang."
"Iya, Gam."
Gama kemudian bergegas masuk ke dalam restoran.
"Kamu sudah dijemput?" tanya Lisha ketika Gama berdiri di dekat meja kasir.
Gama menjawabnya dengan anggukan.
"Sepertinya dia sangat menyayangimu, ya. Sampai setiap hari menjemputmu," ujar Lisha.
"Ya, begitulah."
"Kamu sangat mencintai kekasihmu itu?" tanya Lisha.
"Iya," jawab Gama.
Lisha pun diam setelah mendengar jawabannya.
"Meja nomor empat belas minta struk pembayaran tuh!" pinta Gama.
Lisha mengiyakan.
__ADS_1
Gama kemudian berlalu meninggalkan meja kasir.
Lisha sebenarnya cemburu melihat Gama selalu dijemput oleh kekasihnya. Karena dia menyukai pria itu, mau tak mau dirinya harus melihat kedekatan keduanya selepas pulang bekerja.